
Haii.. ketemu lagi.. Hehehe.. 😁
.
.
.
“Sayang..”
Arini memecah keheningan untuk yang pertama kalinya begitu mobil yang mereka tumpangi meninggalkan gerbang rumah besar dengan penjagaan yang super ketat itu. Saat ini mobil yang dikendarai oleh Sudir mulai membelah jalanan ibukota, merayap ditengah hiruk pikuk kendaraan dengan kecepatan sedang.
“Ada apa ?” tanya Tian seraya menoleh padanya.
“Aku masih tidak menyangka kalau pak Rico ternyata sudah menikah..”
“Kenapa memangnya ? jangan-jangan kamu patah hati juga mendengarnya..?” mengucapkan kalimat itu sambil mengangkat alisnya, bermaksud menggoda, namun belum apa-apa..
“Ishh ..!” Arini menggerutu dengan sebuah tinju kecil yang melayang begitu saja dilengan Tian, sontak membuat Tian tergelak.
“Nah.. mulai kan,” sindir Tian sambil bergerak perlahan mengusap-ngusap lengannya, namun Tian tidak berhenti tertawa meskipun Arini sudah melotot padanya sambil kembali mengacungkan tinju kecil diudara.
“Memangnya siapa juga yang patah hati ? aku hanya tidak habis pikir kenapa pak Rico masih bisa pecicilan seperti itu padahal dia sudah punya istri..” sungutnya.
Tian mengulum senyum. “Nahh.. sudah lihat sendiri kan..? aku malah jauh berkali-kali lipat lebih baik dari Rico..” Tian menepuk dadanya dengan bangga.
“Apanya yang lebih baik ? bukannya sama saja ?”
“Apanya yang sama saja ? Setelah menikah denganmu aku bahkan tidak pernah melirik wanita manapun..!” protes Tian cepat, tentu saja dia tidak rela jika disamakan dengan Rico si tengil itu, yang selalu berjanji untuk 'pensiun' tapi kenyataannya tidak pernah berhenti bermain-main.
Arini memutar bola matanya. “Who knows ?” cibirnya.
“Aku serius..!”
__ADS_1
Arini malah tertawa mengejek.
“Ya sudah kalau tidak percaya..” pungkas Tian akhirnya dengan ekspresi lunglai, ia memang tidak punya cara lain yang sekiranya bisa meyakinkan Arini perihal hal itu, apalagi jika mengingat betapa buruk kelakuannya diawal mereka menikah.. wajar saja jika dimasa sekarang Arini selalu meragukannya.
Tapi sesungguhnya untuk hal itu Tian benar-benar tidak sedang berbohong, karena sejak menikahi seorang wanita bernama Arini Ramdhan entah kenapa Tian memang tidak pernah lagi bernafsu melihat wanita manapun.
Waktu itu sebenarnya tanpa Tian sadari Arini bahkan sudah mengambil alih seluruh jiwa, raga beserta fikirannya. Meskipun diawal mereka menikah Tian selalu merasa kesal dan bersikap buruk kepada Arini, namun tidak bisa dipungkiri dengan seluruh sikap penerimaan Arini terhadap dirinya lambat laun wanita itu malah mengambil alih semua yang ada didalam dirinya bahkan mampu mengendalikan mood-nya.
“Aku sangat penasaran seperti apa istri pak Rico..” Arini kembali menerawang, berusaha menebak-nebak kira-kira bagaimana visual istri seorang Rico Chandra Wijaya.
Sudah pasti seorang wanita cantik kan ? karena kalau tidak cantik.. berarti lelaki playboy itu punya selera yang sama buruknya dengan Tian.
Astaga.. berfikir tentang hal itu rasanya membuat Arini sudah ingin tertawa karena merasa lucu dengan fikiran konyolnya yang melintas tiba-tiba, sehingga secara tidak langsung malah membully dirinya sendiri.
“Sedang memikirkan apa sih ?” tanya Tian keheranan saat melihat ekspresi wajah Arini yang sedari tadi selalu senyam-senyum tanpa kata.
“Sayang.. apa kamu mengenal istri pak Rico ?” tanyanya lagi tidak mengindahkan pertanyaan Tian sebelumnya.
“Hemm.”
“Karena aku menghargai privacy seseorang. Aku tidak mau membuka sesuatu yang mereka rahasiakan karena pernikahan Rico awalnya juga dilatar belakangi oleh keadaan yang nyaris sama persis seperti pernikahan kita.”
“Jadi pak Rico mengalami hal yang sama denganmu ?” Arini membeliak nyaris tak percaya.
Tian menganguk. “Bedanya dia sudah mengenal lebih dulu siapa calon istrinya. Tidak seperti aku yang dulunya bahkan tidak tau menahu dengan siapa dirimu dan bagaimana latar belakang kehidupanmu sebelumnya..”
“Cieee.. memangnya kalau sekarang sudah sejauh mana kamu mengetahui semua hal tentang diriku..?” tanya Arini spontan.
“Sejauh mana ya ?” Tian menerawang sejenak sebelum kemudian malah tersenyum usil. “Sepertinya kalau sekarang aku bahkan sudah mengetahui semuanya tentang dirimu, sampai-sampai tidak ada lagi satupun mengenai dirimu yang tidak aku ketahui..” kemudian dengan merendahkan nada suaranya Tian kembali berucap.. “Kalau sekarang.. seberapa besar ukuran cup-mu saja aku tau..”
“Stop it !” pungkas Arini buru-buru dengan pelototan yang sudah menghiasi sepasang matanya yang menatap Tian dengan tajam, membuat Tian tergelak begitu saja. “Sayang.. tolong serius, aku masih penasaran tentang banyak hal..” Arini mulai merajuk.
“Iya.. iya.. baiklah..” berusaha
__ADS_1
meredakan tawanya secepat mungkin saat melihat wajah cemberut Arini yang sudah tergambar jelas disampingnya.
Mendapati tanggapan Tian yang seperti itu membuat Arini merasa sedang diberi kartu voucher sebagai akses agar dia bisa bertanya apa saja mengenai seluk-beluk pernikahan pak Rico yang anehnya begitu mirip dengan pernikahan Tian dengan dirinya.
Sementara itu, Tian yang merasakan getaran ponsel disakunya langsung mengeluarkan ponselnya yang baru saja bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk, yang ternyata berasal dari Rudi. Asistennya itu memberitahukan tentang rencana Tian yang akan meninjau lokasi pembebasan lahan dipinggiran kota sudah dapat dipastikan bisa dilakukan pada besok hari. Pembebasan lahan seluas kurang lebih lima puluh tiga hektar itu sendiri rencananya akan dibangun oleh Indotama Group menjadi sebuah pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap se-Asia tenggara.
“Istri pak Rico pasti cantik kan ?” Arini benar-benar tidak bisa memendam perasaan kepo yang sedang meronta-ronta didalam dirinya.
Tapi Tian malah menggeleng. “Istriku bahkan jauh lebih cantik dari istri si tengil itu..”
“Sayang, aku serius.” menatap tak sabar kearah Tian yang masih sibuk mengetik balasan message untuk Rudi di permukaan layar ponselnya.
“Aku juga serius. Aku bahkan ingin bilang bahwa istriku ini jauh lebih cantik dari istri lelaki manapun, apalagi cuma istri Rico..” ujar Tian sungguh-sungguh sambil menyimpan ponselnya kembali disaku.
Setelah itu, tanpa mengindahkan wajah Arini yang sudah dipenuhi semburat karena tersipu mendengar perkataan yang selalu semanis madu itu, Tian sudah merengkuh bahu Arini untuk bersandar padanya dengan nyaman, mengelus lembut rambut bergelombang itu seraya menikmati aroma mint campur lavender yang khas.
“Sudahlah.. tidak usah penasaran seperti itu, nanti juga kamu akan bertemu sendiri dengan orangnya kan..” Tian tersenyum saat mengatakannya, membayangkan akan bagaimana kagetnya Arini jika tau siapa sebenarnya istri Rico Chandra Wijaya nanti. “Yang jelas istriku adalah istri paling cantik seantero jagat. Dan kalau sampai aku mendengar ada orang yang mencoba membantahnya.. aku akan membuat perhitungan pribadi dengan orang itu !”
“Gombal..!”
Karena posisi Arini yang sedang
bersandar dengan nyaman itu tidak memungkinkan Arini meninju lengan kokoh Tian seperti kebiasaan buruknya selama ini, untuk itulah Arini segera mencari target lain sebagai target alternatif.
Arini sudah mencubit perut keras lelaki itu dengan gemas, membuat Tian meringis kecil saat merasakan perutnya seperti sedang digigit dua ekor semut sekaligus..
.
.
.
.
__ADS_1
Dilarang lanjut chapter berikut kalau belum Like.. 😜
Lanjuutttt…..!!!!