
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Hari sudah menjelang sore saat Meta melongokkan kepalanya kedalam kamar yang tidak terkunci dimana suara celotehan Rei yang sedang bersama susternya masih memenuhi sudut kamar.
“Halo sayang..” sapa Meta sambil mendekat.
Rei yang mendengar suara yang familiar itu sontak berpaling.
“Mommy..!”
Pekik Rei dengan girangnya. Tak sabar menunggu langkah Meta yang terayun mendekat bocah itu sudah meloncat turun lebih dahulu dari ranjang dan berlari menyambut Meta dengan sangat bersemangat.
Meta tertawa begitu Rei menubruk kakinya serta memeluk disitu penuh kerinduan. Detik berikutnya Meta telah membungkuk untuk mendapati tubuh Rei, membawanya dalam gendongan seraya berjalan kearah ranjang dan mendudukkan dirinya di tepian.
“Nyonya.. saya tinggal sebentar yah, saya mau siapin susu untuk Rei..” bisik suster Dian, yang merupakan satu-satunya orang yang ada didalam rumah Rico yang mengetahui dengan pasti status Meta yang telah diperistri sang majikan.
Meta mengangguk dengan senyum. “Iya, suster.. tidak apa-apa, tidak usah terburu-buru, biar aku yang jagain Rei dulu..” ucap Meta tidak merasa keberatan sama sekali.
Sudah seharian ini dirinya telah disibukkan oleh pekerjaan yang menyangkut semua laporan tentang perkembangan proyek indotama times square yang menumpuk di ruang kerja Rico, sehingga sepanjang siang tadi ia tidak bertemu dengan Rei sama sekali, membuat perasaan rindunya kepada bocah itu tak tertahankan lagi.
Nyaris dua minggu menjadi penghuni resmi rumah besar Rico, dan lelaki itu memang tidak bergurau saat di malam pertama Rico mengatakan bahwa Meta memiliki stock pekerjaan yang telah menumpuk diruang kerjanya. Pekerjaan utamanya menjadi staf khusus untuk proyek indotama times square itu memang nyaris tidak tersentuh selama seminggu karena saat Rico pergi keluar kota, Meta memilih membawa Rei pulang kerumah, memuaskan diri menjalani hari dengan segala kelucuan Rei yang membuatnya lupa dengan tugas utamanya sehingga ia tidak pernah sekalipun memikirkan pekerjaannya yang telah menggunung.
Selama ini Rico memang sengaja menjaga dengan baik kerahasiaan pernikahannya dengan Meta dari semua orang yang berada didalam rumahnya, karena tidak menutup kemungkinan jika terlalu banyak yang mengetahui hubungannya dengan Meta, maka hal tersebut akan membuka peluang untuk kedua orang tuanya mengetahui apa yang telah ia lakukan secara diam-diam. Rico bahkan berharap kedua orang tuanya tidak akan pernah tau langkah yang telah ia ambil ini hingga pernikahannya dengan Meta selesai pada waktunya.
Untuk itu jangankan para maid.. bik Sumi dan mang Udin yang menjadi orang kepercayaan Rico didalam rumahnya saja bahkan tidak mengetahui status Meta yang sebenarnya. Mereka hanya tau Meta berada didalam rumah pak Rico hanya sebagai pegawai biasa yang sedang bekerja disalah satu proyek pak Rico, yang karena selalu diyakini Rei sebagai mommy-nya makanya Meta juga diminta oleh pak Rico untuk tinggal sementara di rumah besar itu.. menemani Rei dalam kurun waktu yang entah sampai kapan.
“Mommy.. kenapa mommy balu datang..?’
“Mommy harus bekerja dulu sayang..”
“Mommy bekelja di hotel..?”
Meta sedikit tertegun mendengar pertanyaan polos itu, namun secepatnya ia mengangguk. Rei memang tidak tau bahwa sebenarnya setiap hari Meta tidak pernah kemana-mana, melainkan hanya menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja pak Rico.
__ADS_1
Namun mengetahui bahwa didalam memory ingatan Rei, tenyata Rei bahkan masih mengingat dengan jelas tempat bekerja mommy-nya, hal itu membuat Meta sedikit terkejut.
Almarhum ibu Lila merupakan Ceo PT. Mercy, yang itu berarti adalah pemilik dari semua label perhotelan dengan nama mercy, termasuk mercy green resort yang merupakan resort mewah bertaraf internasional yang pembangunan dan pengembangannya juga melibatkan
indotama group yang bahkan memiliki lima puluh persen saham mercy green resort.
Belakangan semua urusan yang sedianya dibawah kendali ibu Lila kini semuanya telah berada dibawah kendali pak Rico, yang menyebabkan kesibukan lelaki itu menjadi jauh berkali-kali lipat lebih banyak dan lebih sibuk dari sebelumnya.
“Mommy..” panggilan Rei akhirnya mampu mengembalikan kesadaran Meta yang terombang-ambing dalam lamunan yang panjang.
“Iya sayang.. ada apa ?”
“Lei kangen nenek..”
Meta tertawa mendengar kalimat polos Rei. Bagaimana tidak ? Meta bahkan baru saja berbicara dengan ibu, dan diakhir pembicaraan ibu juga mengatakan hal yang sama.
‘Meta.. ibu kangen Rei. Bisa tidak weekend ini kalian bertiga menginap disini saja ?’
Saat itu Meta belum bisa memberi kepastian apa-apa. Mengajak Rei weekend dengan menginap semalam dirumah ibu masih bisa ia usahakan untuk membujuk pak Rico. Toh Rei juga pernah tinggal disana selama seminggu lebih. Tapi masalahnya yang ibu inginkan adalah kehadiran mereka bertiga.. lalu bagaimana mungkin dia akan mengajak pak Rico ikut serta ?
Dikamarnya yang super besar itu saja pak Rico bahkan tidak sudi menampungnya dan malah memberikannya sebuah kamar tamu. Lalu bagaimana kalau menginap dirumah ibu..? dengan kondisi dua kamar sempit, apa iya dia harus berbagi kamar dengan pak Rico ?
Ihhh.. membayangkan hal itu Meta malah bergidik sendiri.
“Nenek juga kangen Rei loh..” ucapan Meta membuat sepasang mata bulat indah milik Rei semakin membesar.
Cup.. cup.. cup..
“Mommy.. Lei mau pelgi kelumah nenek.. ayo kita kesana, mommy..” mengguncang kecil bahu Meta dengan tubuh yang melonjak-lonjak kecil yang membuat Meta kewalahan menahannya.
“Rei.. jangan begini, nanti jatuh..”
“Ayo mommy kita bobo dilumah nenek.. Lei kangen nenek alum.. ayo mommy sekalang..” masih melonjak-lonjak kecil dengan maksud merayu khas bocah yang ingin dituruti kemauannya.
“Tidak bisa sekarang sayang.. harus ijin daddy dulu..” bujuk Meta sambil harus mengeluarkan sedikit tenaga ekstra saat harus menahan tubuh Rei yang begitu aktif dengan bersusah payah, sebelum akhirnya nafas Meta seolah tercekat saat mendengar suara berat yang tiba-tiba menyela kehebohan kecil yang sedang terjadi dikamar Rei itu..
“Apanya yang harus ijin dulu..?”
Betepatan dengan itu tubuh Rei yang sedang susah payah ditahannya dengan kedua tanggannya terangkat begitu saja dari pangkuan Meta setelah dua tangan kekar nampak mengambil alih tubuh Rei dengan mudah.
“Dadddyy…!!”
Rei memekik kegirangan saat mengetahui tubuhnya yang sempat merasakan sensasi seolah melayang sejenak saat terangkat dari pangkuan Meta sudah mendarat dengan sempurna di dalam pelukan Rico.
Cup.. cup.. cup..
__ADS_1
Meta memandangi pemandangan yang maha manis itu tanpa berkedip, saat Rei yang menciumi wajah Rico berkali-kali sama seperti yag telah dilakukan Rei pada wajahnya tadi.
Mengingat seberapa sering bibir mungil Rei menjadi alat transportasi tidak langsung yang selalu menghubungkan dirinya dengan pak Rico secara tidak sengaja membuat wajah Meta diam-diam memanas karena rona merah yang menjalar.
“Daddy.. Lei mau kelumah nenek.. mau bobo sama nenek Alum.. boleh ya daddy..”
“Hhmm..”
Meta nyaris tidak mempercayai penglihatannya sendiri saat melihat kepala pak Rico yang langsung mengangguk begitu saja menyetujui permintaan Rei dengan mudahnya.
“Holleeee.. mommy.. daddy bilang boleh..” Rei terlihat sangat kegirangan. Rei bahkan langsung bergegas turun dari gendongan Rico begitu saja seraya menghampiri box berisi permainannya. “Lei mau bawa lobot yang balu.. buat main sama nenek..” bocah itu berseloroh sambil mengubek-ngubek sekumpulan koleksi permainannya.
Meta masih terhenyak ditempat melihat semua adegan itu. Ia tidak bisa menahan diri untuk menatap Rico. “Egh itu.. itu..”
“Cuma semalam kan ?” Rico berucap santai dengan tatapan yang mengawasi kesibukan Rei seraya menggulung kedua lengan kemejanya sampai kesiku. Gerak-gerik lelaki yang terlihat sangat cool itu membuat Meta harus menelan ludahnya berkali-kali.
“Jangan lagi membawa banyak barang..” kali ini tatapan Rico sudah berpindah kearah Meta, membuat meta gelagapan dan salah tingkah.
“T-tapi.. tapi..”
“Tadi ibumu menelpon. Beliau ingin weekend besok kita kesana.”
“W-what ? ibu..? jadi ibuku menelpon pak Rico ?!”
Mengangguk kecil. “Aku tidak enak kalau harus menolak..”
Detik berikutnya Meta kembali terhenyak lemas ditempatnya. Kebingungannya terjawab sudah.
Demi apa ?
Ibu-nya benar-benar tidak pernah berubah. Selalu saja mempunyai stock kepercayaan diri yang over confidence. Lihat saja.. bisa-bisanya ibu menelpon pak Rico dengan mudahnya, sementara dirinya bahkan tidak mampu bicara sambil menatap kedua mata pak Rico lebih dari tiga detik !
Astaga ibu.. apa ibu tidak tau situasi semacam apa yang akan ia hadapi besok malam ? dan lelaki dihadapannya ini.. apa dia juga tidak bisa memikirkannya terlebih dahulu sebelum mengiyakan keinginan ibu ?
Meta sudah merasa otaknya bisa gila, hanya dengan membayangkan entah apa yang akan terjadi pada besok hari..
.
.
.
Bersambung..
Mohon di Like, Comment, and Vote. Jangan lupa juga untuk favorite-kan. 🙏
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘