CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2. 049 - Tidak Mau Berhutang Lagi


__ADS_3

Meta bahkan tidak tau, mengapa saat ini ia merasa sangat marah. Yang jelas kalimat Rico semalam entah kenapa ibarat sebuah sembilu yang terus merobek-robek bilik hatinya tanpa henti sejak pertama kali Meta mendengarnya hingga detik ini.


“Meta, tolong pelankan suaramu. Apa kamu mau ibu, Mayra, Rei ... dan semua orang yang ada diluar sana mendengarnya?”


“Aku tidak peduli!”


Meta memang berucap tidak peduli, tapi ia bahkan telah mengucapkan kalimat itu dengan gigi yang merapat satu sama lain, membuat volume suaranya ikut-ikutan merendah meski nadanya tetap dipenuhi tekanan.


“Kamu ini kenapa? astaga ... sepagi ini sudah mau mengajak bertengkar? hanya karena barang-barang yang tidak seberapa itu kamu bisa marah seperti ini?” suara Rico yang sedikit kesal namun tetap pada intonasi yang rendah seperti awalnya, membuat Meta sedikit salut dengan pengendalian diri lelaki itu dalam menjaga wibawanya didepan semua orang ... terlebih ibunya pasti.


“Buat Pak Rico semuanya memang tidak seberapa, tapi aku tidak mau terus-menerus menerima segala sesuatu. Pak Rico juga tidak boleh selalu melakukan hal yang semena-mena seperti itu ...!"


Rico terlihat mengusap wajahnya yang mengeras. “Sebelum melakukannya, aku sudah meminta ijin kepada ibumu terlebih dahulu untuk membawa semua barang-barang itu kesini. Aku tidak melakukan hal semena-mena seperti yang kamu tuduhkan itu.” kecamnya.


“Pak Rico dan ibu sama saja. Kalian tidak pernah mau mengerti dengan perasaanku! kalian tidak pernah berpikir bagaimana aku bisa membayar semua ini? persoalan uang satu milyar rupiah belum kelar, sudah ditambah dengan sejumlah barang elektronik yang bisa memenuhi seisi rumah ...”


“Meta, memangnya kapan aku meminta untuk dibayar?”


“Memangnya uang satu milyar rupiah bisa dikasih cuma-cuma?”


Rico lagi-lagi mengusap wajahnya, seolah berusaha keras untuk membentengi kesabarannya.


Mungkin kalau ia tidak sedang berada dirumah Ibu Arum, saat ini Rico sudah memecahkan minimal sebuah barang agar bisa melampiaskan besarnya amarah yang tersulut disudut hatinya, hanya dengan mendengar kalimat terakhir Meta yang kembali menyentil persoalan uang satu milyar rupiah.


Rico menatap lekat wanita mungil yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, menghembuskan nafasnya sejenak sebelum akhirnya berucap perlahan. “Jadi mau kamu apa sekarang?”


“Sudah jelas, kan? aku tidak mau berhutang lagi.”


“Baiklah ...” memilih mengalah.


“Dan angkat semua barang-barang itu kembali.”


“Kalau itu aku tidak bisa.”


“Kenapa tidak bisa?!” tantang Meta semakin berani.


“Kalau aku mengangkat barang-barang itu kembali, mau ditaruh dimana mukaku dihadapan ibumu, dan para tetanggamu yang sejak tadi menonton diluar sana?” ujar Rico seraya melipat tangannya didada. “Carilah cara yang lain, kalau kamu ingin membuatku malu. Jangan seperti ini..”


‘Cih.. dasar orang kaya dengan harga diri yang tinggi! penting sekali melakukan pencitraan diri seperti itu? memangnya siapa juga yang ingin membuatmu malu?'


Meta terdiam, namun bathinnya mengumpat kesana-kemari.


“Baiklah, aku mengijinkan semua barang-barang itu didalam rumah ini, tapi aku akan tetap menganggapnya sebagai hutang, yang kelak harus aku lunasi.” berucap lagi dengan keras kepala.


“Terserah padamu.”


“Aku akan membayar semuanya dengan menyicil ...”


Rico tidak menjawabnya, hanya menghembuskan nafasnya yang semakin berat.


“Jangan berpikir kalau semua itu bisa membeliku.”


“Aku tidak pernah mengatakan bahwa semua yang aku lakukan adalah upaya untuk membelimu.”


“Tidak pernah ya?” Meta mencibir, terlebih saat mengingat pembicaraan pak Rico semalam ditelpon.

__ADS_1


‘It's all about a money..’


Semua itu tentang uang. Lalu kalimat itu artinya apa kalau bukan melabelkan sebuah harga atas dirinya?


Pak Rico bahkan menyebut kata barter. Lalu apa lagi yang lebih menyakitkan dari mengetahui semua itu?


“Tidak. Karena yang mengatakan bahwa hargamu satu milyar rupiah, itu adalah dirimu sendiri. Aku hanya memintamu agar bersedia menjadi mommy untuk Rei, itupun tidak sampai seumur hidupmu. Hanya sampai Rei bisa terbiasa sedikit demi sedikit, sebelum aku berhasil menjauhkan Rei seutuhnya, dari dirimu ...”


Lagi-lagi mendengar niat lelaki itu membuat seluruh kepingan hati Meta hancur lebur. Dan lebih menyakitkan lagi karena Meta bahkan tidak bisa melakukan apa pun jika sudah menyangkut Rei.


Tidak ada yang memaksa hatinya untuk menyayangi Rei sedalam ini, kan?


Yah ... karena menyayangi Rei adalah kemauan hatinya sendiri, dan tidak bisa melepaskan Rei juga karena dorongan jiwanya sendiri.


Lalu siapa dirinya yang tiba-tiba ingin memiliki dan menguasai Rei seutuhnya?


Meta masih terdiam, namun hatinya menangis darah. Bahkan saat Rico beranjak keluar untuk menemui orang-orang yang telah selesai mengangkat semua barang, ia belum bergeming dari tempatnya.


“Ac-nya mau langsung dipasang, Pak?” sayup-sayup terdengar suara seseorang yang bertanya.


“Iya, pasang satu unit dikamar yang ini, dan satunya lagi dikamar sebelah ...” kali ini suara Rico yang terdengar, seiring dengan suara langkah kaki pria itu, yang kembali terdengar masuk kedalam kamar.


Meta kaget saat Rico menyentuh bahunya sesaat. “Keluar dulu, karena mereka akan memasang ac-nya sekarang.” bisik lelaki itu dengan suara datar, yang ditanggapi Meta dengan berlalu begitu saja tanpa kata.


🌸🌸🌸🌸🌸


“Ibu beli kue ini dimana?” Meta bertanya seraya menunjuk beberapa macam kue basah yang ada diatas meja.


“Sama Mbak Cucun, disebelah ...” jawab ibu Arum menyebut nama tetangga yang hanya berjarak dua rumah dari rumah mereka, yang pekerjaannya sehari-hari membuat aneka kue dan berbagai macam jajanan pasar untuk dijual.


“Tenang saja, Ibu tidak akan membeli kue sembarangan, apalagi untuk dimakan Rei dan Nak Rico.” ucap Ibu Arum lagi saat menyadari bahwa Meta pasti bermaksud memastikan asal-usul kue tersebut sebelum menghidangkannya keatas meja.


Ibu Arum yang melihat Meta yang tengah menata kue basah dan beberapa jajanan khas pasar itu keatas piring lebar tanpa kata sontak mendekati putri sulungnya itu.


“Kalian bertengkar?” bertanya dengan nada berhati-hati, karena melihat kediaman Meta yang sejak kembali dari depan hanya berbicara seperlunya saja.


Meta menggeleng. "Tidak, bu." elak Meta seraya menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mendadak kembali kesal.


“Karena semua barang-barang itu?”


“Ibu, sudah aku bilang tidak ...”


“Jam tiga pagi.”


Meta mengerinyitkan alis mendengar perkataan ibunya, mau tak mau ia menatap kembali wajah Ibu Arum sejenak.


“Jam tiga pagi saat Ibu memergoki suamimu duduk terkantuk-kantuk dikursi teras depan. Tidak tega melihatnya seperti itu jadi ibu bangunkan, lalu ibu bertanya kenapa dia masih berada diluar. Kau tau apa jawabannya?"


Meta menggeleng tanpa kata.


"Kata Nak Rico didalam gerah."


Meta semakin tertunduk mendengarnya.


"Ibu menyuruhnya pindah tidur kedalam, dan Nak Rico langsung menurut. Tapi sebelum itu dia bertanya, apa Ibu tidak keberatan kalau kamarnya dipasang ac?”

__ADS_1


“Kenapa Ibu tidak menolak?”


“Awalnya Ibu ingin menolaknya, Meta. Tapi mengingat bagaimana kalau dikemudian hari, tidak menutup kemungkinan Nak Rico dan Rei kesini lagi ... dan mereka akan kembali tidur dengan gelisah karena kepanasan ...” Ibu Arum menghela nafasnya perlahan. “Semalan Rei juga begitu, tidurnya gelisah. Ibu bahkan harus mengipasinya sepanjang malam, karena cuaca yang panas membuat tidur Rei menjadi tidak nyenyak ...”


Meta terdiam sejenak. Pada kenyataannya cuaca semalam memang cukup gerah, dan melihat Rei dan Pak Rico yang seperti itu pantas saja jika ibu merasa tidak enak, sehingga mengiyakan saja ide Pak Rico untuk memasang dua unit ac dimasing-masing kamar mereka.


“Tapi kenyataannya ini bukan cuma tentang dua unit ac sekaligus, kan? Ibu tidak lihat, semua barang-barang mahal yang sudah memenuhi rumah ini dalam sekejap?”


Mendengar itu ibu Arum menghirup nafasnya perlahan. “Kalau itu ... Ibu tidak bisa menjawabnya, Nak. Ibu hanya berpikir bahwa itu semua hanyalah itikad baik dari suamimu ...”


Meta mencebik kecil. Ingin menyela tapi urung saat mendengar celotehan Rei yang baru saja terdengar keluar dari kamarnya, sambil menarik tangan Rico menuju meja makan.


“Nenek Alum, Lei mau makan kue ...”


Meta cemberut saat mendengar Rei yang bukannya meminta kue padanya, tapi malah memintanya pada ibu.


“Boleh ... Rei mau makan kue yang mana dulu? nanti nenek ambilkan ...” Ibu Arum nampak mendekati Rei dengan serta merta.


“Sayang, karena ada nenek, sepertinya kamu melupakan mommy yah ...?” protes Meta sambil membungkuk, meraih tubuh mungil Rei dan mengangkatnya keatas kursi.


“Lei sayang mommy, tapi sayang Nenek Alum juga ...” sudah berada diatas kursi, tapi tetap menggelendot manaj dileher Meta, membuat Meta tertawa mendapati tingkah Rei yang seolah tidak rela terlepas dari dirinya.


Namun ketika Ibu Arum mengambil bolu kukus berwarna pelangi yang masih terlilit plastik pembungkus bening dan memberikannya kepada Rei, bocah itu langsung menyambutnya dengan gembira seraya melepaskan Meta begitu saja.


‘Haih ... ibu benar-benar suka merebut perhatian ...’


Bathin Meta saat detik berikutnya ibu sudah menawarkan lagi beberapa macam kue berwarna-warni dihadapan Rei, yang membuat sepasang bola mata lucu itu semakin berbinar-binar dengan antusias.


“Kamu tidak menawariku makan?”


Meta nyaris terlonjak mendengar bisikan suara berat yang begitu dekat ditelinganya.


Nafas hangat itu bahkan sudah menyapu tengkuknya dan langsung membuat Meta meremang.


Meta melirik sekilas tapi yang ia dapati adalah seraut wajah memelas yang mulutnya bergerak seolah mengucapkan sesuatu namun tanpa suara.


“Aku lapar..”


Begitu kira-kira yang ditangkap Meta lewat gerak bibir Rico, yang membuatnya sedikit tersesat saat harus memperhatikannya dengan seksama.


“Nasi goreng mau?” tanya Meta perlahan pada akhirnya, tidak tega juga karena mengingat Rico yang memang belum sarapan apa-apa pagi ini.


Rico mengangguk sambil menarik salah satu kursi yang ada, duduk tenang sambil memperhatikan Meta yang menyendokkan nasi goreng yang masih mengepul itu kedalam piring.


Sementara disisi yang lain, diam-diam Ibu Arum memperhatikan interaksi putri sulungnya dan sang menantu itu sambil tersenyum dalam hati.


Hatinya begitu bahagia melihat raut wajah Rico yang terlihat tenang, memancarkan kedewasaannya, meskipun Meta masih terlihat betah menampilkan wajah manyun dalam diamnya ...


...


Bersambung..


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2