CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 062


__ADS_3

“Meta.. aku tau waktunya tidak tepat, tapi sejak awal kita memang tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara dengan baik. Sebaiknya kita memang tidak perlu bertemu dulu dalam waktu dekat, itu yang terbaik untuk kita berdua, begitu juga dengan Rei. Aku sengaja membawamu kemari agar kamu bisa berfikir dengan tenang, dan putuskan saja apa yang benar-benar kamu inginkan dariku setelah semuanya selesai, aku berjanji akan berusaha memenuhinya selagi aku mampu. Meta pliss.. bantulah aku untuk memikirkan jalan keluar terbaik untuk mengakhiri semua ini.. karena aku sungguh-sungguh tidak tau apa yang harus aku lakukan. Dan langkah ibuku ini.. semuanya diluar perkiraanku.”


.


.


.


Kalimat pak Rico kemarin malam terus terulang.. dan berulang.. mengiang-ngiang disetiap sudut benak Meta, menelusuri setiap celah yang ada dibilik hatinya.


Terlebih saat mengingat bahwa pak Rico juga menyuruhnya untuk memikirkan dengan tenang sebelum memutuskan apa yang benar-benar Meta inginkan dari dirinya setelah semuanya selesai, dan lelaki itu akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memenuhi permintaan Meta.


Memangnya permintaan seperti apa yang ingin pak Rico dengar darinya ?


Ternyata pak Rico benar-benar menganggapnya wanita matre yang hanya menginginkan uangnya saja. Lelaki itu tidak pernah berfikir bahwa Meta selalu menyebutkan sebuah harga, hanya demi menjaga harga dirinya yang sesungguhnya, yang sebenarnya tidak akan pernah bisa dibeli oleh lelaki itu berapapun nilainya.


Namun betapa pun Meta membolak-balik kemana arah, tujuan dan keingian seorang Rico Chandra Wijaya, semuanya hanya akan bermuara pada satu kenyataan.. bahwa pak Rico benar-benar tidak pernah menginginkannya. Tidak untuk lelaki itu, tidak juga untuk Rei. Pak Rico bahkan terlihat lebih tertekan karena tidak bisa mengakhiri semua yang sudah telanjur ia mulai.. bukan karena takut kehilangan dirinya !


Tidak bertemu dalam waktu dekat, lalu sampai kapan ?


Entahlah..


Yang Meta tau bahwa kontrak kerjanya yang berhubungan dengan proyek indotama times square memang telah resmi berakhir setelah meeting final yang telah mereka lewati. Selanjutnya semua pengelolaan indotama times square akan dilimpahkan seutuhnya pada pihak managemen mall. Itu artinya.. Meta akan kembali lagi ke kantor pusat indotama group, dimana pak Tian telah memutuskan bahwa dirinya akan kembali mengisi lagi jabatan sekretaris pak Tian yang kosong usai ditinggalkan Laras yang telah memilih SWD Fashion.


Dan setelah malam itu kemudian yang tersisa hanyalah keheningan yang panjang.. saat sosok pak Rico telah benar-benar melangkah pergi, menghilang dari pandangannya. Meninggalkan Meta yang akhirnya hanya bisa menangis semalaman. Menyesali diri.. menyesali takdir.. mengapa ia harus terikat dengan begitu rumit dengan seorang Rico Chandra Wijaya yang membuat dirinya tidak bisa mengenali warna hatinya sendiri. Apa yang sebenarnya dia inginkan ? apa hanya Rei satu-satunya alasan yang membuat dirinya serakah sehingga enggan pergi begitu saja dari kehidupan pak Rico ?


Dan akhirnya Meta tertidur dengan jejak air mata yang kentara.


Keesokan harinya saat Meta membuka mata, matahari bahkan telah begitu tinggi. Sinarnya membias diantara celah tirai. Meta melirik jam tangannya yang masih menempel di pergelangan tangan kirinya, dan ia terhenyak saat mendapati jarum jam yang menunjukkan pukul tujuh lewat.. nyaris setengah delapan.


Meta bangkit dari atas ranjang yang empuk seperti zombie. Rambut yang awut-awutan.. wajah yang berantakan.. bahkan tubuhnya masih terbalut pakaian yang sama sejak kemarin menandakan bahwa ia telah melewatkan ritual mandi yang awalnya sangat ia sukai. Belum juga bunyi perut yang keroncongan akibat tidak diisi sejak semalam. Makan siang di rooftop bersama Rudi adalah makanan terakhir yang diterima perutnya yang kecil, pantas saja jika sekarang bagian tubuhnya itu terasa melilit.


Meta meraih ponselnya sejenak. Beberapa notifikasi masuk telah ia lewatkan guna membuka sebuah notifikasi email yang berasal dari bagian SDM kantor pusat indotama group. Pemberitahuan resmi bahwa ia telah menempati posisi sekretaris pak Tian terhitung mulai besok hari, sekaligus menegaskan bahwa hari ini ia telah mendapat dispensasi. Mungkin bagian dari sedikit bonus atas keberhasilannya bertanggung jawab penuh atas semua administrasi yang menyangkut proyek indotama times square hingga akhir.


Meta menatap cermin yang ada dihadapannya, melihat dengan seksama bentuk dirinya yang begitu horror yang telah dipantulkan dengan sempurna oleh permukaan cermin.


“Armeta Wulansari.. bertahanlah. Kamu adalah pribadi yang kuat.. kamu bahkan lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan..”


Meta mencoba tersenyum pada bayangannya sendiri. Mencoba berdamai dengan perasaannya yang kacau hingga pagi ini.


Saat Meta berniat memasuki kamar mandi langkahnya urung begitu mendengar bunyi ponsel nya yang berdering. Wajah Meta yang semula kuyu serentak sumringah saat membaca sederet nama yang ada dilayar ponselnya..


‘Arini Ramdhan’


‘Memanggil..’


Meta menggeser icon hijau itu dengan bergegas.


“Halo, Rin..?”

__ADS_1


“Halo nyonya Rico Chandra Wijaya.. kesayanganku..”


Sapa riang Arini membuat Meta tertawa. “Arini, apa-apaan sih..!” protesnya untuk menghentikan canda nyonya Ceo indotama group itu. “Ada apa menelponku ?”


“Wellcome home, sayangku.. selamat karena akhirnya kamu menjadi sekretaris Tian lagi..”


“Iya.. keberuntungan sedang berpihak padaku, Rin..” tersenyum kecut.


“Kalau begitu aku ingin ditraktir !”


“Apa ?” Meta terhenyak menerima todongan yang agresif itu. “Apa uang jajan yang dikasih suamimu kurang ? tega-teganya minta ditraktir..”


“Apanya yang kurang ? aku bahkan sudah muak dengan uang suamiku sendiri. Aku ingin merasakan uangmu.. ayo cepat jangan pelit, kamu baru saja mendapat bonus double dari proyek indotama times square kan.. hayo ngaku..”


Meta tertawa mendengar rengekan manja Arini.”Baiklah.. baiklah.. aku akan mentraktirmu.. kapan ?”


“Tentu saja hari ini. Aku tau kamu lowong hari ini.. makanya aku ingin mengajakmu meet up. By the way just you and me yah.. ini waktu khusus emak-emak, tidak boleh ada yang membawa bocah..”


Ujar Arini dengan begitu riang diujung sana, seolah ingin menyatakan kebebasan mereka untuk menikmati hari tanpa kehadiran Sean dan Rei.


Akhh.. mengingat tentang Rei membuat dada Meta kembali sesak tiba-tiba karena kembali diliputi kesedihan yang mendalam.


Tak ingin berlarut-larut dalam kegundahan hatinya, sejenak Meta telah berfikir memang sudah seharusnya ia bersenang-senang. Selain hal itu bagus untuk menyegarkan seluruh otaknya yang dipenuhi berbagai problema.


Meta tau persis ia tidak boleh mengecewakan Arini. Nyonya Sebastian Putra Djenar itu tidak bisa seenaknya keluar rumah dan bersenang-senang selayaknya orang biasa, mengingat sikap pak Tian yang teramat sangat over protektif. Hanya untuk bertemu dengannya, Arini pasti telah bersusah payah mengeluarkan semua jurus rayuan untuk pak Tian sehingga bisa mengantongi ijin keluar dari istana megah milik Sebastian Putra Djenar, apalagi tanpa membawa Sean ikut serta.


“Baiklah, Rin.. aku setuju kita bertemu hari ini. So.. tentukan saja tempatnya..”


Usai mengubek seisi mall yang sebenarnya merupakan kepunyaan suaminya juga, Arini yang seperti biasa selalu diikuti Beni itu akhirnya memilih mengajak Meta untuk memanjakan diri disebuah salon kecantikan yang dengan sekejap bisa dikosongkan hanya untuk melayani mereka berdua saja.


“Bagaimana kabar Rei ?” Arini membuka suara saat mereka sedang bersantai menikmati teh matcha usai melakukan seluruh rentetan perawatan kecantikan yang membuat Meta seolah merasa dirinya bak seorang putri bangsawan.


“Baik..” jawab Meta singkat, seraya menghirup kembali teh matcha yang menyegarkan.


“Kalau daddy-nya kamu..?” kerling Arini menggoda.


“Daddy-nya Rei kali..!” semprot Meta.


Arini tertawa mendengar kesewotan Meta.


“Kan katanya kamu memanggil Rico dengan sebutan ‘daddy’ juga..”


Meskipun hatinya sedang gundah tapi kalimat Arini cukup membuat seulas senyum hadir dibibir Meta begitu saja, mengingat betapa menyenangkannya jika sedang bersama Rei, karena Meta memiliki kesempatan untuk ikut-ikutan memanggil lelaki itu dengan sebutan ‘daddy’.


“Iya memang, tapi..” kalimat Meta terputus begitu saja menyadari bahwa ia hampir masuk dalam jebakan Arini yang hanya ingin menggodanya saja. “Arini.. apa-apaan sih.. kenapa kamu jadi iseng seperti ini..”


Arini tertawa lagi, kali ini lebih keras dari yang awal. “Santai keless.. aku kan cuma becanda..” elak Arini membela diri dari tatapan penghakiman Meta.


“Ishh..”

__ADS_1


“Tapi.. so far.. kalian baik-baik saja kan, Met ?” nada suara Arini berubah serius meskipun terucap dengan santai.


“Hmm..”


“Apa semuanya berjalan dengan lancar..?” tanya Arini lagi.


“Tentu saja semuanya berjalan dengan lancar. Tidak usah khawatir.. i’m fine..”


Tapi Arini malah menatap Meta lekat. “Kamu hebat.” ucapnya kemudian.


“What ?”


“Kamu hebat jika bisa bertahan dengan Rico.”


Meta tersenyum mendengar pernyataan Arini itu.


“Ihh.. dibilangin malah tidak percaya. Kamu ingat tidak, dulu aku bahkan sering cerita sama kamu tentang Lila yang selalu mengatakan bahwa Rico adalah tipe lelaki tanpa cinta ?”


Meta terdiam. Semua kisah itu bahkan masih terpatri dibenaknya. Tidak hanya sekali dua kali dia dan Arini sering membicarakan semua hal yang menyangkut pak Rico, yang selalu dikeluh kesahkan Lila mengenai kehambaran dalam rumah tangga mereka yang memang tidak berpondasikan apa-apa selain hanya perjodohan belaka, dan mereka terus menjalaninya dengan mencoba terus berbahagia seiring dengan kehadiran Rei diantara mereka.


“Rico adalah orang yang sulit. Tian bahkan pernah mengatakannya.. bahwa hati Rico itu seperti bongkahan es dikutub. Meskipun demikian aku optimis dengan hubungan kalian.. karena jika kamu merasa nyaman.. siapa tau itu karena hati Rico juga sudah terpaut kepadamu..”


Meta menyembunyikan kegetiranya.


‘Andai kamu tau, Arini.. bahwa yang kamu katakan dengan optimis itu semuanya salah. Sandiwara ini bahkan akan segera berakhir, karena hati pak Rico sama sekali tidak terpaut padaku.. sementara Rei.. entahlah apakah Rei masih mengingatku ? atau malah telah melupakanku begitu saja karena kehadiran Shela..’


Bathin Meta dipenuhi kesedihan yang tak berujung.. meskipun dibibirnya tetap tersungging seulas senyum.


.


.


.


Bersambung..


Mohon sisihkan waktu untuk berikan bintang 5 rating author untuk novel ini yah.. 🙏🙏🙏




Jangan lupa favorite-kan,


like,


comment, dan


berikan hadiah serta vote yang banyak.. 🤗

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2