
"Ya ampun.. Rin, Seiyna lucu banget sih..?"
Meta tak henti mengagumi bayi mungil Arini yang sejak tadi berada dipelukannya.
Arini yang bersandar disofa nampak tersenyum menanggapi tingkah Meta. Namun hatinya sedikit terusik saat menyadari wajah Meta yang sering meringis seolah menahan sesuatu.
"Meta, kapan sih tepatnya kamu akan melahirkan?" tanya Arini seraya menatap perut Meta yang membusung dengan sombongnya.
"Kata dokternya sih masih dua minggu lagi."
Arini belum sempat bertanya kembali manakala celetukan Meta sudah lebih dahulu terdengar.
"Rin.. aku lamar Seiyna dari sekarang aja yah.." ucap Meta lagi kali ini sambil menatap Arini dengan tatapan serius.
"Lamar..? lamar apa..?"
"Lamar Seiyna-lah buat jadi menantu aku dan Rico."
Mendengar itu Arini tergelak. "Ada-ada saja kamu."
"Egh, kenapa? kamu tidak mau kalau nanti kita bakal jadi besan?"
"Bukan begitu, Meta, tapi aku sudah bertekad untuk membiarkan kelak anak-anakku memilih jodoh mereka sendiri. Sama seperti Rico suamimu itu.. aku juga trauma dengan kata perjodohan." ujar Arini sambil mengulum senyum.
Meta sesaat termanggu. Arini memang benar, Rico memang sedikit terganggu jika bicara tentang perjodohan. Mungkin trauma dengan apa yang pernah ia alami sebelumnya.
"Tapi perjodohan tidak selalu berakhir buruk. Buktinya kebahagiaanmu saat ini karena hasil perjodohan.." kilah Meta masih tak mau kalah mendebat Arini.
"Aku sedang beruntung. Karena pada kenyataannya, diluar sana.. ada begitu banyak pasangan yang hubungannya hancur dan tidak bahagia akibat perjodohan."
"Huhh, bilang saja kamu tidak ingin menyerahkan putri kecilmu ini padaku, kan?" ucap Meta seraya kembali menatap kagum Seiyna yang tertidur anteng dipelukannya.
"Jodoh ditangan Tuhan. Kalau memang kita berjodoh untuk jadi besan, aku malah akan sangat senang."
Bertepatan dengan kalimat Arini, dua orang pria tampan terlihat memasuki ruangan itu dengan senyum.
"Kalau sudah ngomongin bisnis, pasti lupa waktu.." protes Arini kearah Tian yang baru saja menghempaskan tubuhnya kesamping Arini.
"Baru ditinggal sebentar sudah begitu." balas Tian membuat Arini melotot.
"Sayang, sudah mau sore, sebaiknya kita pulang sekarang.." ujar Rico kearah Meta yang masih asik menatap wajah imut Seiyna.
"Dadd, lucu yah, coba lihat pipinya, kayak tomat.. bulat.. merah.. ihh gemes.."
"Sebentar lagi kita juga bakal punya yang seperti Seiyna.. jadi sebaiknya kamu kasih Seiyna ke Arini. Tuh, udah bangun kayaknya.." ujar Rico seraya menunjuk Seiyna yang terlihat menggeliat dan mulai merengek kecil.
Melihat itu Meta buru-buru bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati Arini untuk menyerahkan Seiyna.
__ADS_1
"Kayaknya Seiyna haus, Rin.."
"Sepertinya, karena sudah dari tadi belum ne nen. Tidurnya pulas banget sih.. jadi tidak tega mau bangunin." ujar Arini sambil menerima Seiyna dengan hati-hati dan membawanya kedalam pelukan.
"Ya sudah, kalau begitu kita pamit yah.." ujar Meta yang disambut anggukan Arini dan Tian.
"Bro, balik dulu yah.. Rin balik yah.."
"Okeh.. Thanks yah, Co." ucap Tian kearah Rico sementara Arini hanya menanggapi kalimat Rico dengan senyum.
"Daghh Seiyna.. Mommy Meta pulang dulu yah.."
"Dagh juga Mommy.. hati-hati dijalan.." ujar Arini dengan suara kecil sambil merapatkan pipinya ke wajah Seiyna yang semakin menggeliat, seolah tak sabar mendapatkan asupan asi dari Arini.
XXXXX
"Dadd.."
"Hhmm.."
"Perutku sakit.."
"Hhmm.." tapi detik berikutnya Rico yang awalnya sedang fokus menyetir terlihat langsung terhenyak begitu tersadar dengan kalimat Meta. "Egh, apaa..?!" wajah Rico langsung berubah panik.
"Fokus, Dadd.. jangan panik begitu.." Meta mengingatkan Rico yang terlihat langsung berkeringat dingin seperti dirinya, bahkan lelaki itu terlihat lebih panik dari Meta sendiri, membuat Meta mau tak mau merasa sedikit lucu melihatnya.
Tapi setelah menahan rasa sakit yang datang dan pergi sesuka hati selama dua hari, akhirnya Meta menyerah, setelah beberapa saat meninggalkan gerbang utama rumah keluarga Djenar, nyeri yang Meta rasakan tak kunjung berhenti sampai sekarang, hingga kini dahinya bahkan telah dipenuhi keringat sebesar bulir jagung.
"Bukannya kata dokter masih dua minggu lagi..?"
Meta meringis kecil sambil mengangguk. "Makanya aku juga tidak yakin, Dadd.. tapi ini nyerinya tidak berhenti lagi.."
"Kalau begitu kita harus kerumah sakit sekarang juga.." putus Rico dengan wajah yang pucat, lagi-lagi lebih pucat dari wajah Meta.
"Sudah dekat ini, sebaiknya kerumah dulu, Dadd.. beresin barang yang mau dibawa ke rumah sakitnya sekalian.."
"Apa..? astaga.. tidak.. tidak.. suruh bik Sumi saja yang menyiapkan semuanya. Aku tidak mau kerumah lagi.. aku akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang juga." Rico telah memutar kemudinya, tidak lagi menuju kerumah, melainkan ke rumah sakit Indotama Medical Centre yang rutenya tadi telah terlewati.
XXXXX
Setelah diperiksa oleh dokter Rina, yang diperkirakan Meta benar adanya. Pembukaan serviks bahkan telah memasuki fase persalinan, sehingga membuat Meta langsung diarahkan keruang bersalin.
"Mommy sayang.. sabar yah.." bisik Rico sambil menatap Meta lekat. Sepasang mata Rico terlihat berkaca-kaca saat meyaksikan wajah Meta yang pucat itu mengangguk kecil. Bibir mungil Meta bahkan ikut bergetar setiap kali rasa sakit akibat kontraksi menderanya, namun mulutnya tetap bungkam tanpa kata.
Rico membiarkan tangannya menjadi sasaran pelampiasan rasa sakit Meta yang tanpa sadar akan meremas bahkan kuku Meta telah mencakar sepanjang pergelangan tangannya.
Ini adalah kali kedua Rico berada dalam kondisi seperti ini. Pertama mengalaminya saat Rico menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri proses kelahiran Rei.
__ADS_1
Saat itu Rico merasa dirinya nyaris menjadi gila dalam sekejap, ketika menyaksikan langsung bagaimana beratnya penderitaan Lila saat melahirkan anaknya.
Saat itu Lila menangis kesakitan tanpa henti. Dan karena kejadian itulah Rico mengikrarkan janji didalam hati, untuk tidak akan pernah menyakiti Lila dan akan memperlakukan Lila dengan baik.
Rico telah berusaha menepati janji. Meskipun bukan karena cinta, tapi Rico bahkan menaruh seluruh penghargaan dan kasih sayangnya untuk Lila. Terus setia, dan tidak lagi berpaling sampai maut menjemput.
Namun saat ini, aura di ruangan bersalin, dirumah sakit yang sama, sungguh berbeda dengan tiga tahun lalu.
Bukan hanya nyaris gila, tapi Rico merasa dirinya mungkin bisa mati berdiri, hanya dengan melihat pemandangan Meta yang tergolek pucat tanpa kata.. tanpa mengeluh..
Hanya sepasang kelopak mata yang terus dialiri bening, dan segaris bibir yang meringis.. sanggup membuat seluruh perputaran dunia Rico seolah terhenti.
XXXXX
Lebih dari dua jam tersiksa dalam kondisi yang menegangkan, akhirnya saat yang dinanti pun tiba.
Titik tertinggi dari rasa frustasi yang dialami Rico begitu melihat dokter Rina memegang gunting untuk merobek area jalan lahir, sebelum akhirnya memberikan instruksi kepada Meta untuk kembali mengejan.
Tak lama kemudian, suara tangis sang bayi pun pecah.. memenuhi seluruh ruang persalinan yang tadinya mencekam
Tangisan yang nyaring itu terasa menggetarkan seluruh jiwa Rico dan Meta secara bersamaan.
Rico menghujani puncak kepala Meta dengan begitu banyak ciuman.
"Terima kasih, Sayangku.. terima kasih.."
Air mata haru Rico luruh begitu mengucapkannya.
Meta yang masih bersimbah peluh usai perjuangan panjang melahirkan buah cintanya dengan Rico itu pun tersenyum.
Jemari Meta terangkat guna menyentuh pipi Rico yang basah, mengusapnya lembut, diiringi senyum kelegaan.
.
.
.
Bersambung..
+🔥 Bocah dilarang Mampir.. ðŸ¤
LIKE and SUPPORT.. 🤗
Thx and Lophyouu all.. 😘
__ADS_1