
Two years latter...
“Daddyyy, lempal bolanyaa.. aaakkh..!”
Bocah lelaki berumur dua tahun itu berteriak memanggil Tian seraya berlari mendekat, namun naas baginya ia malah jatuh terjerambab di hamparan rumput yang hijau saat berusaha mengejar bola yang dioper sang daddy dengan tendangan yang perlahan.
“Sean..!”
Tian yang melihat pemandangan itu sontak berlari mendekat dengan wajah pias. Namun belum sempat ia menunduk untuk mengangkatnya, anak lelaki itu malah sudah bangun lebih dahulu sambil tertawa-tawa dengan girang.
“Sayang.. kamu tidak apa-apa ? kenapa malah tertawa ?” Tian sudah berjongkok dihadapan buah hatinya itu dengan mimik khawatir, sembari memeriksa seluruh tubuh Sean kalau-kalau ia terluka, namun syukurlah bocah lelaki itu tidak apa-apa.
“Daddy, aku jagoan.. aku tidak menangis waktu teljatuh..” berucap bangga kepada Tian, seolah-olah ia tau bahwa daddynya sedang mengkhawatirkannya.
“Good boy, jagoan daddy..!” Tian tersenyum bangga mendengar kalimat cadel yang terucap dari bibir mungil jagoan kecilnya itu.
‘Sean Argano Putra Djenar’.
Tian menatap putranya dengan bangga sebelum sebuah suara didepan pintu menyela momen bertatap-tatapan penuh kebanggaan antara ayah dan anak tersebut.
“Sayang.. sudah mau sore, bawa
Sean masuk..!” Arini terlihat berdiri didepan pintu dengan gaya menopang pinggang.
“Iya sayang..!” menyahut singkat
sambil menatap putra kecilnya lagi. “Ayo kita masuk, sayang.. mommy mu sudah memanggil..”
“Aku mau main bola, dad..”
menatap Tian dengan pandangan memohon.
Tian menggeleng. “Daddy janji kita akan main lagi.. tapi sekarang harus dengarkan mommy yah.. kalau tidak, nanti mommy marah..” berucap demikian seraya mengangkat tinggi-tinggi tubuh kecil Sean ke udara.. membuat bocah itu tertawa-tawa riang, melupakan rasa keberatannya meninggalkan halaman luas dengan hamparan rerumputan hijau tersebut, membuat Tian dengan mudah membawanya masuk kedalam rumah.
“Sean sayang.. mandi dulu sama nanny ya, sebentar lagi Rei datang loh..” Arini yang tau persis sifat putranya yang kalau sedang lengket dengan Tian tidak mau lepas dengan mudah.. makanya dia harus sengaja menyebut nama Rei agar Sean mau berpindah tangan.
Rei adalah Reindra Affan Wijaya,
putra Rico dan Lila. Malam ini mereka memang sepakat akan menghabiskan weekend dengan mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan dibelakang rumah, dan tentu saja si kecil Rei tidak mungkin ketinggalan.
“Asikk.. mommy.. aku mau main
dengan Lei..” Sean dengan bicaranya yang masih cadel terlihat bertepuk tangan dengan gembira. Saking senangnya bocah lucu itu tidak mengadakan perlawanan sedikitpun saat nanny-nya mengambil alih dirinya dari pelukan sang daddy, dan membawanya pergi meninggalkan ruang tengah tersebut.
Arini nampak serius memperhatikan beberapa alat masak yang akan digunakan untuk barbeque sebentar, memeriksanya satu persatu dengan teliti kalau-kalau ada yang kurang. Tadi ia sudah menyuruh dua orang maid untuk mengeluarkan peralatan tersebut dari tempat penyimpanannya selama ini karena memang sudah lama tidak pernah dipakai. Melihat pemandangan itu Tian langsung mendekat, melingkarkan tangannya yang kokoh melewati pinggang yang terasa kembali mulai melebar.. sehingga jemarinya berlabuh di perut sang istri yang nampak sudah mulai terlihat membesar.
Membesar..?
Tentu saja.. karena saat ini Arini sedang hamil lagi untuk yang kedua kalinya. Tidak seperti kehamilan pertama yang penuh dengan penantian yang panjang, mendebarkan serta dihiasi problema.. kehamilan kedua Arini ini malah sama sekali tidak terencana.
Arini sama sekali belum bermaksud ingin hamil lagi namun ternyata kenyataan berkata lain. Mau tidak mau ia harus menerima kembali anugerah Tuhan yang tanpa perencanaan kali ini. Semua itu terjadi karena dirinya memang sengaja tidak mengikuti program kb agar memudahkannya mendapati kembali tubuh yang ideal pasca melahirkan dan menyusui Sean, tapi ternyata hal itu justru dimanfaatkan oleh Tian yang awalnya selalu mengatakan akan berhati-hati setiap kali melakukannya, malah kemudian berbalik ‘menipunya’ dengan mudah.
Haihh.. ternyata Tian memang
sengaja melakukannya karena kebelet ingin memberikan Sean teman bermain secepatnya agar Sean tidak kesepian.. dasar modus !
“Biarkan saja maid yang menyiapkan semuanya.. “ bisik Tian sambil menaruh dagunya diatas bahu Arini.
“Memang semua ini maid yang mengerjakannya.. aku hanya mengeceknya saja..” berkata demikian seraya mengurai pelukan Tian. “Sayang.. sebaiknya kita bersiap..”
“Baiklah, ayo..” Tian menyambut
dengan bersemangat ajakan itu sambil tersenyum smirk. Ia langsung menggandeng tangan Arini menuju lift yang akan membawa mereka kekamar mereka yang ada dilantai dua.
“Sayang, nenek jadi menginap
disinikan..?” Arini bertanya saat teringat pada nenek Saraswati yang rencananya akan menginap dirumah mereka selama beberapa hari kedepan. Saat ini mereka sudah berada didalam kamar mereka yang luas.
“Iya, nanti nenek kesini bersama
Laras.” jawab Tian seraya melepaskan kaos yang dipakainya begitu saja.
Melihat pemandangan itu membuat perhatian Arini teralih. Bagaimana tidak, tubuh Tian seperti tidak pernah berubah sama sekali dalam dua tahun ini. Memiliki seorang anak lelaki yang lucu dan umur yang semakin bertambah malah semakin membuat suaminya itu semakin sexy saja dari hari kehari. Benar-benar hot daddy..
“Suka ?” Tian mendekat sambil
tersenyum devil saat melihat tatapan Arini yang menguliti tubuhnya yang setengah na k ed.
Arini membuang wajahnya seraya menelan ludah. “Sudah sering lihat.. ‘B’ ajah..” ujarnya sok cuek padahal dadanya mulai bergemuruh.
__ADS_1
“Biarpun sering dilihat tapi tiap
kali lihat selalu berdebar. Iya kan..” goda Tian lagi serta merta mengambil jemari Arini begitu saja dan menaruhnya diatas perutnya yang te lan jang dengan enam ruas yang sangat terasa keras dipermukaan jemari Arini.
“Ish.. apaan sih..” ingin menarik
tangannya tapi tangan kuat Tian menahannya untuk tetap berada ditempatnya, membuat kelima jemarinya itu menempel ketat di enam ruas perut yang seperti memiliki partikel penyusun atom, proton dan electron, sehingga saat menyentuhnya Arini merasa seperti sedang kesetrum dengan listrik bervoltase rendah.
Tian tersenyum sebelum akhirnya
mulai melancarkan aksi kecil-kecilan, mengecup sedikit demi sedikit setiap inchi dari wajah Arini yang sudah dipenuhi semburat.
“Sayang.. Rico dan Lila akan segera tiba..”
“Jangan mengada-ngada ini masih
sore..” balas Tian seraya membungkam mulut itu agar tidak lagi berusaha mencoba mengelak, kemudian mulai merasa tidak sabar sehingga langsung mengangkat tubuh yang mulai kembali berisi itu menuju ranjang mereka yang berukuran besar.
Arini mulai pasrah saat merasakan
punggungnya sudah menyentuh lembutnya peraduan, sementara diatas wajahnya ada wajah tampan Tian dengan tatapan yang melekat dalam, menembus kedalaman manik matanya seraya tersenyum memuja.
Arini tidak bisa menepis rasa bahagia saat bisa merasakan betapa besar cinta yang selalu ia temukan disana.. cinta yang bisa membuatnya mampu menukar seluruh isi dunia dan alam semesta yang ia punya.
“Sayang aku mencintaimu..” bibirnya tidak bisa lagi menahan luapan perasaan untuk lelaki maha sempurna itu. Mengucap dengan sungguh-sungguh seraya menyentuh rahang tegas sang pemilik hatinya.
Tian tersenyum mendengarnya. “Just prove it..” bisik Tian dengan suara berat yang dipenuhi gairah.
Namun yang ada Arini malah melotot kearah Tian, menyadari bahwa ungkapan perasaannya yang dengan segenap hati malah dijadikan celah oleh lelaki itu untuk mengerjai dirinya.
“Dasar modus..” sedetik kemudian
malah mencibir membuat Tian sejenak tertawa mendengarnya, namun sesaat kemudian ia kembali menatap Arini dengan tatapan nakal yang terkesan bersikeras.
“Aku serius..”
Tian berucap lagi, membuat Arini
terpana berjenak-jenak lamanya sambil menggigit bibir bawahnya sedikit, bertahan dalam rasa malu dan kebimbangan.
Tidak ingin membuang waktu
menunggu pergerakan Arini yang tak kunjung datang, akhirnya Tian kembali mengambil alih kemesraan yang sempat tertunda.
Tidak ingin menyakiti hasil maha
karyanya yang sedang bersemayam diperut Arini, Tian pun melakukannya dengan berhati-hati, meskipun tetap dalam luapan hasrat yang menggebu.. menyenangkan dan memuaskan.. namun seberapa tangguh dirinya sebagai seorang Sebastian Putra Djenar yang hebat, pada akhirnya ia pasti akan menyerah juga dalam pelukan wanita yang selalu membuat hasratnya menggila..
“Sayang.. bangun..”
Tepukan halus dipipinya membuat
Tian tersadar. Ternyata setelah bekerja keras mencapai kesenangan.. rupanya ia terlelap sejenak. Tian memicingkan matanya seraya bangkit dengan malas. Diluar sana hari terlihat mulai menggelap.
“Sudah mandi ?” tanyanya serak
saat melihat Arini yang saat membangunkannya masih mengenakan bathrobe.
Arini menganguk. “Barusan.. hmmpp..”
Suaranya tertelan begitu saja, karena mulutnya telah dibungkam paksa. Mata Arini melotot namun kemudian memilih untuk mengikuti arah mengalirnya kenikmatan. Ia bahkan meremas rambut Tian saat lelaki itu menurunkan wajahnya diceruk lehernya, memberinya stempel kepemilikan.. dan meremas rambut itu semakin kuat, manakala lelaki itu kembali menurunkan lagi wajahnya diantara belahan bathrobenya.. memberikan lagi stempel kepemilikan, kali ini nyaris diseluruh permukaan kulitnya.. membuat Arini harus menggigit bibirnya kuat-kuat menerima kenakalan demi kenakalan suaminya yang begitu profesional..
“Aku mau mandi dulu..” usai memporak-porandakan seluruh hasratnya Tian malah beringsut sambil tak lupa mengembangkan senyum yang khas.
“Sayang..” Arini menahan lengan
kokoh itu serta merta, tatapannya terlihat ingin protes tapi seperti yang sudah-sudah.. masih menimbang-nimbang.
“Heemm..?” Tian mengangkat
alisnya, berpura-pura bodoh.
Arini terdiam sejenak, menimbang lagi dengan singkat sebelum akhirnya memilih untuk membuang ego dan rasa malunya kedasar lautan. Kemudian sambil berjinjit.. ia menjelajahi seberapa lembut suaminya itu terlebih dahulu.
Tian yang tidak siap mendapati
kejutan menyenangkan itu langsung memberikan respon cepat untuk mengimbanginya dengan luapan perasaan yang sama.
Dengan penuh keyakinan Arini menarik tangan Tian kembali ketempat asal mula.. membuat Tian tertawa tanpa suara, bergerak patuh mengikuti keinginan sang pemilik jiwanya.
__ADS_1
“I wanna prove it..” bisik Arini
sambil tersenyum malu-malu.. namun tak berniat mundur.. membuat Tian yang sejak awal terbiasa memimpin mendadak harus menemukan kejutan yang lain.. yang lebih mendebarkan dari yang pernah mereka lalui..
Sean dan Rei nampak berlari-lari kecil dan bercanda disekitar Saraswati yang sejak tadi tak berhenti tertawa mendapati tingkah polos dan lucu dari dua bocah lelaki tampan itu.. sementara Arini dan Lila terlihat begabung dengan beberapa orang maid yang sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk pesta barbeque mereka.
Semua aktifitas itu terekam dengan cukup jelas dimata Tian dan Rico yang sedang duduk bersantai menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan hati itu.
“Tian.. apa kita sudah benar-benar yakin bahwa hidup kita akan berakhir ditangan dua wanita itu ?” Rico bertanya sambil memalingkan wajahnya kearah Tian yang ada disampingnya.
"Menurutmu ?” Tian mengerling kearah Rico.
“Sepertinya aku yakin..”
“Sepertinya..?” Tian nyaris tertawa.
“Jawaban macam apa itu, Co. Pantas saja Lila sering membunuhmu karena cara
bicaramu yang tidak pernah berubah.. selalu seperti itu..” Tian terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya kearah Rico yang malah meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Iya.. maksudku aku yakin. Lila sudah memiliki semua karakter wanita idaman semua lelaki, aku mau mencari apa lagi dari wanita yang lain..? apalagi kalau cuma perkara cantik..? coba lihat Tian.. Lila itu sangat cantik.. mana ada wanita yang lebih cantik lagi dari Lila ? seumur hidupku aku belum pernah menemukannya..”
“Itukan katamu saja..! itu.. coba lihat wanita yang ada disamping istrimu itu.. dia bahkan jauh lebih cantik..” ucap Tian penuh percaya diri, tentu saja yang ia maksudkan adalah Arini, istrinya sendiri.
Mendengar itu Rico langsung mencibir. “Cihh.. dasar bucin..!” desisnya kearah Tian yang malah tertawa sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara..
“Mencintai dengan sepenuh hati tidak serta merta bisa dibilang budak cinta, Co. Karena wanita yang istimewa sudah sepantasnya mendapat penghargaan dari lelaki yang hebat. Coba lihat mereka..” Tian menunjuk kearah dua bocah cilik yang berada tidak seberapa jauh dari tempat mereka sekarang. “Bukankan mereka adalah keajaiban yang diberikan para wanita istimewa itu ?”
Rico tersenyum, sama seperti Tian yang juga sedang menyunggingkan senyum, saat pandangan mereka menatap kearah yang sama. Kearah Sean dan Rei, dua bocah lelaki yang terlihat tertawa bahagia sambil berlarian kesana kemari.
Tiba-tiba kedua bocah itu sudah
berlarian untuk saling mendahului memeluk mommy mereka masing-masing.
Lila terlihat langsung mengangkat Rei sambil tertawa, sedangkan Arini memilih duduk terlebih dahulu agar bisa memangku dan membawa Sean kedalam pelukan.
Well.. apakah masih ada lagi pemandangan yang lebih indah dari pemandangan ini..?
Tentu saja tidak..! karena Rico dan Tian berani bertaruh, bahwa pemandangan ini merupakan kunci letaknya kebahagiaan serta seluruh perputaran kehidupan mereka di hari ini.. dan dimasa depan..
I'm gonna marry you..
I know that you’ll be mine
I’m gonna give my world
You’re the only one
Tell them everything
This is just beginning
Jangan tinggalkan aku..
Disaat kujatuh..
(Hari Bahagia – by. Atta-Aurel)
.
.
.
* TAMAT *
Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya ‘CEO Tampan dan Istri Rahasia’ yang merupakan novel perdana author bisa selesai juga dibulan suci Ramadhan ini.. 😇
Maaf jika kurang greget, kurang asik, kurang ini, kurang itu.. 😁
Apapun itu yg jelas aq merasa Senang, bangga, terlebih sangat bahagia sekali mengenang perjalanan ‘CTIR’ dari awal sampai akhir, bersama semua reader baik yang show up maupun yang diem-diem aja.
Penghagaan tak terhingga untuk reader yang sudah dengan ikhlas membagi like, comment, vote, poin, koin, menekan icon favorite, mengsubscribe profil author, mengfollow ig, fb, tiktok, dan semua dukungan dari readers sekalian..😍
Mohon jangan kurangi apa yang sudah kalian berikan yah..apalagi untuk icon favorite. Tinggalkanlah semua itu sebagai kenang2an terindah untuk author remahan ini. (Dikurangin jangan tapi kalau dilebihin boleh..iddihh..🤣)
Next project, maybe CTIR season 2 (yang pasti bakal bikin naik gula darah karena settingan diotak author konfliknya lebih komplit), atau sebuah novel baru yang settingan di otak author beda alur 180 derajat dari CTIR. Kita lihat nanti, mana yang bakal didahuluin.. karena auhor gak bisa bikin novel sekali banyak.. cukup satu biar fokus. intinya jangan unfollow icon favorite karena notice untuk next project akan author kasih di novel ini.. 🤗
Terakhir.. Author pengen kasih bonus visual buat mengobati rindu tapi sampe sekarang belum jadi-jadi saking author gak ada kerjaannya.. ahaha.. 😂 Tp kalau kalian kangen dengan cerita dan tokohnya kan boleh baca lagi dari awal.. sambil kroscek, kali aja ada bab yang belum di Like. Modussss.. hihi.. 😅😅😅
__ADS_1
Okehh my readers kesayangan author.. see you again in next project.. Muacccchh… 😘😘😘