CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Bukan teman


__ADS_3

“Darimana kamu dapat baju jelek itu ?” Tian melirik sekilas Arini dengan balutan piyama doraemon yang sedang asik menyeruput strawberry lemonade dingin yang dari namanya saja sudah ketahuan kalau itu adalah minuman yang merupakan perpaduan antara kesegaran buah strawberry dan fresh lemon yang diracik sedemikian rupa.


“Rudi yang membelinya.” imbuh Arini singkat.


‘Glek.. Mati aku..’


Bathin Rudi dalam hati, hanya bisa pasrah.


Rudi yang sedang berdiri diantara Arini dan Tian sambil mengawasi seorang room service waiters yang sedang membereskan rolling tables bekas makan malam pasangan suami istri itu terlihat menelan ludahnya saat mendapati tatapan tajam Tian yang langsung mengarah penuh padanya begitu mendengar ucapan Arini baruan.


“Jangan menatapnya begitu, aku yang menyuruhnya..” Arini serentak menengahi seraya meletakkan gelas starwberry lemonade yang nyaris tandas itu keatas meja, saat tersadar setelah melihat tatapan tajam Tian yang mengarah penuh pada Rudi yang sedang berdiri salah tingkah itu.


“Huhh,” Tian memalingkan wajahnya kesal. “Cepat bereskan semuanya dan pergilah beristirahat dikamarmu.” ucap Tian lagi dengan intonasi suara yang masih menyimpan kesal kearah Rudi yang langsung menganguk lega, seolah baru terbebas dari hukuman mati.


“Baiklah, Pak.. saya permisi dulu, bu Arini.. saya permisi,”


“Iya Rudi, terima kasih atas bantuannya yah,” Arini tersenyum.


Rudi pun berlalu tepat dibelakang room service waiters yang sedang mendorong rolling table keluar dari kamar suite itu.


“Hhhuff.. hari ini rasanya melelahkan sekali,” Tian berucap setelah Rudi dan room service waiters itu sudah


benar-benar berlalu.


“Iya, aku juga mau beristirahat.. biar besok bisa bangun pagi. Aku sudah tidak sabar bertemu ayah..” Arini bangkit dari duduknya menuju kamar mandi, berniat hendak membersihkan diri dan melakukan ritual standar seperti membersihkan wajah dan menggosok gigi sebelum tidur.


Tidak berapa lama ia keluar dari kamar mandi ia tidak menemukan Tian disana.


‘Kemana dia ? apa dia  pergi keluar ?’


Arini membathin, tapi saat melihat kepulan asap tipis dari balkon Arini tersadar bahwa ternyata Tian sedang duduk disana sambil merokok.


‘Tian merokok ?’


Arini mengingat-ngingat sejenak, sepertinya baru kali ini ia melihat lelaki itu merokok. Tapi demi menghindari situasi canggung yang menguras otaknya sejak dikamar mandi tadi, seraya membayangkan bagaimana ia akan melewati malam ini dengan Tian dikamar yang sama, Arini begegas naik keatas ranjang.. menempati salah satu sudutnya.. menarik selimut keatas hingga menutupi hampir sekujur tubuhnya.


Alangkah baiknya jika ia bisa tidur saat ini juga sebelum Tian kembali. Arini serentak memejamkan matanya rapat-rapat.


Satu menit.. dua menit.. sepuluh menit.. lima belas menit.. tiga puluh menit..


‘Astaga.. kenapa susah sekali sih memejamkan mata ?!’


Arini belingsatan sendiri. Dengan posisinya yang masih berbaring ia mencoba mengintip kearah balkon.. dari balik tirai yang melambai lembut terhempas angin malam, Arini masih bisa melihat kepulan asap putih tipis masih mengepul disana.


‘Masih merokok ? sejak tadi ? sudah berapa banyak Tian menghabiskan rokoknya..? Haiihh.. bukankah dia selalu menggembar-gemborkan masalah pentingnya menjaga kesehatan ? lalu kenapa dia merokok sebanyak itu..?’


Entah kenapa Arini merasa gerah sendiri. Apakah karena ia memakai selimut ?


Ia menyingkap sedikit selimut yang membungkus seluruh tubuhnya, hingga sampai ke perut. Mencoba memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


Satu menit.. dua menit.. lima menit.. sepuluh menit.. dua puluh menit..


‘Huhh..! Baiklah.. aku menyerah !!’


Menyadari usahanya yang sia-sia akhirnya Arini memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Ia mendekati tasnya yang tergeletak diatas meja rias, bermaksud mengambil ponselnya yang ada didalam sana sambil berfikir mungkin dengan membuka sosial media, atau membaca novel online bisa membantunya untuk lebih cepat menemui rasa kantuknya.


Begitu Arini berbalik ia nyaris terlonjak saat menyadari Tian sudah berdiri kokoh dihadapannya.


“Sedang apa ?”


“Mau ambil ponsel.”


“Kenapa belum tidur ?”


“Tidak bisa tidur.”


“Kenapa..?”


“Ya karena belum mengantuk.”


Tian tertawa kecil, kemudian lelaki itu beranjak menuju kamar mandi.


‘Memangnya ada yang lucu ?’


Arini merenggut dalam hati, mendengar tawa renyah itu. Arini ingin kembali ke ranjang dengan ponsel ditangan.. manakala langkahnya mendadak urung. Tiba-tiba saja pemandangan ranjang besar yang berada tepat dihadapannya membuatnya merasa sangat malu, membuat jantungnya berdebar tak menentu. Akhirnya ia memutuskan duduk dikursi yang ada didepan meja rias, masih menatap ranjang besar dihadapannya dengan perasaan campur aduk tak menentu.


Arini mengetuk kepalanya dengan ponsel, mencoba mengusir pemikiran-pemikiran aneh yang tiba-tiba saja sudah gentayangan memenuhi otaknya..


Tian yang barusan keluar dari kamar mandi tentu saja keheranan saat memergoki Arini sedang mengetuk kepalanya dengan ponsel yang ada ditangannya.


“Ohh.. tidak, tidak apa-apa.. hanya sedikit pusing..” akhirnya memilih berbohong.


Arini mencoba mengabaikan pandangan Tian yang masih menatapnya heran. Wajah lembab khas seperti habis dibasuh plus rambut yang sedikit basah membuat Arini gagal fokus, buru-buru menghindar dari


pemandangan sempurna itu.


“Kamu sakit ?”


“Egh, tidak.. aku.. mungkin hanya kurang tidur..”


“Tidur dipesawat tadi kurang nyaman yah ?” ujar Tian sedikit menggoda.


“Hah ? egh.. hmm..” Arini gelagapan. Pipinya kembali bersemu karena kalimat Tian itu sontak membuatnya kembali teringat kejadian memalukan tadi di pesawat.


Tian menghempaskan tubuhnya disisi tempat tidur dengan gerakan santai, meraih ponselnya yang ada diatas nakas samping ranjang dan langsung membukanya. Seperti biasa ia selalu mengecek semua


notifikasi yang masuk satu persatu sebelum tidur, mulai dari email klien, sampai pada semua laporan dari berbagai bidang yang memenuhi notifikasi message dan whattsapp. Sejenak lelaki itu seperti tenggelam sesaat didalam kesibukannya.


Arini melirik setiap pergerakan lelaki itu, sementara dirinya sendiri masih duduk terpaku dikursi membelakangi meja rias, nyaris tidak bergerak sedikitpun, sibuk memikirkan cara bagaimana ia bisa naik keranjang besar yang ada dihadapannya malam ini tanpa rasa malu.

__ADS_1


“Apa kamu akan pergi ke suatu tempat..?” Arini membuka suara.


“Tidak. Kenapa ?” Tian menjawab tanpa menoleh.


“Apa.. kamu tidak memiliki urusan bisnis ? biasanya kamu selalu memiliki urusan dimanapun kamu berada, kan..?”


Kali ini Tian mengangkat wajahnya menatap Arini sejurus. “Kali ini tidak. Memangnya kenapa ? ada tempat yang ingin kamu datangi ?”


“Egh ? tidak.. tidak..” menggeleng sambil mengigit bibirnya. Namun raut wajah Arini yang gelisah membuat Tian menyadari sesuatu.


Tian tersenyum kecut. “kamu sedang tidak berniat mencari cara mengusirku dari kamar ini, kan ?” ujarnya to the point.


Wajah Arini langsung pias mendengarnya. “Egh.. tidak.. tidak..” ia menggeleng berkali-kali.


‘Cihh.. kenapa dia selalu bisa membaca fikiranku, sih ?’


“Ya sudah, kalau begitu kemarilah dan tidurlah disini. Mau sampai kapan kamu mau duduk disitu ?”


“T-Tapi..”


“Sudah.. jangan pikirkan apa-apa lagi. Tidurlah disini. Kalau kamu merasa canggung anggap saja aku temanmu..” ucap Tian santai.


Arini mencibir. “Aku tidak pernah jadi temanmu, dan teman tidak pernah tidur bersama..” pungkas Arini sambil membuang muka menahan rasa malu.


Mendengar itu Tian terdiam sejenak. Tapi detik berikutnya ia sudah berucap lagi.. “Iya kamu benar, baiklah.. kita memang bukan teman tapi kita suami istri. Aku juga bukan temanmu.. tapi aku suamimu. Bagaimana sekarang ? sudah bisa kita tidur bersama ?”


“A-Appa..?!”


“Lagian apa lagi yang bisa aku lakukan ? sudah memakai pelindung yang ada sayapnya seperti itu.. masih saja enggan tidur dengan nyaman.. ” Tian bergumam perlahan campur dongkol namun sayangnya Arini


masih bisa mendengarnya sehingga wanita itu langusng melotot mendengar kalimat pongah itu, tapi tetap saja ia tak kunjung bergerak dari duduknya.


Tian menghembuskan nafasnya perlahan saat melihat Arini yang belum bergeming. “Arini.. ayo tidurlah.. apa kamu lupa ? besok kita harus bangun pagi karena kita akan kerumah sakit menemui ayah.. ” ucap Tian perlahan, sambil berharap semoga bujuk rayunya kali ini mujarab.


Hening sejenak sebelum akhirnya Tian menghembuskan nafasnya lega dengan sangat perlahan saat menyadari Arini yang akhirnya bangkit dari duduknya dan bergerak pelan mendekati ranjang disisi yang lain..


.


.


.


.


.


Bersambung..


Like n comment dulu yah.. biar bisa nambahin performa author, 🤗 agar author juga semangad..

__ADS_1


Kalau semangad, kali aja bisa dapet double up sebentar malam kan lumayan..😅


Lophyuu.. 😘


__ADS_2