CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 088


__ADS_3

Usai menerima titah dari Tian lewat ponselnya, Rudi langsung bergerak cepat.


Mengatur penambahan tiket dan kembali menambah reservasi dua kamar terbaik yang ada di pulau Dewi untuk dua orang suster.


Rudi bukannya tidak tau bahwa sepasang mata Laras sejak tadi mengawasinya dengan seksama.


Laras belum bicara, tapi tatapan penasaran bercampur rasa ingin tau menggantung jelas diwajahnya.


"Kak Tian mau pergi berlibur yah?"


"Hhmm.."


"Kemana?"


"Hanya ke pulau Dewi.."


"Kenapa memesan begitu banyak kamar?"


"Kenapa bertanya? apakah selama ini kamu pernah melihat kakakmu berjalan sendirian tanpa ada pengawalan?"


Laras terdiam sejenak. Dalam hati ia juga mengakui penjelasan Rudi bahwa selama ini dimana pun Tian berada, memang selalu didampingi barisan keamanan khusus dibawah naungan indotama group yang selalu menyertai setiap langkah Ceo indotama group itu. Tapi meskipun demikian terlihat sekali bahwa jawaban Rudi tetap saja tidak bisa memuaskan Laras.


"Kenapa harus memesan empat kamar presiden suite sekaligus?"


Rudi membisu.. sejujurnya ia memang tidak ingin Laras mengetahui rencana Tian dan Rico yang akan membawa keluarga kecil mereka pergi ke pulau Dewi usai launching produk SWD Fashion besok.


Yang dikhawatirkan Rudi hanya satu, mental bar-bar, usil, dan seenaknya Laras yang bisa mengacaukan semua rencana honeymoon sang bos besar. Rudi juga mengkhawatirkan satu hal.. jika Laras tertarik untuk ikut, bahwa tidak menutup kemungkinan Laras juga akan terus berusaha mengganggu Meta.


Huhhfh..


Mengingat semua kemungkinan buruk atas ikut campurnya Laras dengan segala sifat manja dan kekanak-kanakan istri kecilnya itu membuat kepala Rudi sedikit pening. Laras akan sangat sensitive dan keras kepala jika menyangkut semua hal tentang Meta.


"Kak.."


"Hmm.."


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa..?"


"Sepertinya kak Rudi menyembunyikan sesuatu.."


"Tidak ada yang aku sembunyikan dan berhenti berfikir macam-macam." Rudi mengangkat wajahnya menatap Laras. "Mau tidak aku antar ke apartemen..?" tawar Rudi lembut, berusaha membujuk agar bisa mengelak dari rasa ingin tau Laras yang semakin besar.


Laras diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah.. tapi aku mau ke toilet sebentar.." imbuh Laras akhirnya.


Rudi mengangguk lega. "Aku juga akan mengantarkan dokumen ini dulu ke ruangan pak Tian, sekaligus minta ijin sebentar untuk mengantarmu. Kita bertemu di depan lift saja yah.." Rudi langsung mengamit bahu Laras, membimbingnya keluar dari ruangannya, dan berpisah didepan pintu.


Laras berjalan menuju toilet, sementara Rudi berjalan kearah pintu ruangan Ceo.


XXXXX

__ADS_1


Laras urung melangkah begitu mendengar suara khas dibalik tembok menuju wastafel yang sangat dikenalnya, tengah berbicara di telpon. Itu suara Meta.


"Baiklah.. kalau kamu dan pak Tian sudah memutuskan, memangnya aku bisa menolak..? apa lagi pak Rico juga sudah setuju.." suara Meta terdengar lirih.


Secara sembunyi-sembunyi menguping dengan seksama membuat Laras meyakini bahwa Meta sedang menerima telpon dari Arini, dan ternyata mereka sedang membicarakan rencana untuk berlibur usai launching produk SWD Fashion besok.


Laras terus berada dibalik tembok pembatas, dan terus berada disana sampai ia benar-benar yakin.


Keinginan awalnya untuk buang air kecil serta membenahi make up di toilet tersebut mendadak terlupakan begitu saja karena kemudian pada detik berikutnya Laras memutuskan untuk beranjak keluar dengan wajah kesal, begitu meyakini satu hal bahwa yang disembunyikan Rudi suaminya sejak tadi, ternyata tak lain adalah rencana liburan sepasang suami istri yang saling berteman satu dengan yang lain itu.


XXXXX


Usai mengetuk pintu sebentar seperti sebuah formalitas, Laras masuk keruangan Tian begitu saja dengan wajah terlipat.


Aura wajah Laras yang mengerikan bisa langsung ditangkap Tian dan Rudi, sementara Rico yang duduk dengan posisi membelakangi pintu menjadi orang terakhir yang menyaksikan pemandangan wajah keruh Laras yang kini telah berdiri tepat disampingnya dengan tatapan kesal yang berganti-ganti mengarah pada Tian dan Rudi.


"Heh.. bocil.. kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Rico keheranan.


Mendengar kalimat itu tak ayal sepasang mata Laras langsung melotot. "Kak Rico, berhenti memanggilku seperti itu! aku bukan lagi anak kecil yang sejak dulu sering kak Rico permainkan!" semprot Laras tak terkendali.


"Cih.. kelakuanmu masih seperti ini.. tapi enggan dipanggil bocil." gerutu Rico sambil kemudian menatap Rudi yang masih berdiri salah tingkah di sisi yang lain. "Rudi, cepat tangani istri kecilmu ini.."


Rudi menarik nafas sejenak seraya menatap Laras yang malah balik memelototinya, sebelum akhirnya kembali mendelik kearah Rico yang masih duduk dikursi dengan santainya.


"Coba saja kalau berani mengusiliku lagi. Aku akan membuat perhitungan!!"


Rico tidak bisa menahan tawanya begitu melihat Laras mengacungkan tinjunya dengan wajah yang kesal. "Coba saja.." ledek Rico.


"Sudah.. berhenti.. Laras.. duduk disitu.." ujar Tian menengahi perseteruan dua makhluk yang sejak dulu tidak pernah menemukan kecocokan.


Tentu saja.. karena sikap Laras yang terlalu bossy selalu membuat Rico muak, dan sikap Rico yang tengil selalu membuat Laras jengkel. Dua makhluk itu sampai kapan pun tidak akan pernah cocok satu sama lain meskipun usia mereka terus bertambah, terlebih Rico, yang memang tidak pernah bosan untuk mengerjai Laras sejak dulu.


Laras yang mencebik akhirnya mengalah dan memutuskan menghempaskan tubuhnya disisi Rico.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Tian to the point.


"Kak Tian.. bisa-bisanya kalian merencanakan liburan setelah launching SWD Fashion tanpa mengajakku..? aku yang capek mengurusi semuanya kenapa kak Rico yang mendapatkan hadiahnya..?!" protes Laras dengan sengit.


Tian menelan ludahnya serentak begitu mendengar alasan Laras yang melatar belakangi kedatangan wanita itu dengan wajah yang keruh, sementara Rico malah terhenyak. Mereka berdua sama-sama tidak menyangka jika rencana perjalanan mereka telah diketahui Laras.


"Hehh.. kamu ini bicara apa? kamu lupa siapa dibalik kesuksesan mega proyek indotama times square yang diresmikan kemarin?" pungkas Rico kesal dengan nada suara Laras yang terdengar sangat meremehkannya.


Mendengar itu Laras seolah tersadar. Tentu saja kesuksesan SWD Fashion tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pencapaian Rico lewat indotama times square, tapi bukan Laras namanya kalau dia akan menyerah begitu saja meskipun telah terpojok.


"Intinya aku mau ikut." Laras telah menyebut kata kuncinya.


"Laras.." Rudi berusaha menegur, tapi lagi-lagi sepasang mata indah yang melotot itu terlihat menentangnya dengan terang-terangan.


Hhhhh..


Rudi membuang nafasnya berat. Dirinya menjadi dilema. Jika dibiarkan Laras akan semakin menjadi, namun disisi lain jika Rudi bersikap tegas.. dia malah tidak enak dengan Tian.

__ADS_1


Tian terdiam sejenak sebelum akhirnya menatap Laras dengan tenang. "Baiklah.."


"Egh, apa maksudnya ini?" Rico yang lebih dulu bereaksi dengan jawaban Tian yang terdengar ambigu.


"Maksudnya adalah aku boleh ikut. Wek!"


Laras yang menjawab, lengkap dengan ekspresi wajah konyol dengan kedua bola mata terkumpul ditengah sambil tak lupa memeletkan lidahnya kearah Rico yang mendadak tersentak menyadari keputusan Tian. Sementara Rudi terlihat mengelus tengkuknya yang mendadak terasa kebas, juga tidak menyangka jika secepat itu Tian menyerah pada keinginan Laras.


"Sudah kan? jadi sebaiknya kamu pulang saja, persiapkan dirimu untuk launching besok sekaligus perjalanannya." ucap Tian kearah Laras kemudian selanjutnya ia sudah menatap Rudi. "Pergi antar Laras pulang terlebih dahulu.. dan jangan lupa mengurus penambahan kamar dan tiket untuk kalian berdua.."


"Baik, pak.." Rudi mengangguk takzim.


"Kak Tian.. terima kasih.." Laras tersenyum sumringah yang ditanggapi Tian dengan senyum dan anggukan. Namun Laras masih bisa tersenyum mengejek begitu melemparkan pandangannya kearah Rico yang melirik kesal.


Sepeninggal Rudi dan Laras..


"Untuk apa sih kamu membawa pengacau kecil itu? kamu tidak takut dia akan mengacaukan semuanya?" Rico menggerutu panjang pendek. Moodnya yang awalnya menyala-nyala mendadak meredup mengingat akan adanya kehadiran Laras lengkap dengan segala kelicikan-kelicikan kecilnya.. belum lagi dengan hadirnya Rudi.. orang yang pernah menjalin hubungan yang begitu dekat dengan Meta.


Tian tertawa kecil. "Tenang saja.. Rudi tau cara menjinakkannya.." ujar Tian cuek.


"Lalu Arini? kamu tidak mempertimbangkannya? apa Arini mau menerima kehadiran bocah itu besok?" pungkas Rico lagi bersungguh-sungguh, cukup membuat tawa Tian mereda dengan sendirinya.


"Mungkin dengan pergi bersama, dan melihat sendiri bagaimana hubungan Laras dengan Rudi, maka Arini akan berhenti merasa was-was."


"Tapi Tian.."


"Sudahlah, Co.. slow down. Kelicikan Laras itu ibarat sebuah kenakalan anak kecil. Dia tidak bisa membuat kejahatan yang lebih spektakuler selain dari kelicikan-kelicikan kecilnya itu yang seolah menjadi hiburan tersendiri untuknya. Kalau dia seberbahaya seperti yang kamu pikirkan.. sudah sejak awal aku menendangnya jauh-jauh.."


Mendengar penjelasan Tian tersebut Rico tidak lagi memiliki kekuatan untuk protes.


Lagian Tian memang benar.. Laras memang hanya seorang bocah nakal yang senang berulah, dengan tingkat kemampuan memprovokasi yang cukup tinggi.


Namun satu hal yang harus diwaspadai.. bahwa Arini dan Meta memiliki pemikiran yang serupa. Sederhana, polos, dan tidak terbiasa memanipulasi orang lain.


Untuk ukuran seorang Laras, tentu saja Arini dan Meta bukan lawan yang seimbang. Rico bahkan merasa harus waspada untuk menjauhkan Meta sedapat mungkin dari jangkauan bocah licik bernama Larasati Djenar itu..


.


.


.


Bersambung..


Author belum bisa membayangkan akan sekacau apa honeymoon kedua Ceo yang maha ganteng ini..


(Coz belum tertuang dalam ketikan dan masih berada didalam bayang-bayang kehaluan..🤭😅)


Support yah para kesayangan..


Thx and Lophyuu all..😘

__ADS_1


__ADS_2