
Lampu kamar yang temaram menyambut Rico saat pintu
kamar terbuka. Rico melangkah masuk kedalam dengan langkah perlahan setelah terlebih dahulu menutup kembali daun pintu dibelakangnya dan menguncinya.
Tatapan Rico langsung tertuju pada sesosok tubuh yang
tergolek diatas ranjang, jantungnya langsung berdebar hanya dengan menatap wajah Lila, istrinya, yang sedang terlelap itu sejenak sebelum memutuskan untuk
melangkah kekamar mandi terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian setelah membersihkan diri seala kadarnya Rico sudah keluar lagi dari sana, ia yang telah menanggalkan bajunya
dan hanya meninggalkan celana boxer, tanpa membuang waktu lebih lama langsung naik keranjang yang sama, beringsut lebih dekat ketubuh yang masih terlelap
nyaman.
Wangi aroma khas tubuh Lila langsung menyapa indera
penciuman Rico, membuatnya tidak tahan untuk tidak beringsut semakin dekat, Rico bahkan sampai mengendus punggung dan bahu wanita itu berkali–kali.
Merasa terganggu Lila sedikit menggeliat, refleks menarik tubuhnya menjauh dari sumber pengganggu yang mencoba membuyarkan tidur nyenyaknya, namun tentu saja Rico tidak membiarkan hal itu terjadi karena
secepat kilat ia langsung meraih pinggang Lila yang ramping, membawanya lebih dekat kearahnya, sedikit menindihnya.
Gerakan Rico yang tiba-tiba sontak membuat Lila terkesiap, matanya mengerjap-ngerjap dalam temaram. Kesadarannya langsung kembali saat menyadari
tangan kokoh Rico yang mencengkram pinggangnya, sedangkan wajah lelaki itu
berada tepat didepan wajahnya hanya berjarak beberapa centi.
“Maaf sudah membangunkanmu,” Rico meringis kecil menyaksikan
wajah kaget Lila yang ada dibawahnya.
“Kamu baru pulang, Co ?”
“Hemm,”
Lila memalingkan kepalanya sedikit keatas nakas, mendapati jam weker yang ada diatasnya menunjukkan pukul tiga dini hari.
Menatap Rico lagi yang masih tidak bergeming diatasnya.
“Ya sudah.. istirahat sana, besok kamu ada meeting
kan..” ucapnya perlahan. Meskipun hatinya begitu ingin tau apa alasan lelaki
itu begitu sering pulang pada dini hari seperti ini tapi tetap saja mulutnya
tidak mampu menanyakannya.
Rico yang ada diatasnya masih tidak bergeming.
Tatapannya lurus kewajah Lila, mengawasi setiap inchi wajah itu lekat.
‘Wanita ini.. selalu seperti ini. Apa dia tidak penasaran sama sekali dengan apa yang akukerjakan diluar sana..?”
Rico membatin gundah saat melihat Lila yang seperti hari-hari sebelumnya sama sekali tidak mempermasalahkan mengapa ia selalu pulang tengah malam dan seperti tidak terusik dengan apa yang ia lakukan. Apa Lila benar-benar setidak peduli itu padanya ??
“Hey.. kenapa bengong ?” tegur Lila sedikit jengah mendapati tatapan Rico yang lekat padanya.
“Tidak..” Rico sedikit terhenyak saat menyadari wanita itu sedikit gelagapan akibat ulahnya yang terus menatap tanpa bicara.
“Ada apa ?” Tanya Lila lagi dengan suara lirih.
“Tidak.. Tidak ada apa-apa, La.. ”
“Lalu kenapa kamu diam ?”
“Kamu tidak suka kalau aku hanya diam rupanya..?” tatapan Rico yang dingin kini berubah nakal. Tidak hanya itu, bahkan tangannya
yang semula hanya diam memegang posesif pinggang Lila kini sudah membelai perlahan disana.
__ADS_1
Lila yang menyadari situasi yang akan dihadapinya mencoba beringsut sedikit, tapi bukan Rico namanya kalau tidak bisa mengatasi pergerakan kecil itu, karena tanpa memberi kesempatan ia langsung menyambar bibir Lila yang ranum. Baru merasainya sekejap tiba-tiba Lila mendorong perlahan wajah Rico agar menjauhinya, membuat Rico menatap Lila dengan tatapan protes.
“Kamu mabuk, Co ?”
Rico menggeleng.”Tidak..”
“Tapi mulutmu bau alkohol..”
Rico menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tadi aku
hanya minum sedikit dengan Tian. Kamu masih ingat Tian kan ? Sebastian Putra Djenar si Sultan itu..”
Lila menganguk kecil. Ingatan Lila sontak tertumbuk pada sosok Tian yang dimaksud Rico yang tak lain adalah Sebastian Putra Djenar,
salah satu pengusaha muda ternama di negeri ini, yang pernah menjadi teman kuliah dirinya dan Rico waktu di Harvard.
Lila tau pasti bahwa Rico dan Tian memang sudah bersahabat sejak lama, dan persahabatan mereka terus awet sejak mereka masih
bersekolah bahkan mereka sama-sama kuliah di universitas yang sama.
Mereka adalah dua lelaki tampan yang cukup popular terlebih di kalangan wanita, tidak mungkin ada yang tidak mengenal mereka. Tian dan Rico dikenal sebagai sepasang playboy yang begitu mudah mencuri hati wanita
dan kemudian mematahkannya dengan keji.
Bedanya, Tian adalah sosok yang cukup pendiam dan sedikit kaku. Dalam pergaulan pun Tian tidak se-supel Rico.
Seingat Lila, tidak ada yang bisa dengan mudah mendekati
seorang Tian selain Rico, suaminya, dan mereka memang cukup akrab. Tapi jika
bicara masalah wanita.. lelaki itu bahkan tidak lebih baik dari suaminya.
Dan sepasang playboy itu tetap bersahabat setelah
mereka menjadi pengusaha muda yang sukses sampai sekarang, meskipun tentu saja kesuksesan Rico tidak sebanding dengan ke-sultanan seorang Sebastian Putra Djenar yang memang sudah tajir melintir dari sononya.
“Ck.. ck.. ck.. “ Lila tersadar dari lamunannya saat mendengar decakan Rico. “Lagi mikirin apa kamu, La.. ?”
“Jangan bohong,”
“Siapa yang bohong ?”
Rico menatap Lila lekat. “Apa kamu sedang memikirkan Tian ?”
Lila refleks menggeleng. “Tidak. Aku hanya..”
“Mana ada seorang istri yang mikirin lelaki lain didepan hidung suaminya sendiri ??” berpura-pura ngambek.
Lila terhenyak mendapati kalimat sindiran Rico, "Bicara apa sih..” elaknya kembali, sedikit kesal namun ditahannya.
Lila memang sedang memikirkan Tian.
Bahkan belakangan ini Lila begitu sering memikirkannya.
Namun ada alasan mengapa Lila sering memikirkan Tian
akhir-akhir ini, karena meskipun gaung nama Tian didunia bisnis begitu popular tapi sejak kelulusan mereka beberapa tahun yang lalu Lila hanya beberapa kali bertemu Tian di beberapa event penting itupun hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Tian sudah tergolong bukan orang sembarangan di negeri ini, dan meskipun saling mengenal karena mereka pernah menimba ilmu ditempat yang sama, Lila juga tidak pernah bertemu Tian dalam artian bertatap muka secara langsung.
Lila bahkan sempat berfikir bisa saja Tian tidak lagi mengingat siapa dirinya. Tentu saja. Seorang Ariella Hasyim bukanlah termasuk
mahasiswi populer di kampus. Pria sekelas Tian pasti akan dengan mudah melupakan keberadaanya, sama seperti Rico yang juga sibuk mengingat – ngingat siapa dirinya saat mereka bertemu kembali saat dijodohkan.
Dan mengenai kerjasama pembangunan Mercy Green Resort, sejauh ini Lila juga tidak pernah membahasnya dengan Rico padahal sudah sejak
enam bulan yang lalu, sebelum mereka menikah Lila telah menangani proyek Resort
tersebut hingga saat ini sudah dalam proses mendekati final, bahkan sudah akan diresmikan dalam waktu dekat.
Sekitar enam bulan yang lalu, Lila tiba-tiba dikejutkan dengan persetujuan Indotama Group yang akhirnya melirik kontrak
__ADS_1
kerjasama pembangunan Resort miliknya yang ada di pinggiran kota.
Yah, Lila memang mencoba menawarkan kerja sama dengan
Indotama Group dalam rangka pengembangan bisnis yang telah diwariskan ayahnya, namun tidak mengira bila permohonan kerja samanya akan disetujui bahkan dalam waktu yang begitu singkat oleh perusahaan raksasa sekelas Indotama Group.
Rico menatap Lila lekat. “Astaga Lila.. jadi kamu benar-benar lagi mikirin Tian si songong itu..??” protes Rico tidak bisa menyembunyikan kekesalannya saat melihat Lila kembali larut dalam lamunannya.
Lila terhenyak lagi, tapi ia mengelak dengan cepat. “Itu karena tadi kamu sendiri yang menyebut nama dia, Co..”
“Kan aku hanya nyebut, gak suruh kamu mikirin sekalian..” cemberut.
Lila menatap Rico sedikit putus asa. Lila memang tidak pernah membicarakan perihal kerjasama dengan Indotama Group dengan Rico. Bukannya Lila tidak ingin campur tangan Rico, tapi Lila hanya ingin berusaha untuk
professional.
Yang Lila inginkan adalah Indotama Group bisa menilai
hasil kerja kerasnya berdasarkan penilaian yang obyektif bahwa dirinya benar-benar layak menerima kesempatan kerjasama untuk perusahaan sekelas Indotama Group, bukan karena dirinya pernah menjadi teman sekelas Tian saat kuliah dulu,
apalagi sekarang setelah ia resmi menjadi istri Rico Chandra Wijaya, yang merupakan sahabat dekat Tian, Ceo perusahaan raksasa itu.
Dan sejauh ini Lila sudah membuktikannya, meskipun
hingga pada saat presentasi akhir pada beberapa bulan yang lalu tidak pernah sekalipun Tian hadir langsung pada saat meeting, juga pada beberapa meeting perencanaan pembangunan selama ini.
Pihak Indotama Group hanya diwakili oleh orang yang sudah ditunjuk untuk mewakili. Tentu saja karena Sebastian Putra Djenar adalah orang yang sangat sibuk, dan ia pasti punya begitu banyak agenda yang lebih penting daripada proyek Mercy Green Resort.
“Ya sudah..” desis Lila akhirnya sambil menghindar dari tatapan Rico yang lekat padanya.
“Apanya yang sudah ?”
Lila membisu. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghadapi sifat keukeuh lelaki keras kepala ini selain menarik nafas dalam..
menahannya sejenak.. menghembuskannya perlahan.
Rico masih memperhatikan Lila.
‘Dia selalu seperti ini. Memilih menarik dan membuang nafasnya daripada meneruskan perdebatan..’
Batin Rico.
Nyaris sebulan hidup bersama sebagai suami istri, perlahan namun pasti Rico jadi tau dan mengenal semua sifat Lila bahkan sampai pada semua kebiasaan wanita itu.
Secara garis besarnya, Lila tidak jauh berbeda dengan Lila yang pernah dikenalnya dulu semasa kuliah. Wanita itu tetaplah tipe
seorang wanita kalem yang cukup pendiam, tidak banyak maunya, dan cukup sabar menghadapi semua sifatnya selama ini. Itulah penilaian Rico tentang Lila yang
sudah melekat erat di benaknya dalam kurun waktu kurang lebih sebulan ini.
“Tadi aku memang minum sedikit, tapi tidak sampai mabuk,”
Rico menatap sungguh-sungguh Lila yang hanya diam menatapnya.
“Kenapa diam ?”
“Tidak apa-apa..”
“Kamu marah aku cium..?”
“Tidak.. tidak.. bukan begitu..”
“Jadi kamu suka aku cium..?”
“Egh.. ??”
Rico tersenyum menang. Tanpa
membuang waktu ia langsung membungkam bi*** yang selalu terlihat menggoda itu. Melu***nya semakin dalam, memaksa bi*** manis yang awalnya kaku menerimanya, dan akhirnya mendambakan hal yang sama.
Sebenarnya author lagi gak mood.. 😪
__ADS_1
Tapi demi pembaca yang sudah menyisihkan quota nya untuk mampir… 💪