CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 013


__ADS_3

Saat menunggu Laras yang sedang memesankan kamar untuknya, Rudi memilih memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya didinding luar front office milik Mercy Green Resort.


Untung saja Pak Tian memaklumi jika ia akan mengirimkan laporan hasil meeting pada besok pagi, mengingat karena berusaha menyenangkan Mr. Feron, membuat keadaannya malam ini sudah pasti tidak memungkinkan untuk dipaksa bekerja lagi.


Kontrak kerja dengan Fashion Milan ini memang merupakan kontrak kerja istimewa. Bukan hanya semata-mata karena Fashion Milan merupakan salah satu brand fashion terkenal dunia yang bermarkas di Milan Italy, namun karena Rudi tau persis misi yang sedang dirancang pak Tian, karena dengan kontrak kerjasama Fashion Milan, Tian bisa memaksa Laras untuk mengambil alih SWD Fashion yang diwariskan Saraswati kepadanya.


Mengingat hal itu membuat Rudi teringat kembali kejadian yang bertepatan di jam makan siang tadi, dimana percakapan sengit yang terjadi diantara Pak Tian dan Laras membuat Rudi baru saja membuka pintu ruangan Ceo, akhirnya memilih untuk berdiri diujung ruangan, seolah sedang menulikan telinga.


“Kak Tian sengaja melakukan ini kan..?”


Laras terlihat menatap dalam-dalam Tian yang duduk dikursinya dengan ekspresi santai. Ditangan wanita itu terdapat dokumen kontrak kerjasama milik Fashion Milan untuk SWD Fashion.


SWD Fashion sendiri awalnya merupakan salah satu anak perusahaan yang cukup berkelas milik Indotama Group yang dirintis sendiri oleh tangan tua milik Saraswati Djenar. Setelah Saraswati Djenar meninggal lewat surat wasiatnya, ia dengan jelas mewariskan SWD Fashion kepada Larasati Djenar. Namun belakangan, karena Laras belum bersedia untuk mengelolanya maka semua yang menyangkut SWD Fashion terpaksa masih harus berada dibawah pengelolaan Indotama Group.


Hal itulah yang membuat Tian leluasa mengambil keputusan saat menerima kerjasama Fashion Milan tanpa merasa perlu menanyakan pendapat Laras terlebih dahulu sehingga membuat wanita itu meradang.


“Laras, aku justru melakukan ini demi masa depanmu..”


“Bohong.. Kak Tian sengaja melakukannya kan? Kak Tian hanya ingin menyingkirkan aku secara perlahan-lahan. Iya kan?”


Tian menghembuskan nafasnya perlahan. “Tidak seperti itu.” ucapnya seraya menatap Laras yang sedang menatapnya dengan aura kekesalan yang sangat jelas tergambar diwajahnya. “Hanya saja.. mau sampai kapan kamu ingin hidup seperti ini? apa seumur hidupmu kamu ingin mengikutiku terus?”


“Lalu kenapa tidak boleh? aku memang hanya ingin mengikuti Kak Tian saja.. aku tidak butuh semua yang nenek berikan. Kalau Kak Tian mau mengambil semuanya.. ambil saja..! aku sudah bilang berkali-kali kalau aku tidak butuh semua itu!”


“Laras.. cukup!”


“Tapi kak..”


“Cukup..!”


Tian menarik nafas sejenak seraya memijit keningnya. Mengontrol emosinya dahulu sebelum berucap pelan namun tegas..


“Keluar..”


“Kak..”


“Keluar!”


“Ini tidak adil Kak..” Laras menggeleng.


“Dimananya yang tidak adil?”


“Kak Arini selalu mendapatkan semuanya.. sementara aku hanya hidup dalam negeri dongeng yang hanya dipenuhi janji, tapi sedikitpun tidak pernah Kak Tian tepati..”


“Jangan membawa nama Arini dalam persoalan yang kamu ciptakan sendiri.” ucap Tian dengan intonasi suara yang mendadak menjadi dingin begitu mendengar nama Arini disebut dan dikait-kaitkan. “Kamu sendiri yang ingin hidup seperti itu. Dan jangan lupakan satu hal, aku tidak bisa berbuat banyak setiap kali menghadapimu sama sekali bukan karena aku sedang membuka peluang..! kamu sudah kuanggap seperti adikku sendiri dan kamu sudah menemani nenek sekian lama bahkan sampai pada akhir hayatnya. Hanya itu yang menahanku selama ini untuk tidak bertindak lebih..”


Laras tercengang mendengarnya. “Kak Tian ingin mengatakan bahwa sebenarnya kalau kak Tian mau, kak Tian bahkan bisa dengan mudahnya menyingkirkan aku..? begitu?”


“Kamu tau aku pasti tidak mungkin melakukannya, Laras..”


“Aku begini karena Kakak..” suara Laras sudah sedemikian serak, sudut matanya bahkan sudah tergenang. Hatinya begitu sakit mendengar kejujuran Tian saat ini. Mungkinkah Tian benar-benar sudah tidak tahan menghadapinya?


“Kamu yang memilih untuk hidup seperti ini. Apa kamu tidak berpikir dari atas sana Nenek bahkan menangis melihatmu..?”


Laras terdiam.


“Berhenti menyiksa diri karena kesalahan yang pernah terjadi. Laras, untuk semua janji yang tidak bisa aku penuhi, aku mohon maaf. Tapi kamu masih sangat muda.. sudah saatnya menemukan cinta yang sesungguhnya..”


“Cinta yang sesungguhnya? Kak Tian bahkan tau keinginanku sejak awal, tapi Kakak dan Nenek membuat semuanya menjadi sulit..”

__ADS_1


Tian tercenung lama.


“Aku telah mendengarkan semua petuah, sehingga aku menjadi kacau seperti ini. Aku telah mengikuti semua keinginan Kak Tian dan Nenek. Tapi apakah aku sangat pantas dipermainkan, Kak? sejak awal Kak Tian sudah mengingkari janji.. Kak Tian bahkan tidak pernah berniat untuk mengabulkannya..”


“Aku memang pernah berjanji, dan aku pun sudah berusaha. Tapi perasaan seseorang mana bisa dipaksakan..?" saat mengatakan hal itu Tian nampak melirik Rudi yang berdiri diujung sana tanpa ekspresi berarti. Kehadiran Rudi memang tanpa sepengetahuan Laras yang saat ini duduk membelakangi pintu masuk.


“Kalau akhirnya hanya ingin mengatakan tidak bisa? lalu kenapa berjanji..?" suara Laras terdengar lagi. Lirih.


“Laras, kamu bahkan tau bahwa aku melakukannya agar nenek bersedia menjalani pengobatan di Ghuangzhou..”


“Jadi saat berjanji sebenarnya Kak Tian memang tidak berniat menepati..?" tuntut Laras.


“Saat itu yang ada dipikiranku hanya bagaimana caranya agar aku bisa membuat Nenek setuju menjalani therapi. Itu saja. Aku hanya melakukan usaha semaksimal yang aku bisa untuk mempertahankan orang-orang yang aku sayangi. Aku ingin bersama nenek lebih lama.. dan aku juga tidak bisa melepaskan wanita yang aku cintai. Aku bahkan tidak peduli sekalipun aku melakukan kecurangan dan akan sedikit menyakiti hati Arini.. karena aku melakukan semuanya agar mereka bisa tetap berada disisiku. Apakah itu salah?”


Tian mengatur nafasnya sebelum kembali berucap.


“Begitulah caraku mencintai dan mempertahankan orang yang aku sayangi. Aku bahkan bisa menjadi kejam kepada orang lain bahkan kepada diriku sendiri. Apakah sampai disini kamu mengerti..?”


“Aku mengerti, Kak. Karena sampai kapanpun aku tetaplah orang lain bagimu, kan..?”


“Kamu yang harus memilih. Tetap menjadi adik buatku atau memilih menjadi orang lain? kalau kamu adalah adikku, seharusnya kamu mengerti mengapa aku melakukan semuanya."


Laras terpekur mendengarnya.


“Aku akan mengambil tanggung jawab atas semua hidupmu sebelum aku bisa menyerahkan tanganmu kelak pada lelaki yang tepat. Maafkan aku yang pernah menjanjikan hal yang pada akhirnya tidak bisa aku tepati.."


Tian menarik  nafasnya sejenak.


“Laras, percayalah.. aku tau persis dimana letak kesalahanku. Tapi kamu sudah terlalu banyak meminta semua hal yang bahkan sebenarnya tidak ingin aku kabulkan. Semua permintaanmu selama ini sangat kekanak-kanakan. Tapi aku terus berusaha memahaminya, dan aku menghargai sikapmu yang tidak pernah mengusik Arini sejauh ini. Tapi sampai kapan kamu akan terus meminta hal-hal yang konyol..?”


'Hal yang konyol? jadi aksi protesnya selama ini dimata KakTian hanyalah hal yang konyol..?'


Laras menatap Tian dengan tatapan nanar. "Aku akan menerimanya.. tapi sebelum itu aku ingin meminta satu hal.”


“Astaga Laras.. permintaan lagi..?” Tian memijit keningnya.


“Kak, aku serius. Aku bersumpah ini yang terakhir..” berucap lagi tanpa menggubris kalimat Tian.”


“Katakan.”


“Aku ingin Kak Arini mengetahui cerita yang sebenarnya.”


Tian sudah melengos geram. “Aku salah. Ternyata sejauh pembicaraan kita ini semua tidak ada gunanya, karena intinya kamu hanya ingin melihat Arini sakit hati. Padahal apa salah Arini padamu? dia bahkan memperlakukanmu dengan sangat baik..”


“Aku hanya ingin tau saja. Kalau Kak Arini tau cerita yang sebenarnya, apa Kak Arini masih bisa bersikap baik kepadaku? apakah dia juga bisa menerima kebohonganmu?”


“Laras!”


“Aku hanya ingin tau..”


“Laras.. aku peringatkan kamu..”


“Aku hanya ingin melihatnya setelah semua kejujuranmu, Kak. Ijinkan aku mempercayai bahwa istrimu adalah wanita yang pantas mendapatkan segalanya..”


“Apapun yang akan Arini lakukan cintaku hanya pantas untuknya. Entah dia akan marah, benci, sakit hati.. apapun itu.. kamu pikir aku akan membiarkannya pergi..? ini bukan tentang Arini, Laras.. tapi ini tentang kakakmu.. aku.. Sebastian Putra Djenar..!" seperti ada bara panas pada sepasang mata Tian saat menghujam tepat di manik mata Laras. “Keluar dan ambil kontrak itu.” berucap lagi dengan nada tegas, memerintah, dan sangat dingin.


Laras meneguk ludahnya kelu. Namun dengan sisa keberanian terakhir yang ia punya Laras menentang tatapan setajam belati yang telah menggores seluruh sanubarinya itu.


“Aku akan keluar, Kak. Tapi tidak dengan membawa kontrak ini. Aku menolaknya sampai Kak Tian bisa membuktikan apa yang ingin aku lihat.”

__ADS_1


Laras hendak beranjak dari ruangan Tian begitu saja manakala..


“Larasati, kembali!”


Langkah Laras terhenti. Kaget dengan kalimat keras Tian dibelakangnya, sekaligus kaget dengan kehadiran Rudi yang berdiri didepan daun pintu yang terkatup, entah sejak kapan.


“Aku peringatkan untuk yang terakhir.. kembali dan bawa kontrak ini..!”


Laras berbalik menatap Tian penuh yang ternyata sudah berdiri dari duduknya dengan wajah memerah menahan amarah.


“Seberapa besar kamu ingin melihat apa yang ingin kamu lihat? aku akan menunjukkannya padamu..! Apa sekarang kamu cukup puas mendengarnya?! Hah..?!”


Dengan langkah gemetar Laras kembali kehadapan Tian, mengambil dokumen kontrak yang dibawanya tadi sebelum akhirnya beranjak keluar tanpa berani menatap wajah Tian yang dipenuhi kobaran api.


Saat membuka pintu hendak keluar, Laras melihat Rudi terlebih dahulu, yang berdiri tegak disana dengan wajah tanpa ekspresi, Laras bahkan harus menepi saat berniat membuka pintu dan kembali ke mejanya karena Rudi bahkan tidak bergeming dari pijakannya sama sekali.


Rudi menarik kembali handle pintu ruangan Ceo itu untuk kembali menutupnya. Namun sebelum daun pintu mengatup sempurna, Rudi bisa melihat dengan jelas bagaimana pak Tian yang terlihat berdiri tegak menghadap keluar jendela, nampak menyimpan dua buah kepalan tangannya yang mengeras kaku kesaku celana, menandakan betapa besarnya amarah yang sedang dipendam sang majikan.


....


Bertepatan dengan Laras yang terlihat keluar dari pintu ruangan front office Mercy Green Resort.. disaat yang sama lamunan Rudi tentang kejadian tadi siang pun menguar.


Tidak menguar keudara.. melainkan kedalam benaknya, yang akhirnya melahirkan pemikiran­-pemikiran yang kontroversial diotaknya begitu saja..


XXXXX


“Huhhff.. akhirnya..”


Laras menarik nafas lega begitu sampai didepan pintu bertuliskan nomor empat puluh sembilan. Ia memang tidak lagi memapah Rudi seperti tadi karena Rudi bahkan menolak saat ia mencoba menyentuh lelaki itu.


Rudi lebih memilih berjalan dengan gontai daripada harus menerima niat baik Laras yang hendak menolongnya berjalan agar bisa sampai ke unit villa nyaris paling ujung yang telah disewanya malam ini, sementara Laras memilih keras kepala untuk tetap memastikan lelaki itu sampai dikamarnya terlebih dahulu sebelum ia pulang kerumah.


Pintu kamar itu langsung terbuka saat Laras menempelkan smart card lock di door acces control.


“Ini kuncinya.. ini dompetmu.. dan kemarikan kunci mobilmu.” ujar Laras seraya menaruh dua  benda itu kedalam sebelah telapak tangan Rudi, karena telapak tangan Rudi yang lain nampak sedang berusaha merogoh kunci mobil dari saku depan celananya.


“Ini. Dan cepat enyah dari hadapanku.” berbalik menaruh kunci mobilnya dengan gerakan kasar


kedalam telapak tangan Laras. Detik berikutnya lelaki itu sudah ngeloyor kedalam begitu saja.


“Rudi..” panggil Laras ragu-ragu sambil menahan laju pintu kamar yang hendak mengatup.


Rudi berbalik menatap Laras yang masih mematung ditempatnya. “Apa lagi?”


“Aku.. aku.. boleh pinjam toiletmu sebentar..?”


.


.


.


Bersambung..


Yang kalian mau.. akankah terjadi ?


(Hanya Author yang tau..😅) Readers cukup Like, Comment dan Vote saja yah..🥰


Thx and Lophyuu all..😘

__ADS_1


__ADS_2