CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Terima kasih


__ADS_3

Perlahan, saat Arini mulai bisa


menguasai emosinya, ia menarik tubuhnya sedikit jengah. Arini merasa setelah terisak cukup lama saat ini wajahnya pasti sangat berantakan. Ia yang merasa malu, serentak menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mengerikan dari hadapan Tian yang menatapnya dalam.


“Nih..” Tian menyodorkan kotak tissue yang ada dimeja kepada Arini yang segera menyambutnya.


Dengan tissue tersebut Arini berusaha merapikan penampilan wajahnya yang kacau semaksimal mungkin meski pasti tissue tersebut tidak bisa berkontribusi lebih banyak.


“Maaf..” berucap lirih.


Tian mengerinyit. “Maaf untuk apa..?”


Arini terdiam sejenak, menelan salivanya sesaat sebelum menunjuk perlahan kearah kemeja yang ada dibagian dada Tian yang basah karena ulahnya. “Itu.. basah..”


“Ohh..” Tian menganguk. Kemudian melirik wajah yang tertunduk jengah itu. “Yakin kalau ini stock air matamu semua ? atau jangan-jangan..” menggantung.


Arini buru-buru mengangkat wajahnya, menatap Tian yang seolah-olah sedang menyuguhkan wajah curiga. “Jangan-jangan apa ?”


“Jangan-jangan ini ada campuran air liur dan..”


“Ihh, apa sih !” mendadak tinju kecil


itu mampir di lengan Tian dengan begitu cepat, membuat Tian tergelak. Tian memang sengaja ingin menggoda Arini untuk mencegah bulir bening yang masih meng-anak sungai disana.


“Mana ada yang seperti itu ! Itu sudah jelas-jelas basah karena aku menangis..!” protesnya sengit.


“Iya kan, kalau benar-benar menangis seperti tadi.. biasanya ada campuran air liurnya dan..”


“Aakkhh..!! Tidak !! Tidak ada yang seperti itu..!!“


Arini kembali memukul lengan Tian kali ini berkali-kali karena ingin mencegah kalimat Tian yang akan menyebut sesuatu yang lebih jorok lagi yang pasti akan membuatnya sangat malu saat harus membayangkannya.


Tian hanya tergelak menerima pukulan kecil tak berarti itu, namun disudut hatinya yang lain dirinya merasa lega karena usahanya menggoda Arini yang bertujuan untuk mengalihkan tangis wanita itu sepertinya berhasil.


“Sudah, sudah, biarpun rasanya seperti digigit semut, tapi kalau kamu pukuli aku terus-menerus bisa-bisa aku mati..” seperti halnya kemarin, sekali tangkap dua tinju kecil Arini sudah berada dalam kekuasaan tangan besar Tian.


Arini mencebik melihat Tian yang masih tersenyum kecil. Tian membiarkan Arini yang menghentakkan kedua tangannya agar terbebas. Sejenak tatapan mereka terkunci satu sama lain.


“Terima kasih..” Arini berucap lirih.


Tian mengangkat kedua alisnya. “Hemm..”


“Kamu baik sekali..”


“Hemm..” kali ini Tian sudah menegakkan duduknya, kembali meraih majalah bisnis yang tadi sempat ia baca dari atas meja.


Bukan apa-apa.. Tian hanya sedang berusaha sekuat tenaga mengalihkan semua perputaran dunianya yang tanpa aba-aba sudah terpusat begitu saja pada sesuatu yang pernah ia rasakan teramat sangat manis dibibirnya.


“Pak Tian..”


Sejenak mendengar panggilan itu kepala Tian langsung bepaling kembali, menatap penuh Arini yang awalnya ia ingin melontarkan protes perihal panggilan ‘Pak.Tian..’ barusan, yang sekaligus seolah memberinya kesempatan untuk menagih


hukuman, namun urung saat melihat sepasang mata yang sedikit sembab itu kembali meng-anak sungai saat menentang kedalaman mata Tian yang gelap.

__ADS_1


Tian bahkan belum sempat berucap sepatah kata manakala perlahan Arini sudah beringsut mendekat, mengikis jarak, memaksakan tubuh mungilnya untuk kembali masuk kedalam pelukan Tian sambil berucap sangat lirih, nyaris tidak terdengar..


“Sayang.. terima kasih..”


Sedetik Tian membeku mendengarnya, namun dengan sekali gerakan Tian sudah meletakkan majalah yang ada ditangannya, menggantinya dengan kembali merengkuh tubuh mungil Arini dengan kedua lengan kokohnya sekaligus, membenamkan semakin dalam pada pelukannya, membuat tangis Arini kembali memecah lirih disana.


“Sayang.. terima kasih.. terima kasih sudah melakukan semua ini..“


 


Red Luxury Hotel merupakan sebuah hotel terbaik di kota kecil Arini yang tidak lain merupakan salah satu hotel cabang milik keluarga Djenar yang ada di ibu kota.


Ini adalah kali kedua bagi Tian berada disalah satu suite room hotel tersebut, setelah kali pertama saat menikah dengan Arini, Tian yang juga bersama Rudi dan nenek Saraswati pernah menginap


dihotel ini selama dua hari.


“Mengapa kita tidak langsung menemui ayah ?”


“Ini sudah mau malam, kita akan ke rumah sakit dan menemui ayah besok pagi,” Tian berucap dengan mata yang masih terpejam.


Sesaat setelah memasuki kamar suite tersebut Tian memang langsung melemparkan tubuh lelahnya keatas ranjang hotel berukuran king size. Posisi tubuhnya bahkan hanya setengah berada diatas ranjang karena kedua kakinya masih menjuntai bebas kebawah menyentuh lantai.


“Kenapa tidak sekarang saja ?” Arini yang berdiri ditengah kamar suite yang luas itu masih menatap Tian yang tidak kunjung bergerak dari atas ranjang.


“Karena ayah nanti bisa dijenguk besok pagi.” menjawab dengan suara malas dan mata yang masih terpejam.


“Tapi kenapa..?”


Tian menarik nafas sejenak menghadapi salah satu sifat Arini yang khas, yakni gemar bertanya dan membolak balik pertanyaan seperti sekarang ini.


“Aku ? apa hubungannya ?”


“Tentu saja ada hubungannya, karena seharusnya kita tidak akan berangkat hari ini, melainkan pada besok hari.. tepat disaat ayah sudah bisa dijenguk. Tapi karena kamu yang memaksa maka bersabarlah sampai besok pagi.” masih seperti tadi, saat ini Tian juga berbicara dengan posisi yang sama. Berbaring terlentang dengan mata terpejam.


Arini terdiam mendapati pemandangan itu, sebelum akhirnya memutuskan didalam hati bahwa ia harus mengingatkan dirinya sendiri agar bersabar sedikit lagi. Toh besok pagi akhirnya ia sudah bisa menemui ayah.


Arini kembali menatap Tian yang masih tidak bergeming, seperti tersadar bahwa Tian pasti sangatlah kelelahan.


Dengan setumpuk aktifitasnya pada hari ini, sore tadi karena rasa tidak sabarnya yang terus menagih hadiah, Tian bahkan harus berakhir dengan sebuah penerbangan kembali. Meskipun itu penerbangan yang singkat yang tidak sampai memakan waktu satu jam namun Arini bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana bisa tubuh Tian menjalani semuanya. Ia bahkan menambah urusan lelaki itu dengan tidak sengaja tertidur dipelukan Tian sepanjang perjalanan setelah kelelahan karena menangis disana.


Arini tidak tau bagaimana jalan ceritanya ia bisa ketiduran dipelukan yang terlampau nyaman itu. Saat tersadar Arini menemukan wajah Tian yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya sedang menepuk pipinya lembut untuk membangunkannya karena pesawat bahkan sudah berhenti dengan sempurna.


Arini mengitari pandangannya kesetiap sudut penjuru kamar. Sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki kearah jendela kaca. Dari sana sebagian pemandangan kota kecilnya telihat begitu sempurna.


Sementara itu..


Tian merasa tubuhnya sangat lelah.


Bagaimana tidak ?


Baru saja dini hari tadi ia tiba dirumah setelah penerbangan yang panjang dan melelahkan, menjelang siang sejak tiba di


kantor pusat agendanya sudah terisi penuh. Seharusnya sore ini Tian berencana untuk pulang kerumah secepatnya, menikmati makan malam bersama Arini dirumah dan tentu saja menghabiskan waktu berdua dengan melakukan ‘pe-de-ka-te’ kecil-kecilan.

__ADS_1


Tian bahkan sedang menyusun rencana untuk memberikan Arini pilihan apa yang ia inginkan untuk membuat sebuah quality time diantara mereka. Menonton film ? berjalan ditaman ? atau apapun itu.. yang jelas semuanya mengarah pada tujuan yang sama. Menggiring hati dan kepercayaan Arini yang seutuhnya agar lebih mendekat pada dirinya.


Namun perdebatan kecil mereka dimobil mengubah semua rencana awal. Tian yang sedianya akan memberikan kejutan dengan mengajak Arini menemui mertuanya yang telah berhasil menjalani operasi transplantasi jantung, dan sedang memasuki tahap pemulihan itu dijadwalkan oleh dokter Fadli untuk ditemui besok pagi, namun karena keinginannya yang begitu besar demi menyaksikan pendar kebahagiaan Arini dimatanya, Tian bahkan tidak berfikir dua kali memajukan jadwal penerbangan pada saat itu juga, membuat Rudi dan semua orang yang terlibat didalamnya kerepotan di injury time.


Menyadari keheningan yang merajai semakin lama, Tian yang merasa penasaran akhirnya membuka matanya sembari bangkit dari tidurnya,


mendudukkan dirinya dipinggir ranjang, membuatnya langsung bisa menangkap sosok yang dicarinya tengah berdiri didepan jendela kaca yang besar dengan pandangan mengembara kesebagian wajah kota yang langitnya mulai merah nyaris temaram.


Tian bangkit dari duduknya, mendekat perlahan tanpa disadari Arini yang baru terkejut saat ia sudah mensejajarkan dirinya tepat bersisian.


“Kalau yang ini bagaimana ? suka dengan hadiahnya ?” Tian membuka suara, ikut menatap pemandangan dibalik kaca,


mengembarakan pandangannya sejauh mata memandang.


“Iya, aku sangat suka hadiah ini. Terima kasih..” senyum yang menghias dibibir Arini seolah sebuah cermin yang bisa memantulkan semua rasa kebahagiaan yang ada direlung hatinya.


“Masih kurang..”


“Apa..?”


“Masih kurang..” kemudian ia melirik sekilas wajah Arini.


“Berterima kasih yang benar itu, harus seperti yang di pesawat tadi..” imbuh Tian dengan santai.


Arini menghadap kearahnya sambil mendelik. Tapi saat melihat senyum nakal yang menghiasi wajah Tian tampang garangnya langsung berganti dengan perasaan malu yang mendalam.. sampai-sampai Arini merasa pipinya semakin memanas saat menyadari betapa tadi ia begitu tidak tau malu saat terbawa perasaan, sampai menyebutkan kata ‘sayang’ didalam ucapan terima kasihnya nya yang berulang-ulang kali hingga ia jatuh terlelap.. dipelukan Tian !


Masih dengan senyum Tian menyentuh pipi yang sedang blush itu..


Dada mereka masing-masing bergemuruh di  tempatnya..


Deg..


Deg..


Deg..



Manakala beberapa kali ketukan dipintu, berhasil mengalihkan semuanya..


.


.


.


.


.


Bersambung..


Misi.. Maap.. mau numpang pamer nih.. 🤭 Mimpi apa gitu, bisa di notice sama Author se-kelas SEPHINASERA, yang punya Maha Karya Beautifully Painful, sama Renjana Senja Kala..?? 😘

__ADS_1


Mana pake acara kirim salam ke Tian lagi.. 😍



__ADS_2