
Peringatan dini :
Siapkan mental kalian..!! 🔥🔥🔥
.
.
.
“Yess.. finally, pulau Dewi..!! I’m coming..!!” Arini bersorak.
Tian melengos, namun tidak bisa lagi berbuat apa-apa saat menyadari Arini yang sudah kembali menghambur memeluknya, naik kepangkuannya begitu saja, bahkan telah mengambil inisiatif untuk melu mat bibir Tian terlebih dahulu dengan begitu bersemangat..
.
.
.
Mereka bertaut cukup lama, saling bertukar kasih sayang dalam lembabnya ciuman yang panjang, berbagi hasrat yang semakin membara.. seolah tidak rela berhenti meskipun nafas keduanya telah sama-sama tersenggal..
“Gendong !” rajuk Arini membuat Tian tertawa, namun tak urung ia patuh juga pada kemanjaan sang nyonya besar.
Tian mengangkat tubuh Arini, mirip dengan caranya saat ingin mengangkat tubuh Sean kedalam gendongan. “Sean akan menangis kalau melihat pemandangan ini..” ujar Tian lagi sambil kembali tertawa.
Tian benar-benar mengikuti kemauan sang istri terlebih dahulu yang minta digendong kesana kemari seperti saat Sean sedang begitu ingin menguasai perhatian Tian, yang memang selama ini tidak memiliki waktu untuk Sean sebanyak Arini yang hampir setiap saat selalu bersama pewaris keluarga Djenar itu.
Sementara Arini malah terkekeh saat baru menyadari mengapa Sean sangat suka bergelayut manja dengan daddy-nya seperti ini, ternyata rasanya cukup menyenangkan.
“Kapan mulainya kalau kelo nan terus seperti ini ?” ucap Tian yang mulai tak sabar, sebelum akhirnya mendekat kearah ranjang dan menaruh tubuh Arini disana, tak lupa Tian menyusulnya juga setelah terlebih dahulu meloloskan atasan yang ia pakai seolah ingin memanjakan mata Arini lewat fisiknya yang menawan.
“Sayang.. aku sudah membuat rencana..” ucap Arini seraya menyentuh lembut dada bidang Tian dengan jemarinya yang lentik.. terus menelusuri kebawah hingga sampai di perut yang dipenuhi ruas.
“Hmm..” seperti biasa Tian seolah tidak tertarik lagi dengan pembicaraan apapun manakala tengah berusaha meloloskan satu per satu, helai demi helai, apapun itu yang menempel ditubuh Arini.
“Biar perjalanan kita nanti ke pulau Dewi semakin seru..”
__ADS_1
“Hhmm..” memilih berkonsentrasi dengan sebuah pengait yang selalu saja menimbulkan kesulitan kecil saat harus membukanya, dan begitu berhasil misi selanjutnya tentu saja menarik benda segitiga dalam sekali gerakan.
“Sayang..” panggil Arini lagi, mencoba meminta perhatian Tian akan rencana seru yang mulai tersusun rapi diotaknya sesaat setelah mengantongi ijin Tian untuk berpergian ke pulau Dewi.
“Iya.. terserah..” berucap acuh pada apapun yang ingin dilakukan Arini nanti, lebih memilih melahap tubuh istrinya itu seperti orang rakus yang sudah tidak diberi makan selama setahun, padahal hampir setiap malam Tian selalu melahap sesuatu yang sama.. tapi anehnya sedikitpun ia tidak pernah merasa puas apalagi bosan.
“Aku akan mengajak Meta, jadi kamu juga harus bisa memaksa Rico. Lagipula Sean pasti senang kalau ada Rei yang bisa jadi teman mainnya disana. Iya kan, sayang ?”
“Terserah sayang.. terserah.. tapi bisa tidak sekarang kamu berhenti bicara dan fokus pada apa yang sedang suamimu ini lakukan untuk menyenangkanmu ?” kali ini Tian sudah berhenti sejenak dari segala aktifitasnya, sambil menatap Arini dengan tatapan protes campur kesal.
Sungguh tidak enak rasanya jika hanya dirinya yang menikmati semua kesenangan ini seorang diri, sementara fikiran dan konsentrasi Arini malah berada ditempat lain.
Tian lebih suka mereka berdua menikmati apa yang sedang ia lakukan dengan bersama-sama.. berbagi kesenangan.. dan cinta yang menggebu hingga akhir..
“Huh.. bukannya itu juga menyenangkanmu ?” ujar Arini sambil melotot kecil, namun tak urung ia mengalungkan kedua lengannya keleher Tian.
Tian meringis mendapati pelototan itu, namun sedetik kemudian ia telah menelusuri setiap lekuk yang memabukkan, kali ini lebih terasa nikmat karena Arini sudah berhenti membicarakan hal-hal yang diotak Tian tidak penting sama sekali.
Tian kembali tenggelam dalam kesibukannya yang sangat menyenangkan.
Kesibukan yang sangat menyenangkan, karena merupakan ajang pertemuan gairah dan cinta yang menggelora yang hanya bisa Tian tunjukkan dengan cara mendambakan Arini dan memujanya dengan sepenuh jiwa raga..
Kesibukan yang menguras tenaga.. namun selalu membuat Tian ingin terus mengulangnya.. terus mengulangnya.. sampai tiba dititik tertinggi puncak kenikmatan yang sesungguhnya.
Kedua tubuh itu terus berpacu melewati malam. Bersimbah peluh yang terasa hangat disetiap tetesnya.
“Sayang, aku lelah..”
“Iya sayang.. sebentar lagi yah..”
Itu adalah rengekan Arini yang entah kesekian, setiap kali ia meminta Tian
berhenti, dan jawaban yang sama juga merupakan jawaban yang kesekian.. namun yang ada Tian terus memacu tanpa henti, terus berganti posisi baik konvensional hingga yang ekstrim.
Berkali-kali sudah Arini terlempar dalam nyanyian surgawi.. namun deru nafas Tian tak kunjung padam. Sehingga setiap kali tubuh Arini bergetar hebat.. Tian akan kembali membujuknya lagi dan lagi.. terus menggiring Arini untuk menemui sensasi yang lebih menggetarkan sanubari..
“Sayang..” Arini kembali merengek mendapati Tian yang masih berpetualang. Kali ini ia harus meraih tengkuk Tian untuk bisa menatap sepasang mata suaminya itu agar ia bisa benar-benar memohon.
__ADS_1
Tian tersenyum melihat wajah memerah Arini yang sedang ia kuasai sepenuhnya. Tersadar bahwa kali ini ia harus segera berhenti jika tidak ingin membuat Arini pingsan karena kelelahan.
Tian melu mat bibir yang merekah itu dengan lembut, menghi sapnya dalam seiring dengan gerakan bagian bawah tubuhnya yang memacu dengan kecepatan maksimal selama beberapa saat sebelum tubuhnya ambruk begitu saja diatas Arini yang menyambut tubuh lelahnya dengan penuh rasa sayang.
“Sudah..?” bisik Arini dengan nafas yang tersenggal.
“Setelah menyerah, masih berani bertanya ?” pungkas Tian seraya menempelkan bibirnya lagi dileher Arini, menyesapnya dalam diam, memberi stempel kepemilikan disana dengan kuat sampai membuat Arini sedikit meringis karena rasa nyeri yang seolah mengigit.
“Kalau tidak begitu kamu selalu lupa berhenti..” gerutu Arini kesal ketika Tian selesai dengan kegiatan pembuatan stempelnya. Tian menanggapinya dengan tertawa kecil.
“Tahan sebentar lagi yah..” bisik Tian seraya bangkit perlahan, menopang tubuhnya dengan kedua lengannya untuk mengurangi beban Arini karena dirinya yang tak kunjung memisahkan diri.
Arini hanya tersenyum sambil mengangguk kecil. Jemarinya terangkat, mengusap wajah Tian yang bersimbah peluh, hanya berjarak beberapa centi diatasnya, dengan sepasang mata yang terus bertatapan penuh cinta.
Tian terus seperti itu untuk beberapa saat, seolah tidak ingin ada setetes pun kerja kerasnya yang terbuang diluar dengan percuma.
Tian memang tidak pernah lelah mengisi tubuh Arini dengan cai ran cin ta, begitu telaten menyirami rahim istrinya terus-menerus.. berharap dalam rahim itu akan segera tumbuh kembali buah cinta mereka yang selalu dinanti, yang merupakan sesuatu.. yang meskipun seluruh harta kekayaan Tian adalah taruhannya.. namun Tian tidak akan pernah sanggup untuk membeli.
Entahlah..
Karena sudah sejak awal, kehadiran seorang malaikat kecil selalu menjadi dambaan sekaligus bagian yang begitu sulit untuk Tian dan Arini, sekalipun mereka selalu berusaha keras, tanpa mengenal waktu.. lelah.. dan henti..
.
.
.
Bersambung..
Special thx to : Yani wd 🤗
Favoritekan novel ini,
like dan comment,
berikan hadiah serta vote 🙏
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘