CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Siapa suami Arini?


__ADS_3

Rico baru saja menaruh tubuhnya diatas ranjang saat ia merasakan sebuah tubuh yang lain sudah menempel ketat ditubuhnya. Saat ia menoleh ia mendapati seraut wajah Lila sudah menggelendot manja dilengan kirinya.


“Wah.. ada apa ini yah..? tumben mau nempel-nempel begini..” ujar Rico senang campur heran yang disambut cubitan kecil Lila diperutnya.


Bukan apa-apa.. Rico tau persis tipikal istrinya, yang entah masih risih bermanja karena mereka memang menikah tidak didasari cinta, atau karena memang Lila terlalu mandiri dari sononya, yang jelas Lila sama sekali bukan tipe wanita manja yang suka meminta perhatian seperti yang istrinya itu lakukan sekarang. Dan kalau bukan Rico yang akan memulainya.. mana pernah Lila mau mengambil inisiatif duluan.


“Co..” panggil Lila perlahan.


“Iya, ada apa? bilang saja apa yang kamu inginkan? asalkan jangan minta keluar rumah atau pergi bekerja, karena sudah pasti aku tidak akan mengijinkannya..” pungkas Rico to the point, seperti sudah bisa menebak bahwa Lila memang sedang ada maunya.


Mendengar itu wajah Lila langsung terlihat suram. Ia langsung melepaskan diri begitu saja bahkan langsung berbalik badan memunggungi suaminya yang dirasa sangat menyebalkan itu.


“Tuh kan.. kalau dibilangin pasti begitu..” Rico menggerutu sambil akhirnya memilih berbalik dan memeluk Lila dari belakang.


“Sudah diam. Aku benci padamu!” berusaha melepaskan diri dari pelukan hangat Rico.


“Sstt, mulai sekarang jangan bicara sembarangan. Nanti kalau didengar si kecil yang ada didalam perut itu bagaimana..?” Rico berusaha membujuk. Tangannya sudah mengelus-ngelus perut rata Lila dengan lembut.


“Biarin. Biar saja dia tau kalau kamu itu menyebalkan..”


Rico meringis. “Aku kan melakukan semua ini demi kebaikanmu. Aku melarangmu bekerja agar kamu tidak kelelahan..”


“Huh, bukannya sama saja..? aku dirumah juga aku makin kelelahan karena dirimu. Lalu apa bedanya dengan aku bekerja..?”


Rico lagi-lagi meringis mendengarnya. Lila memang benar.. dia memang tidak bisa menyangkal untuk hal itu. Membuat Lila kelelahan itu memang hobby Rico kan..?


“Kamu tidak dengar kata dokter? dokter tidak melarangku melakukannnya.. tapi dokter malah menyuruhmu mengurangi aktifitas diluar rumah termasuk bekerja..” Rico berusaha membela diri dengan mengulang kalimat dokter obygyn yang kemarin sore mereka temui untuk melakukan konsultasi serta pemeriksaan kehamilan Lila yang ternyata sudah berumur lima minggu.


“Tapi kata dokter kalau aku merasa baik-baik saja aku boleh bekerja, asal jangan terlalu lelah..”


“Lalu, apa sekarang kamu sudah merasa dirimu baik-baik saja? kamu bahkan tidak bisa makan dan mencium bau makanan apapun.”


Lila terdiam mendengarnya. Dalam hati ia juga mengakui bahwa kendala di tubuhnya sekarang karena dirinya memang belum bisa menelan makanan apapun selain beberapa macam buah, dan itu membuat tubuhnya sering lemas dan pusing.


“Bersabarlah sedikit lagi sampai kamu melewati masa-masa awal ini. Kalau kamu sudah bisa makan dengan benar aku janji akan mengijinkanmu ke kantor, meskipun tentunya harus membatasi jam kerjanya juga.” Rico berseloroh.

__ADS_1


Lila berbalik menghadap Rico dengan serta merta. “Janji ya?” ucapnya lagi meminta penegasan.


Rico menganguk. “Iya.. memangnya kapan aku berbohong..?”


“Bukannya sering?” cibir Lila.


Rico menautkan alis sejenak. “Egh..? tapi.. iya juga yah..” Rico cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


“Huhh.. baru kali ini aku melihat ‘maling’ mau mengakui dirinya ‘maling’..” sindir Lila lagi-lagi mencibir, membuat Rico salah tingkah.


“Oh ya.. besok pagi-pagi sekali aku harus pergi kekantor Tian. Kami akan pergi meninjau lokasi pembebasan lahan. Aku sudah mengatakannya padamu kan tentang proyek baru itu?” ujar Rico lagi mengalihkan pembicaraan yang sedang menyudutkan dirinya itu.


“Jadi kamu sudah menerimanya?” Lila berucap  lega. Padahal sejak kemarin ia mencoba merayu Rico untuk menerima tawaran Tian, tapi lelaki itu tetap menolak tanpa alasan yang jelas.


“Begitulah.. kamu tau kan aku ingin menolaknya, tapi pada akhirnya aku tidak bisa menolak keinginan Tian..”


Lila tersenyum. “Kalian berdua.. memang sedekat itu yah..”


“Iyalah, Tian itu bukan hanya sebagai teman, tapi sudah seperti seorang kakak. Bukan cuma itu, bahkan bagiku dia sudah seperti kantung doraemon karena aku selalu bisa meminta semua hal padanya..” Rico berucap bangga dengan kelakuannya yang memang selalu meminta ini dan itu kepada Tian yang sejauh ini nyaris tidak pernah mendapati penolakan.


Serentak Rico terhenyak mendengar gumaman Lila. “Jadi.. malam itu kamu mendengarnya juga?” Rico tersenyum kecut.


“Tapi sepertinya malam itu keinginanmu tidak terpenuhi..” saat mengucapkan hal itu, Lila sudah tersenyum usil. “Bahkan Tian terlihat sangat shock saat mendengarnya. Astaga, Co.. kamu benar-benar tidak tau malu meminta hal seperti itu kepada Tian..? yang aku lihat saat itu rasanya Tian sudah ingin membunuhmu. Dia hanya sedang berusaha menahan amarahnya..”


Rico melengos. “Aku sengaja mengatakannya agar dia mau melepaskan Arini. Tapi kenyataannya.. haihh, dia malah sengaja memutasikan Vera dengan promosi jabatan agar bisa menjadikan Arini sekretarisnya. Cihh.. lagian apa kamu tidak melihat gelagat Tian tadi? sejak kapan menghadiri undangan makan malam membawa sekretaris..?”


Lila nyaris tertawa mendengar dumelan Rico tentang Tian. “Lagian untuk apa kamu mengurusi urusan pribadi Tian sampai sejauh itu sih, Co. Kamu itu sudah seperti seorang istri cerewet yang sedang mencemburui suami yang sedang berselingkuh.. ha.. ha.. ha..” kali ini Lila tidak bisa lagi menahan tawanya yang pecah begitu saja.


Rico melotot melihat pemandangan Lila yang terpingkal-pingkal disampingnya. Wajahnya semakin terlihat kesal ditertawakan seperti itu.


“Sebelum menertawakan aku asal kamu tau, awalnya aku merasa biasa saja, aku bahkan melihat Arini sebagai wanita baik-baik yang begitu polos, wajar saja jika Tian menyukainya. She is different from another woman.. it does. Aku bahkan suka memanas-manasi dan menggoda Tian dengan beramah tamah berlebihan dengan Arini. Tapi setelah aku tau status Arini yang seperti itu, aku langsung kehilangan respect..”


“Tapi, Co.. mereka..”


“Aku tidak mau tau. Intinya aku tidak rela membiarkan hubungan mereka. Aku akan terus mencari cara untuk mengganggu Tian..”

__ADS_1


Lila menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Rico. Mungkin karena terbiasa selalu dituruti oleh Tian, saat ini Rico malah sedang bertingkah seperti seorang bayi besar yang tidak terima diabaikan kemauannya.


“Rico, dengarkan aku dulu. Apa selama ini kamu tidak pernah berfikir siapa suami Arini..?”


“Suami Arini? mana aku tau..? Aku tidak mau tau.. aku hanya tidak ingin pemberitaan yang buruk menimpa Tian. Membayangkan kalau media memberitakan Tian menjalin hubungan dengan istri orang lain dan hal itu akan berpengaruh besar pada image dan karirnya. Akh.. tidak.. tidak..” Rico terlihat bergidik ngeri.


Lila menghembuskan nafasnya. “Lalu kenapa kamu tidak pernah berfikir bahwa bisa saja Tian adalah suami Arini.. Arini adalah istri Tian.. dan diam-diam mereka adalah pasangan suami istri?”


Rico terbelalak. “Jangan mengada-ngada kamu, La.. kamu bicara apa? mana ada yang seperti itu..?”


“Ada. Buktinya dirimu! Didalam kamar selalu meminta jatah, diluar rumah bertingkah seperti lelaki bujangan. Apa selama ini kamu pernah mengakuiku..?!” Lila memelototi Rico yang terlihat langsung menciut.


“Itukan dulu..” sungutnya. “Lagian aku sudah meminta maaf, tapi kamu selalu mengungkitnya setiap kali ada kesempatan..” bergumam seperti seorang bocah yang tertangkap sedang mencuri rambutan tetangga.


“Cihh.. mudah sekali berucap begitu. Makanya sebelum melontarkan protes untuk Tian, lihat dulu kelakuanmu sendiri. Tian bahkan lebih baik darimu.. memperlakukan Arini dengan sangat lembut..”


“Itu bukan lembut.. tapi gombal karena ada maunya. Sudahlah.. aku tetap tidak percaya..”


Sungutnya tetap keras kepala, Tapi Lila sudah bertekad mengungkapkan apa yang beberapa hari ini hanya menghuni pikirannya. Sepertinya inilah waktu yang tepat untuk membuat Rico mengetahui suatu hal yang bisa Lila pastikan merupakan kebenaran.


Sesaat setelah  berbincang berdua dengan Arini tadi.. dirinya merasa tidak tahan lagi. Sebagai wanita dan seorang istri ia bahkan juga pernah merasakan tidak diakui. Semua itu terasa meyakitkan.. apalagi dengan status Arini sebagai karyawan biasa yang bekerja untuk Tian..? Terlihat sekali bagaimana Arini sangat tertekan. Lila bahkan merasa dadanya berkali-kali lipat lebih sesak saat membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Arini..


.


.


.


.


Bersambung…


Pengen manjain pembaca novel ini.. hehe.. 😁😁


Sering-sering dicek aja yah..😍😍

__ADS_1


Jangan lupa di like...😘😘


__ADS_2