CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Hukuman


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan lewat dari jam dua belas malam saat Rico membuka pintu kamar dengan perlahan.


Belum sempat rasa herannya terjawab saat melihat lampu kamar yang masih menyala terang benderang, Rico bahkan semakin dibuat terkejut saat menyadari sosok Lila yang biasanya setiap ia pulang sudah terlelap, saat ini terlihat masih duduk dengan posisi menyandarkan punggungnya di kepala ranjang mereka sambil memainkan ponsel ditangan.


“Baru pulang, Co?” wanita itu menyapa dengan suara perlahan, ia mencoba mengulas senyum tipis sambil melirik kearah Rico yang terlihat berdiri salah tingkah dibingkai pintu.


“Hemm ... sudah jam segini, kenapa kamu belum tidur?” ucap Rico akhirnya, mencoba menghalau rasa keterkejutannya dengan bersikap sewajar mungkin. Rico berjalan kedalam sambil terlebih dahulu menutup pintu kamar yang ada dibelakangnya dengan perlahan.


‘Shitt..!’


Rico mendengus dalam hati saat menyaksikan penampilan Lila saat ini.


Istrinya itu sedang mengenakan gaun tidur tipis dengan potongan leher rendah, seolah sengaja mengekspos bahu, lengan, leher, tulang selangka, dan semua bagian-bagian sexy wanita itu yang sialnya semuanya merupakan kegemaran Rico.


Huuhh ...! Rico bahkan harus membuang pandangannya kearah lain saat menyadari kepalanya terasa pening, tatapan matanya mulai menggelap, bahkan yang dibawah sana ikut terasa nyut-nyutan, saat menyaksikan penampilan istrinya yang menggoyahkan iman.


Seandainya saja dirinya tidak sedang dalam mode ingin mengacuhkan Lila, mungkin saat ini ia sudah menerkam wanita cantik dengan kulit putih mulus seperti pualam itu tanpa ampun.


“Aku sengaja menunggumu,” singkat.


Alis Rico terangkat sedikit. “Memangnya ada apa?” tanya Rico acuh sambil menghempaskan tubuh ke sofa yang ada disudut kamar. Sedikit menjauh dari Lila, sengaja memberi jarak aman agar indera penciumannya tidak terus-menerus menghirup aroma floral khas Lila yang menguar dari tubuh wanita itu.


“Ada apa? Bukannya aku yang seharusnya bertanya ada apa sebenarnya denganmu akhir-akhir ini, Co? kenapa kamu berubah acuh seperti ini?” Lila seperti tidak bisa lagi menahan diri untuk bersikap lebih tenang. Ia merasa gemas saat menyaksikan sikap Rico yang terlihat acuh seperti tidak terjadi apa-apa. Lelaki ini benar-benar berubah menjadi sosok yang sangat tidak dikenal Lila lagi.


“Aku seperti ini? seperti apa maksudmu?” masih pura-pura bertanya dengan mimik blo’on.


Lila yang melihat raut wajah Rico yang seperti itu sontak menarik nafasnya sejenak. Menahan rasa kesal yang sudah membumbung dihatinya dalam beberapa hari terakhir ini, bahkan mencoba membuangnya dan menggantikannya dengan kesabaran yang mulai menipis.


“Baiklah, lupakan saja. Saat ini ada yang hal yang lebih penting yang ingin aku sampaikan.” Lila mengatur nafasnya sejenak, berusaha mengalahkan rasa kecewanya, berusaha terus mengalah demi Rico, suaminya. “Co, apa kau punya waktu?”


“Untuk apa?”


"Begini, Co ... saat ini aku sedang melakukan kerja sama dengan Tian.“


“Aku sudah tahu,” potong Rico cuek sebelum kalimat Lila benar-benar usai.


“Darimana kamu tahu ...?”


“Yang jelas bukan dari dirimu!” tersenyum dengan raut sarkasme yang kentara.


Lila sedikit terpukul dengan perkataan ketus itu. Tapi ia mencoba tetap bersikap tenang.


“Apa kamu lupa sedekat apa hubunganku dengan Tian? Lagi pula diberbagai media masa saja, beritanya sudah jor-joran ... jadi mana mungkin aku tidak tau kalau Ceo Indotama Group akan meresmikan MGR milikmu.”


“Baiklah ... kalau kamu memang sudah mengetahui semuanya, karena aku ingin kamu juga bisa hadir pada peresmian MGR nanti ...”


“Sepertinya aku butuh selembar undangan.”


Mendengar itu rasa kesal Lila akhirnya terpancing. “Kamu ini apa-apaan sih, Co ...? dari tadi jawabanmu nyeleneh terus ...?“


Lila benar-benar tidak habis pikir kenapa Rico bisa menjadi sekejam ini padanya. Hati Lila sungguh terluka, Lila bahkan sering menangis setiap malam, tapi yang ada Rico semakin tidak peduli padanya.


"Memangnya ada apa dengan jawabanku? Apa aku salah kalau aku butuh undangan? kalau tidak bawa undangan lalu bagaimana nanti aku masuk ...? Aku kan tidak mungkin datang bersamamu dan membuat semua orang curiga kemudian berpikir sesuatu tentang kita, kan?”


Lila menarik nafas dan menahannya di dada sejenak. Sungguh Lila merasa hatinya hancur berkeping-keping mendengar kalimat Rico barusan. Lila memahami kelakuan Rico yang memang sering terlihat kekanak-kanakan, tapi saat ini Rico sudah begitu keterlaluan.


Apa maksud Rico? Apa Rico merasa begitu malu jika harus terlihat bersama dengannya? Apa dirinya se-memalukan itu dimata Rico?


Mencegah tanggul pertahanan terakhirnya ambrol begitu saja dihadapan Rico, akhirnya Lila beranjak dari tempat tidur. Ia bangkit dan hendak berjalan keluar kamar.


“Kamu mau kemana?” refleks Rico bangkit dari duduknya.


“Kamar tamu. Aku akan tidur disana malam ini,”


Mendengar itu Rico diam saja, tidak mencegah sama sekali.


Sementara Lila memilih meninggalkan Rico begitu saja, sebelum kesabarannya hilang, dan sebelum ia bisa terlihat begitu rapuh dihadapan lelaki egois tanpa hati itu.


 XXXXX


Hari masih terlalu pagi. Matahari bahkan belum menampakkan wujudnya dengan sempurna, namun semburat jingga sudah mulai terlihat merona di ufuk timur.


Arini yang baru saja terbangun dari tidurnya refleks ingin mengeliat seperti kebiasaanya setiap bangun tidur manakala ia tersadar ia tidak bisa melakukan gerakan andalannya itu karena ada sesuatu yang berat yang sedang menimpa tubuhnya saat ini.


“Apa ini ...?”


Meraba-raba sesuatu yang sedang melingkar di perutnya.


"Aaaaaaa ...!!”


Arini serentak berteriak saat menyadari bahwa yang sedang memeluk pinggangnya saat ini adalah sebuah tangan kekar. Ia hendak menyelamatkan diri dari tangan tak dikenal itu tapi yang ada tangan dan lengan kokoh itu dengan sigap malah menarik tubuhnya semakin dalam.


“Aaaaa ... t-tolong ... s-siapa kamu …?!” masih keukeuh dengan usaha pemberontakan yang sia-sia.

__ADS_1


“Ya ampun Arini, kamu bisa diam tidak sih?!”


Arini sontak membeku mendengar suara berat penuh kantuk yang berada tepat dibelakang punggungnya.


‘Tian..?’


Sontak dadanya bergemuruh, dahinya bahkan langsung terasa berkeringat dingin. Ia benar-benar seperti bemimpi ... kapan lelaki ini tiba? mengapa ia tidak tahu?


Semalam Arini memang merasa sangat kelelahan setelah melewati drama ketegangan dengan kepala keamanan apartemen yang bernama Haris yang dengan tiba-tiba membawanya ke rumah super mewah ini, ditambah lagi dengan benak yang dipenuhi sejuta tanya tanpa jawaban dan penjelasan apapun dari semua orang, membuat Arini memang merasa lelah sehingga sepertinya ia tertidur seperti orang mati, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Tian yang entah sejak kapan.


“Kenapa tidur disini sih ...?” berucap lirih, salah tingkah.


“Kalau tidak tidur disini, lalu aku harus tidur dimana lagi?” sanggahan dari balik punggungnya itu meskipun terdengar ketus tapi masih tetap menyimpan kantuk.


Arini menggigit bibirnya sendiri mendengar kalimat itu.


'Cihh, memangnya rumah sebesar ini tidak punya kamar lain?'


“T-Tapi..”


“Arini ... tolong diamlah sebentar, biarkan aku tidur dulu sejenak, setelah itu kamu boleh bangun dan melakukan apa saja ...”


Arini tidak menyanggah lagi. Ia terdiam seperti batu. Matanya mencoba melirik kebawah, dimana tangan dan lengan Tian masih melingkar ketat disana. Dan yang membuat Arini semakin frustasi saat menyadari baju tidur sexy yang saat ini sedang membalut tubuhnya.


Arini jadi menyesal mengapa semalam ia nekad mengenakan lingerie sialan itu.


Mendadak Arini merasa ngeri dengan apa yang ada di pikiran Tian.


Semalaman melihatnya tidur dengan tubuh nyaris naked begini ... Lelaki itu tidak berpikir bahwa ia sedang mencoba menggodanya, kan?


‘Haihh.., tahu begini semalam aku tidur memakai gaun saja!’


Meskipun merasa posisinya sangat tidak nyaman, namun Arini masih tidak berani bergerak.


'Pasti lelaki ini sedang mencari keuntungan..’


Desis Arini dalam hati, sedang berusaha membuat dirinya kesal demi mencegah rasa baper yang mencoba meracuni hati dan pikirannya.


Sungguh sangat manis kalau adegan di pagi ini adalah adegan dari sepasang kekasih yang saling mencintai.


Tapi mengingat bahwa dirinya sama sekali bukan orang yang dicintai oleh Tian, Arini langsung mengubur perasaan melownya jauh-jauh ke dasar jurang.


'Please Arini ... jangan pernah menyimpan semua kelakuan manis lelaki buaya ini dalam hati jika kamu tidak ingin hatimu semakin hancur. Dia hanya mau mencari celah agar bisa mempunyai keturunan Djenar denganmu, untuk membuat neneknya senang kan ...? Membuatmu luluh dengan sikap manisnya ...? Ingat baik-baik Arini ... ingat ... dia bahkan tidak pernah memikirkan dirimu selama lima hari, padahal kamu sendiri hampir mati menahan rindu ...!’


Baiklah ... anggap saja dia sedang keras kepala seperti kata Tian, tapi setidaknya Arini merasa harus bersikap adil juga dengan hati nuraninya sendiri yang masih mengharapkan sedikit saja cinta Tian untuknya, meskipun kadarnya hanya sepersekian persen.


Sedikit manusiawi, bukan ?


Arini memutar matanya lagi, menyadari tangan Tian yang bertengger nyaman ditubuhnya yang terbalut pakaian tidur super minim.


‘Oh God ... aku benar-benar belum sanggup kalau sampai Tian melakukan sesuatu pada diriku. Awas saja kamu, Tian ... kalau kamu berani macam-macam lebih dari semua ini, aku benar-benar akan memukulmu! Memangnya kamu pikir aku kambing, mau saja diajak beranak pinak tanpa cinta ...?’


Masih dalam pelukan Tian yang sama sekali tidak menyadari jika wanita yang sedang dipeluknya dengan nyaman ini malah sedang mengepalkan tangannya dengan waspada.


XXXXX


 


Sinar matahari yang menerobos nakal lewat tirai jendela sanggup menyilaukan Tian yang masih terlelap. Refleks tangannya meraba-raba sesuatu yang berada dipelukannya ... hidung dan bibirnya bahkan ikut-ikutan aktif mengendus dan mencium kecil kesana kemari.


Kedua matanya masih terkatup rapat saat dahinya tiba-tiba mengerinyit begitu mendapati kejanggalan.


'Kenapa aku seperti memeluk benda mati saja? Tidak ada lekuknya sama sekali!'


Tian sontak membuka mata, melihat apa yang sebenarnya ada dalam pelukannya yang tadi sempat ia raba-raba nakal dan cium-cium kecil ternyata bukanlah sosok Arini seperti yang ia harapkan melainkan sebuah guling.


“Sialan!!”


Tian sontak menendang guling itu tanpa ampun begitu saja hingga jatuh menggelinding kebawah ranjang dan berhenti tepat dibawah sepasang kaki yang baru saja muncul dari balik pintu.


“Apa ini?”


Arini mengerinyit, ia membungkuk memungut guling yang tergolek lesu di kakinya sambil menatap keheranan kearah sosok dengan rambut acak-acakan yang masih terduduk diatas ranjang dengan tampang bete ... tapi tetap terlihat ehem ... tampan.


“Sudah bangun rupanya?”


“Sudah tahu masih bertanya,” Tian berucap jutek sambil turun dari tempat tidurnya dengan gerakan malas.


Tian langsung menuju ke toilet tanpa berkata apa-apa. Tentu saja ia masih merasa kesal, lagian siapa juga yang tidak kesal jika menyadari baru saja bermesraan dengan guling!


Arini yang masih keheranan melihat sikap Tian akhirnya melangkah masuk kedalam sambil menenteng guling yang baru saja dipungutnya, kemudian dengan gesit ia langsung membereskan tempat tidur Tian yang berantakan.


Begitu semuanya telah rapi, Tian terlihat keluar dari toilet sambil menyisir rambutnya yang basah kebelakang dengan jemarinya sendiri. Lelaki itu nampak sedang memperhatikan penampilan Arini yang memang sudah rapi karena sebentar lagi dia sudah akan berangkat ke kantor pusat Indotama Group.

__ADS_1


“Sepagi ini sudah mau pergi bekerja. Tidak sia-sia punya karyawan yang serajin dirimu,”


Arini menelan ludahnya mendengar kalimat itu.


Huh!


Arini bahkan tidak tahu apakah saat ini Tian sedang memujinya atau justru sebaliknya, sedang mengejek.


‘Ya, baiklah tuan besar ... kalau aku seorang bos seperti dirimu, aku juga bisa datang ke kantor pada jam berapapun yang aku mau. Tapi karena aku hanya seorang upik abu di kantor suamiku sendiri, tentu saja aku harus pergi kekantor sepagi ini!’


Gerutu Arini dalam hati.


“Pak Tian, sarapan sudah siap. Turun yuk,” ajak Arini ramah, memilih mengacuhkan kalimat Tian sebelumnya.


Tian menatap Arini lekat. “Kamu sengaja ya?” tanya Tian dengan tatapan tajam.


“Sengaja? Apanya yang sengaja?“


“Masih pagi begini sudah mau menciumku. Se-kangen itu kamu kepadaku rupanya?”


“Apa?!” Arini melotot.


“Baguslah kalau begitu ..."


“Apanya yang bagus?”


Tian tersenyum puas, sedikit ambigu, tapi Arini masih tidak menyadarinya.


“Kenapa sih?“ tanya Arini saat menyadari tatapan lelaki itu masih lekat padanya, menyorot aneh.


“Hukuman.”


“Hukuman? Hukuman apa?”


“Cium.”


“C-Cium ...? bicara apa sih ...?” Arini memalingkan wajahnya yang bersemu merah.


“Barusan kau memanggilku 'Pak Tian' lagi ...” mengingatkan dengan mengucapkan kesalahan Arini sambil tersenyum penuh kemenangan.


‘Lelaki ini bicara apa sih ..?'


'Tapi ... egh ... astaga ... belum apa-apa aku sudah melakukan kesalahan besar rupanya!’


Arini merutuk dalam hati, saat menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan.


Tian mendekatkan wajahnya, sambil menggoyangkan jari telunjuk sebagai isyarat, agar Arini segera mendekat. ”Lakukan hukumanmu.”


"T-tapi ...”


"Ayo cepat lakukan, kalau tidak aku akan memecatmu saat ini juga.”


Arini mendengus kesal mendengar ancaman murahan, terlebih saat menatap Tian yang dengan gerakan sedikit membungkuk masih bisa tersenyum licik


Dengan sedikit terpaksa serta wajah yang cemberut Arini sedikit berjinjit dan ...


Cup.


Arini memalingkan wajahnya kesamping.


‘Cih, kegilaan apa ini?’


Batinnya, sedikit kesal karena merasa dipermainkan, tapi lebih kesal lagi saat menyadari betapa jantungnya sangat berdebar setelahnya.


‘Arini, waspadalah ... lelaki dihadapanmu ini sedang berniat buruk ... dia berniat membuatmu menjadi budak cinta ...’


Peringatan itu muncul dibenak Arini begitu saja ibarat sebuah sirine tanda awas.


“Apa itu tadi?”


Tian menatap Arini dengan tatapan protes, sambil mengusap pipi bekas kecupan Arini barusan yang secepat kilat.


“Mau menipuku yah? Seperti itu kamu bilang ciuman?” tatapannya mengunci dengan aura protes yang kental.


Arini menatap Tian kesal sambil memutar bola matanya. “Whatever ...” desisnya sambil mencibir. “Ayo turun, “


Arini sudah berbalik secepat kilat, berusaha menghindar.


Bagaimana bisa ia berlama-lama berhadapan dengan Tian, disaat wajahnya telah dipenuhi rona merah, sementara suara detak jantungnya yang menggila di dalam sana, seakan bisa terdengar hingga keluar ... saking begitu kuat debarannya ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2