CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 060


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


.


.


.


Saat mobil Rico memasuki gerbang rumahnya yang megah, masih tidak ada yang bicara diantara mereka.


Meta membuka pintu yang ada disampingnya dan turun begitu saja tanpa menoleh kearah Rico yang menatap setiap gerak-geriknya dengan kesal.


“Meta..”


Panggilan Rico hanya dianggap angin lalu oleh Meta yang hanya menyisakan pemandangan punggungnya yang terlihat menjauh dengan tergesa.


“Shit..!” desis Rico geram seraya membanting pintu mobil dengan kasar, sebelum akhirnya memilih mengejar Meta yang semakin menjauh.


Tidak lebih dari lima langkah sebelum Meta bisa menjangkau handle pintu rumah Rico manakala tangan besar Rico sudah lebih dahulu mencengkeram lengannya.


“Jangan kekanak-kanakan seperti ini !” hardik Rico yang merasa kesulitan menahan pergerakan tubuh Meta yang terus berusaha meloloskan diri.


“Lepaskan..” Meta menghentak marah, ia nyaris bisa meloloskan dirinya sehingga membuat Rico nekad meraih tubuh Meta begitu saja.


Rico terpaksa memeluk tubuh Meta kuat-kuat dari belakang agar wanita itu tidak bisa lepas dari jangkauannya. “Jangan begini.. tolong Meta.. jangan begini.. jangan biarkan Rei melihat pemandangan yang buruk tentang kita berdua.. tolong..” bisik Rico kali ini nada suaranya sedikit melemah.


Meta tergugu mendengar kalimat permohonan yang diucapkan dengan sepenuh hati itu meski pun tetap terbalut keangkuhan.


Meta bisa merasakan bahwa kali ini lelaki itu bersungguh-sungguh. Tapi sisi hatinya yang terluka dan terhina begitu rupa tidak lagi bisa mencegah dua buah bening yang menelusuri permukaan wajahnya yang kaku.


Nafas Meta memburu saat mati-matian menekan emosi yang bisa membuat tanggul pertahanannya ambrol. Meskipun dua buah bulir air matanya yang telanjur tidak sempat tercegah  tidak juga bisa ia singkirkan karena kedua tangannya yang terkunci dalam pelukan, tapi Meta juga tidak ingin menangis sesegukan dalam pelukan Rico yang terus memeluknya dengan utuh.


Dua buah bening itu telah meluncur dengan mulus, melewati kedua pipinya yang halus, kemudian masing-masing jatuh diatas kedua pergelangan tangan Rico yang melingkari lehernya, sedangkan sepanjang punggungnya terasa hangat karena menempel ketat dengan dada kekar yang tetap berada dibelakangnya dengan mulut yang diam seribu bahasa.


Sebuah kata maaf tidak pernah menjadi hal sepenting itu untuk Meta, tapi saat ini sungguh hatinya sangat membutuhkannya sebagai obat mujarab untuk memulihkan keseluruhan hatinya yang telah porak poranda seperti sedia kala.


Tapi ternyata pak Rico bukanlah orang yang memiliki hati se-peka itu sehingga bisa merasakan bagaimana dalamnya hati Meta terluka karena setiap perkataanya, sikapnya begitu pun perbuatannya.


“Baiklah.. aku tau, aku tidak seharusnya melakukan itu padamu..” bisik Rico perlahan, sedikit menyesal namun tidak berniat sama sekali untuk meminta maaf.


Hening mencekam sejenak sebelum Meta menggeleng sendu. “Mungkin aku yang berlebihan. Pak Rico benar, hidupku sudah ada pemiliknya. Aku tidak seharusnya marah..”


Rico tercengeng mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa dari sekian banyak kosa kata yang ada diatas muka bumi ini.. mengapa kalimat menjengkelkan itu yang justru dirangkai Meta untuk membalasnya.


Jika Rico bisa memilih.. Rico lebih suka menerima kemarahan dan umpatan Meta saja, bukan kalimat yang lagi-lagi menyiratkan apa arti dirinya dimata wanita itu. Tidak lebih dari seorang pembeli..? atau hanya sebatas pemenang tender sebuah proyek ?


Hati Rico yang sebenarnya mulai melemah kini kembali merasa kesal menyadari kenyataan itu, membuatnya refleks melepaskan tubuh Meta yang mematung dalam rengkuhannya begitu saja.


“Kamu adalah wanita paling angkuh yang pernah aku kenal..” desis Rico menekan emosinya dalam-dalam, seraya menghunuskan tatapan setajam belati kearah punggung mungil yang masih berada pada posisi membelakanginya.


Meta berbalik, menatap penuh kearah Rico yang sedang menatapnya dengan mata penuh amarah. “Mungkin itu sebabnya hargaku sangat mahal..” ia justru tersenyum saat harus merendahkan dirinya sedemikian rupa, demi sepenggal harga dirinya yang tersisa.


Kepala Rico mengeleng berkali-kali seraya menatap Meta dengan tatapan tak percaya. “Aku benar-benar harus secepatnya menjauhkan Rei darimu..”  ujarnya dengan bathin yang dipenuhi hasrat seolah ingin menghancurkan seisi dunia saking geramnya.

__ADS_1


“Aku juga ingin secepatnya mendapatkan kebebasanku..” Meta membalasnya dengan sedikit sinis.


“Aku telah salah menilaimu..”


“Kalau begitu cepatlah sadar pak Rico.. sebelum semuanya semakin mengabur..”


“Mulai besok, kamu hanya bisa bertemu Rei pada sore hari. Satu jam cukup.”


Kali ini Meta tidak membalasnya, hanya membisu. Hati Meta telah menangis darah.. namun ia tidak sudi lagi memohon. Ia sudah teramat sangat lelah.


Rico berjalan melewati Meta begitu saja, dengan sekali gerakan lelaki itu menyentak pintu depan dengan kasar hingga terpentang.


Namun sisa-sisa kemarahan yang mengelayut diwajahnya sontak memudar begitu saja.. berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa begitu mendapati dua orang wanita paruh baya sedang duduk di sofa ruang tamu miliknya.


Kedua wanita itu nampak menoleh bersamaan, sedikit terkejut dengan bunyi keras dari pintu yang terbuka oleh gelegar amarah.


“I-ibu..?” Rico tergeragap mendapati kehadiran dua orang wanita itu sekaligus di ruang tamu rumahnya.


Yunita Wijaya, yang tak lain adalah ibu Rico itu sudah berdiri dari duduknya.. tapi tatapannya malah tertuju dengan lekat pada sesuatu, dan itu bukan Rico, melainkan seorang wanita yang berada tepat dibelakang Rico Chandra Wijaya, putra semata wayangnya.


XXXXX


Sudah jelas-jelas pak Rico telah menyuruhnya pergi dari ruang tamu itu dan masuk kekamarnya. Pak Rico juga telah bersikukuh mengabaikan keinginan dua orang wanita paruh baya yang bersikeras ingin menahannya agar tetap berada disana.


Untuk apa ?


Yah.. untuk apa lagi kalau bukan untuk menginterogasi dirinya ?


Kalimat tegas pak Rico tidak bisa terbantahkan lagi, dan Meta akhirnya melangkah lunglai setelah menganguk takjim, tetap meminta pamit dengan penuh kesopanan meskipun yang ia terima adalah sebuah wajah yang berpaling tak sudi, dan yang satunya lagi malah melengos secara terang-terangan.


Meta mengenalinya dengan jelas. Beberapa foto keluarga yang terpampang di beberapa bagian dinding rumah besar milik pak Rico telah menjawab pertanyaannya dengan mudah tentang siapa gerangan dua wanita yang masih terlihat cantik dan anggun di usia mereka yang tentunya sudah tidak muda lagi.


Yang satunya yang terlihat lebih dominan adalah Yunita Wijaya, dia adalah ibu pak Rico, satunya lagi Tiar Hasyim, yang tak lain adalah ibu dari almarhum ibu Lila. Keduanya terlihat menawan dengan penampilan borjuis, khas ibu-ibu sosialita yang tentu saja berduit.


Setahu Meta, kedua orang tua pak Rico dan ibu Lila memang telah lama menetap diluar negeri.


Kedua orang tua pak Rico berada di New York, sedangkan kedua orang tua almarhum ibu Lila tinggal di London. Dan entah angin apa yang membuat kedua nyonya besar itu tiba-tiba bisa muncul secara bersamaan dirumah pak Rico tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


Pasti ada sesuatu yang luar biasa kan ? tidak mungkin tidak..!


Meta bukannya tidak tau bahwa yang telah ia lakukan adalah suatu hal yang tidak terpuji, karena yang ada, bukannya masuk ke kamar seperti yang telah di titah-kan pak Rico dengan jelas kepadanya, Meta malah bersandar di dinding pembatas, hanya agar dia bisa leluasa mencuri dengar pembicaraan ketiga orang itu diruang tamu.


XXXXX


“Rico ? tadi itu siapa ? jeng Yunita.. itu siapa jeng ? jangan bilang kalau itu..itu.. ternyata..” suara Tiar Hasyim yang tergeragap telah menjadi kalimat pembuka yang sempurna begitu bayangan Meta menghilang dibalik tembok yang kokoh.


Mendengar kalimat yang terpatah-patah itu, Yunita Wijaya langsung menggeleng tegas. Ia memilih menatap Rico dengan tatapan tajam yang menyelidik “Rico ? siapa dia ?”


Rico tergeragap. “Ibu tenanglah.. duduk dulu..”


“Tidak. Jawab ibu dulu, dia siapa..?”


Mendapati situasi yang tidak menguntungkan posisinya membuat Rico akhirnya menjawab dengan perlahan. “Dia.. bukan siapa-siapa..”

__ADS_1


“Bukan siapa-siapa bagaimana maksudmu ?” suara Yunita Wijaya terdengar meninggi.


“Astaga jeng.. aku baru ingat. Wanita tadi adalah wanita yang sama yang menenangkan Rei saat pemakaman Lila. Ingat tidak jeng..?”


Mendengar pernyataan Tiar Hasyim membuat Yunita Wijaya terlihat memutar otak sejenak sebelum akhirnya ia menemukan apa yang ingin ia temukan dari memory ingatannya.


Besannya itu benar.. wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang telah dibawah Rico pulang bersamanya pada hari itu, karena Rei yang tiba-tiba saja tidak ingin lepas dari wanita itu tanpa alasan yang jelas.


“Dia hanya karyawan biasa, bu.. aku sengaja membayarnya untuk bisa menenangkan Rei..”


“Sudah beberapa bulan berlalu masa iya Rei masih terikat dengannya ?” intonasi suara Yunita Wijaya nampak terdengar sinis. “Jangan-jangan wanita itu hanya modus saja, sengaja mendekati Rei untuk mencuri kesempatan mendekatimu..”


“Ibu..” protes Rico merasa tak nyaman dengan kalimat ibunya. Bukan apa-apa, Rico hanya merasa malu karena pada kenyataannya justru dirinyalah yang memperalat Meta sejak awal agar tidak bisa lepas begitu saja dari dirinya.


“Wanita itu..”


“Namanya Meta, bu..”


“Aku tidak peduli !” ucap Yunita Wijaya dengan raut kesal.


Rico menghembuskan nafasnya dengan berat melihat sikap ibunya yang terlihat sangat tidak menyukai Meta, belum lagi melihat ekspresi wajah ibu mertuanya yang dua kali lipat lebih tidak enak dipandang.


“Rico.. apa kamu yakin kamu tidak punya hubungan apa-apa dengannya..?”


Rico mengangguk.


“Apa ibu bisa mempercayaimu ?”


Kali ini Rico tertunduk sejenak. Ia bukannya berniat membohongi ibunya seperti ini. Tapi sejak awal ia memilih merahasiakan jika ia telah menikahi Meta karena Rico benar-benar mengenal karakter ibunya yang sangat keras hati.


“Aku.. tidak ada hubungan apa-apa dengannya, bu.. hanya sebatas karena Rei menganggapnya..” mengambang sejenak sebelum akhirnya meneruskan dengan perlahan. “Ibu bahkan tau bagaimana Rei telah tergila-gila padanya sejak awal kan ? aku tidak punya pilihan, bu.. tapi sungguh, saat ini aku juga sedang berusaha keras untuk mulai menjauhkan Rei darinya..”


“Baiklah ibu mempercayaimu.”


Rico menelan ludahnya yang terasa pahit. Detik berikutnya ia telah menatap ibunya dan ibu mertuanya berganti-ganti.


“Lalu ada apa tiba-tiba ibu kesini ?” tanya Rico lagi dengan mimik datar. Entah kenapa hati kecilnya seolah sedang memberi tanda awas atas kedatangan ibu dan ibu mertuanya yang secara bersamaan seperti ini.


Yunita Wijaya nampak menatap Tiar Hasyim yang terlihat menganguk dan melempar senyum seolah memberi semangat.


“Justru karena itulah ibu dan ibu mertuamu kesini. Ini semua demi Rei..”


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2