CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 054


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


Memukau.


Semua mata nampak terpana saat melihat bagaimana cara Meta mempresentasikan semuanya.


Materi yang sangat siap, data yang akurat, cara penyampaian yang mempesona.. ditambah dengan pantulan sinar proyektor yang menambah artistic setiap pergerakan wanita itu, mengiringi suara lembut namun berkharisma.


‘Kenapa sepertinya dia terlihat berbeda ?’


‘Sial.. kenapa juga dia terlihat semakin menarik seperti itu sih..?’


Rico sibuk membathin.


Disaat semua orang menatap Meta yang sedang berusaha keras melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Rico malah lebih sibuk memperhatikan setiap inchi gerak-gerik Meta, dan menatap kesal kearah orang-orang yang sedang menatap Meta di meeting room itu, yang sebagian besar merupakan kaum adam.


Rico bahkan semakin muak saat melihat senyum kebanggan Rudi Winata yang terkembang jelas dibalik temaramnya ruangan.


Tempat duduk Rudi memang nyaris berhadapan langsung dengan Rico, hanya berbatas meja besar dengan bentuk oval. Disebelah Rudi ada Tian yang pandangannya juga terlihat fokus kedepan, kearah Meta.


Demi apa.. bahkan melihat Tian sedang menatap penuh minat pada apa yang sedang Meta uraikan saja bisa membuat Rico merasa jengkel.


Apa benar dirinya sedang cemburu ?


Cihh..!


Rico bahkan tidak menyadari sejak kapan wanita mungil dengan rambut sebahu itu tiba-tiba berubah menjadi semanis dan seanggun itu. Terlihat intelek dan memukau.


Lampu diruangan itu kembali dinyalakan usai persentasi yang berjalan dengan lancar.


“So far.. apa yang disampaikan Meta sudah sangat mengena. Dari saya pribadi saya sangat menyukai semua plan yang menjadi isi materi persentasi tadi.. tapi siapa tau masih ada yang belum pas atau ada yang perlu ditambahkan..?” Tian menatap satu persatu peserta meeting yang ada. Sebagian besar nampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat sang Ceo.


“Pak Haris bagaimana, pak ?” Tian menyapa pak Haris yang merupakan manager pemasaran di kantor pusat indotama group.


“Saya juga sependapat dengan hasil presentasi tadi, pak. Tapi untuk bagian penerimaan tenant saya ingin mengusulkan bahwa sebaiknya kita bisa membuat skala prioritas untuk para calon tenant yang sudah punya nama..”


“Skala prioritasnya berlaku untuk seluruh tenant ? atau hanya terfokus pada anchor tenant ?” Tian kembali melemparkan pilihan.


“Kalau pendapat saya, pak, sebaiknya berlaku untuk semua tanpa terkecuali..” pak Haris masih mengemukakan pendapatnya.


Seketika meja meeting yang awalnya hening berubah sedikit hidup, peserta meeting yang ada kini telah terpecah menjadi dua opsi antara setuju sepenuhnya dengan pendapat pak Haris dan sebagiannya lagi malah sebaliknya. Masing-masing mengeluarkan pendapatnya dengan santun dihadapan Ceo indotama group yang memimpin langsung jalannya meeting di siang itu.


Tian nampak mengangguk-anggukan kepalanya mendengar beberapa usul dari investor dan beberapa orang manager yang terkait.

__ADS_1


“Kalau pendapat pak Rico bagaimana ?” tanya Tian lagi usai menampung beberapa masukan yang ada.


Meskipun perhatian Rico sejak tadi tercuri dengan setiap gerak-gerik Meta sejak awal presentasi, tapi untunglah ia sudah memahami betul isi materi tersebut sebelum meeting. Rico menarik nafas sejenak.


“Kalau menurut saya, untuk tenant biasa kita bisa lebih fleksibel. Ada tenant-tenant kecil yang sudah punya nama sebelumnya, dan ada juga yang berkwalitas tapi kalah famous dengan brand lama. Tapi disitulah tantangannya.. bisa tidak kita membuktikan bahwa indotama times square bisa memberikan ruang, peluang, sekaligus daya saing bagi mereka dengan jalan membuka lapak disana..? itu pe-er khusus nya loh..”


Berucap santai sembari mengedarkan pandangannya kesemua peserta meeting yang terdiam sambil menyimak terobosannya dengan penuh minat. Kemudian tatapan Rico berlabuh pada Ceo indotama group yang juga menatapnya dengan konsentrasi penuh.


“Tapi jika menyangkut anchor tenant, saya sependapat dengan opsi awal. Sebaiknya kita tetap memprioritaskan anchor tenant yang sebelumnya sudah punya nama. Entah itu wujudnya departemen store, super market, ritel, atau restoran.. intinya yang familiar. Bukan karena semata-mata ingin mendompleng nama besar mereka, tapi saya rasa kita semua tau-lah aturan mainnya. Bisnis tetaplah bisnis. Semua pasti sepaham jika kehadiran anchor tenant akan sangat mempengaruhi minat masyarakat, sekaligus menjadi magnet penarik untuk tenant dengan lapak yang lebih kecil agar dengan sendirinya bisa didatangi pengunjung. Satu poin yang sangat penting dan harus digaris bawahi.. bahwa kehadiran anchor tenant yang sukses sangat bermanfaaat dalam perkembangan kawasan perbelanjaan sebagai tempat yang ideal untuk kawasan jual beli yang diminati masyarakat luas..”


“Perfect..!” satu-satunya investor dalam negeri yang ikut hadir disana refleks menyambut akhir penjelasan Rico dengan bersemangat.


“Saya juga setuju..”


“Kalau seperti itu konsepnya, saya yes-lah..”


Beberapa argument positif nampak terus mengalir untuk lebih menguatkan ide cemerlang seorang Rico Chandra Wijaya, sang pengembang, sekaligus sosok yang memiliki peran paling penting dibalik kesuksesan pembangunan indotama times square dari nol.


Dari ujung sana, Meta tak berkedip saat menatap Rico yang terlihat sangat berwibawa. Cara bicara Rico yang terlihat santai namun dipenuhi aura kepercayaan diri yang dominan, sukses memukaunya sejak awal lelaki itu membuka suara.


Seharusnya Meta tidak perlu terlalu terpesona. Dia bahkan pernah berhadapan langsung dengan Rico seharian full di ruangan meeting ini saat dokumen best electro mengalami kesalahan input di injury time. Dan lelaki itu memang sangatlah berkharisma. Sikapnya yang biasanya pecicilan, penggoda dan kerap menabur pesona tidak akan muncul sama sekali saat ia mengeksekusi pekerjaannya.


“Baiklah.. untuk karakteristik penentuan tenant dan anchor tenant saya rasa deal yah..” Tian menengahi sembari melirik jam tangannya sekilas. “Kita break makan siang dulu selama satu jam, sebelum kita teruskan meetingnya mengenai persiapan launching dan publikasi sebagai strategi awal untuk menarik pengunjung..”


Peserta meeting pun mengangguk lega, beberapa hembusan nafas nampak terdengar jelas.


“Rud, makan siangnya sudah siapkan ?” tanya Tian kearah Rudi yang nampak tengah beranjak dari duduknya.


“Catering-nya sudah siap, tapi ini mau saya cek langsung, pak...”


“Egh.. itu sudah, pak..” ujar Rudi lagi. “Untuk pak Tian sudah disiapkan khusus diruangan..”


“Oh.. oke.. oke.. terima kasih..” Tian mengangguk, kemudian menatap Rico yang ada dihadapannya. “Co, kita diruanganku saja..”


Rico tidak menjawab, hanya menunjukkan jempolnya tanda setuju.


XXXXX


“Ayo..”


Meta yang masih tertunduk sambil berusaha mengunci resleting tas setelah menyimpan flash disc kedalam saku tas-nya bagian dalam sontak mengangkat wajahnya. Tepat dihadapannya Meta mendapati Rudi yang sudah berdiri disana.


“Apanya yang ayo..?” tanya Meta lagi keheranan seraya menautkan alis.


“Kita keatas sekarang saja..” ucap Rudi sambil tersenyum sumringah.


“Aku kan sudah bilang kalau..”


“After lunch ?” pungkas Rudi seraya mengedarkan pandangannya kearah suasana meeting room yang sudah berubah ramai sejak kepergian Ceo indotama group bersama pak Rico yang memilih makan siang diruangan Ceo. “Yakin mau makan disini ?”


Meta ikut-ikutan mengalihkan tatapannya kesuasana ruangan yang mulai sedikit semrawut. Berbagai candaan ringan bahkan gelak tawa terlihat mulai mewarnai meeting room tersebut.


Detik berikutnya Meta telah mengalah.. memilih mengikuti langkah Rudi yang beranjak didepannya masih dengan senyum yang sama.


“Bisa pegang botol air mineralnya kan ?” tanya Rudi menoleh padanya seraya mengacungkan kedua tangannya yang telah memegang dua buah lunch box ditangan.

__ADS_1


Meta menganguk, mengambil dua buah botol air mineral kemasan dari nampan yang dibawa seorang ob yang terlihat sibuk membantu pihak catering untuk mendistribusikan lunch box dan air mineral kemasan ke semua orang yang berada di meeting room.


XXXXX


Saat menghempaskan tubuhnya disofa wajah Rico terus memancarkan raut seolah sedang memikirkan sesuatu.


Entah kenapa bathinnya terus terusik, setelah sesaat ia akan beranjak keluar dari meeting room dan ia menangkap bayangan Rudi yang mendekati Meta.


Refleks Rico mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor dan menunggu respon dari seberang.


“Iya.. pak Rico ?


“Ada dimana ?” berucap to the point.


“A-aku ?”


Rico menghembuskan nafasnya kesal, sebelum berucap dengan nada ketus. “Kalau bukan kamu, memangnya siapa lagi ?!”


“Aku.. di mini garden..”


Rico nampak menahan nafasnya yang mulai memburu. “Sedang apa disana ? bukannya makan siang malah keluyuran..”


“Aku.. sengaja makan siang di mini garden karena di meeting room terlalu ramai..”


“Sendirian ?”


Hening sejenak, membuat kesabaran Rico nyaris menguap.


“Aku.. aku.. bersama pak Rudi. Memangnya ada apa, pak ? apa ada yang harus aku kerjakan ?”


“Tidak ada..! teruskan saja makanmu..!!”


Klik.


Rico nyaris membanting ponselnya usai memutuskan panggilan tersebut.


“Ada apa lagi dengan wajahmu ?” Tian terlihat menghempaskan tubuhnya keatas sofa yang ada dihadapan Rico.


“Tian.. mini garden itu.. bukannya di rooftop ?” tanya Rico dengan wajah keruh.


“Mini garden ? oh.. iya aku menyulap rooftop menjadi mini garden sejak sebulan yang lalu. Memangnya ada apa ?”


“Tidak apa-apa. Hanya bertanya..”


Berucap dingin seraya menyambar botol air mineral yang ada dihadapannya, meminumnya sampai tandas hanya dengan sekali tenggak, tanpa mempedulikan tatapan Tian yang menatapnya lekat dengan pandangan keheranan..


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🙏

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2