
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🙏
.
.
.
Setelah sengaja berlama-lama
didepan meja rias dengan aktifitas rutinnya sebelum tidur, mau tidak mau akhirnya Arini menghempaskan juga tubuhnya diatas ranjang yang sama dengan orang yang sudah membuat hatinya kesal seharian ini.
Namun begitu tubuh Arini terhempas disana, dengan wajah tanpa dosa Tian malah langsung melingkarkan lengannya begitu saja ditubuh Arini, merapat dan tetap mendekap dalam meskipun Tian bisa merasakan keengganan yang berbau penolakan dari sang objek pelukan.
“Sayang, jangan marah terus.. seharian sudah melipat wajah.. tidak takut kulitmu berkerut ?”
Niatnya ingin mengajak becanda,
tapi yang ia terima malah berbalik seratus delapan puluh derajat karena Arini telah benar-benar meloloskan diri dari pelukannya.
“Tidak apa-apa.. bukannya itu
keinginanmu kan.. biar kamu juga punya alasan untuk bisa melihat daun yang lebih muda ? yang wajahnya belum ada kerutannya ?!” bukan hanya melepaskan diri dari pelukan tapi saat ini Arini malah terlihat sudah bersiap untuk beranjak bangun lagi dari pembaringan.
“Sayangku.. aku hanya becanda. Memangnya siapa yang ingin melihat daun.. hhh.. astaga sudahlah..” tidak meneruskan kalimatnya melainkan sudah membuang nafasnya kasar seraya menatap wanita yang duduk ditepian ranjang dengan tatapan luluh. “Aku minta maaf.” memilih menyerah daripada harus menerima kemarahan Arini istrinya.
Arini membisu.
“Aku minta maaf karena sudah
mengajakmu bercanda disaat hatimu sedang sensitif. Tapi aku benar-benar tidak suka dengan keadaan seperti ini sayang. Kamu sudah mendiamiku seperti ini sejak kembali.. memangnya kamu tidak bisa melihat kalau aku sungguh tersiksa ? ”
Arini membuang wajahnya dari
tatapan memelas Tian. Rasa kesalnya yang sejak awal mula coba ditahannya saat pertama kali mendengar penuturan Tian di villa memang seolah menjadi berlipat-lipat ganda setelah ia menginjakkan kaki pertama kali dirumah dan wajah pertama yang ia lihat adalah wajah Laras.
Meskipun Arini merasa sikapnya
sudah sedikit keterlaluan saat meladeni Laras yang hendak berpamitan tadi, dan sikap pongah seperti itupun bahkan sama sekali tidak mencerminkan kepribadiannya selama ini.. tapi mengingat setelah sekian lama ia bahkan baru mengetahui bahwa sosok yang dulu sempat membuat Saraswati ngotot untuk menjadikannya istri kedua Tian ternyata adalah Laras, dan bahwa gadis itu selama ini hidup begitu dekat dengan mereka.. bebas meminta dan merengek pada Tian yang selama ini tidak pernah ia sadari.. bahwa justru dirinyalah yang sering membela Laras jika sesekali Tian terlihat kesal dengan ulah Laras yang terkadang bersifat kekanak-kanakkan.
Apakah saat ini dirinya sedang
cemburu ?
__ADS_1
Hhh.. tentu saja. Pada kenyataannya Tian dan Laras bukan kakak beradik yang sesungguhnya, mereka tidak memiliki hubungan sanak keluarga, mereka bahkan tidak begitu dekat. Tapi setelah dipikir-pikir.. takdir yang selalu membuat mereka terhubung. Lalu bagaimana mungkin Arini tidak cemburu..? apakah ada jaminannya bahwa Laras tidak menyukai suaminya yang menawan ini sedikit pun ? apakah ada jaminannya suaminya yang maha sempurna ini tidak mencederai kepercayaannya ?
“Sayang.. aku mengerti kamu marah
denganku. Tapi meskipun kamu kesal.. kamu tidak boleh bersikap seperti tadi kepada Laras, sayang..”
Kalimat Tian saat ini bahkan
terasa seperti duri halus yang menusuk ulu hati Arini secara diam-diam. “Bersikap seperti itu ? bersikap seperti apa maksudmu ?”
Tian menghela nafasnya perlahan
meskipun nada suara Arini sangat tidak enak didengar. “Aku melihat Laras seperti sedang menghadapi persoalan yang serius. Dia seperti sedang memendam masalah
yang..”
“Wahh.. jadi sekarang masalah Laras
bahkan terlihat sangat menarik dimatamu..?”
Tian terhenyak, menatap Arini
lamat-lamat. “Sayang.. apakah kamu sekarang sedang.. cemburu ?”
“Cemburu ?” Arini bahkan tertawa
Tian terdiam. Tapi saat ia mencoba meraih wanita yang sedang dilanda kobaran api kemarahan yang
menyala-nyala itu.. tangannya malah ditepis kasar. Arini bahkan hendak berniat melangkahkan kaki keluar sebelum akhirnya satu kata Tian sanggup menghentikan pergerakannya.
“Arini..”
Suara panggilan Tian yang mencoba
menghalangi kepergian Arini, dibalas Arini dengan menulikan kedua telinganya.
“Kembali.” titah Tian kemudian.
Hanya satu kata.. namun langkah Arini yang berniat ingin beranjak sontak mematung mendengar intonasi suara yang dingin dan mulai tegas itu. Sepertinya sudah lama sekali Arini tidak pernah mendengar lagi Tian bicara dengan nada datar seperti saat ini.
“Aku bilang kembali.” ulang Tian,
dengan intonasi semakin dingin.
Membuang muka seraya menggigit
bibirnya kuat-kuat. “Aku mau melihat Sean..”
__ADS_1
“Sean sudah tidur sejak tadi. Jangan mencoba membuat alasan.”
“Memangnya kenapa kalau sudah
tidur ? apa aku tidak boleh melihatnya..?” masih berdiri membelakangi sambil merutuk didalam hati, kenapa kalimatnya yang terakhir telah terdengar sangat
bergetar.
Tian ikut bangkit dan duduk
diatas ranjang. Menggeser tubuhnya sedikit sebelum akhirnya meraih pergelangan tangan kaku yang menggantung disisi tubuh yang berdiri membelakanginya. Menariknya perlahan dengan lembut.. dan kali ini Tian bisa bernafas lega karena tubuh yang sedang dipenuhi kobaran api amarah itu kali ini mau sedikit melunak dan mengikuti keinginannya.
Arini kembali terduduk ditepian
ranjang. Tanggul kokoh yang sejak tadi ia pakai untuk membentengi pertahanannya atas dorongan sepasang matanya yang menghangat ambrol begitu saja begitu menerima kehangatan yang ia rasakan, yang diakibatkan pelukan Tian dari belakang sudah menguasai tubuhnya yang bergetar lirih.
“Arini.. sayangku.. maaf..”
Tian mencium pundak Arini yang
turun naik karena terisak, dan Arini tidak lagi berkeras hati saat lelaki itu
sudah menuntunnya lagi dengan lembut untuk merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tepat didalam pelukan yang hangat milik Tian.
Dan saat bersandar dengan sepenuhnya didada Tian itulah, Arini telah gagal total me-manage luapan emosi yang ada dihatinya karena mendadak isak tangis Arini telah terdengar semakin berat.
Dengan bersusah payah Tian terlihat mencoba menenangkan Arini dengan segala daya yang ia punya. Terus mengusap punggung yang bergetar itu dengan lembut.. disertai kecupan-kecupan kecil dipuncak kepala Arini yang memiliki aroma mint bercampur lavender yang khas.
“Maafkan aku sayang.. maafkan aku
yang telah membuatmu sedih dan marah. Kalau kamu mau.. kamu boleh memukulku sepuasnya.. tapi jangan pernah menjauh.. tolong..” Tian membisikkan kalimat bermuatan penyesalan yang mendalam, berucap sungguh-sungguh dengan hati yang remuk redam. Hati Tian telah dipenuhi luka saat menyadari karena dirinyalah lagi-lagi hati Arini menjadi sesakit ini.
Bagi Tian.. situasi saat ini adalah sebuah penyiksaan sempurna yang maha berat, karena disetiap tetes air mata Arini jika diibaratkan, sakitnya sebanding dengan sebilah pisau tajam yang ditancapkan dengan sengaja untuk menikam jantungnya.
.
.
.
Bersambung..
Pendek ? jangan protes dulu.. ada double up di next bab..🤗
Tapi sebelumnya tolong di Like dulu (Jangan sampai 2 bab ini jumlah like-nya beda..🥺), di Comment dulu, dan kalau bisa sekalian di Vote.. (Author banyak maunya 😅)
Thx and Lophyuu all.. 😘😘😘
__ADS_1