
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Setelah menghadiri akad nikah Rico dan Meta yang bertempat dirumah Meta, akhirnya Tian dan Arini pun pamit.
Tian yang memutuskan untuk tetap pergi kekantor karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk diatas meja kerjanya membuatnya memerintahkan Sudir untuk mengantarnya ke kantor pusat terlebih dahulu sebelum mengantar Arini dan Sean pulang ke rumah.
Diperjalanan menuju kantor pusat Tian menerima telpon dari Laras yang menanyakan keberadaan Tian. Laras yang baru saja tiba dari kota B, sengaja bergegas untuk bisa menemui Tian secepatnya agar bisa melaporkan hasil memuaskan dari pekerjaannya yang telah ia lakukan kemarin.
“Sayang.. kamu masih sering bertemu Laras ya ?” tanya Arini dengan wajah menahan kesal, usai pembicaraan singkat itu berakhir. Rona cemburu menghias jelas diwajahnya yang putih.
Tian membuang nafasnya perlahan seraya menatap Arini lekat. Wanita itu terlihat memangku Sean dengan bibir yang manyun dua centi. Untung saja saat ini Sean sedang asik-asiknya mengutak-atik robot kecil yang diberikan Rei saat mereka pamit untuk pulang tadi, sehingga kesibukannya itu membuat Sean larut dan tidak terlalu memperhatikan pembicaraan kedua orang tuanya.
“Laras itu adik angkatku. Saat ini dia bahkan masih menjadi sekretarisku.. lalu bagaimana bisa tidak bertemu ?”
Arini kembali terlihat sedikit memanyunkan bibirnya, namun sikapnya itu malah mengundang tawa Tian untuk pecah berderai.
“Kenapa tertawa ? memangnya ada yang lucu ?” Arini melotot kesal kearah suaminya yang terlihat menyebalkan dimatanya itu.
“Tidak.. aku tertawa karena aku merasa sangat senang. Rasa cemburumu yang luar biasa seperti itu.. membuatku merasa tenang karena itu tandanya kamu masih sangat mencintaiku..”
“Memangnya kapan aku berhenti mencintaimu ?” sepasang mata indah Arini semakin melotot.
Tian merapatkan duduknya dengan wanita yang sedang memangku putra mereka itu, masih sambil tertawa meskipun kali ini tanpa suara.
__ADS_1
“Aku juga tidak pernah berhenti mencintaimu..” bisik Tian sambil mengecup mesra pelipis Arini yang malah memutar bola matanya seolah menganggap rayuan Tian itu hanya semilir angin lalu.
Lagi-lagi Tian tertawa melihat tingkah Arini yang dimatanya teramat menggemaskan itu. Namun selanjutnya ia telah melingkari bahu wanita itu dengan lengannya yang kokoh.. dan menarik tubuh Arini lebih mendekat agar bisa masuk dengan leluasa kedalam pelukannya.
“Sayang.. tolong jangan cemburu pada Laras terus menerus yah.. aku benar-benar merasa tidak nyaman..” berucap sungguh-sungguh, sebelum akhirnya mengecup-ngecup kecil keseluruhan wajah Arini sejauh yang bisa dijangkau oleh bi birnya.
Perlakuan manis Tian yang seperti itulah yang selalu membuat Arini luluh. Dan Arini harus mengakui bahwa Tian memang selalu memperlakukan dirinya dengan istimewa, sekalipun lelaki itu sedang dilanda amarah namun Tian selalu bisa memperlakukan dirinya dengan begitu lembut.
Kemudian.. sisa perjalanan menuju kantor pusat Indotama group itu akhirnya dihabiskan Arini dengan bersandar nyaman dipelukan Tian, yang terus memeluk tubuhnya dan tubuh Sean sekaligus dengan penuh kasih sayang.
Saat Tian berusaha turun di lobby kantor pusat, Sean terlihat sedikit rewel karena masih ingin terus bersama daddy-nya. Mendapati hal itu terpaksa Tian dan Arini harus membujuk bocah itu terlebih dahulu agar bisa diajak pulang dengan Arini saja.
Drama singkat tentang Sean yang rewel sepertinya membuat Tian sedikit gegabah sehingga tanpa sengaja Tian telah meninggalkan ponselnya di jok kursi yang ia duduki saat masih berada didalam mobil.
Saat mobil yang dikendarai Sudir baru saja melewati pintu keluar gedung kantor pusat Indotama group, usai mengantar sang bos besar, disitulah Arini baru menyadarinya saat matanya menangkap sebuah benda pipih yang teronggok begitu saja diatas tempat duduk yang tadi diduduki Tian.
“Ini sepertinya ponsel Tian..” Arini bergumam seraya mengambil ponsel tersebut dan mengamatinya sejenak sebelum akhirnya meyakini bahwa memang benar kalau benda itu merupakan ponsel suaminya.
“Itu memang ponsel pak Tian, bu Arini.” kali ini, Haris yang sedari tadi duduk tenang disebelah Sudir berucap yakin ketika melihat benda yang sudah berada ditangan nyonya besar.
“Baik, bu..” ucap Haris dengan patuh, kemudian menoleh kearah Sudir yang ada disebelahnya. “Nanti didepan sana bisa langsung putar balik, Mang..”
“Baik, pak..” Sudir mengangguk.
XXXXX
“Hollee.. mommy.. aku mau masuk.. aku mau ketemu daddy..” suara mungil Sean terdengar riang saat dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Sudir kembali terparkir manis di lobby kantor pusat Indotama Group yang megah.
“Iya sayang, kita akan mengantar ponsel daddy yang ketinggalan. Ayo kita turun..” ucap Arini sambil tersenyum manis seraya membuka pintu disebelahnya yang disambut dengan anggukan antusias dari Sean. “Tunggu sebentar yah, mang.. kami turun dulu..” berpamitan sebentar kepada Sudir yang setia dibelakang setir.
“Baik, bu..”
Arini pun turun seraya menggenggam tangan mungil Sean yang terlihat kegirangan begitu menginjakkan kaki di lobby kantor pusat milik sang daddy.
__ADS_1
Pewaris tunggal keluarga Djenar itu bahkan sampai menarik tangan Arini dengan tidak sabar agar bisa masuk kedalam gedung megah itu dan bisa segera bertemu daddy-nya, sedangkan Haris yang juga ikut turun bersama sang majikan terlihat berjalan tegap didepan.
Beberapa karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengan Arini nampak menunduk takjim saat mengetahui siapa gerangan wanita cantik dengan penampilan elegan yang berjalan sedikit kerepotan karena ulah bocah tampan yang kelewat bersemangat yang wajahnya merupakan duplikat asli dari Ceo Indotama Group itu.
Pemandangan seorang Arini Ramdhan ditempat umum seperti ini memang terbilang langka, karena pada dasarnya tidak semudah itu bisa melihat langsung istri terlebih putra tunggal seorang Sebastian Putra Djenar.
Sudah menjadi rahasia umum kalau seorang Sebastian Putra Djenar tidak pernah suka mengumbar kehidupan pribadinya di hadapan publik, sekalipun itu dikalangan orang-orang Indotama Group. Untuk itulah meskipun diam-diam, kehadiran Arini di siang itu yang telah sekian lama tidak pernah terlihat lagi dikantor pusat, cukup membuat kasak-kusuk serta kehebohan terselubung dibelakang layar.
Begitu memasuki lift Haris dengan gesit langsung menekan angka lima belas, yang merupakan tujuan mereka yakni ke ruangan Ceo.
Berada didalam lift tersebut membuat ingatan Arini seolah kembali pada moment-moment dimana ia masih menjadi karyawan di Indotama Group. Itulah kali pertama takdir membawanya bertemu dengan seorang Sebastian Putra Djenar yang angkuh untuk yang pertama kalinya.. kemudian dengan mudahnya mengagumi lelaki itu.
Kenangan buruk saat dirinya menjadi istri yang tak dianggap oleh Tian diawal pernikahan mereka pun tak luput dalam kilas balik sesaat dalam benak Arini.. yang baru tersadar ketika pintu lift sudah terbuka dan Sean sedang berusaha menarik tangannya agar secepatnya keluar dari lift dengan tidak sabar.
“Mari, bu..” ucap Haris mempersilahkan Arini, seperti biasa ia kemudian berjalan mendahului Arini menuju ruangan Tian.
Sepintas sudut mata Arini menangkap sosok Laras yang sedang memasukkan barang ke dalam kotak. Sepertinya Laras sedang berkemas.. tapi Arini merasa tidak begitu ingin mencari tau karena perasaannya yang masih saja kesal dengan kenyataan tentang Laras.
“Saya akan menunggu diluar, bu.”
Arini mengangguk kearah Haris. Mengabaikan tatapan Laras yang kelihatan sedikit kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba ditempat itu.
Arini malah mengacuhkan senyum yang terkembang kikuk dibibir Laras.. dengan mengalihkan pandangannya sambil memutar handle pintu ruangan Ceo.
.
.
.
Bersambung..
Dukung terus semangat author dengan Like, Comment, and Vote. 💪
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 🥰😍😘