CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 064


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


Kesibukan Rico sudah tidak bisa dikatakan lagi bagaimana padatnya. Selain harus mengurus best electro yang semakin hari semakin berkembang, yang merupakan perusahaan yang telah ia bangun dengan hasil jerih payahnya dari nol, disaat yang sama Rico juga memegang beberapa perusahaan milik orang tuanya, ditambah dengan harus mengelola mercy green resort dan hotel mercy dengan beberapa cabang diluar kota sepeninggal Lila, yang untuk sementara menjadi tanggung jawab Rico sepenuhnya.


Menghadapi ritme pekerjaan yang tak ada habisnya saja sudah membuat kepala Rico pening setiap saat, apalagi sekarang ditambah dengan persoalan pribadi yang semakin rumit.


Mengiyakan keinginan ibu untuk dijodohkan kembali dengan Shela sebenarnya bukanlah perkara yang sulit untuk Rico. Ia sudah pernah mengalami hal itu sebelumnya, saat harus menjalani biduk rumah tangga bersama Lila yang juga karena desakan perjodohan dari orang tua.


Bohong kalau Rico mengatakan bersama Lila ia tidak bahagia. Hhh.. tentu saja Rico bahagia. Mempunyai istri cantik, berfikiran dewasa, pekerja keras, dan tidak neko-neko seperti Lila.. mungkin Rico tidak bisa lagi menemui wanita seperti Lila dibelahan bumi manapun.


Tapi hati manusia tidak ada jaminannya. Tidak terkecuali hatinya.


Tidak ada yang salah dari diri Lila, karena istrinya itu adalah wanita yang begitu sempurna dimatanya maupun dimata lelaki manapun. Yang salah hanyalah dirinya sendiri.. yang tidak bisa memiliki perasaan yang sepenuh hati. Entah dengan Lila.. entah dengan segudang wanita yang berseliweran dalam hidupnya..


Entahlah..


Yang Rico tau, meskipun hatinya selalu hampa tanpa warna berarti namun seorang Lila adalah wanita terbaik diantara semua wanita yang pernah ia kenal. Hal yang membuat Lila berbeda dengan wanita lain adalah karena seorang Ariella Hasyim tidak memiliki tendensi apapun saat menjadi istrinya, tidak seperti wanita-wanita lain diluar sana.. yang hanya berusaha mendekat dengan segala maksud yang ingin dicapai.


Lila tidak pernah memandang Rico dari harta, karena Lila bahkan mempunyai lebih dari dirinya. Lila juga tidak silau dengan fisik Rico yang sempurna, karena Lila juga memiliki kecantikan yang istimewa.


Meskipun diawal pernikahan mereka terdapat begitu banyak kesalahfahaman, rasa tidak puas, ego dan saling menyakiti.. kenyataannya semuanya bisa diredam dengan kehadiran Rei. Itulah yang membuat Rico terus bertahan. Karena Rei.. dan karena Lila adalah wanita yang benar-benar baik.


Sampai detik ini Rico bahkan belum bisa memutuskan langkah seperti apa yang harus ia ambil. Sesungguhnya jika hanya menuruti keinginan ibu untuk menikahi Shela, Rico bisa langsung mnyetujuinya. Tidak perlu bersusah payah menolak karena pada kenyataanya dirinya tetap akan tunduk pada keinginan kedua orangtuanya, sama seperti dulu, saat dengan terpaksa ia harus menikahi Lila.


Cinta tidak pernah ada dalam kamus Rico Chandra Wijaya. Semua wanita terasa sama saja.. jika ia mendapat bonus memiliki Lila dengan segala kecantikan hati dan fisik sekaligus, itu karena dirinya bajingan yang beruntung.


Tapi situasi saat ini berbeda, kenyataannya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya Rico telah menikahi Meta. Jika saja dirinya tidak terburu-buru menikahi Meta tempo hari, mungkin kejadiannya tidak akan serumit ini.


Saat ini Rico sedang menatap hiruk pikuk jalan yang ada dihadapannya, disebelahnya ada Dani, asistennya yang menyetir dengan tenang meskipun jalanan sedang macet dimana-mana.


Fikiran Rico semakin resah terlebih saat mengingat kejadian tadi pagi.. dimana Shela telah melakukan hal yang cukup nekad di kolam renang. Perbuatan nekad Shela yang membuatnya tidak bisa mengenyahkan rasa gelisah dan perasaan bersalah. Rico merasa seperti telah melakukan perselingkuhan karena bagaimana pun dirinya adalah lelaki yang telah menikah.


Belum lagi Rico harus menghadapi efek yang ditimbulkan dari kejadian itu, yang telah direspon dengan baik oleh sensor tubuhnya sebagai lelaki, yang beberapa saat sempat ia buat lupa dengan mengalihkan semua hasratnya kepada pekerjaan.


Rico tidak munafik bahwa ia adalah lelaki normal. Bahkan kalau mau berkata jujur, dirinya adalah lelaki normal dengan sisi brengsek yang dominan. Yang jika dipancing dengan sengaja.. maka ia bisa menjadi bajingan dalam sesaat.


Bunyi dering ponsel memecah keheningan yang ada didalam mobil tersebut. Rico merogohnya dengan malas-malasan, tapi pupil matanya mendadak membesar begitu membaca nama penelpon yang tertera jelas disana.


‘Ibu Arum ?’

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lebih banyak Rico segera menerima panggilan tersebut.


“H-halo.. Assalamualaikum, nak Rico..”


Suara ibu Arum langsung menyapa gendang telinga Rico.


“Waalaikum salam.. ada apa, bu ?”


“Engh.. a-anu.. nak..”


Rico mengerinyit saat mendengar keraguan dari suara ibu mertuanya yang ada diseberang sana. “Bu.. ada apa ? katakan saja jangan sungkan..” ujar Rico lagi, membesarkan hati ibu Arum agar bisa berterus terang.


“Mmm.. ibu.. sudah berkali-kali berusaha menghubungi Meta tapi ponselnya tidak aktif..”


“Mungkin Meta sedang sibuk, bu.. atau sedang ada meeting..”


“Iya, nak Rico, sepertinya memang sedang meeting, karena tadi pagi Meta sempat menelpon untuk menanyakan keadaan ibu.. Meta sempat bilang bahwa dia ada meeting pagi ini, makanya ibu juga bingung, bagaimana caranya agar bisa menghubungi Meta.. ”


“Memangnya ada apa.. bu.. katakan saja kalau ada sesuatu. Ibu tidak perlu sungkan seperti ini..”


Ibu Arum nampak menghela nafas berat sebelum akhirnya berucap dengan nada yang juga berat.


“Begini, nak.. saat ini tuan rumah pemilik rumah yang kami tinggal sekarang sedang berada disini, untuk menagih uang kontrakan. Memang seharusnya masih dua hari lagi jatuh temponya.. tapi beliau sedang dalam keadaan kepepet. Istrinya mau melahirkan dan..”


“Aku akan kesana saja, bu..” pungkas Rico dengan serta merta.


“Egh tapi..”


“Baik, nak.. terimakasih.. kalau begitu ibu akan menunggu..”


“Iya, bu.. Assalamu alaikum..”


“Waalaikumsalam, nak Rico..”


Rico menutup pembicaraan tersebut seraya menatap Dani yang ada disampingnya. “Dan, kamu masih ingat rumah Meta kan ?”


“Yang kemarin yang saya antarkan uang satu em itu ya, pak ?”


Rico menganguk. “Kita mampir kesana dulu sebentar..”


“Tapi klien yang menunggu..”


“Nanti saya akan cari alasan. Saya harus kerumah Meta dulu..”


Dani mengangguk patuh. “Baik pak, didepan saya akan ambil jalan pintas untuk putar arah, biar lebih dekat.”


“Jangan lebih dari lima belas menit yah, Dan.. ini urgen..”


“Beres pak, sepuluh menit juga sampai kok..” ujar Dani seraya menyalakan lampu sein ke kanan untuk mengambil jalan pintas yang ia maksudkan tadi agar bisa sampai lebih cepat ketempat yang dituju.


XXXXX

__ADS_1


“Terima kasih nak Rico.. lagi-lagi sudah membantu ibu, sementara ibu selalu membuat repot..”


Ibu Arum berucap begitu pemilik kontrakan pamit dengan tergesa, usai menerima uang tunai lima belas juta rupiah sekaligus notifikasi sms banking di ponselnya atas transaksi sebesar sepuluh juta yang ditransferkan Rico lewat mobile banking.


Rico yang saat itu hanya memegang uang tunai sebesar lima belas juta rupiah akhirnya memilih untuk menyelesaikan sisa transaksi sebesar sepuluh juta itu lewat aplikasi mobile banking yang ada diponselnya, karena sejak awal Rico memang tidak menanyakan berapa nominal pasti dari uang kontrak yang hendak diminta pemilik kontrakan tersebut untuk setahun kedepan.


“Tidak apa-apa, bu.. lagipula jumlahnya tidak seberapa..”


Ujar Rico lagi seraya menyerahkan kwitansi pembayaran kontrak sebesar dua puluh lima juta rupiah per-tahun yang bermeterai sepuluh ribu tersebut kepada ibu Arum.


“Bu, apa ibu nyaman tinggal disini ?” tanya Rico lagi yang sejak awal memang tidak begitu sreg dengan kondisi lingkungan sekitar rumah ibu Arum yang berdempet-dempetan dan tidak punya akses jalan untuk mobil.


“Buat ibu, yang terpenting ada tempat berteduh itu sudah cukup..”


“Lalu rumah yang di buana permai bagaimana, bu..?” tanya Rico lagi mengingat Meta pernah menceritakan tentang rumah mereka yang ada di perumahan buana permai.


Sepasang mata ibu Arum nampak berkaca mendengar pertanyaan Rico. Ia memang selalu saja merasa sedih bila mengingat kenangan tentang satu-satunya peninggalan almarhum suaminya, yang dengan terpaksa harus ia jual untuk membiayai pemulihan lutut Mayra yang mengalami kecelakaan tiga tahun lalu.


“Ibu tepaksa menjualnya meskipun ditempat itu ada begitu banyak kenangan dengan almarhum ayah Meta. Meta dan Mayra bahkan lahir dan dibesarkan disana. Tapi apa boleh buat.. sekarang.. rumah itu sudah dimiliki orang lain, nak..”


Rico terdiam sejenak. “Bisa aku tau di blok berapa rumah itu, bu ?”


“Blok k nomor dua puluh..” tapi kemudian ibu Arum nampak menatap Rico dengan tatapan aneh. “M-memangnya ada apa, nak..?”


“Akh.. tidak bu, tidak apa-apa..” pungkas Rico cepat seraya menyimpan alamat yang barusan diucapkan ibu Arum tadi kedalam memory otaknya sambil melirik arloji yang melingkar ditangan kirinya. “Bu, sepertinya aku harus segera kembali ke kantor, asistenku sedang menunggu di mobil karena aku harus menemui klien secepatnya..”


Ibu Arum mengangguk sambil mengikuti gerak tubuh Rico yang berdiri hendak beranjak. “Baiklah, nak.. hati-hati dijalan,” ujar ibu Arum akhirnya. Sebenarnya ia masih ingin berbincang lama, dan menanyakan kabar Rei, tapi melihat Rico yang terburu-buru membuat ia mengurungkan niatnya.


“Oh ya, bu.. tolong jangan katakan kepada Meta kalau aku sudah menanggulangi semuanya..”


Ibu Arum nampak menatap Rico lekat, belum sempat menanggapi kalimat Rico manakala Mayra sudah lebih dahulu muncul dari ruang tengah dengan kepala tertunduk. “Kak.. kak Rico maafkan Mayra.. “


Fokus ibu Arum akhirnya berpindah, begitupun dengan Rico.


“Ada apa Mayra ?” tanya ibu Arum dengan nada keheranan.


“Anu bu.. barusan kak Meta menelpon, dan Mayra sudah telanjur mengatakan kalau kak Rico yang telah membayar semuanya..”


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan novel ini,


like dan comment setiap bab-nya, dan


berikan hadiah serta vote yang banyak yah..

__ADS_1


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2