CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 006


__ADS_3

"Terus terang saja, saya tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan Rei apalagi jika Rei menganggapmu mommy-nya. Saya harap ini yang terakhir kamu mendekati Rei. Dikemudian hari, tolong menjauhlah..”


‘Ting..!’


Pintu lift terbuka tepat dilantai lima belas.


Pukul satu kurang lima saat Meta baru saja menginjakkan kaki kembali dilantai lima belas usai makan siang.


Sejak kemarin malam benaknya selalu diliputi kejadian mengejutkan yang silih berganti menimpa dirinya dan tidak pernah terbersit dalam benaknya sekalipun jika ia akan mengalaminya.


Berawal dari tujuan awal Meta untuk membujuk dan meredakan tangis Rei yang membuat Rei dan Arini hampir jatuh tersandung itu mengakibatkan Rei tiba-tiba menempel begitu saja padanya bahkan menganggap dirinya mommy-nya. Sikap Rei yang tidak ingin dijauhkan dengan Meta itu berimbas pada diri Meta yang akhirnya harus kembali berada dirumah megah pak Rico seharian hingga hari menjelang malam demi menemani bocah itu. Sampai pada malamnya Meta harus menerima perkataan pak Rico yang kejam.


Kejam ?


Yah.. kejam !


Bagaimana tidak disebut kejam jika ternyata buah dari pengorbanannya seharian penuh  demi menemani Rei yang benar-benar tidak mau ditinggal olehnya sedetik saja, bukannya mendapatkan ucapan terima kasih malah ditanggapi sinis oleh pak Rico. Pak Rico bahkan terang-terangan menempatkan dirinya seperti orang yang sengaja membuat Rei menjadi seperti itu. Menuduhnya bersalah.. mencurigai niat baiknya.. astagah..


What the hell..!!!


Meta tak habis pikir betapa jahatnya pemikiran lelaki itu pada dirinya. Ia bahkan turun dari mobil pak Rico


dengan wajah merah padam menahan amarah dan rasa malu usai membalas kalimat lelaki itu yang begitu keterlaluan.


“Pak Rico, saya minta maaf jika yang saya lakukan membuat pak Rico tidak nyaman. Tapi menuduh saya seolah memaniplasi pikiran Rei.. pak Rico sudah sangat keterlaluan. Baiklah.. saya tidak akan mendekati Rei lagi. Itukan yang ingin pak Rico dengar ?!”


Meta memaklumi perasaan pak Rico yang sensitive karena baru saja ditimpa musibah kehilangan istrinya, tapi bukan berarti lelaki itu bebas menghina dirinya juga kan..?


Tentu saja usai berucap demikian Meta langsung turun dari mobil sebelum akhirnya membanting pintu mobil mahal lelaki tanpa hati itu dengan sekuat tenaga. Kalau perlu sampai pintunya jebol sekalian !!


Rasakan !!!

__ADS_1


Desis Meta saat itu dengan begitu puas setelah sukses mengagetkan Rico yang tidak pernah menyangka jika Meta memiliki keberanian sebesar itu bahkan pintu mobilnya hampir copot karena ulah bar-bar Meta yang membantingnya dengan sekuat tenaga.


Namun saat malam menjelang.. dan Meta telah terbaring di peraduan.. ingatan Meta malah selalu tertuju pada wajah polos Rei yang bak malaikat. Meta tidak bisa melupakan pancaran dari sepasang mata bocah itu yang memendarkan kasih sayang untuknya. Begitu tulus dan menghanyutkan.. melemahkan kebencian untuk daddy nya yang bermulut kejam.. karena kemudian Meta malah menangis hingga tertidur karena merindukan Rei.


Ada apa gerangan ?


Entahlah.. seperti ada separuh jiwanya yang hilang begitu saja dalam waktu yang singkat. Bahkan hari ini Meta harus berangkat ke kantor dengan uring-uringan. Seperti orang yang tengah patah hati, kedua matanya dihiasi kantung hitam, selera makannya disiang ini menguap.. Meta bahkan tidak begitu antusias saat bertemu Rudi.. lelaki yang akhir-akhir ini mulai dekat dengannya meskipun belum ada komitmen berarti diantara mereka.


Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya ke meja kerjanya seperti biasa manakala sebuah suara tak asing sudah menyapa gendang telinganya.


“Meta..” Rudi sudah ada disampingnya. “Kamu ditunggu pak Tian didalam..”


Meta menganguk perlahan tanpa semangat. “Oh iya.. baiklah..” ngeloyor begitu saja dengan langkah gontai membuat Rudi menjadi terheran dengan ulah Meta yang tidak seperti biasanya. Meta yang dikenal Rudi selama ini adalah sosok ceria, periang dan.. sedikit tidak punya urat malu. Sama sekali bukan seperti boneka kehabisan daya batere seperti saat ini.


“Meta,” panggilan itu cukup ampuh menunda gerak Meta yang sudah beranjak beberapa langkah. “Kamu.. mungkin sudah tau apa yang akan dibicarakan pak Tian, kan..?” Rudi  berujar ragu-ragu seraya menatap Meta dengan tatapan yang terlihat sedikit menyesal.


Meta terdiam sejenak, sebelum akhirnya menganguk perlahan. Mungkin inilah saatnya pak Tian akan menggantikan dirinya secara resmi sebagai sekretaris, mengembalikan dirinya ke posisinya mula-mula selaku staf administrasi biasa, bertukar peran dengan Laras.


Setidaknya Meta juga menyadari itikad baik atasannya itu, bahwa pak Tian juga berat mengambil keputusan tersebut yang sudah pasti diakibatkan karena permintaan Laras.. si rubah kecil yang licik itu memohon menjadi sekretaris pak Tian terlebih dahulu sebagai syarat sebelum ia mengajukan resign agar bisa mengundurkan diri dari Indotama Group dan menghandle perusahaannya sendiri yang diwariskan Saraswati tempo hari untuknya.


Meta bukannya keberatan untuk menerima itikad baik pak Tian, tapi kondisi ibunya yang sudah tua membuatnya enggan berada jauh dari ibu. Meta akhirnya memilih kembali menjadi staf biasa daripada harus tinggal berjauhan dengan ibu. Lagi pula.. meskipun enggan mengakuinya, tapi sebenarnya Rudi juga merupakan salah satu alasan untuk Meta enggan pergi dari kantor pusat. Meta merasa sedikit takut jika tidak bisa melihat lelaki itu lagi sesering yang ia ingini.


“Maaf..” Rudi berucap dengan raut menyesal.


“Tidak apa-apa.. kenapa kamu meminta maaf..?” Meta mencoba tersenyum tenang sambil meneruskan langkahnya masuk keruangan pak Tian, meninggalkan Rudi yang masih berdiri mematung ditempatnya seraya mengawasi punggung mungil gadis itu sampai hilang dibalik pintu ruangan Ceo.


Sejujurnya Rudi merasa bersalah karena tidak bisa mempertahankan posisi Meta sebagai sekretaris pak Tian. Hal itu semuanya karena kemauan Laras yang ngotot untuk menggantikan Meta menjadi sekretaris pak Tian di kantor pusat.


Entah apa yang sedang direncanakan Laras, tapi yang jelas sejauh ini Rudi benar-benar tidak menyukai kehadiran Laras bahkan sejak awal mengenalnya, karena dimata Rudi, wanita yang terlihat selow itu sebenarnya memiliki ambisi tersembunyi dan terkesan licik.


Selama empat bulan terakhir pak Tian bahkan selalu berusaha mengimbangi tingkah polah Laras yang kekanak-kanakan. Meskipun Laras terang-terangan menunjukkan perasaan sukanya, tapi dimata pak Tian, Laras tidak lebih dari seorang wanita yang belum benar-benar dewasa, yang labil, butuh perhatian dan baru mengalami kehilangan karena kepergian Saraswati.

__ADS_1


Sementara Laras dimata Rudi malah sebaliknya.. Laras ibarat sebuah duri kecil yang menusuk dipermukaan kulit, yang jika tidak segera dicabut maka bisa menimbulkan infeksi bahkan keadaan yang lebih buruk dari hanya sekedar infeksi.


“Hi, Rudi.. melamun saja, sudah makan siang belum..?”


Rudi terhenyak saat mendapati sosok yang menghuni benaknya sudah berada tepat dihadapannya. Tersenyum manis tapi terlihat sekali tidak tulusnya. Dan bukannya Rudi ingin dihormati, tapi Laras bahkan tidak pernah menyebutnya ‘pak’ seperti karyawan lainnya. Dia selalu memanggil Rudi dengan menyebut nama dengan enteng dan bersikap pongah, padahal umurnya saja masih jauh lebih muda dari Meta dan karyawan lainnya, sementara Rudi sendiri sudah berumur kepala tiga, hanya terpaut satu tahun dibawah umur pak Tian, usia yang sebenarnya bahkan sudah cukup matang untuk menikah, tapi perbedaan umur yang hampir sepuluh tahun itu bahkan tidak cukup membuat Laras menghormatinya sedikitpun.


“Sepertinya kedepannya kita bakal sering bertemu.. saat ini aku sudah resmi menjadi sekretaris pak Tian..” berucap demikian sambil melambai-lambaikan sebuah surat berlogo Indotama Group yang ditandatangani oleh manager SDM beratas namakan Ceo Indotama Group. Itu pasti surat pemindahan tugas Laras dari staf administrasi keuangan menjadi sekretaris.


“Selamat, Ras.. semoga kamu bisa bekerja dengan baik dan profesional.” ujar Rudi lagi pada akhirnya berusaha berucap bijak, sambil berniat buru-buru beranjak dari hadapan Laras.


“Kalau itu tentu saja.. aku bahkan memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari Meta. Apa kamu lupa


betahun-tahun aku menjadi asisten pribadi almarhumah nenek Saraswati ?”


Rudi tertawa tanpa suara meski dalam hati dongkol bukan main. “Pengalaman tanpa attitude yang baik.. itu nothing..” ucap Rudi kemudian, detik berikutnya memilih secepatnya berlalu daripada harus meladeni Laras terus menerus, bisa-bisa emosinya yang selama ini sangat terkontrol tidak bisa ia kendalikan lagi.


Laras tidak mempedulikan kalimat pedas itu bahkan menanggapi sikap Rudi dengan mencebikkan bibirnya sejenak. Menyadari sikap dingin Rudi yang selalu seperti itu pada dirinya, padahal jika berbicara dengan Meta atau karyawan lainnya Rudi akan terlihat sangat ramah.


‘Rudi Winata.. sepertinya kamu benar-benar tidak menyukai kehadiranku yah..? mau mencari gara-gara denganku ? sepertinya aku memang harus memberi perhitungan denganmu..’


Bathin Laras lagi dengan hati yang bergejolak kesal setiap kali menghadapi sikap Rudi yang tidak pernah sekalipun terlihat bersahabat dalam menghadapinya.


.


.


.


Bersambung.. 


Like, Vote, Comment.. Loohyuuu.. all ..🤗

__ADS_1


__ADS_2