
Laras menatap cermin besar yang ada didalam kamar mandi, kamar presiden suite miliknya dan Rudi.
Hampir sepuluh menit berada ditempat ini dan Laras masih betah berlama-lama seolah enggan kembali, pergi keluar dan menemukan lelaki yang sama, yang mampu memporak-porandakan seluruh hatinya meskipun tanpa berkata apa-apa.
Lelah..
Mungkin sekarang sudah teramat sangat terlambat untuk Laras. Bagaimana mungkin detik ini ia baru bertanya sedang apa dirinya selama ini? dan apa yang ia lakukan?
Bagaimana mungkin ia sanggup membohongi diri sekian lama bahwa asalkan bersama Rudi maka hidupnya akan baik-baik saja? tidak peduli yang ada didalam hati dan fikiran Rudi sehingga selama ini ia cukup puas tersenyum dan tertawa meskipun hanya seorang diri.
Cinta yang buta membuat mata Laras pun ikut menjadi buta. Yah.. ia buta, tidak bisa melihat betapa selama ini Rudi bahkan tidak pernah sekali pun menganggap dirinya ada dan penting.
Selama ini kebaikan Rudi padanya hanya karena rasa penghargaan Rudi yang begitu tinggi untuk Tian. Cuma sampai disitu, karena selebihnya semuanya nol besar.
Kendati pun lelaki itu selalu menyentuhnya.. mungkin hanya sebatas memberi nafkah biologis atau bahasa kasarnya pemuas nafsu sesaat.
Tidak ada gambaran masa depan sama sekali.. karena Rudi bahkan sangat menjaga dirinya sendiri, berhati-hati dalam setiap aktifitas hubungan suami istri yang mereka lakukan, sejak awal saat hubungan mereka masih terlarang.. hingga sampai dirinya halal untuk lelaki itu.
'Apa artiku untukmu, kak..?'
'Apakah tidak ada sama sekali?'
Bathin Laras sendu, kembali membasuh wajah bare face miliknya di wastafel.
Laras masih mengingat dengan jelas pembicaraannya dengan Meta sebelum Rico datang.
Sebuah pembicaraan yang sebenarnya mengarah pada pandangan Meta dalam memaknai hubungannya dengan Rico, namun yang ada justru berhasil menohok hati Laras dengan sangat telak.
"Aku menyayangi Rei, aku juga sangat menyukai daddynya. Aku sangat mencintai mereka berdua, sampai-sampai aku tidak bisa lagi memikirkan apapun selain semua rasa itu. Perasaanku ini begitu utuh, Laras.. kendati kamu selalu berkutat dengan kecemburuanmu sendiri.. tapi semua itu membuatku tidak nyaman. Kamu selalu menunjukkan bahwa kamu sangat tidak menyukaiku, kan..? baiklah.. aku akan mengakui satu hal, aku bahkan sangat tidak menyukaimu, mungkin lebih banyak dari rasa tidak sukamu itu. Kamu mau tau kenapa? karena kecemburuanmu seolah menurunkan marwah dari rasa cintaku untuk Rico. Itu alasannya." saat itu Meta berucap panjang lebar sambil menatap Laras nyaris tak berkedip.
"Apa kamu ingin aku mempercayainya? agar aku berhenti waspada dengan keberadaanmu?" saat itu Laras masih bisa melengos.
__ADS_1
"Bukan itu intinya."
"Lalu apa?" Laras menatap Meta lagi dengan lekat. "Apakah aku harus percaya penyataan cinta yang tulus dari wanita seperti dirimu? yang selalu memberi harga atas apapun yang kamu sebut dengan suka, cinta, perasaan..? hehh... bullshit.."
Meta terdiam sejenak. Jemarinya menyentuh perlahan gagang cangkir yang berisi hot chocolate yang belum berkurang isinya itu sejenak, sebelum kemudian mengangkat wajahnya menatap Laras.
"Aku membuat Rico berkorban sedemikian banyak untuk menguji perasaannya juga perasaanku sendiri, dan Rico bahkan melakukan hal yang bahkan lebih menyakitkan dari sekedar kehilangan materi. Aku berkali-kali terusir dari kehidupannya, dan aku telah menyerah sejak lama. Tapi cinta selalu membawa hati kami untuk kembali ketempatnya.."
"Wah.. kalimatmu super sekali. Kamu bisa merangkai kata sebagus itu karena kak Rico begitu bodoh sehingga mau berkorban untuk wanita sepertimu. Seandainya yang terjadi adalah sebaliknya.. bahwa kak Rico tidak mencintaimu, apakah kamu masih bisa berucap sombong seperti sekarang?"
Meta tersenyum, saat membalas tatapan Laras yang menatapnya dengan kesal.
"Kalau itu yang terjadi, maka aku tidak akan berada dihadapanmu saat ini serta mengucapkan kalimat 'super' seperti katamu tadi.."
Laras tertawa sinis, namun Meta seolah telah membulatkan hati untuk membuat Laras berhenti menganggapnya sebuah duri.
"Laras.. kebahagiaan bukanlah hal yang bisa dipaksakan, kendati pun aku sangat menginginkannya, tapi kalau Rico tidak menginginkan aku, maka aku akan memilih pergi. Aku boleh saja merasa sakit dan terluka saat bertepuk sebelah tangan.. tapi aku tidak mau terus-menerus memeluk seseorang, yang sudah jelas-jelas tidak bisa aku miliki hatinya.."
Dan hati Laras seolah ditumbuk keras, oleh kalimat terakhir yang meluncur tegas dari bibir Meta.
Laras hanya membisu sekian lama, hingga pada akhirnya Rico muncul begitu saja dihadapan mereka dan mengajak mereka berdua kembali ke hotel.
Ditengah perjalanan Laras melihat Rudi yang tergopoh-gopoh mendekat. Menanyakan apa yang ia lakukan dengan sambil lalu, seolah sebuah formalitas dihadapan Rico dan Meta, karena selebihnya lelaki itu lebih sibuk memperhatikan keadaan Meta, diam-diam terus mengecek serius dari ujung kaki sampai ujung kepala.. seolah-olah ingin memastikan tidak ada yang berkurang dari diri Meta usai bertemu dengan 'pengacau' seperti dirinya.
duk.. duk.. duk..
Bunyi pintu kamar mandi yang diketuk dengan keras dari luar membuyarkan setiap inchi lamunan Laras.
"Laras, apa kamu baik-baik saja?" Rudi berteriak dari balik pintu, sedikit menanamkan telinga dengan tajam, seolah ingin mendengar aktifitas yang terjadi dari balik pintu yang telah mengatup sejak dua puluh menit yang lalu.
Detik berikutnya pintu itu terbentang lebar, wajah lembab Laras yang tanpa make up muncul dihadapan Rudi, tersenyum kecil.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? kenapa lama sekali?"
"Aku membersihkan wajah,kak.." ucap Laras dengan tenang.
"Biasanya tidak selama ini.." gumam Rudi, namun Laras telah berjalan menepi.. menghindari tubuhnya yang agak menghalangi jalan keluar dari kamar mandi.
Laras terlihat mendekati ranjang, mengatur bantal yang bertumpuk terlebih dahulu, bersiap merebahkan tubuhnya disana.
Rudi sedikit mengerinyit melihat gelagat aneh itu. Laras tidak terlihat sedang marah atau ngambek seperti biasa.. hanya sedikit irit bicara.
Terasa aneh.
Karena biasanya Rudi bahkan harus berpura-pura tidak mendengar setiap ocehan Laras.
Laras selalu bercerita tentang semuanya, tentang ini dan itu, tentang apa yang ia lakukan dan ia temui, tentang semua yang menyangkut dirinya meskipun terus terang semua itu tidak terasa penting untuk Rudi dengar.
Tak jarang Rudi bahkan harus mengalihkan semua pembicaraan tak bermutu ke aktifitas se k sual, hanya karena Rudi begitu tidak berminat berbincang dan berbasa-basi dengan Laras.
Sejujurnya, tidak ada satu pun dari kehidupan Laras yang menarik perhatiannya hingga detik ini. Untuk itulah sejak tadi ia merasa aneh.. sekaligus sedikit bertanya-tanya.
Tapi bukankah itu lebih baik? bahkan hidupnya pasti akan lebih nyaman jika wanita itu benar-benar tidak bicara dengannya sama sekali.
Memang terdengar sedikit kejam. Tapi mau bagaimana lagi? hati Rudi tidak bisa diajak berkompromi, karena nama Laras.. benar-benar tidak menempati sudut manapun dari hatinya yang gersang..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Like, Comment, Dan berikan semua support yah.. 🥰
Thx and Lophyouu all.. 😘