
Terima kasih.. berkat kalian para readers setia.. level karya author di awal bulan Juni, sangat menggembirakan.. loph banget dehh..🥰
BTW, meskipun belum sempat up, tapi buat yang belum, tetap ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🤗
.
.
.
Wajah itu begitu dekat. Terlelap dengan dengkuran halus yang teratur.
Laras menaruh jari telunjuknya perlahan menyentuh dagu yang sedikit terbelah. Melakukannya dengan sangat hati-hati.. karena takut yang empunya diri terganggu dan memergoki aksinya.
Begitu tersentuh dengan dagu itu.. Laras bahkan tidak berani menggerakkan jarinya meskipun sepersekian inchi. Hanya menempelkannya terus seperti itu.. seraya terdiam menatap wajah yang ada disampingnya dengan dalam.
Menyentuh Rudi sedekat ini tidak pernah terlintas dibenak Laras.. karena setelah bertahun-tahun terlewat, Rudi bahkan tidak pernah bisa ia sentuh dengan sengaja meski seujung kuku.
Tapi.. beberapa jam yang lalu.. nyaris seluruh permukaan kulit lelaki itu seperti tidak ada lagi yang belum ia sentuh. Yah.. Laras telah menyentuh semuanya dengan begitu tidak tau malu.. saat terus berusaha mengimbangi pergerakan Rudi yang telah terlebih dahulu menguasai setiap jengkal dirinya tanpa terlewat.
“Kamu pasti sangat membenciku yah.. karena kalau tidak.. mana mungkin kamu tega melakukan hal yang sekeji ini padaku..”
Berucap sangat lirih.. namun detik berikutnya Laras memilih membekap mulutnya sendiri.
‘Kenapa aku bergumam ? bagaimana kalau dia mendengarnya..?’
Laras mengutuk dalam hati, mulutnya yang telah lancang bergumam sambil membalikkan tubuhnya yang
semuanya terasa sakit sampai ke tulang dengan gerakan sangat pelan.
Memilih memunggungi Rudi ternyata bukan jalan keluar yang tepat. Karena setelah ia berbalik menatap dinding.. menyadari situasi temaramnya ruangan yang syahdu.. menyaksikan hembusan angin malam yang menggoyangkan tirai balkon.. Laras malah baru tersadar saat bahunya kembali terguncang lembut.
Air matanya yang mengalir seperti tidak bisa ia kendalikan. Membuat Laras terus menangis dalam diam.. bukan hanya karena kemarahannya kepada Rudi yang telah berhasil mengoyak hartanya yang paling berharga sebagai wanita.. tapi manakala menyadari, setelah semua ini mengapa ia malah mengharapkan mendapatkan perlakuan yang manis dari lelaki yang ia sendiri tidak yakin.. apakah hatinya akan melembut setelah berhasil menghancurkan satu-satunya kebanggan yang ia jaga selama ini..?
Berkutat dengan lamunan membuat Laras terhenyak saat mendapati punggungnya menghangat seiring dengan melingkarnya sebuah lengan kokoh diperutnya yang polos. Lengan itu menarik paksa tubuh mungilnya masuk kedalam pelukan, membuat Laras kembali berfikir.. apakah saat fajar menyingsing.. lelaki ini masih sudi memeluknya lagi..? atau malah kembali menatapnya dengan tatapan benci..?
“Berhenti memikirkan hal-hal yang romantis, karena kamu sama sekali tidak cocok berperan menjadi protagonis..” ucap Rudi dengan suara serak penuh kantuk seolah bisa membaca dengan jelas apa yang sedang berkutat dalam benak Laras saat ini.
__ADS_1
‘Heh..’
Laras tersenyum sinis. Bahkan fajar belum menyingsing.. tapi Rudi sudah mengatakan kalimat yang membuat hatinya kembali sakit. Menyadari hal itu Laras menghempaskan tangan yang melingkar nyaman disepanjang pinggangnya itu dengan kasar.
“Jangan sentuh aku..!” mendesis kesal seraya menyikut keras perut telan jang yang ada dibelakangnya.
Rudi yang tidak menyangka akan mendapati serangan itu serentak mengaduh kecil. Matanya yang awalnya berat untuk membuka langsung membeliak lebar menatap Laras yang dengan wajah geram telah berada dalam posisi duduk dengan kedua tangan menekan selimut keatas dadanya yang dipenuhi warna merah keunguan dimana-mana.
Pemandangan itu diam-diam cukup ampuh membuat Rudi yang awalnya kesal setengah mati menjadi tersenyum meskipun dalam hati. Rambut Laras yang sedikit acak-acakan malah menambah kesan visual yang semakin menarik dimatanya saat ini.
“Sudah selesai dengan mabukmu kan..? cepat antarkan aku pulang !” Laras berucap pongah seperti biasanya, berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Rudi mendudukkan tubuhnya juga seraya menatap wanita dihadapannya dengan senyum mengejek. “Untuk apa buru-buru pulang..? masih nanggung..”
“Jangan kurang ajar yah, Rud..”
“Masih berani memanggilku dengan tidak sopan seperti itu ?” ucap Rudi seraya menatap tajam.
“Cihh.. bajingan sepertimu masih punya muka untuk meminta dihargai ?”
Mendengar umpatan itu Rudi malah tertawa kecil. Sejenak ia menatap wajah Laras lagi.. lamat-lamat. Dalam hati Rudi berfikir.. beberapa jam yang lalu Rudi seperti menemukan Laras delapan tahun yang lalu. Yang polos.. lugu.. dan begitu naïf.. tapi Larasati yang ada dihadapannya detik ini sungguh jauh berbeda. Kasar dan pongah. Apakah ini salah satu bentuk pembalasan dendam Laras untuknya yang ia minta pada delapan tahun yang lalu ?
Entahlah..
Heh.. lagipula siapa dirinya ? Rudi Winata..? hanya seorang asisten biasa.. bagaimana mungkin ia bisa menyaingi bos-nya, Sebastian Putra Djenar, Ceo Indotama Group yang menawan dan penuh kharisma itu..?
Saat ini Rudi merasa dirinya bahkan telah menjadi lelaki yang sangat buruk, karena menginginkan perasaan itu juga bisa dirasakan Laras.
Bahwa Laras harus menyadari satu hal, sama seperti seorang Rudi Winata yang tidak pernah pantas memiliki siapapun.. Laras juga harus menyadari bahwa dirinya juga tidak cukup pantas untuk berkhayal memiliki pak Tian.
“Apakah kamu tuli ? aku ingin pulang !” suara Laras memecah lamunan Rudi yang sontak menggeleng acuh.
“Tidak..”
“Rudi.. kamu..”
Kalimat itu tertahan ditenggorokan saat Rudi bergerak cepat membungkamnya dengan sebuah kecupan singkat, kurang dari sedetik.
“Bagaimana ? masih menolak memanggilku dengan sopan ?” Rudi menyeringai dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Laras.
“Aku bersumpah, kak Tian pasti akan membunuhmu kalau ia mengetahui apa yang sudah kamu lakukan..”
__ADS_1
“Dia tidak akan tahu..”
“Aku akan mengatakannya !” pungkas Laras dengan tatapan berapi-api.
Rudi menatap Laras sambil tertawa tanpa suara. “Tidak perlu repot-repot.. kalau kamu mau.. biar aku yang akan membantumu untuk mengatakannya..”
“K-kamu.. t-tidak.. mungkin..”
Rudi menyeringai. “Kamu ingin aku menelponnya sekarang, atau mengatakannya langsung ?”
“T-Tidak.. jangan.. jangan kak..”
Rudi tersenyum menang mendengar Laras yang telah mengubah begitu saja panggilan untuk dirinya.
Pemikiran Laras memang terkadang jauh lebih dewasa dari usianya.. apalagi jika menyangkut bisnis dan pekerjaan. Dia benar-benar titisan seorang Saraswati Djenar yang pekerja keras.
Tapi jangan lupa.. Rudi Winata, tumbuh dewasa bersama seorang Sebastian Putra Djenar, yang telah membuat sifatnya nyaris menjadi duplikat sang majikan. Dengan mudah memanipulasi pemikiran lawan, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan gemar berjudi dengan takdir dan keadaan tersulit sekalipun.. itu semua adalah cerminan sikap pak Tian, yang tanpa disadari telah menjadi sifat harfiahnya juga.
Sudah jelaskan..? Rudi Winata bukan orang yang bisa tunduk dengan siapa saja.. kecuali pada satu orang. Dan orang itu tak lain adalah.. Sebastian Putra Djenar.
Laras masih berusaha menggeleng saat detik berikutnya Rudi sudah berusaha untuk mengambil alih selimut yang melekat kuat didadanya sejak tadi. Tapi manakala Rudi kembali menghujaninya dengan segala kelembutan dan belaian.. segenap jiwa dan raganya secara tidak tau malu telah meleleh begitu saja.
Entah ini adalah bagian dari perasaan cinta yang tertinggal yang awalnya begitu menggebu.. atau hanya deru nafsu yang menyesatkan..
Laras bahkan tidak tau apa yang sedang berada dalam bilik hatinya yang terdalam. Yang pada beberapa saat yang lalu rasanya hanya dipenuhi keinginan memiliki Sebastian Putra Djenar serta kebencian yang tidak berujung untuk asistennya.. mendadak berubah menjadi seperti rasa haus belaian dari orang yang dibenci.. dan hanya rasa takut ketahuan oleh orang yang ia rasa pantas untuk dicintai..
Apa hatinya semurah itu ? Apa rasa cinta untuknya segampang itu ?
Entahlah.. Laras tidak bisa mengetahuinya dengan pasti.. yang saat ini berada dalam fikirannya justru terasa sangat menjijikkan, karena ia malah berusaha mengimbangi pergerakan Rudi yang lagi-lagi telah menguasai seluruh raganya tanpa henti.. sambil tak lupa menyisakan sebuah penolakan dan rasa hina yang harus ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.. manakala lelaki itu kembali menumpahkan kepuasannya diluar dari dirinya.. seolah tidak sudi meninggalkan jejak dari setiap perbuatannya..
.
.
.
Bersambung..
Tolong di Like,
Tolong di Comment
__ADS_1
Tolong di Vote.
Thx and Lophyuu all..😘😘😘