
‘Bolehkah aku berkata jujur ?’
‘Bahwa seumur hidupku ini adalah pemandangan pertama yang dapat menyentuh hatiku hingga ke relung..’
‘*D*an bahwa ini adalah kali pertama aku merasa janggal dengan diriku.. dengan hatiku.. dengan debaran-debaran aneh yang ambigu..’
...
Rico tak berhenti memandangi pemandangan itu dari jauh, dari sudut kamar yang sedikit temaram dimana terdapat sebuah sofa panjang tempat tubuhnya berlabuh. Namun meskipun demikian, Rico tetap bisa melihatnya dengan jelas, gerakan tangan yang masih setia menepuk lembut pan tat mungil Rei yang berisi.
Rico tersenyum dalam hati manakala ingatannya kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu, sesaat setelah Meta berhasil menguasai dirinya.. dimana wanita itu nyaris menghambur begitu saja ke atas ranjang..
“Eittt.. mau kemana..” dengan sigap Rico menarik kembali kedua bahu yang ingin lepas begitu saja dari rengkuhannya.
“Menemui hadiahku.” ujar Meta polos, masih bergerak-gerak tak sabar kesana-kemari, berusaha melepaskan diri dari tubuh Rico yang terasa menempel hangat di punggungnya.
“Tidak boleh.”
“A-apa?!” nada suara terkejut campur protes mewarnai suara Meta, dan Rico berani bertaruh, kalau saja Meta bisa menatapnya pasti sepasang mata itu telah melotot galak.
“Sstt.. tenangkan dirimu dulu..”
“Bagaimana bisa tenang kalau pak Rico tidak mau melepaskan aku? aku ingin memeluk Rei..”
“Dengan kondisi tubuhmu yang kusut masai seperti ini, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu menyentuh Rei..”
__ADS_1
Serentak pemberontakan itu berakhir. Meta terdiam seolah baru menyadari kebenaran dalam kalimat Rico.
Benar saja. Dia memang tidak boleh menyentuh Rei dulu sebelum mandi dan membersihkan diri. Tapi saat menyadari pak Rico juga tengah memeluknya disaat dirinya sedang begitu dekil seperti ini.. lagi-lagi Meta merasa sangat malu.
‘Aduhhh.. bagaimana ini..? jangan sampai pak Rico mencium aroma-aroma yang tidak enak dari tubuhku..’
Meta berdoa dalam hati. Saat ini kepercayaan dirinya begitu mencelos apalagi saat menyadari betapa harumnya tubuh Rico yang masih betah berlama-lama memeluknya.
‘Dasar modus..!’
Rutuk Meta lagi dalam hati begitu tersadar dengan posisi tubuh mereka saat ini yang begitu rapat satu sama lain.
“Pak Rico, lepaskan.. aku mau ke kamar mandi..” ucap Meta dengan nada risih.
Mendengar permintaan dengan nada jutek bercampur salah tingkah itu Rico pun tidak membantahnya. Ia menguraikan pelukannya meskipun dalam hati sedikit tidak rela.
Meta bergegas menuju lemari pakaian, mengambil sepasang piyama tidur terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kamar mandi dengan langkah yang terburu-buru.
Rico yang melihat pemandangan itu tertawa dalam hati saat menyaksikan betapa tidak sabarnya Meta agar bisa segera menyentuh Rei.
Sepeninggal Meta, Rico mengarahkan langkahnya kearah sofa yang ada di sudut ruangan, tempat yang tengah ia duduki saat ini. Rico memutuskan untuk menunggu disana sambil memeriksa beberapa notifikasi chat, pesan, maupun email yang ada didalam ponselnya.
Tidak beberapa lama kemudian Meta telah keluar lagi dengan tubuh jauh lebih segar, terbalut piyama berwarna hijau tosca. Rambut sebahu Meta nampak sedikit lembab menandakan ia tidak begitu sabar saat sedang mengeringkannya dengan hairdryer untuk waktu yang lebih lama.
Meta melihat kearah Rico terlebih dahulu untuk meminta persetujuan. Dan setelah melihat anggukan kepala Rico ia bergegas menaiki ranjangnya sendiri dengan hati-hati, seolah takut jika gerakannya sedikit aktif maka dia bisa membangunkan Rei.
__ADS_1
Namun meskipun Meta sudah bergerak dengan sangat perlahan saat merebahkan tubuhnya, sepertinya insting Rei bisa merasakan kehadiran Meta, karena bocah itu tiba-tiba mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu saat ia menangkap wajah Meta yang telah berada tepat diwajahnya.
“Mommy..” panggil Rei lirih, masih dengan wajah yang terkantuk-kantuk sehingga terlihat begitu lucu.
“Iya sayangnya mommy..” jawab Meta sambil mengecup kilat pipi Rei sambil tak lupa mengulas senyum manis.
Rei menyentuh pipi Meta dengan jemari mungilnya seolah ingin memastikan keaslian Meta. Tidak hanya sampai disitu, karena setelahnya jemari mungil Rei sudah memencet kecil ujung hidung Meta beberapa kali.. menekan-nekan pipi Meta lagi, dan terakhir Rei menyentuh kelopak mata Meta dengan perlahan, berganti-ganti kiri dan kanan yang membuat Meta harus menutup matanya saat jemari itu berada disalah satu matanya.
“Mommy sudah sembuh..?” tanya Rei dengan tatapan polos yang semakin sayu karena kantuk yang kembali menggelayut.
“Hmmm..” Meta tersenyum lagi sambil mengangguk, meskipun ia tidak mengerti kenapa Rei bertanya seperti itu.
Meta membelai lembut pucuk kepala Rei sejenak, mendaratkan ciuman hangat dibeberapa bagian wajah yang menggemaskan itu, kemudian menepuk-nepuk lembut pan tat Rei untuk memudahkan bocah itu kembali meraih mimpinya yang sempat terjeda..
.
.
.
Bersambung..
Favoritekan novel ini,
like dan comment setiap bab-nya, dan
__ADS_1
berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🙏
Thx and Lophyuu all.. 😘