
Saraswati mengerjapkan matanya berkali-kali. Untuk sesaat ia hampir kesulitan mengontrol emosinya namun ia berusaha keras tidak menampakkannya dihadapan Tian.
“Nek, ada apa ?” tanya Tian saat melihat Saraswati terus berpaling kearah dinding disebelahnya.
Saraswati menarik nafasnya sejenak, berusaha mengendalikan dirinya saat kembali berpaling menatap Tian. “Tidak apa-apa..” imbuhnya perlahan. “Oh ya Tian.. bagaimana keadaan perusahaan..? apa tidak apa-apa sering kamu tinggal seperti ini ?” tanya Saraswati mengalihkan pembicaraan.
“Tidak apa-apa, nek. Rudi cukup tanggap untuk menghandle segala sesuatu yang aku perintahkan, dan beberapa manager juga sangat bisa diandalkan...”
“Lalu.. Arini..?”
Tian terdiam sejenak saat mendengar Saraswati menyebut nama Arini. Sementara dirinya baru saja menerima telpon dari Rudi yang mengabarkan bahwa Arini sedang terbaring diruang pribadinya yang ada dikantor Indotama Group dengan kondisi tubuh yang demam.
“Arini.. dia.. baik-baik saja, nek..” Tian berucap perlahan, menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
Saraswati terdiam, menatap lekat Tian yang tertunduk dihadapannya. Lama ia menimbang kalimat apa yang tepat untuk ia ucapkan agar bisa mewakili perasaan bersalah yang kian menderanya.
“Bukankah Arini sedang sakit ?“ akirnya memilih kalimat itu untuk diucapkan.
Tian membisu.
“Tian..”
“Iya, nek ?” dengan terpaksa harus mengangkat wajahnya guna mendapati wajah Saraswati.
"Pulanglah..”
Tian terhenyak mendengar sepatah kata itu. “Nek..?” alisnya bertaut, namun Saraswati terlihat mengangguk.
“Pulanglah.. dan lihatlah kondisi Arini dahulu..”
Tian tercekat, tapi detik berikutnya ia menggeleng lemah. “Aku.. aku akan pulang setelah menemani nenek melakukan imunoterapi terlebih dahulu..” ucap Tian seraya menguatkan hati.
“Rumah sakit ini tidak kekurangan tenaga medis untuk mendampingiku besok. Lagipula sudah ada perawat khusus yang kamu sediakan. Pergilah sekarang, siapa tau kamu masih bisa mengejar penerbangan terakhir untuk kembali..”
Tian masih mematung. Ia belum bisa membaca situasi yang sedang terjadi, apa yang membuat nenek mengatakan semua ini.. dan apa yang diinginkan nenek sebenarnya.
“Kenapa malah berdiri dan membuang waktu ? pulanglah dan rawat istrimu dengan baik, setelah ia sembuh kamu boleh kembali lagi kemari dan bawalah dia bersamamu..”
Seketika Tian terhenyak ditempatnya, tidak bisa berkata apa-apa. Namun saat matanya beradu dengan sepasang mata tua Saraswati Tian nyaris tidak bisa mempercayai pemandangannya sendiri saat melihat betapa wajah tua itu telah dipenuhi air mata..
“Sebastian.. maafkan aku..“
---
Bandar udara International Baiyun Guangzhou.
__ADS_1
Tian mengatur nafasnya yang memburu saat harus setengah berlari untuk bisa tiba di area A, yang terletak di bagian timur gedung terminal yang merupakan international boarding area semua penerbangan internasional termasuk tujuan Indonesia yang akan melalui east 1 councourse di area A.
Dengan sedikit perjuangan akhirnya ia berhasil mengambil jadwal penerbangan terakhir di jam 17.20 waktu setempat pada China Southern Airlines, yang merupakan maskapai popular untuk route Guangzhou-Jakarta.
Itu artinya jika tidak ada halangan, tengah malam nanti dirinya sudah bisa berada di Indotama Medical Center, yang merupakan rumah sakit swasta termewah di pusat kota milik Indotama Group, dimana saat ini Arini yang karena kondisinya tidak kunjung membaik membuat dokter Hans mengambil tindakan agar istrinya bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif di rumah sakit.
“Tian jangan terlalu khawatir, aku dan Rico akan terus berada disini sampai kamu kembali..”
Kalimat Lila masih mengiang jelas ditelinganya, tentu saja Lila sedang berusaha untuk menenangkannya.
Sejak Arini disarankan untuk masuk rumah sakit Tian akhirnya memilih untuk menelpon Rico, meminta bantuannya untuk bisa mengawasi kondisi Arini agar bisa memberinya informasi tentang perkembangan Arini setiap saat. Tian tidak bisa hanya mengandalkan Rudi yang disaat yang sama harus menghandle semua pekerjaannya yang lain.
Tapi saat mendengar bahwa Lila memaksa untuk ikut dengan Rico, sejujurnya Tian merasa keberatan jika Lila harus berada di rumah sakit hingga larut malam, mengingat kondisi Lila yang sedang hamil tua.
Namun seperti Rico yang keras kepala, Lila bahkan dua kali lipat lebih keras kepala dari suaminya karena tetap bersikeras untuk mendampingi Arini yang terbaring lemah hingga mengharuskan pihak rumah sakit untuk memasukkan cairan infus kedalam tubuhnya.
Tian menarik nafas lega saat suara announcement yang menghimbau penumpang maskapai China Southern Airlines dengan nomor penerbangan CZ387 tujuan Jakarta untuk naik kepesawat akhirnya bergema memenuhi setiap sudut bandara.
Tian bangkit dengan cepat dari duduknya, dan dengan langkah bergegas ia memasuki garbarata yang menghubungkan ruang tunggu penumpang dengan pintu pesawat.
---
Arini meringis saat menyadari sesuatu yang perih terasa seperti menembus punggung tangannya. Saat ia mengerjap perlahan beberapa kali ia melihat seorang wanita dengan baju serba putih khas seragam seorang petugas rumah sakit telah selesai memasangkan jarum infus ke pembuluh vena miliknya.
“Ya ampun, Rin.. syukurlah akhirnya kamu bangun juga..” sebuah suara disisi ranjangnya yang lain membuat Arini memalingkan wajahnya kesana, dan yang ia temukan adalah seraut wajah Lila yang menatapnya lekat dipenuhi rasa khawatir yang bercampur sedikit kelegaan.
“Kamu ada di rumah sakit. Ssttt, sudah jangan bicara dulu, istirahat saja yah..”
.
“Tian..” antara sadar dan tidak saat berucap demikian sebulir bening nampak mengalir disana.
“Sebentar lagi Tian sampai.. sabar yah..” berucap demikian seraya mengusap lengan Arini berkali-kali, berusaha menenangkan Arini yang terlihat belum benar-benar menemukan kesadarannya.
Sejenak saat suasana kembali hening, kepala Lila celingak-celinguk kesana kemari mencari keberadaan Rico suaminya.
Tidak berapa lama Rico tiba-tiba sudah muncul dibingkai pintu nampak bergegas mendekati ranjang pasien.
“Gimana, La..? Arini sudah bangun ?” bisiknya penuh rasa ingin tau dan harap-harap cemas, mengingat saat dilarikan kerumah sakit sejak tadi istri Tian itu bahkan berada dalam keadaan cukup memprihatinkan.
“Sudah, Co, barusan bangun tapi sekarang tidur lagi.. mungkin pengaruh obat yang disuntikkan lewat cairan infus..” sambil menatap Arini yang terlihat kembali tenang. “Co, telpon Tian sekarang biar dia tidak terlalu khawatir..” Lila menjawab dengan berbisik juga.
“Ponselnya sudah tidak aktif sejak dua jam yang lalu. Sepertinya Tian sudah berada dalam perjalanan kesini..”
“Hhh.. semoga saja..” berucap penuh harap lagi-lagi sambil mengawasi Arini yang masih terkulai lemas diranjang pasien. Namun seperti teringat sesuatu Lila kemudian ganti menatap Rico. “dokter Hans bilang apa tadi..? Arini tidak apa-apa kan ?”
__ADS_1
Rico menarik lengan Lila menjauhi ranjang pasien agar pembicaraan mereka tidak menggangu Arini yang terlihat tenang dengan mata terpejam.
Setelah mendudukkan Lila dengan hati-hati di sofa yang ada disudut ruangan Rico menarik nafas sejenak sambil menatap Lila. “Kata dokter Hans tadi, Arini memang memilik riwayat tekanan darah rendah dan anemia. Makanya dia harus di infus karena dia mengalami dehidrasi juga. Cairan infus itu yang nantinya akan membuat kondisi tubuhnya pulih..”
“Tapi secara keseluruhan kondisi Arini tidak apa-apa kan, Co ?” Lila masih menatap Rico dengan tatapan was-was, tapi yang ada Rico malah tersenyum tipis saat membalas tatapannya. “Kenapa malah senyum sih..? tidak tau orang lagi khawatir malah senyum-senyum begitu..” protes Lila penasaran bercampur kesal dengan gelagat Rico yang menurutnya sedikit aneh.
“Sejak awal melihat keadaan Arini, ternyata dokter Hans sudah memprediksinya.. mungkin itu yang dimaksud dengn naluri seorang dokter..”
Lila semakin mengerinyit mendengarnya. “Memangnya ada apa sih ? dokter Hans memprediksi apa ? naluri dokter bagaimana maksudmu..?”
“Dokter Hans sudah melakukan test darah untuk Arini dan hasilnya tidak meleset sedikitpun. Wahh.. aku sudah tidak bisa membayangkan reaksi Tian nanti..”
“Maksudnya apa sih, Co..?” tanya Lila lagi mulai tidak sabar setelah lelah mengira-ngira kemana arah tujuan pembicaraan suaminya itu.
Melihat wajah Lila dengan mimik yang bingung Rico tidak tahan untuk tidak mengusap pipi berisi Lila sambil tersenyum. “La.. Arini sedang hamil..”
Lila hampir terpekik, untunglah refleks ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sekaligus, menatap Rico dengan sepasang bola mata yang membulat penuh yang justru membuat Rico tertawa kecil melihat pemandangan lucu itu.
“He is so lucky man, tepat saat hati neneknya melunak, malah mendapatkan double jackpot seperti ini..” ujar Rico menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
“Orang baik selalu bisa mendapatkan hal yang beruntung..” desis Lila tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya untuk buah manis dari penantian panjang Arini dan Tian.
Rico beringsut untuk lebih dekat kearah Lila, menunduk dan mencium perut yang telah berada diukuran maksimal.. kemudian mengangkat wajahnya untuk mengganti target hadiah dari kelembutan yang ia punya.
Lila yang semula kaget mendapati tindakan Rico akhirnya menerima ungkapan kasih sayang suaminya itu dengan sepenuh hati.
"Aku setuju denganmu, sayang..” sambil tersenyum sumringah. “Coba lihat.. karena aku juga adalah orang yang baik.. aku malah memiliki dewi keberuntungan dalam hidupku..” bisiknya begitu dekat, hingga nafasnya yang hangat terasa menyapu wajah Lila yang sontak merona mendengar kalimat yang sangat manis itu.
Lila tersenyum. “Kalau begitu aku juga adalah orang yang baik karena aku juga memiliki dirimu...”
Mereka berdua saling tersenyum dan saling pandang satu sama lain.
Rico kembali melabuhkan seluruh perasaannya.. dengan begitu lembut.. sebelum akhirnya mereka berakhir dengan saling memeluk..
.
.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1
LIKE, COMMENT, VOTE, dukung author terus yah...🤗
See you and lopphyuu more and more my readers... 😍😘