
Support dulu Part2 - 124 nya yah, kalau sudah langsung GASKEUUNN π€Έ
"Kangen Daddy.." bisik Meta manja, sangat perlahan, membuat Rico tersenyum sambil mengeratkan pelukannya, menghujani ubun-ubun kepala wanita itu dengan kecupan-kecupan kecil.
Sejenak mereka berdua seolah
jika sedang berada dikamar kedua orangtua Rico yang akhirnya hanya bisa menyaksikan adegan yang begitu manis itu dalam diam sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu bisa pingsan..?"
Meta menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing.."
"Kenapa memaksa bekerja kalau sedang tidak enak badan?"
"Sebelumnya aku merasa baik-baik saja, Dadd.. tapi tiba-tiba semuanya terjadi begitu saja dan begitu cepat.."
"Apa Ibu memarahimu..?" bisik Rico begitu dekat ditelinga Meta, mulai menyadari jika setiap gerak-gerik mereka berdua ternyata sedang diawasi oleh dua pasang mata milik Ayah dan Ibu dari ujung sana.
Meta menggeleng lirih. "Tidak.."
"Yang benar..?" selidik Rico lagi dengan lebih intens.
Meta kembali mengangguk yakin. "Ibu hanya memarahiku saat aku berusaha turun dari ranjang.." kilah Meta kemudian, cukup membuat Rico terhenyak dan menatap wajah Yunita Wijaya dengan wajah merenggut.
"Ibu.. apa salahnya kalau turun dari ranjang sih. Masa begitu saja ibu memarahi Meta..?" protes Rico tanpa basa-basi sambil menatap wajah Yunita Wijaya yang terlihat menatap Rico dengan kesal.
"Jangan marah pada ibu, karena maksud Ibu sebenarnya baik.."
"Baik apanya..? buktinya kamu sampai pingsan begini mustahil jika tidak terjadi sesuatu.."
"Ayah, sudah dengar kan.. Rico bahkan menuduh Ibu.." Yunita Wijaya menatap kesal kearah suaminya seolah meminta pembelaan.
Ahmad Wijaya yang sedari tadi membisu dan hanya menjadi penonton setia adegan demi adegan itu akhirnya menarik nafasnya dalam. Tanpa berfikir panjang ia menyambar payung yang tersandar dipinggir pintu dan menyerahkannya kearah Ibu Rico dengan gayanya yang khas.
"Ini.. ambil ini. Pergi pukul anakmu agar jera, dan tidak lagi berlaku semena-mena padamu." titahnya. "Lagipula bisa-bisanya ia tidak bisa melihat perkembangan kesehatan istrinya sama sekali.. dan tidak menyadari dengan kondisi istrinya sendiri.."
Mendengar gerutuan suaminya yang selama ini sangat jarang bicara itu tiba-tiba terlihat sangat mendukungnya, tanpa berpikir panjang Yunita Wijaya langsung menerima payung tersebut dan bergegas mendekati dua insan yang terlihat sekali sedang dipenuhi gelora asmara hingga terus saling memeluk tanpa malu.
Bukk..!
Tanpa aba-aba Yunita Wijaya langsung menghantam punggung Rico dengan berbekal payung pemberian Ayah Rico barusan, cukup membuat Rico terperanjat.
"Ibu, kenapa memukulku sih..?" ujar Rico yang terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.
"Itu balasan untuk tuduhanmu kepada Ibu. Sedangkan yang ini.."
Bukk..!
__ADS_1
Yunita Wijaya kembali mengayunkan payung tersebut yang kali ini sukses bertengger dibahu Rico yang kekar, membuat Rico kembali meringis tertahan.
"Itu balasan atas ketidak-pekaanmu pada kesehatan istrimu..!" sembur Yunita Wijaya lagi, kali ini cukup membuat Rico terhenyak, ia seolah tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri bahwa saat ini Ibunya bahkan sedang mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Belum sempat Rico berucap sepatah katapun, manakala kalimat Yunita Wijaya kembali membuat Rico lama terkesima..
"Mulai detik ini, kalau Ibu mengetahui kalian tidak menjaga calon cucu Ibu dengan baik, maka Ibu benar-benar tidak akan mengampuni kalian berdua..!" omel Yunita Wijaya sambil mengacungkan payung tersebut kearah Rico dan Meta dengan tatapan galak.
Rasanya kali ini Rico benar-benar menyangsikan apa yang ia dengar. Setelah lelah tertegun, akhirnya tatapannya kembali jatuh pada seraut wajah Meta yang masih berbaring lemah, namun berhias senyum.
"Jangan membuat harapanku musnah, Meta tolong katakan.. apakah semua ini benar..?" Rico menatap Meta, nyaris menangis karena rasa haru yang membuncah didadanya.
"Dokter Tio menyarankan untuk memeriksanya terlebih dahulu pada dokter obygyn. Karena selain beberapa diagnosa yang mengarah kesana.. menstruasiku juga sudah terlambat nyaris satu bulan.."
Rico kembali merengkuh tubuh mungil Meta kedalam pelukannya. "I hope, dear.." bisiknya lembut, dengan seluruh rongga hati yang dipenuhi pengharapan dan doa.
Namun seolah tersadar akan sesuatu Serentak Rico menguraikan pelukannya, berdiri dari sisi ranjang dan menatap lekat Ibunya yang masih berdiri tegak disamping sang Ayah.
"Ibu, maafkan aku.." ucapnya dengan bibir bergetar penuh penyesalan, menyadari kesalahannya yang telah memikirkan sesuatu yang buruk tentang Ibunya sendiri.
Melihat pemandangan putranya yang berdiri dengan penuh penyesalan, Yunita Wijaya merasakan hatinya ikut merasa haru. "Kemarilah.." ujarnya serak seraya merentangkan tangannya, memanggil putranya yang telah begitu dewasa agar masuk kedalam pelukannya.
Rico bergerak mendekat, memeluk tubuh Yunita Wijaya, merasakan kehangatan seorang Ibu yang dipenuhi kasih sayang yang sejak awal tak pernah berkurang takarannya.
"Ibu, maafkan aku.."
"Terima kasih, Bu.. aku mencintai Ibu.."
Yunita Wijaya menganguk dalam tangisnya.
Ahmad Wijaya menepuk masing-masing kedua bahu dua orang terkasihnya itu, sementara Meta yang menyaksikan adegan penuh haru itu terus menyusut sudut matanya yang henti mengembun.
XXXXX
Ini adalah weekend ke-empat kebersamaan mereka.
Meskipun awalnya terasa sedikit kaku dan aneh, namun seiring waktu akhirnya Rudi dan Laras bisa melewatinya dengan lebih luwes. Terlebih dengan begitu banyak tempat yang selalu mereka kunjungi berdua sehingga rasanya nyaris semua objek wisata alam serta kuliner yang ada di kota B telah mereka jelajahi bersama.
Seperti halnya sore ini, mereka berdua berada di LA, sebuah objek wisata yang cukup hits di kota B, lokasinya berada dikawasan kuliner paling populer, dengan karakteristik yang khas berupa saung-saung yang berada persis dipinggiran tebing. Ditempat ini bahkan kota B bisa terlihat dengan jelas dari ketinggian.
Laras merentangkan kedua tangannya, menghirup udara sore yang terasa menyegarkan.
Yah, seharian ini mereka kembali berjalan-jalan, sebelum memutuskan untuk menghabiskan waktu ditempat ini, mengobrol ringan sambil ditemani vietnam drip.
Rudi menyusul Laras, berdiri tegak disamping wanita itu sambil menatap kearah pemandangan hijau serta barisan tebing eksotis yang terhampar pada sejauh mata memandang dengan dua tangan yang masuk kedalam saku.
"Jadi selama berada disini, kamu tidak pernah jalan-jalan kemanapun..?"
__ADS_1
Laras mengerling kearah Rudi sekilas. Ia menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Aku hanya sibuk bekerja, kalau weekend dan ada waktu luang, aku memilih tidur diapartemen seharian.."
"Tidak bosan sendirian terus?"
Laras menggeleng lagi, sambil tersenyum kecut. "Sudah biasa.." ujarnya perlahan.
"Laras.." panggil Rudi seraya menatap wajah gadis itu penuh. "Berubahlah.." ujarnya lirih.
Laras berbalik menatap Rudi, namun masih tanpa kata.
"Kamu masih sangat muda, berubahlah demi dirimu.. bukan demi aku atau orang lain. Kamu harus tau bahwa diluar sana, diluar duniamu saat ini, ada dunia yang lebih indah yang bahkan belum pernah kamu lihat. Dunia yang benar-benar sesuai dengan masa mudamu.."
Biasanya jika mendengar nasehat semacam itu, Laras selalu saja mengamuk dan membantah.
Selama ini Laras membenci dunia luar, ia benci bersosial, ia selalu merasa dirinya baik-baik saja meskipun tanpa seorang teman. Namun lelaki dihadapannya tidak pernah tau.. bahwa saat ini juga, jangankan merubah dirinya, Laras bahkan bisa memberikan seisi dunia ini jika ia mampu.. hanya agar orang yang ia cintai bisa merasakan kebahagiaan, yang merupakan satu-satunya hal yang tidak bisa ia berikan.
Cintanya untuk Rudi Winata sudah tidak bisa lagi terjabarkan dengan kata, tidak bisa lagi terungkapkan oleh kalimat apapun..!
Cintanya begitu besar..
Begitu hebat..
Begitu gila..
"Kak Rudi.." Laras memaksa mengambil kedua tangan Rudi yang awalnya tersembunyi pada kedalaman saku celananya, memegang kedua tangan itu dengan kedua tangannya, meremasnya lembut, menatap wajah Rudi yang ia cintai dengan sepenuh jiwanya dengan tatapan yang tenang, serta senyum yang sarat dengan ketulusan.. sebelum berucap perlahan dengan hati yang dipenuhi keyakinan yang selama ini telah ia bangun dengan susah payah, sejengkal demi sejengkal..
"Kak Rudi.. mari kita berpisah.."
.
.
.
Bersambung..
LIKE, Comment, Support, jangan lupa yah.. Thx and Lophyuuuu all.. π
Catatan Author menjelang End :
Hai para kesayangan, my Reader CTIR tersayang.. π
Tak terasa sudah lebih dari 6 bulan CTIR season 1 dan 2 melangkah bersama kalian (Lama juga yah..) dengan pencapaian yang begitu baik untuk kelasnya author pemula dan novel pertama. Semua ini berkat kalian, yang selalu mendukung author setiap harinya. π€
Mohon jangan unfavorite novel ini yah, biar pop nya bisa terus naik meskipun sudah END. Pliss.. π₯Ίπ
Untuk kisah TERJERAT CINTA PRIA DEWASA dan PASUTRI, jangan lupa diikutin karena ceritanya beneran greget nantinya. Seriusan.. (maksa ihh π ).
__ADS_1