CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Rekomendasi dokter


__ADS_3

Pliss.. tolong di Like setiap bab-nya yah.. 🙏 Like-nya jangan bolong-bolong .. Terima kasih.. 🤗


.


.


.


“Aku ingin ke dokter..” Arini berucap perlahan seraya menyusup lebih dalam kepelukan yang hangat. Saat ini mereka berdua baru saja melakukan aktifitas yang begitu panas dengan judul ‘Berusaha lebih keras lagi dari yang sudah-sudah’.


Tian mengerinyit.. belum bisa menangkap sepenuhnya maksud kalimat tersebut..


“Aku ingin memeriksa kandunganku. Aku ingin tau..”


“Mengapa terburu-buru ?” pungkas Tian cepat. “Bahkan ada begitu banyak pasangan menikah yang jauh lebih lama dari kita berdua dan belum juga dikaruniai keturunan, tapi mereka bisa bersabar..” masih berusaha menghindar.


“Aku hanya ingin bisa cepat-cepat hamil, sayang.. memangnya kamu tidak ingin..?”


“Tentu saja aku juga ingin. Tapi ini


terlalu cepat..”


“Pokoknya aku mau ke dokter. Aku ingin melakukan pemeriksaan. Kalau kamu tidak mau aku akan melakukannya sendiri..” Arini mulai memukul-mukul kecil lengan Tian sebagai tanda bahwa dirinya sedang merajuk.


Tian menghela nafas berat sembari mendaratkan kecupan kecil diubun-ubun istrinya itu. “Iya.. baiklah. Aku akan meminta rekomendasi terlebih dahulu dari dokter Hans untuk mencari seorang dokter obygyn yang bagus. Kita akan melakukan pemeriksaan bersama-sama..”


Yang Tian maksudkan dengan dokter Hans adalah tidak lain dokter pribadi keluarga Djenar.


“Kapan kamu akan menghubungi dokter Hans ?”


“Nanti sayang..”


“Kenapa tidak sekarang saja sih..?” mulai lagi dengan sifatnya yang tidak sabaran.


“Tidak enak harus menelpon selarut ini..” ujar Tian mencoba memberikan alasan yang tepat, namun wajah Arini yang nampak murung cukup ampuh melemahkan pertahanan Tian, membuat Tian menjadi tidak tega dengan begitu mudah. Akhirnya Tian berucap lagi.. “Baiklah.. besok yah..” bujuknya lembut.


“Terima kasih sayang..”  semakin mengetatkan pelukannya.


Tian mengelus punggung polos itu


berkali-kali. Sengaja membuai agar bisa mengantarkan Arini lebih cepat menemui sang mimpi.


Dan benar saja.. dengan tubuh yang kelelahan selang tak berapa lama Arini benar-benar sudah terlelap dengan nafas berhembus teratur.. menyisakan Tian dengan berbagai pemikirannya yang masih dipenuhi dengan keinginan Arini yang tercetus barusan.


‘Melakukan medical check up ?’


Hhhh.. Tian menghembuskan nafasnya dengan berat. Sebagai pemimpin perusahaan raksasa sekelas Indotama Group melakukan medical check up sudah bukan hal yang baru bagi Tian karena hal itu sudah seperti sebuah keharusan baginya. Tentu saja sebagai seorang penerus tunggal keluarga Djenar, Tian wajib memiliki tubuh yang selalu sehat dan terkontrol.


Medical check up bukanlah hal yang asing. Tian bahkan melakukan pemeriksaan fisik dan klinis tersebut secara rutin, termasuk pemeriksaan kesuburan, dan selama ini dirinya selalu dinyatakan sehat oleh dokter, tidak memiliki gejala penyakit kronis, serta memiliki tingkat kesuburan yang tinggi.


Tian tau persis untuk mendapatkan


keturunan Djenar, dirinya sama sekali tidak memiliki kendala. Tapi saat Arini memaksanya melakukan pemeriksaan, entah kenapa Tian menjadi sedikit khawatir.


Pemikiran tentang kondisi Arini yang seandainya tidak sesehat dirinya sangat mengganggu fikirannya saat ini. Apalagi terlihat jelas bahwa Arini seperti sedang tertekan karena hal itu, padahal meskipun mereka menikah sejak beberapa bulan yang lalu, tapi untuk hubungan suami istri mereka bahkan belum terlalu lama melakukannya.


Tapi mau bagaimana lagi.. Tian sudah telanjur berjanji.. dan tidak pernah bisa menolak keinginan Arini..


---

__ADS_1


‘Makan siang dulu, sayang.. jangan terlalu sibuk bekerja,..’


Tian tersenyum sedikit saat membaca chat whattsapp itu, langsung mengetikkan sesuatu untuk membalasnya..


‘Iya, ini lagi makan. Kamu juga jangan telat makannya yah..’


‘Siap sayangku..’


Lengkap dengan emoticon kiss yang memenuhi layar.


“Buruan makan..” suara Rico cukup ampuh membuat Tian terhenyak.


Tanpa menjawab Tian menaruh ponselnya diatas meja dan mulai makan tanpa suara. Tidak peduli dengan tatapan Rico yang lekat padanya.


Siang ini Tian memang makan siang bersama Rico dan Rudi, di salah satu restoran terdekat yang ada di lokasi lahan yang tadi mereka kunjungi bersama.


“Ada apa, bro..?” Rico berucap lagi, tak tahan menahan rasa ingin tahunya yang sejak tadi bergelayut dibenaknya.


Sejak mereka tiba di lokasi lahan proyek seluas lima puluh tiga hektar yang rencananya akan dibangun mall raksasa dengan nama Indotama Times Square, Tian sudah terlihat seperti tidak terlalu bersemangat, bahkan Rico beberapa kali menangkap gerakan memijit kening yang khas Tian.


“Nothing..”


“If you have a problem, just tell me..”


“Tidak ada.. tidak apa-apa..” ucap Tian cepat, dengan tatapan yang fokus pada makanan yang ada dihadapannya.


Tentu saja Tian berbohong. Karena


sejujurnya.. permintaan Arini semalam yang begitu gigih ingin melakukan medical check up serta test kesuburan benar-benar menyita seluruh konsentrasinya. Tian bahkan tidak bisa tertidur pulas semalaman hanya karena memikirkan kalau-kalau ada kemungkinan terburuk yang akan Arini terima dari hasil pemeriksaan tersebut.


Sejauh ini Rico memang bukanlah orang yang sabar jika merasa penasaran akan sesuatu hal, tapi saat mengingat nasihat Lila untuk lebih memberi ruang bagi Tian, akhirnya Rico memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi, meskipun hatinya benar-benar merasa tidak bisa menahannya.


---


“Masih ada yang perlu saya kerjakan, pak ?”


“Tidak Rud, cukup minta istri saya untuk menyuruh OB membuatkan kopi.. trus suruh antarkan kesini.”


“Baik, pak..” Rudi menganguk takjim sebelum beranjak keluar.


Tian melonggarkan dasinya sejenak sebelum memilih menghempaskan tubuhnya disofa panjang, memejamkan matanya sebentar sambil menunggu Arini membawakan segelas kopi untuknya.


Sekitar lima menit menunggu akhirnya terdengar bunyi pintu yang diketuk dari luar. Saat membuka matanya Tian bisa melihat istrinya masuk kedalam membawa nampan kecil berisi segelas kopi yang masih mengepul.


Tian tersenyum saat Arini menaruh kopi diatas meja, sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya tepat disamping Tian.


“Capek yah ?” tanya Arini berbasa-basi begitu menangkap tampang kusut Tian.


“Hhmm..” kemudian dengan gerakan tiba-tiba Tian langsung membaringkan tubuhnya disofa dan menaruh kepalanya dipangkuan Arini.


Melihat itu refleks Arini membelai


rambut Tian yang ada dipangkuannya berkali-kali.. terus membelai dengan tatapan yang tak berkedip menatap wajah dengan mata terpejam yang ada dipangkuannya seolah sedang terbuai oleh belaian yang lembut dan penuh kasih sayang itu.


Sementara itu.. Arini terus memandangi seraut wajah Tian yang terpahat sempurna bak maha karya yang tak ternilai. Rahang yang tegas membingkai sempurna, membuat Arini tidak bisa berhenti mengagumi betapa tampan suaminya. Tapi semua kekaguman Arini mendadak sirna saat menyadari bahwa tujuannya hanya sebatas mengantarkan kopi. Kalau ia terlalu lama disini.. nanti apa kata rekan-rekan karyawan lainnya..


“Sayang, jangan lama-lama.. aku harus segera kembali..” bisik Arini lirih.


Tian membuka matanya serta-merta, membuang nafas sedikit kesal sebelum akhirnya kembali duduk disofa dan menyeruput kopi yang ada diatas meja.

__ADS_1


“Kembalilah sebelum mereka


mencurigaimu..”


Arini membalas senyum malas-malasan Tian. Dirinya hendak beranjak namun kembali urung saat teringat sesuatu..


“Sayang apa kamu sudah menelpon dokter Hans..?”


Tian menelan ludahnya kelu. “Belum,” jawabnya pelan. “Sejak pagi aku sangat sibuk.. aku lupa.”


“Ya sudah.. kalau begitu telpon sekarang saja..”


Dengan membuang nafas, meskipun terasa berat akhirnya Tian tetap meraih ponselnya juga.


“Halo selamat siang, pak Tian ? ada yang bisa saya bantu ?”


Suara dokter Hans langsung menyapa gendang telinga Tian begitu panggilannya tersambung.


“Iya, dok, saya ingin dokter memberikan rekomendasi dokter obygyn terbaik untuk melakukan konsultasi program kehamilan, sekalian agar dokter bisa mengatur jadwal pertemuan secepatnya..” ucap Tian meskipun dengan berat hati.


“Kalau mengenai dokter obygyn saya rasa dokter Rina Aminarti sangat baik. Nanti saya akan bantu mengatur jadwalnya. Rencananya kapan pak Tian ingin melakukan konsultasi..?”


Tian menatap Arini yang ada dihadapannya dengan wajah berbinar. “Besok.”


“Baik, pak Tian. Akan saya pastikan untuk mengatur jadwal konsultasi besok dengan dokter Rina..”


“Baiklah, dok. Terima kasih.”


Dan pembicaraan itupun usai.


Tian menatap Arini yang ada


dihadapannya, sejak tadi begitu antusias menyimak pembicaraannya dengan dokter Hans. “Bagaimana ? sudah puaskan..?” Tian mengacak kecil rambut Arini.


Tidak menjawab, tapi langsung memeluk Tian dengan erat.


Hanya sebuah rengekan kecil..


Tindakan kecil..


Tapi semua itu selalu mengisi sedikit demi sedikit ruang yang ada dihati Tian, membuat Tian kembali menyadari entah sudah seberapa besar kebahagiaannya yang diakibatkan wanita ini..?


Pastinya sudah tak terhingga, sampai-sampai Tian merasa bisa menukar seisi dunia ini demi mewujudkan apapun yang bisa membuat Arini merasa bahagia..


.


.


.


.


Bersambung


(Mau lah ya.. dicintai sedalam itu.. 😅)


Yang sudah like bab ini dan bab sebelumnya, yang sudah meninggalkan jejak comment di bab ini dan bab sebelumnya, yang sudah memberi vote, yang sudah mengfavoritekan novel ini, yang sudah mengsubscribe profil author..


Terima kasih tak terhingga.. 🙏

__ADS_1


Lophyuu my readers.. more and more..😘


__ADS_2