CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Rindu


__ADS_3

Saat tak ada disampingmu, diriku sangat merindukanmu, sadarkah bahwa diriku besar mencinta..


Kau terjatuh ku yang memeluk, kau tersakiti ku yang terlukai, dimana ada cinta yang seperti aku..


(Cinta Seperti Aku - Aurelie Hermansyah)


Author lagi baper sama lagu ini.. hahaha..😅


.


.


.


Tian menegakkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Melempar pulpen yang ada ditangannya keatas meja begitu saja, membuang nafas berat, memijit keningnya perlahan.


“Rud.. setelah ini apalagi ?” ujarnya


tak sabar.


“Agenda terakhir, Pak.. meeting dengan investor dari Malaysia.” Rudi berucap seraya mengembalikan pulpen yang tadi dilempar Tian begitu saja keatas meja dan mengembalikannya pada tempatnya semula, kemudian setelah itu ia sudah meraih dokumen kontrak salah satu perusahaan makanan ringan yang barusaja ditanda tangani sang bos besar, dan tergeletak begitu saja di atas meja.


“Jam berapa ?”


“Jam tujuh malam, Pak,”


Tian membuang nafasnya  berat. “Aku tidak mau tau, selesai meeting terakhir, bagaimanapun caranya aku harus kembali ke kota S.”


“Bukannya jadwalnya besok malam, Pak..?”


“Barusan sudah aku bilang kan malam ini.”


“Lalu bagaimana dengan agenda kerja besok..”


“Pindahkan semuanya sekalian ke hari senin, tiga hari ini aku tidak mau diganggu.” putus Tian seenaknya membuat kepala Rudi pening seketika.


“Tapi agenda peresmian Mercy Green Resort hari sabtu bagaimana, Pak ?” Tanya Rudi lagi dengan was-was, masih bersikeras melakukan negosiasi.


“Seperti jadwal semula. Makanya kamu atur agar sabtu pagi aku sudah disini lagi.”

__ADS_1


Mendengar itu Rudi sedikit menghela nafas lega. “Baik, Pak..” Rudi menganguk takjim.


Dalam hati Rudi tidak bisa membayangkan bagaimana dia menghandle agenda Tian. Memindahkan satu hari kerja sang bos saja sudah membuatnya mumet saat memikirkannya, apalagi jika harus memindahkan agenda untuk tiga hari sekaligus. Untunglah yang dimaksud Pak Tian dengan tiga hari yang tidak mau diganggu itu adalah hanya merubah satu hari agenda yakni pada besok hari untuk dipindahkan kehari senin karena hari tersebut sudah pasti akan dipakai beliau untuk menjemput istrinya, sedangkan untuk dua hari sisanya itu sudah sesuai agenda yang ada karena Tian akan meresmikan Mercy Green Resort sekaligus menghabiskan weekend dengan menginap dan menikmati fasilitas Mercy Green Resort.


Tian menghembuskan nafasnya berat. Bagaimana bisa ia menunggu sampai lima hari sementara baru hari ketiga saja dirinya sudah menyerah. Berbicara di telpon dan melakukan video call dengan Arini selama tiga hari ternyata tidak sanggup mengobati perasaan rindu yang membuncah didadanya.


---


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Tian tiba didepan pintu kamar rawat inap atas nama pasien Sadana Ramdhan. Seorang petugas keamanan yang berjaga disana serentak menunduk takjim saat menyadari kehadiran sang bos besar dan asistennya.


Rudi menempelkan smart card lock untuk membuka akses pintu masuk.


“Rud, besok pagi sudah disini lagi yah,” Tian mengingatkan Rudi sebelum masuk kedalam.


“Baik, Pak, Jam tujuh pagi saya sudah ada disini,” Rudi menunduk takjim. Rudi nanti berbalik saat memastikan Tian sudah masuk kedalam dan pintu tersebut sudah tertutup kembali.


Rudi memang akan menginap di hotel malam ini, sedangkan Tian tentu saja lebih memilih menginap di kamar keluarga diruang rawat inap rumah sakit karena setelah Tian kembali ke ibukota, tiga hari ini Arini lebih memilih tidur ditempat itu daripada di hotel.


Tian yang sudah masuk dikamar rawat inap itu melangkah perlahan kedalam ruangan yang sudah hening. Sepertinya penghuni ruangan itu sudah tertidur mengingat malam pun sudah cukup larut. Ia memilih mendekati ranjang rawat inap terlebih dahulu dimana mertuanya terbaring disana dengan mata terpejam.


Tadi pagi, sebelum Tian berangkat ke kantor, lewat panggilan video call Arini sempat membagi moment dimana ia menemani ayahnya untuk melakukan olah raga ringan dengan bantuan beberapa orang perawat khusus. Tian merasa lega karena melihat kondisi Sadana, sepertinya mertuanya itu semakin terlihat membaik dari hari kehari.


Tadi pagi juga ia sempat mengatakan akan datang besok malam untuk menjemput Arini kembali, tapi pada kenyataannya.. membayangkan harus kembali melewati dua puluh empat jam yang menyiksa bathin akhirnya Tian lebih memilih mengorbankan satu hari full agenda kerjanya, yang pastinya akan membuat Rudi pusing tujuh keliling.


“Nak Tian..?”


Tian kembali berbalik, mendapati


sepasang mata Sadana yang tadinya terpejam sudah terbuka lebar, mungkin kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


“Maaf yah, aku sudah membangunkan ayah..” Tian sedikit meringis menyadari tanpa sengaja dirinya telah mengusik tidur mertuanya.


“Tidak apa-apa. Kamu kapan datang, nak ? bukannya kata Arini kamu akan datang besok malam ?”


Tian tersenyum kikuk. “Aku barusan datang, yah.. iya, aku seharusnya akah datang besok tapi..”


Sadana tersenyum saat mendengar kalimat menggantung Tian lengkap dengan sikap sedikit salah tingkah. “Arini pasti menyusahkanmu, Nak..” ujar Sadana akhirnya, tidak tega melihat eksprei Tian yang mati gaya mengetahui betapa dirinya merasa malu tidak bisa menahan kerinduannya sendiri dihadapan mertuanya.


“Tidak, Yah. Justru aku yang sering

__ADS_1


menyusahkan Arini.” imbuh Tian kemudian.


Sadana tersenyum. Meskipun sebenarnya jauh didalam lubuk hati Sadana dirinya merasa sangat terharu mengetahui bahwa sikap Tian tehadap Arini sudah jauh berbeda dari awal mereka menikah. Sadana bukannya tidak tau bahwa putra tunggal Sigit Putra djenar ini sempat menolak kehadiran putrinya.. namun entah mengapa saat itu Sadana selalu berkeyakinan bahwa Arini bisa memenangkan hati  Sebastian Putra Djenar.


Sadana tidak bisa untuk tidak meyakini hal itu. Dirinya mengenal almarhum Sigit dengan baik. Kebaikan hati, sikap, tanggung jawab dan kasih sayang.. meskipun sangat jelas anak muda itu terlihat dingin dan jauh lebih arogan daripada Sigit, tapi itu tidak bisa mengubah keyakinan Sadana bahwa lelaki muda itu adalah darah daging Sigit Putra Djenar, yang tidak akan membuatnya ragu sedikitpun saat harus menyerahkan tangan putri mungilnya kedalam genggaman tangan lelaki itu.


“Nak Tian, mohon bersabarlah dalam menghadapi Arini. Sejak kecil Arini hidup nyaris tanpa teman, dia sudah kehilangan ibunya saat dia masih belia, dia sudah mengambil tanggung jawab yang besar, disaat anak-anak lain seusianya masih sibuk bermain-main. Ayah yang salah, nak.. telah membesarkan Arini dalam keadaan yang serba sulit hingga akhirnya membuat dia terlalu mandiri.. sedikit egois dan keras kepala..”


Tian menggeleng cepat. “Tidak ayah.. jangan bicara seperti itu. Aku yang harus berterima kasih karena ayah mau mempercayakan Arini kepadaku. Maafkan aku yang bersikap buruk saat menikah kemarin. Tapi aku mohon ayah percaya, bahwa aku akan akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Arini..”


“Ayah mempercayaimu, nak. Bahkan sejak awal ayah sudah mempercayaimu..” wajah paruh baya itu tersenyum penuh keyakinan, tapi sepasang mata tuanya sedikit berkaca. “Meskipun Arini terlihat kuat.. sebenarnya dia adalah anak yang sangat haus kasih sayang. Sikapnya pun sebenarnya sangat manja. Hal itu yang selalu membuat Ayah khawatir.. kalau-kalau ia akan menyusahkanmu..”


“Tidak, ayah. Tidak ada satupun sikap Arini yang bisa membuatku kesusahan. Ayah tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu,” tepis Tian.


Sadana menganguk melihat kesungguhan dimata Tian. Saat ini ia merasa benar-benar lega dan lebih yakin bahwa ternyata keputusannya dan Sigit saat itu tidak salah saat memutuskan masa depan yang menyangkut putra dan putri mereka.


“Nak Tian, terima kasih atas semua yang sudah nak Tian lakukan untuk ayah. Semua yang menyangkut perawatan ayah.. ini sungguh sangat berlebihan, ayah tidak tau harus bagaimana membalasnya..”


“Tidak, Yah. Aku anak ayah juga, sama seperti Arini. Bagaimana ayah bisa mengatakan untuk membalas..? Ayah bahkan sudah memberikan kepercayaan atas Arini untuk melengkapi hidupku, apa lagi yang lebih berharga dari itu ?”


Bahu Sadana sedikit terguncang tapi Tian sudah mendekat dan mengelusnya perlahan.. mencoba menenangkan lelaki tua itu, mencoba memberikan kekuatan dan keyakinan, menunggu dengan sabar sampai bahu itu mengendur. Tian terus berdiri disana, sampai Sadana terlihat tenang dan kemudian tertidur.


Perlahan Tian membenarkan selimut mertuanya sebelum akhirnya beranjak ke kamar inap khusus keluarga yang bersebelahan dinding dengan kamar rawat inap pasien. Begitu memasuki ruangan tersebut mata Tian langsung menangkap sosok yang sangat dirindukannya tidur meringkuk diatas tempat tidur dengan ukuran yang tidak terlalu besar.


Mencoba menahan diri terlebih dahulu Tian dengan bergegas ke kamar mandi yang bersebelahan dengan mini pantry, membersihkan tubuh ala kadarnya sebelum keluar dari sana, langsung mendekati ranjang.


Mengambil kesempatan dengan kondisi ranjang yang tidak terlalu besar membuat Tian menempatkan dirinya merapat tanpa jarak dengan punggung mungil yang dengan riap rambutnya membuat aroma mint lavender yang khas langsung menguasai indera penciuman Tian.


.


.


.


.


.


Bersambung…

__ADS_1


(Karena untuk sebagian orang, cinta tidak memerlukan ungkapan.. melainkan pembuktian..


Like and comment jangan lupa yah.. 😘


__ADS_2