CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Kemarahan Tian


__ADS_3

Sudah lebih dari sepuluh menit mobil yang dikendarai Sudir meninggalkan gerbang utama rumah keluarga Djenar, dan selama itu pula belum ada seorang pun yang mencoba angkat bicara.


Mobil yang berisi tiga orang itu kini melaju dengan kecepatan sedang, membelah hiruk pikuk jalanan ibu kota dimalam hari.


Arini melirik sekilas wajah lelaki disampingnya yang terlihat menatap lekat layar ponselnya seperti biasa.


“Pak Tian..” panggilnya memberanikan diri.


Tidak bergeming, tapi Arini yakin lelaki itu pasti mendengarkannya.


“Ada yang ingin saya sampaikan..”


“Kenapa ?” hanya menyahut, tapi masih tidak menoleh.


“Saya.. saya minta maaf..”


“Minta maaf untuk apa ?” datar, masih juga belum menaruh perhatian sepenuhnya.


“Bik Wati.”


Kali ini Tian serentak mengangkat wajahnya, menatap Arini dengan alis bertaut. “Bik Wati ?” ulangnya bingung.


Arini menganguk kecil. Mendadak ia menjadi ragu berterus terang pada Tian bahwa sebenarnya tadi pagi ia telah memberhentikan bik wati, orang yang secara tidak langsung telah menyelamatkan mereka dari situasi genting dengan nenek Saraswati tadi.


“Memangnya ada apa dengan bik Wati ?”


Arini mengatur nafasnya sambil menguatkan hatinya terlebih dahulu sebelum harus berkata jujur. “Sebelumnya saya minta maaf Pak Tian..”


“Sebenarnya apa yang sedang ingin kamu sampaikan ?”


“S-saya.. egh, maksud saya tadi pagi bu wati datang ke apartemen tapi saya menyuruhnya pulang,” Arini tertunduk usai berkata demikian.


“Lalu..?”


“S-saya menyuruhnya untuk tidak kembali lagi..”


Tian menatap Arini, masih belum mengerti dengan maksud dan tujuan dari pembicaraan wanita dihadapannya ini.


“Kamu suruh dia pulang dan tidak kembali lagi ?” Tian seperti masih mencoba mencerna pernyataan tersebut.


Arini menganguk pelan.


“Jadi.. kamu menyuruhnya berhenti bekerja ?” mulai bisa menyimpulkan.

__ADS_1


Arini menganguk lagi, kali ini ia langsung menunduk dalam, menghindar dari tatapan Tian yang mulai terlihat berang.


Tian meraup wajahnya dengan ekspresi kesal, kemudian menatapnya lagi dengan tajam. “Apa yang sudah kamu lakukan, Arini ? Kalau kamu menyuruhnya berhenti lalu siapa yang akan mengurus pakaian saya dan semua kebutuhan saya nantinya..”


“Saya.”


“Apa ?”


“Kan ada saya, Pak..”


Tian sontak melotot mendengarnya, refleks menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Tidak.. tidak..”


“Saya bersungguh-sungguh, Pak Tian, biarkan saya yang mengurus semuanya. Toh di apartemen semuanya sudah tersedia termasuk mesin cuci, lalu untuk apa lagi bu wati ?”


‘Benar juga..’


Tian membatin. Tian baru ingat kalau di apartemennya memang tersedia semua peralatan termasuk mesin cuci otomatis yang sejak awal dibeli sampai sekarang tidak pernah sekalipun Tian gunakan.


Baiklah.. jadi Arini sudah mencuci pakaiannya.. dan apakah itu berarti.. underwearnya juga..?


Tian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mengingat hal tersebut pastilah sudah dilakukan Arini.


Pantas saja seingat Tian tadi ia memang tidak menemukan tumpukan pakaian kotornya yang biasanya tertumpuk di keranjang pakaian kotor yang ada dekat pintu kamar mandi.


“Sudah saya bilang dari awal kamu tidak perlu melakukan apa-apa.”


“Tapi itu tidak mungkin, Pak Tian,”


Tian melotot melihat Arini yang terus berusaha menyanggah setiap perkataannya. “Saya bilang tidak perlu. Jangan membantah !”


“Pak Tian.. bagaimana mungkin saya tinggal gratis di apartemen Pak Tian ini tanpa melakukan apa-apa..?”


“A-appa kamu bilang ??!” Tian terhenyak.


‘Apa dia bilang tadi ? tinggal gratis..?? demi apapun wanita ini benar-benar…’


Tian memijit keningnya sendiri saat menyadari ternyata memang tidak semudah itu menghadapi Arini, istrinya yang keras kepala, yang sering berucap diluar perkiraannya ini.


‘Jadi ini wanita penurut yang digembar-gemborkan nenek saat memintanya menikah kemarin ? wanita penurut apanya ?? cih.. bahkan sepertinya nenek sudah tertipu dengan wajah polos wanita yang tidak ada potongan penurutnya sama sekali ini..!'


Tian membathin seraya menggelengkan kepalanya.


“Kemarin kata Pak Tian, saya tidak perlu melakukan apapun untuk Pak Tian kan ? Tapi.. setelah saya pikir-pikir sepertinya saya juga tidak bisa tinggal begitu saja di apartemen tanpa melakukan apa-apa..”

__ADS_1


Arini berucap lirih, perlahan menunduk karena tak kuasa menatap wajah yang sudah dipenuhi aura gelap dihadapannya. Lagipula berlama-lama menatap sosok tampan itu pastinya akan berakibat yang juga tidak baik untuk kesehatan jantungnya jika ia masih ingin jantungnya berdetak dengan normal.


Tian sendiri merasa telah kehilangan perbendaharaan kata menghadapi Arini saat ini. Entah mengapa kesan yang ditangkap Tian bahwa Arini yang menempatkan dirinya benar-benar seperti seorang bawahannya pada


akhirnya justru membuat dirinya sendiri merasa tidak nyaman.


Akhirnya Tian hanya bisa menghembuskan nafas kesal sambil berucap dingin. “Baiklah, terserah kamu saja.”


Arini mendongak, “Terima kasih, Pak Tian..” ucapnya perlahan. Merasa lega.


Hening.


Arini kembali menunduk saat melihat Tian menyelipkan ponselnya kesalah satu saku celananya kemudian menyandarkan kepala sambil memejamkan kedua matanya. Seperti sengaja mengisyaratkan Arini bahwa ia tidak ingin diganggu lagi.


Melihat pemandangan itu, Arini pun serta merta memilih untuk mengalihkan pandangannya keluar, tatapannya menembus keluar jendela kaca mobil yang melaju tenang membelah malam di jalanan ibu kota. Mencoba untuk tidak mengusik seperti yang diinginkan Tian.


Sementara dibalik spion tengah lagi-lagi Sudir menjadi saksi bisu interaksi aneh sepasang suami istri yang baru saja menjalani biduk pernikahan yang sama sekali awalnya tidak dilandasi oleh cinta itu.. namun entah dengan endingnya..


XXXXX


Arini melangkahkan kakinya ragu-ragu kedalam kamar, mengekor setiap langkah sosok tubuh tinggi tegap dihadapannya yang hanya berjarak kira-kira dua langkah dari tubuhnya.


Setelah kejadian malam pertama mereka yang berakhir dengan Arini yang tidur di sofa kamar hingga pagi, dan beberapa malam yang berakhir dengan Arini yang kembali tertidur di sofa ruang tamu saat menunggu Tian yang tak kunjung pulang, sekarang Arini benar-benar tidak bisa menebak entah akan berakhir dimana lagi tidurnya malam ini.


Tian yang ada didepannya tidak kunjung bicara sejak mereka turun dari mobil dan tentu saja sikap dinginnya itu membuat Arini menjadi salah tingkah sendiri.


Arini ingin membuka obrolan ringan, tapi ia sendiri bingung harus memulainya dari mana. Alhasil sejak tadi ia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri seolah-olah dengan begitu ia bisa membagi keresahan hatinya.


Suara pintu kamar mandi yang tersentak kasar semakin merontokkan tulang belulang Arini. Tian baru saja masuk kesana sambil menutup pintu kamar mandi dengan sekali hentak.


Lelaki itu sepertinya sedang marah, tapi sungguh.. Arini benar-benar tidak tau apa yang menyebabkan Tian marah padanya ? dimana letak kesalahannya ?


.


.


.


Bersambung..


Haii.. teman-teman, demi meningkatkan perfoma author, jangan lupa untuk like dan comment disetiap bab, and vote yang banyak..


Bersambung.. Lophyu all… 🤗

__ADS_1


__ADS_2