
Arini melirik kesal lelaki disampingnya yang sedari tadi mengunyah keripik kentang tanpa henti dengan mata yang tidak lepas menatap televisi layar datar 55 inchi yang sedang menayangkan film perang lengkap dengan sound systemnya yang bising membuat kepala Arini semakin pening.
Tadi saat mereka makan siang Tian sudah melahap habis menu makanan sehat yang ia delivery khusus dari sebuah catering khusus kesehatan ternama. Dan setelah kenyang mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu weekend yang masih panjang dengan menonton film di home theatre yang ada di apartemen itu juga.
Tadi Arini dan Tian sempat berdebat kecil saat menentukan film apa yang akan mereka tonton namun seperti biasa
Arini yang tentu saja menyukai oppa-oppa korea yang ada pada drakor harus mengalah pada sang boss yang tidak terbantahkan ini, dan jadilah mereka menonton film hollywood bertema peperangan yang sama sekali tidak disukai
Arini.
Saat Arini mengeluarkan keripik kentang cemilan favoritnya lagi-lagi Arini kembali diceramahi Tian panjang lebar bahwa keripik kentang itu juga adalah salah satu makanan yang tidak baik untuk kesehatan.
Huhh.. tapi lihatlah sekarang.. bahkan bungkusan jumbo keripik kentang itu sudah sedari tadi berada dipelukan Tian.
Merasa sedang diperhatikan Tian menoleh kearah Arini. “Kenapa kamu ?” tanyanya tanpa dosa.
Arini menatap bungkusan keripik kentang dalam pelukan Tian sambil tersenyum masam. “Bukannya tadi Pak Tian yang bilang kalau ngemil itu tidak baik ?”
“Lho ? Memang tidak baik kan ?”
“Kalau tidak baik, lalu kenapa Pak Tian malah memakan semua cemilan saya itu sejak tadi ?”
“Ohh.. ini yah ?” tanya Tian sambil mengacungkan bungkus cemilan yang nyaris kosong itu dengan ekspresi wajah masih tanpa dosa. “Saya hanya tidak bisa menolak makanan, kan sayang saja sudah kamu siapkan tapi tidak saya makan..” berucap nyeleneh, matanya beralih kelayar televisi lagi.
“Bohong.”
“Apanya yang bohong ?”
“Kemarin-kemarin waktu saya tawarin makanan apapun selalu ditolak.”
Kunyahan Tian sontak terhenti, sedikit terhenyak mendengar kalimat yang terlalu berterus terang itu. “Bukannya kemarin saya makan mi instan yang kamu buat..?” kilahnya kembali acuh, sambil menatap layar televisi lagi.
Arini terdiam. Hanya menatap penuh lelaki dihadapannya itu yang masih asik menonton.
“Apa kamu tau kalau sebenarnya mi instan itu adalah makanan yang paling saya hindari selama ini..?”
Tidak menoleh, tapi Arini cukup terhenyak mendapati kalimat itu. “M-Maaf Pak..”
“Maaf untuk apa..?”
“Sudah membuat Pak Tian memakan apa yang sebenarnya paling Pak Tian hindari,” ucap Arini kemudian.
Hening sejenak.
“Arini..”
“Iya, Pak ?” mengangkat wajahnya ragu-ragu, tapi lagi-lagi tatapan Tian tidak padanya.
“Bisa tidak, mulai sekarang kita tidak perlu terlalu formil saat saling bicara..?”
Arini terdiam, tidak tau harus menjawab apa pertanyaan yang menurutnya sangat dalam maknanya itu namun justru diucapkan Tian dengan ekspresi yang begitu datar bahkan tanpa merasa perlu untuk menengok padanya.
“Berhenti bicara dengan menggunakan kata ‘Saya’. Dan berhenti memanggilku pakai embel-embel ‘Pak’ kalau diluar jam kerja.”
“Itu.. itu sepertinya tidak mudah..”
“Mudah saja. Masa tidak mudah ?”
“Tapi, Pak Tian.. saya..”
“Arini, sejujurnya aku selalu merasa kesal setiap kali mendengar kita saling berbicara formil seperti itu.”
Kali ini Tian menatap Arini. Seperti menegaskan saat dia sudah mengganti kata ‘saya’ dengan ‘aku’. Sedikit aneh
rasanya, tapi kalau Tian tidak memulai untuk membuatnya lebih sederhana.. Tian pun tidak yakin Arini bisa melakukan apa yang diinginkannya.
“Jangan panggil ‘Pak Tian’ lagi. Mengerti ?”
Arini menatap Tian bingung. “Lalu.. harus panggil apa ??”
Mendengar petanyaan polos itu sontak Tian menatap Arini. Ia berfikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum licik dalam hati. “Panggil ‘sayang’ juga boleh,”
“APPA ???!” nyaris tersedak.
Tian nyengir.
“Kenapa kaget ?? bukannya kamu juga harus membiasakan diri ? kamu lupa kalau Nenek sudah mengira bahwa kamu memang menyebutku dengan panggilan mesra seperti itu..?”
“T-Tapi..”
“Kamu bilang tidak suka membohongi nenek, kan ? Jadi memanggilku seperti itu bisa membuat daftar kebohongan kita kepada nenek berkurang satu.” kilah Tian semakin licik.
Arini tidak menyangka Tian bisa menjebaknya dengan perkataannya sendiri seperti itu.
“Minggu depan Nenek sudah kembali. Kamu sudah harus berlatih mulai sekarang.”
“Lalu Pak Tian akan memanggil a-aku apa ?”
“Apa maksudmu ? sudah jelas aku akan memanggil kamu seperti biasa. Namamu masih ‘Arini’ kan ? Atau kamu sedang berniat mengganti namamu seperti artis..?“
‘Curang,’
Dalam hati Arini mencibir.
__ADS_1
Karena Arini hanya diam, Tian memalingkan wajah kearahnya, berpura-pura mengerinyit saat mendapati ekspresi kesal diwajah wanita itu.
“Kenapa wajahmu seperti itu ?”
“Tidak apa-apa..!”
“Kamu mau aku panggil ‘Sayang’ juga yah..?” tanya Tian lagi dengan raut tanpa dosa, padahal ia memang sengaja mau menggoda.
Wajah Arini merah padam.
“Wahh.. sudah hobinya tidur sambil berjalan, sekarang mimpi minta dipanggil ‘Sayang’ ..” ledek Tian membuat wajah Arini semakin pias.
“Siapa juga yang mau dipanggil begitu ?”
“Lalu.. ?”
“Panggil saja Arini. Memangnya harus memanggil apa ?” Ia menyahut sebal.
“Jadi tidak mau yah..? ya sudah kalau tidak mau..“
Arini merutuk dalam hati.
‘Mau sih..’
Tapi hanya dalam hati Arini berani mengatakannya.
‘Cih..’
“Pak Tian..”
“Panggil ‘Sayang’.”
“Bagaimana bisa..”
“Bisa. Karena kalau tidak bisa maka aku akan memecatmu.” ancam Tian, pongah.
“Egh.. J-Jangan Pak.. “
Tian melebarkan matanya.
“S-Sayang..”
Tian tersenyum menang. “Kenapa ?”
“Sayang..” lagi-lagi.
“Kenapa..???”
“Haha..” Arini tergelak begitu saja, membuat Tian menatapnya heran. “Tidak apa-apa.. hanya berlatih saja.. ahaha..”
‘Wanita ini.. benar-benar..!’
Geram Tian merutuk dalam hati saat menyadari Arini masih sempat berfikir untuk membalas ulah usilnya dengan hal yang bahkan lebih usil.
“Berani sekali kamu. awas saja, kalau kamu sampai lupa dan tidak memanggilku ‘Sayang’ maka aku tidak akan segan menghukummu.”
“Memangnya seperti apa hukumannya ?“ Arini menatap Tian antusias, lagaknya seperti menantang.
Sejenak Tian berfikir keras, sebelum lagi-lagi menemukan sebuah ide licik yang cemerlang. “Ciuman,”
“Aku tidak mau dicium,” pungkasnya cepat.
“Memangnya siapa yang mau menciummu ?”
“Tadi katanya hukumannya ciuman,”
“Iya. Tapi kamu yang harus menciumku,” ucap Tian sambil tersenyum menang, membuat sepasang mata yang ada disampingnya sontak melotot.
“Aaa…! Kalau itu aku tidak mau..!”
“Baiklah, aku tinggal memecatmu, kan..?”
“Tidak.. tidak.. baik.. aku setuju.”
Lagi-lagi Tian tersenyum menang. Ternyata mudah sekali menyudutkan Arini. Cukup mengancam dia akan dipecat, dan wanita itu akan menurut dengan sendirinya. Haha.. !!
“Astaga.. filmnya sudah habis.”
Tian menoleh kearah layar televisi yang ditunjuk Arini. Tian terkejut saat melihat bahwa film yang ditontonnya sejak tadi benar-benar sudah berakhir. “Yang benar saja ? Kenapa sudah selesai..?”
Arini tertawa melihat ekspresi Tian yang sedang menggaruk kepalanya keheranan.
“oh ya.. aku harus keluar ke supermarket sebentar,” Arini berucap setelah menyadari bahwa hari mulai senja.
Tian tidak menyahut.
“Aku mau membeli bahan makanan sekalian mengisi kulkas untuk persediaan.”
Diam. Tidak merespon.
Arini menghela nafasnya berat. Mengumpulkan segenap kekuatannya sebelum akhirnya berucap lirih..
“Sayang..” panggilnya perlahan.
__ADS_1
Tian langsung menoleh. Tersenyum lebar terlebih saat melihat wajah yang bersemu merah dihadapannya itu.
“Ayo,” pungkas Tian, langsung bangkit dari duduknya dengan begitu bersemangat.
Arini menatap Tian bingung. “Mau kemana..?” tanyanya keheranan.
“Mau ke supermarket kan ?” tandas Tian dengan semangat empat lima.
Arini menganguk bloon melihat perubahan sikap Tian.
“Aku akan mengantarmu.”
“Mengapa harus repot-repot ? Memangnya Pak.. eh, kamu tidak punya pekerjaan lain..?”
Tian menatap Arini lekat. “Hanya boleh mengatakan ‘Sayang’, tidak boleh lagi ada kata ‘Pak’.” Ucap Tian dengan wajah datar. “Ingat itu. Aku memaafkanmu untuk yang terakhir kali,” tandasnya dingin, berlalu menuju pintu keluar dengan wajah masam.
Arini terhenyak mendapati ketidakadilan Tian.
‘Curang ! Bahkan lelaki itu bisa memanggilnya sesuka hati..!’
Rutuk Arini kesal namun dengan sigap ia langsung mensejajari langkah lebar Tian.
“Maaf, aku kan belum terbiasa,”
“Hhmm,”
“Maaf..”
“Hhmm,”
“Maaf sayang..”
Suara yang begitu lirih itu menyapa gendang telinga Tian, mengalir kerelung hatinya yang terdalam, menggelitik perutnya. Terdengar sangat manja namun Tian tau dengan pasti bahwa saat ini nada itu sedang tidak dibuat-buat.
Langkah lebar Tian mendadak terhenti, membuat langkah Arini ikut terhenti. Tian berbalik, menatap sosok Arini disampingnya yang berbalik menatapnya bingung saat menyadari tatapan Tian saat ini seperti mengeluarkan aura yang berbeda.
Entah setan apa yang mendorong Tian untuk serta merta mencondongkan wajahnya kearah Arini, secepat kilat menangkup wajah mungil itu dengan kedua tangannya, langsung mengecup bibir yang ranum itu.
Kedua bola mata Arini sontak terbelalak, tidak menyangka akan mendapati kejutan seperti itu dari Tian. Arini mematung, tubuhnya terasa kaku, lututnya seperti oleng tak bertenaga, namun detak jantungnya menggila didalam sana. Arini bisa merasakan dengan nyata bibir Tian terasa begitu lembut saat menyentuh bibirnya. Hangat, kenyal, dan membuatnya berdebar.
Tidak sampai tiga detik, tapi cukup membuat Tian merasa frustasi saat memutuskan untuk melepaskan bibir Arini dengan susah payah sesegera mungkin, sebelum ia melakukan hal bodoh yang lain.
Arini yang terlihat masih terkejut dengan apa yang dialaminya masih berdiri mematung. Fikiran Arini benar-benar blank saat menyadari bahwa Tian sudah mengambil ciuman pertamanya barusan, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa matanya sudah berkaca-kaca.
“Kamu menangis ?” Tian menatap Arini sedikit bingung.
“Tidak,” Arini membuang pandangannya, menghindar dari tatapan Tian yang seolah ingin menginterogasi apa isi yang ada didalam fikirannya saat ini.
“Barusan ciuman pertamamu, yah ?” tanya Tian lagi dengan nada curiga.
“Tidak !”
“Tidak ?” ulang Tian. Dahinya serentak mengerut.
“Sebelumnya aku sudah sering melakukannya !” bantah Arini, tentu saja berbohong.
“Sering ??”
“Tidak.. tidak.. maksudku sebelum ini aku sudah pernah..” Arini semakin gugup.
“Jadi aku bukan yang pertama ?”
“Tidak.. maksudku..”
Tian tersenyum. Menangkup lagi wajah mungil itu yang tentu saja gelagapan mendapati perlakuan Tian. Wajah mereka begitu dekat, Tian menatap dalam kedua bola mata Arini, seinchi demi seinchi mendekatkan wajahnya.. sengaja bergerak perlahan seperti memberi kesempatan Arini mengambil keputusan atas ulah nekatnya.
Tian bersumpah jika saat ini Arini menolaknya maka Tian tidak akan memaksa. Namun sebaliknya.. sumpah demi apapun, Tian sudah memutuskan, bahwa jika Arini membiarkannya maka setelah ini semuanya pasti tidak akan pernah lagi sama.
Tian merasa seperti sedang berjudi dengan waktu, tiba-tiba Arini mencengkeram kedua lengannya, tapi kemudian berhenti sampai disitu. Tidak menolak dan tidak mendorong, Tian hanya merasa cengkeraman itu semakin kuat seolah ada gelisah yang ingin dibagi disana.
Seinchi demi seinchi, sedetik demi sedetik kesempatan yang Tian berikan kepada Arini.. Tian menatap lekat sepasang mata itu lagi yang balas menatapnya, sedikit gelisah, sedikit gugup, namun begitu teduh. Nafas Tian memberat.. entah tidak bisa menunggu lebih lama.. entah takut mendapati penolakan.. Tian melabuhkan kembali bibirnya diatas bibir Arini tanpa berfikir dua kali.
Sejenak hanya merasakan kehangatannya.. namun lama kelamaan menjadi serakah.. mulai menguasai.. ingin mencuri semuanya..
Seperti yang pertama, kali ini lagi-lagi Tian merasa frustasi saat memutuskan untuk menuntaskan sentuhannya dengan susah payah.
Tian tersenyum melihat Arini yang hanya menunduk tanpa berani mengangkat pandangannya. Pipi Arini terlihat bersemu merah jambu.
“Aku yang pertama untukmu kan ?” bisik Tian mengintimidasi, begitu mendapati keyakinan bahwa dia satu-satunya pemilik wanita ini.
Bibir Arini kelu.
“Dan aku juga yang kedua..” ujarnya sambil tersenyum lembut namun penuh kemenangan saat mendapati sepasang bola mata Arini yang bergerak gelisah.
Tian yang akhirnya menjadi tidak tega membuat Arini jengah semakin lama, memutuskan untuk kembali menarik wajahnya. Masih dengan senyum saat ia mengacak kecil rambut Arini sebelum beranjak keluar.
“Ayo kita ke Supermarket, keburu malam nantinya,” ujar Tian santai tanpa menoleh, tapi Tian tau bahwa Arini sudah ada di belakangnya, mengikuti langkah kakinya yang terayun ringan.
Senja hampir pergi saat mereka tiba di lobby apartemen Tian, cuaca diluar begitu syahdu.. seolah alam tau bahwa harus mengakhiri hari ini dengan indah.. karena hari ini begitu manis.
Bersambung..
Uwwwwuuuu….!!!
__ADS_1
Chiee.. yg lagi senyum2 sendiri abis baca yg uwwwu..😅 Semoga senyum kalian bisa nular ke author yah.. (Bodo amat dahh.. mau dibilang vulgar 🤣. ya enggaklah.. ini masih batas wajar koq yah..😂).
Terimakasih atas semua support kalian.. Lophyuu all.. 😘😘😘