
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 👍
.
.
.
Ini adalah kali kedua Tian menjadi saksi pernikahan dihari yang sama. Tadi pagi pernikahan Rico dan Meta, malamnya pernikahan Rudi dan Laras.
Tian sebenarnya sangat menyesali keadaan yang terjadi, karena dari kedua pernikahan itu tidak ada satu pun pernikahan yang terbangun atas dasar cinta.
Seharusnya setiap pernikahan merupakan moment yang membahagiakan. Namun entah kenapa Tian malah tidak pernah sekali pun mengalami moment manis selayaknya orang lain, karena moment pernikahannya sendiri yang buruk.. dan lebih buruk lagi karena ditambah dengan moment-moment pernikahan orang-orang disekitarnya yang juga tak kalah buruk.
Padahal seharusnya sebuah pernikahan sepatutnya dilandasi oleh keyakinan yang benar-benar ingin membangun sebuah biduk rumah tangga yang sebenarnya, bukan hanya merupakan pernikahan yang berkedok, yang tidak lepas dari kecurangan dan manipulasi semata.
Pembicaraan Tian dan Rudi di penghujung sore itu kembali melintas di benak Tian, dimana dirinya gagal mengubah pandangan Rudi, yang meskipun tidak bisa lagi mengelak dari keinginan Tian.. namun tetap bersikeras dengan pendiriannya yang tidak bisa menjalaninya dengan ikhlas.
“Rudi, kamu bahkan tau sendiri bahwa aku yang melakukan kesalahan, bukan Laras. Kelemahan Laras hanya satu, ia tidak pernah bisa menolak, dan selalu mengkiblatkan dirinya pada Saraswati Djenar tanpa syarat. Lalu bagaimana mungkin kamu bisa berfikir untuk membalas sesuatu yang semata-mata bukan kesalahannya, dengan melakukan hal buruk seperti ini tanpa berfikir dua kali ?”
Saat itu Rudi terdiam lama, sebelum akhirnya masih dengan kepala tertunduk ia mengucapkan kalimat yang bisa membuat Tian menelan semua perbendaharaan kata yang hendak keluar dari mulutnya.
“Karena kalau saya tidak mencuranginya, lama atau cepat.. Laras bisa menyakiti hati ibu Arini juga..”
Mendengar itu Tian terdiam lama. Tian harus mengakui, Rudi tidak sepenuhnya salah. Tian bisa mengerti mengapa saat ini Rudi bisa sekeras kepala sekarang, meskipun Tian telah mengakui bahwa semua yang pernah terjadi sama sekali bukan kesalahan Laras, namun Rudi tentu saja tidak mau menyalahkan dirinya hanya agar Laras bisa berada di posisi yang benar.
Dalam pergolakan bathinnya, Rudi tetap bersikeras dengan keyakinannya. Yang Rudi tau seumur hidupnya ia telah mengabdi pada seorang Sebastian Putra Djenar. Bagi Rudi, sosok Tian adalah segalanya. Rudi tidak akan pernah segan melakukan apapun demi Ceo Indotama Group itu.
Bisa jadi dirinya seperti terobsesi. Tapi setelah melewati keseluruhan hidupnya yang hanya dipenuhi dengan kesengsaraan, kenyataannya dirinya selalu saja merasa menjadi satu-satunya orang yang memikul kesalahan.
Seperti saat kebaikan Saraswati Djenar yang tidak bisa ia pungkiri.. namun tetap saja Rudi mendapat perlakuan yang berbeda, dari semua orang yang berada disekitarnya.
__ADS_1
Laras selalu menjadi kesayangan Saraswati.. mungkin karena pada kenyataannya sepeda motor yang ditumpangi kedua orang tua Laras yang terpental adalah karena tumbukan yang keras dari mobil yang dikendarai Sigit Putra Djenar, ayah Tian. Sedangkan sebaliknya, mini bus yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya, merupakan biang kerok penyebab hilangnya kendali mobil yang ditumpangi kedua orangtua Tian.
Namun terlepas dari semua ketidak-adilan itu, Tian adalah satu-satunya orang yang memberinya keadilan, sehingga ia tidak lagi diperlakukan buruk sejak Tian berdiri menjadi tamengnya dalam menghadapi kecaman semua orang yang terus menyalahkan hidupnya, atas hilangnya nyawa seorang Sigit Putra Djenar.
Bahkan saat pertama kali mengetahui dirinya menderita Post Traumatic Syndrome Disorder, Tian rela menemani Rudi melalui berbagai theraphy dan pengobatan dalam kurun waktu yang tidak singkat, bahkan hingga beberapa tahun lamanya.
Setelah semua pembicaraan itu hanya mengalami kebuntuan.. pada akhirnya ijab qabul tetap terlaksana.
Rudi memang harus melakukannya dengan baik.. hanya karena itu permintaan seorang Sebastian Putra Djenar saja.
Kemudian setelah prosesi akad nikah yang seadanya itu selesai.. tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Rudi dan Meta untuk kembali berperang urat syaraf. Ada-ada saja hal yang selalu membuat mereka berselisih pendapat.
Kedua pasang suami istri yang baru disah-kan oleh penghulu itu bahkan harus berdebat dengan sengit terlebih dahulu hanya karena keduanya berkeras hati untuk pulang ketempat kediaman masing-masing. Yang diakhiri dengan keputusan Laras yang memilih pulang ke rumahnya, sedangkan Rudi juga keukeuh untuk kembali ke apartemen.
Tian yang bahkan tidak tahan lagi dengan perdebatan yang entah kesekian kalinya itu akhirnya memilih meninggalkan dua makhluk menyebalkan itu, yang sepertinya jika saja ada orang yang mau membekali mereka masing-masing dengan sebilah pisau ditangan.. maka mereka berdua mungkin akan saling membunuh satu sama lain pada detik itu juga.
“Sayang, kamu yakin akan meninggalkan mereka berdua begitu saja seperti itu ?” Arini sampai tergopoh-gopoh mengimbangi langkah lebar Tian yang telah memasuki kamar mereka dilantai dua.
“Lalu aku harus apa ? menjadi wasit diantara pertengkaran mereka ?”
Tidak sampai se-menit kemudian Tian telah keluar dengan bertelanjang dada, menyisakan celana boxer yang melekat ditubuhnya. Ia mendekati Arini yang masih berdiri ditempat semula dan begitu sampai langsung mengangkat tubuh istrinya itu begitu saja yang tak ayal langsung memekik kaget.
“Sayang..! kamu ini apa-apaan..”
Pemberontakan yang disertai kalimat protes Arini tidak berarti apa-apa karena Tian tidak bergeming sama sekali, terus mengangkat tubuh Arini, menggendongnya ala-ala bridal style, yang sudah bisa ditebak kemana arah tujuannya.
Kemana lagi kalau bukan berakhir dengan menaruh tubuh istrinya diatas peraduan dengan ukuran big size..?
Tian ikut menyusul disana.. dan tanpa aba-aba langsung melu mat dengan ganas.
Mereka menyatu sekian lama, saling melengkapi dan berbagi rasa dahaga dan keinginan yang menggelora.
“Dipenghujung hari ini.. tolong jangan lagi membahas dua makhluk absurd itu. Sudah cukup seharian ini otakku sakit mendengar pertengkaran mereka..” berucap sambil kembali menyatukan diri, memberi signal bahwa ia sedang menginginkan pelepasan atas semua ketegangan yang sudah ia hadapi seharian ini.
Arini sama sekali tidak keberatan atas keinginan Tian, namun saat mengingat kejadian-kejadian apa saja yang telah terlewat entah kenapa tiba-tiba Arini merasa lucu dan akhirnya tertawa disela-sela gelora asmara yang tegangannya semakin lama semakin meningkat. Tawa Arini yang tak tertahan membuat Tian kehilangan konsentrasi-nya dalam usaha mencumbu wanita itu.
__ADS_1
“Bisa-bisanya kamu tergelak disaat seperti ini..” protes Tian seraya mengambil jarak, menatap Arini dengan sebal.
“Maaf sayang.. maaf.. tapi aku sungguh tidak bisa menahannya..” ucap Arini kegelian disela-sela tawanya yang terpingkal. Arini bahkan merasa perutnya mulai sakit saking banyaknya ia menahan tawa.
“Hhhuffh..!”
Nafas Tian terhembus, semakin gondok.
“Maaf sayang.. tapi coba kamu pikir, apa tidak lucu melihat mereka ? dengan keadaan yang terus bertengkar seperti itu.. bisa-bisanya mereka mampu khilaf sampai berkali-kali.. hahaha..” Arini tergelak lagi. “Semua itu benar-benar lucu, kan..? astaga.. aneh sekali.. karena setelah dipikir-pikir ternyata mereka sangat manis..”
Mendengar semua celotehan Arini bukannya membuat Tian merasa lucu sesuai harapan wanita itu, namun yang ada wajah Tian semakin mengeras kesal.
“Apanya yang aneh ? yang aneh itu justru dirimu ! aku sudah berusaha sekuat tenaga menyenangkanmu.. kamu malah sibuk memikirkan kekhilafan Rudi dan Laras. Memangnya kamu sedang membayangkan apa ?! membuatku muak saja..!!” dumel Tian, wajahnya semakin merona merah saking kesalnya.
“Egh..??” Arini terhenyak mendapati jika Tian ternyata benar-benar marah. Lelaki itu bahkan sudah menarik dirinya sepenuhnya dan langsung tidur terlentang menatap langit-langit kamar dengan wajah yang cemberut.
Arini mengulum senyum memandangi pemandangan tersebut. Menyadari kesalahannya yang telah lancang memikirkan hal konyol disaat Tian sedang bersemangat membuat arini tanpa berfikir dua kali langsung memeluk dada bidang itu dengan manja, sengaja menguyel-uyel wajahnya kesana kemari didada yang sedang te lan jang.
Tak tahan dengan perlakuan Arini membuat Tian bangkit dan langsung menelentangkan tubuh wanita yang sengaja berbuat hal menggemaskan itu pada tubuhnya. Kelopak mata Arini bergerak-gerak indah dibawah kungkungan Tian dengan sinarnya menyorot sayu saat menyadari umpannya berhasil dimakan dengan sempurna.. sehingga senyumnya terbit dengan sumringah, membuat Tian tidak tahan lagi untuk merampas semua senyum itu langsung pada sumbernya.
Pertautan itu sungguh nikmat, dengan intensitas kein timan dan kemesraan yang terus meningkat dengan ber-irama.
Sementara malam masih teramat sangat panjang..
Seolah sangat mengerti, bahwa dua insan yang sedang dimabuk asmara itu memang memerlukan pagi yang lama menyapa.. agar bisa menuntaskan segala kerinduan..
.
.
.
Bersambung..
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1