
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.
.
.
.
Pagi ini, seusai sarapan Tian memilih berdiri di balkon, menghirup kesegaran udara pagi di villa tua peninggalan kedua orang tuanya yang pada beberapa tahun terakhir ini tidak pernah ia datangi lagi.
Ini adalah kali pertama Tian mengajak Arini dan Sean menghabiskan weekend di villa tua ini.. seraya mengemban sebuah misi. Misi yang sejak kemarin terus bergelayut dibenaknya tentang bagaimana caranya, dan harus darimana dia akan memulai kejujurannya, karena bahkan hingga detik terakhir kepulangan mereka ke ibukota.. Tian bahkan belum mendapat jalan keluar yang tepat meskipun dengan sengaja mengajak Arini dan Sean ke tempat ini merupakan starting point yang bagus, karena ia berhasil menggiring pemikiran Arini dan lebih membuat istrinya selangkah lebih dekat dalam memahami jalan berfikirnya.
Sayup-sayup terdengar suara lucu Sean yang sedang berpamitan dengan Arini tepat di bingkai pintu.
“Bye mommy..” Sean melambaikan tangannya yang mungil setelah mendaratkan kecupan di pipi Arini.
“Bye, sayang.. jangan nakal yah,”
Sean terlihat menganguk bersemangat sebelum akhirnya mengalungkan tangan mungilnya dileher mang Cipto yang sedang menggendongnya. Bocah itu terlihat sangat bersemangat karena pagi ini mang Cipto akan membawanya melihat peternakan sapi milik keluarga Djenar yang berada kurang lebih tiga ratus meter dibelakang bangunan villa.
“Hati-hati yah, mang..” Arini mengingatkan. “Beni juga ikut kan ?” tanyanya lagi memastikan bahwa salah satu pengawal senior keluarga Djenar akan turut serta menemani putranya.
“Iya, bu.. itu pak Beni sudah menunggu dibawah..” angguk mang Cipto seraya memberitahu.
“Ya sudah.. kalau begitu hati-hati.. dan.. Sean.. inget pesan mommy..”
“Jangan nakal kan momm ?” menatap Arini dengan tatapan jenaka membuat Arini tertawa kecil seraya mengangguk, melepas kepergian buah hatinya yang sudah tidak sabar untuk berlalu.
Setelah percakapan kecil didepan pintu kamar itu usai dengan berlalunya mang Cipto yang menggendong Sean, Arini pun kembali kedalam kamar, menghempaskan tubuhnya perlahan agar bisa duduk ditepian ranjang, mengawasi wanita paruh baya yang sedang larut dalam kesibukan membereskan meja bekas sarapan mereka.
Tian melirik sejenak kedalam kamar, diam-diam mengawasi saat bik Wati telah selesai membereskan kembali bekas sarapan dengan menaruh beberapa gelas terakhir yang tersisa diatas meja keatas nampan. Terhitung ini adalah kali kedua bik Wati mondar-mandir dapur dan kamar yang ada dilantai dua ini guna membereskan sisa-sisa peralatan makan yang dipakai untuk sarapan mereka pagi ini.
“Saya permisi kebawah dulu bu Arini, nanti kalau ada yang diperlukan kasih tau bibik saja..” bik Wati berucap ramah sambil berniat meraih nampan diatas meja, untuk dibawanya keluar.
“Iya, terimakasih, bik.. mmh.. bik..” panggilan Arini mampu membuat gerakan bik Wati urung, dan membuatnya balik menatap Arini terlebih dahulu.
“Iya, bu Arini, ada apa ?”
“Mmh.. sepertinya.. sepertinya.. saya harus minta maaf..” Arini berucap seraya menatap bik Wati.
“Minta maaf ? tapi.. minta maaf kenapa, bu Arini ?” alis bik Wati terlihat mengerinyit.
“Tiga tahun yang lalu.. saya sudah begitu tega memecat bibik begitu saja. Saya minta maaf yah, bik..” Arini berucap sungguh-sungguh dengan nada penyesalan yang kentara, dan semua itu diam-diam tak lepas sedikit pun dari pengawasan Tian.
__ADS_1
“Oh itu.. tidak apa-apa, bu Arini.. lagipula setelah itu besoknya pak Rudi langsung menghubungi
saya dan menawarkan pekerjaan untuk menjaga villa ini..”
Arini terhenyak mendengarnya. “Benarkah..?”
“Memangnya selama ini bu, Arini.. tidak tau..?” balik bertanya dengan raut wajah bingung.
Arini menggeleng. “Tidak.. saya malah kaget saat melihat bibik ternyata berada ditempat ini..” ucap Arini dengan jujur.
Arini memang kaget karena saat mereka tiba pada sabtu sore ia malah bertemu bik Wati yang berdiri diteras villa bersama suaminya mang Cipto, menunduk takjim saat menyambut kedatangan mereka.
Arini yang
menatap takjub bik Wati dan Tian berganti-ganti hanya bisa mendapatkan senyum datar suaminya yang seperti bisa menebak dengan pasti sekian banyak pertanyaan yang sudah membuncah dibenaknya, perihal kenapa wanita paruh baya yang bekerja paruh waktu mengurusi segala keperluan di apartemen Tian tiga tahun lalu tiba-tiba bisa berada di villa ini.
“Iya, bu Arini, saya sangat berterima kasih, karena dengan menjaga villa ini akhirnya saya dan suami saya tidak lagi bingung memikirkan membayar kontrakan setiap bulan. Gaji kami juga sangat memuasakan, dan dengan gaji yang diberikan kepada kami.. anak saya bisa sekolah tanpa hambatan, yang paling besar malah sudah masuk es em u..” kilah bik Wati lagi dengan wajah yang berseri-seri.
“Ohh.. syukurlah kalau semua kejadian itu akhirnya malah benar-benar bisa membantu perekonomian keluarga bibik menjadi lebih baik..” Arini menarik nafas lega meskipun didalam hatinya ia terhenyak. Ia benar-benar tidak menyangka bisa mendengar kisah seperti ini dari orang yang sudah ia pecat begitu saja pada tiga tahun yang lalu.. bahkan disaat itu dirinya belum dianggap siapa-siapa oleh suaminya sendiri.
“Baiklah, bu Arini.. saya pamit dulu.. mau beresin dapur..”
“Oh iya bik.. silahkan..”
Dan bik Wati akhirnya benar-benar beranjak keluar setelah mengatupkan kembali daun pintu.
Arini memalingkan wajahnya kearah balkon, mendapati suaminya yang menawan sedang berdiri disana, mengawasinya dengan senyum terkulum.. entah sejak kapan.
terus menatapnya nyaris tanpa berkedip.
“So..?” alis Tian terangkat saat wajah mereka tepat berhadap-hadapan.
“Kenapa tidak pernah mengatakannya..? kenapa tidak pernah bilang kalau setelah aku memecat bik Wati, besoknya kamu menyuruh Rudi mencarinya dan memberikan pekerjaan yang lebih layak dari sebelumnya..?”
“Aku lupa.” berucap datar seperti tidak ada yang istimewa.
“Apa ??!” Arini melotot mendengar jawaban acuh yang diucapkan sambil nyengir itu.
“Lagian bukan hal yang penting. Untuk apa dibahas ?”
Arini terdiam, tapi sepasang matanya terus menatap lekat Tian yang malah terheran dengan ekspresi Arini.
“Kenapa melamun ?” tanya Tian semakin bingung saat menyaksikan Arini yang tak kunjung bicara.
Arini mengangkat sebelah tangannya guna mengelus lembut rahang Tian yang terasa mulai sedikit kasar. Tatapannya juga semakin melembut seiring dengan jemarinya yang terus mengusap tanpa henti. “Sayang.. aku merasa buruk..”
Tian menggeleng perlahan, menandakan ketidak setujuannya dengan pernyataan Arini barusan saat menilai dirinya sendiri. Tian meraih jemari Arini yang masih berada dipelipisnya, menggenggamnya untuk kemudian ia kecup perlahan.
__ADS_1
“Sungguh, aku merasa buruk.. aku memecat bik Wati pada waktu itu tanpa memikirkan lebih dahulu bahwa aku telah memutus mata pencahariannya, aku hanya sibuk memikirkan diri sendiri agar bisa menjadi seseorang yang berguna agar bisa terlihat olehmu.. sedangkan kamu selalu saja sangat baik meskipun kamu tidak pernah mengatakannya. Sayang, kamu seperti tidak pernah bisa menyakiti orang lain, sementara hatiku selalu saja tidak sepeka dirimu..”
“Jangan menilaiku terlalu tinggi, karena aku takut mengecewakanmu,”
“Tapi kamu tidak mungkin mengecewakanku..”
“Bagaimana kalau alasannya adalah bukan karena hatiku yang memiliki empati, dan aku tidak sebaik yang ada difikiranmu..? dan bahwa aku juga mempunyai keburukan.. yang mungkin saja kamu belum menemukannya..?”
“Aku yakin aku tidak akan menemukannya..”
“Tiga tahun yang lalu kamu pernah bilang.. bahwa jika aku mengecewakanmu maka kamu akan menghilang..”
“Sayang.. aku bahkan hampir lupa pernah mengatakan hal itu padamu sementara kamu ternyata mengingatnya dengan jelas. Apa kalimatku itu telah mengganggumu sekian lama.. ?”
Arini nyaris tertawa saat mengatakannya, ia merasa lucu saat teringat moment tersebut sampai luput memperhatikan warna wajah Tian yang berubah.
“Maafkan aku yang telah membuatmu terus memikirkan kalimat itu selama tiga tahun ini. Sungguh aku tidak pernah menyadari bahwa kalimat konyolku itu akan mempengaruhimu sedemikian rupa. Maaf kan aku sayang..” Arini berucap panjang lebar dengan tatapan penuh penyesalan.
Tian masih membisu sambil mengusap wajahnya perlahan, hanya kedua matanya yang terus menatap gerak-gerik Arini tanpa berkedip.
“Lagipula sepertinya kalimatku waktu itu tidak seperti itu..” Arini terlihat menerawang.. seolah ingin mengumpulkan serpihan ingatan masa lalu yang terasa mengabur. “Aku mengatakan akan menghilang.. kalau kamu merayu gadis lain..” bisiknya setelah menemukan kembali momen yang ingin diingatnya kala itu.
“Kalau aku tidak merayu, tapi aku melakukan kesalahan..? apa.. aku bisa dimaafkan ? apa kamu berjanji tidak akan menghilang..?”
“Dalam berumah tangga.. melakukan kesalahan adalah hal yang sangat menyakitkan, yang tidak akan pernah bisa dibenarkan. Tapi manusia biasa adalah tempatnya salah dan khilaf..” Arini malah menatapnya lembut. “Hatimu adalah satu-satunya tempatku untuk pulang. Aku tidak akan pernah bisa kemana-mana.. sekalipun aku benci..”
Tian menelan ludahnya. Mendengar kalimat itu seharusnya hatinya menjadi lapang kan ? tapi entah kenapa yang Tian rasakan adalah sebaliknya.. dadanya semakin terhimpit.. sampai ketika sebuah remasan lembut ditangannya mengembalikan kesadaran Tian, dan kalimat yang terucap setelahnya ibarat bom waktu yang telah meledak, yang dalam sekejap meluluh lantakkan setiap bilik hatinya..
“Sayang jujurlah..”
Nafas Tian tercekat saat menemukan sepasang mata Arini yang teduh mampu menembus ulu hatinya yang terdalam.
“Aku tau kamu sudah membohongiku sejak lama.. dan aku pun sudah menunggunya cukup lama. Tiga tahun.. tapi aku terus menunggunya. Aku terus menunggu hingga waktunya tiba..”
Dan telaga yang awalnya tenang milik Arini telah berubah menjadi sebuah anak sungai.. yang terus mengalirkan bening tanpa bisa tercegah..
.
.
.
Bersambung..
Tolong di Like,
Tolong di Comment,
__ADS_1
Tolong di Vote..,
Thx and Lophyuu para kesayangan author yang kece.. 🥰🥰🥰