
Ramaikan yuk :
TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
dan
PASUTRI
.
.
.
Pertemuan antara Tian dan seorang investor dari luar negeri di co-working space Hotel Mercy berjalan dengan lancar.
Meta yang saat itu mendampingi Tian sejak awal terlihat membenahi beberapa dokumen yang tersisa diatas meja, usai sang investor meninggalkan tempat tersebut.
Tian melirik jam tangannya sekilas. "Meta.."
"Iya, Pak..?"
"Sepertinya aku tidak akan kembali kekantor pusat lagi karena sore ini Arini ada jadwal check up kedua dengan dokter Rina.."
"Baik Pak, tidak apa-apa. Biar aku saja yang akan kembali kekantor pusat dan membenahi semuanya.." ujar Meta seraya menunduk takjim.
Tian mengangguk, dan detik berikutnya ia telah terburu-buru melangkah untuk beranjak dari tempat itu terlebih dahulu, meninggalkan Meta yang masih saja sibuk mengumpulkan sisa-sisa dokumen yang bertebaran diatas meja.
Usai semua dokumen terkumpul dalam satu map file berwarna biru navy Meta pun langsung meraih tasnya yang ada diatas kursi dan memutuskan untuk beranjak dari co-working space sambil memeluk map file didadanya. Menuju kearah lift yang terletak di sisi kanan.
Begitu pintu lift terbuka Meta bergegas masuk kedalam bilik lift dengan langkah yang ringan, memilih berdiri disudut panel agar memudahkannya menekan angka satu, langsung menuju lobby, manakala seorang pria tua dengan penampilan yang rapi ikut masuk kedalam bersamanya sambil menekan angka tiga yang ada di panel yang sama.
Selanjutnya lift tersebut mulai bergerak turun perlahan dalam suasana hening, yang tiba-tiba terusik dengan suara rintih yang tertahan.
Refleks Meta menengok kesamping, mendapati pria tua itu sedang menekan bagian tubuh yang merupakan letaknya ulu hati. Ia nampak sedikit meringis, sambil mencoba mengatur nafasnya agar tidak memburu.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Meta tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya, terlebih saat menyaksikan seraut wajah yang seolah menahan nyeri.
"Tidak, tidak apa-apa.. sepertinya asam lambung saya sedang kambuh karena tadi saya lupa meminum obat.."
Meta tertegun ditempatnya, bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia hanya berdiri mematung menyaksikan pria itu yang meskipun sedang menahan nyeri namun terlihat mencoba tersenyum kearahnya, seolah ingin meyakinkan kepada Meta bahwa dirinya baik-baik saja.
Ting.
Bunyi pintu lift terbuka terdengar memecah keheningan.
"Saya permisi dulu, Nak.." ujar pria tua itu ramah sambil berjalan tertatih, masih dengan sebelah tangan yang menekan ulu hatinya.
"Saya akan mengantar anda.." langkah kaki Meta terayun begitu saja, keluar dari lift, ia memutuskan beranjak beranjak keluar, mengikuti langkah pria tua yang menatap heran melihat keputusannya. Sementara pintu lift yang ada dibelakang telah tertutup kembali.
"Tidak perlu repot-repot.. itu kamarnya ada disana.." sambil menunjuk kearah deretan pintu kamar yang berjejer.
"Tidak apa-apa, Tuan, saya akan tetap mengantar Tuan sampai kesana.." ujar Meta bersikeras, ia langsung menyingsingkan rasa risihnya dan langsung mengamit lengan pria itu yang entah kenapa wajahnya terkesan familiar.
__ADS_1
'Aku seperti pernah bertemu dengan Tuan ini. Tapi dimana yah..?'
Meta membathin dalam hati sambil memutar otak, namun ia terus menuntun pria tua itu kearah pintu kamar yang dimaksud.
"Maaf, Tuan.. tapi kalau boleh tau anda disini bersama siapa?"
"Istri saya ada dikamar. Tadi saya baru saja bertemu dengan salah satu rekan bisnis di co-working space, saking terburu-burunya saya lupa meminum obat asam lambung yang rutin saya konsumsi.."
"Oh.. syukurlah kalau Tuan bersama istri. Saya hanya khawatir kalau Tuan sendirian disaat sedang tidak enak badan seperti ini." Meta mengangguk lega. "Oh ya.. perlu saya panggilkan dokter?"
Sosok itu terlihat menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Tidak.. tidak perlu. Nanti sesampainya dikamar saya akan menyuruh istri saya untuk menelpon dokter pribadi keluarga kami.."
Meta manggut-manggut mendengarnya. Karena keasikan berbincang tanpa sadar mereka telah berada didepan pintu kamar nomor 307, yang merupakan pintu kamar yang dimaksud.
Pria itu nampak mengeluarkan cardlock dari saku jasnya dan menempelkannya pada kotak sensor yang ada sehingga pintu tersebut sontak terbuka.
"Terima kasih telah bersedia membuang waktu mengantarkan saya, Nak.."
"Tidak apa-apa, Tuan.." Meta membalas senyum lembut itu dengan senyum yang sama. Dirinya hendak berlalu manakala suara seorang wanita terdengar dari dalam kamar.
"Ayah..? Ayah bicara dengan siapa..?"
Seorang wanita tua dengan wajah dan penampilan elegan muncul begitu saja dibingkai pintu, langsung terhenyak begitu mendapati wajah Meta.
Meta sendiri juga mengeluarkan respon yang sama. Wanita tua dihadapannya ini..
Omegattt..!!
Meta terhenyak. Pantas saja sejak tadi ia merasa familiar dengan wajah pria tua ini.
Bagaimana mungkin ia tidak mengenalinya..? wajah kedua orangtua ini tentu saja sangat familiar, karena wajah mereka bahkan menghiasi beberapa dinding rumah Rico dengan begitu anggunnya.
"Kamu..?!"
Yunita Wijaya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu mendapati Meta yang berdiri tepat dibingkai pintu kamar.
Ahmad Wijaya sendiri nampak menautkan alis, bingung menebak apa yang sebenarnya terjadi, mengapa dua wanita beda generasi dihadapannya ini nampak saling terkejut satu sama lain.
"Egh.. I-ibu..?" bibir Meta gemetar saat berucap. Ia refleks menundukkan pandangannya, terlebih saat menyaksikan wajah Yunita Wijaya yang merah padam dipenuhi amarah.
"Ibu, kamu mengenalnya..?" tanya Ahmad Wijaya masih dengan dua alis bertaut.
"Tentu saja aku mengenalnya. Wanita ini.. bagaimana mungkin aku melupakan wajahnya..?!" tiba-tiba saja Yunita Wijaya sudah merasa kesal bukan kepalang.
"Kamu ini bicara apa sih, Bu? coba jelaskan padaku.. apa yang sebenarnya terjadi..?"
Yunita Wijaya terlihat membisu, membuat Meta memberanikan diri mengangkat wajahnya sedikit. Kedua kakinya gemetaran tapi ia telah menguatkan tekadnya, saat dua wajah yang dikasihinya melintas dibenak.
"Ayah.. perkenalkan aku Meta, Armetha Wulansari.. aku adalah istri Rico, anak Ayah.."
XXXXX
"Pergi."
__ADS_1
"Ibu.."
"Aku bilang pergi..!"
Ahmad Wijaya nampak menarik nafas berat, seraya menatap istrinya yang sedang dikalahkan oleh emosi.
Padahal Yunita Wijaya telah berjanji untuk membuka hati, namun bertemu dengan istri Rico tiba-tiba tanpa menyiapkan hati terlebih dahulu rupanya menggoyahkan kekuatan yang tengah dibangun Yunita Wijaya dengan susah payah.
"Ayah, kenapa dia bisa ada disini sih..?" sepasang matanya menatap suaminya nanar.
Meta mencoba menggerakkan lidahnya yang kelu. "Ibu, maafkan aku.."
"Diam kamu..!"
Meta buru-buru menunduk. Nyalinya semakin ciut, lututnya semakin goyah, tapi ia menahan semuanya dengan sekuat tenaga, terlebih air matanya.
"Tenangkan dirimu. Tadi Meta hanya membantu Ayah karena asam lambung Ayah sepertinya kambuh ini.."
Mendengar itu raut wajah yang awalnya geram langsung berubah seratus delapan puluh derajat menjadi teramat sangat khawatir. "Memangnya Ayah tidak minum obat..?"
"Ayah lupa.." pungkas Ahmad Wijaya ringan, membuat sepasang mata wanita itu melotot.
"Ayah ini..! kan sudah Ibu ingatkan sejak tadi, sebelum pergi minum obatnya dulu..!"
Meta terdiam mengawasi wanita yang tak lain adalah Ibu Rico itu, mengomeli Ayah Rico yang malah terlihat santai saja menanggapi omelan tersebut.
"Sudah, jangan mengomel.. nanti lambung Ayah tambah sakit.." ujar Ahmad Wijaya, sedikit lega menyadari amarah Yunita Wijaya yang sedikit teralih. "Loh, malah bengong.. ayo cepat ambilkan obat Ayah.."
"Egh, iya, maaf, Yah.." wanita itu bergegas kedalam, sejenak lupa dengan amarahnya sendiri.
"Ayo masuk.."
Meta terhenyak mendapati ajakan itu.
"Egh.. tapi.. tapi, Yah.."
"Ayo, cepat.." ulang Ahmad Wijaya dengan senyumnya yang begitu mirip dengan garis senyum Rico.
Meta terhenyak sejenak, namun detik berikutnya langkahnya telah terayun yakin, melangkah kedalam kamar tersebut, mengikuti langkah Ayah Rico.
Meta telah menyiapkan nyalinya. Ia belum yakin sepenuhnya apa semuanya dapat ia lewati dengan mudah atau malah sebaliknya.
Satu hal yang Meta yakini, sungguh ia masih merasa takut, namun disaat yang sama ia telah menanggalkan semua keraguan dihatinya diluar sana.. tepat ketika kakinya melangkah.. mengikuti jejak pria tua dengan garis wajah bijak dihadapannya..
.
.
.
Bersambung..
Like dan semua SUPPORT nya jangan lupa yah.. 😀
__ADS_1
Thx and Lophyuuu all.. 😘