
"kita mampir sebentar ke suatu tempat yah, setelah itu baru aku antar kamu langsung ke kantor pusat.." Rico menoleh kebelakang, kearah Meta yang duduk dibelakang bersama Rei dan suster, sementara disampingnya Dani nampak menyetir tenang dengan tatapan lurus kearah jalan.
Meta hanya mengangguk kecil, tanpa merasa perlu bertanya lebih detail kemana tujuan Rico. Ia malah lebih fokus membelai rambut lurus nan lembut milik Rei yang sedang bersandar nyaman didadanya seraya menikmati sippy cup yang terisi penuh oleh susu cokelat kesukaan bocah itu.
Masih pukul sembilan pagi, masih ada dua jam sebelum Meta harus tiba di kantor pusat, sesuai dengan batas dispensasi yang diberikan Pak Tian saat tadi mereka berpisah dibandara.
Beberapa saat pandangan Meta yang hanya tertuju pada jalanan yang ada diluar jendela, hingga lambat laun Meta mulai tersadar bahwa sepanjang jalan yang dilewati nampak begitu familiar untuknya.
"Dad.. kita mau kemana?" Meta akhirnya tak tahan untuk bertanya.
"Perumahan Buana Permai.." ucap Rico tanpa ragu namun dalam hati tersenyum saat mengetahui Meta mulai menyadari arah tujuan mobil yang dikendarai Dani yang telah menjemput mereka di bandara. "Memangnya kenapa, sayang?" tanya Rico tanpa menengok.
"Tidak.. tidak apa-apa.." pungkas Meta, pandangannya terus tertuju keluar jendela mobil, dimana jalan yang dilalui semakin familiar. Beberapa saat kemudian alis Meta benar-benar bertaut, saat mobil yang dikendarai Dani benar-benar berhenti didepan sebuah rumah yang beralamat di Perumahan Buana Permai blok K nomor dua puluh, yang menyimpan sejuta kenangan untuk Meta.
"Ayo turun.." ajak Rico sambil beranjak, menyadari Meta yang masih belum bergeming dari tempatnya.
Melihat Meta yang masih bengong Rico akhirnya memilih untuk memutar langkah kearah pintu yang ada disamping Meta, dan membukanya dari luar.
"Ayo turun dulu sebentar.." ajak Rico lagi sambil meraih Rei yang ada dipangkuan Meta kedalam pelukannya.
Meta turun dengan langkah ragu.
Bagaimana mungkin ia lupa?
Ada begitu banyak kenangan yang ada dirumah ini, terlebih kenangan tentang almarhum Ayah, karena dirinya dan Mayra bahkan tumbuh besar dirumah yang sepertinya baru saja mengalami renovasi besar-besaran, meskipun tanpa mengubah tampilan awalnya.
"I-ini rumah siapa, dad..?" Meta mengamit sebelah lengan kekar Rico yang tengah menggendong Rei. Memaksakan langkah kakinya untuk melangkah kearah pintu depan mengikuti langkah Rico yang terayun yakin.
"Kita akan menemui pemilik barunya.."
"Dad.. tapi.."
"Ssstt.."
Meta akhirnya mengalah dan memilih menutup mulutnya, membisu, pasrah mengikuti kemauan Rico meskipun kakinya terasa lemas saat harus berdiri kembali didepan pintu rumah yang merupakan harta satu-satunya peninggalan almarhum Ayah yang terpaksa dijual Ibu demi biaya operasi pemulihan lutut Mayra beberapa tahun yang silam.
Tangan Rico telah terangkat guna memencet bel yang ada disisi pintu beberapa kali.
"Assalamualaikum.." Rico berseru mengucap salam, begitu terdengar bunyi anak kunci yang diputar dari daun pintu yang ada dihadapan mereka.
"Waalaikumsalam.."
Suara itu..
Detik berikutnya Meta telah terhenyak.
__ADS_1
"Aunty Maylaaaaa.." suara riang Rei terdengar memekik gembira begitu melihat siapa sosok yang muncul dari balik pintu.
"Reiii.." Mayra yang membukakan pintu tak kalah histeris menerima teriakan kecil yang lucu itu.
Bergegas Mayra mengambil tangan Rico dan Meta untuk mencium punggung tangan kakak dan kakak iparnya itu bergantian sebelum merentangkan tangan menyambut Rei yang juga terlihat sangat tidak sabar berpindah tangan.
"Mari masuk, kak.." ujar Mayra dengan riang, dan sambil menggendong Rei ia terburu-buru melangkah kedalam terlebih dahulu. "Ibuu.. Ibuu.. kak Meta dan kak Rico sudah datang.."
"Ayo masuk.." Rico mengamit bahu Meta yang tercengang ditempatnya.
Rasanya seperti mimpi. Itu yang dirasakan Meta. Apakah ini benar?
Rumah ini.. Mayra..
Sepasang mata Meta terasa menghangat, sambil kakinya terus melangkah perlahan memasuki ruang tamu, mengembarakan pandangan kearah dinding yang telah dihiasi beberapa foto yang sebelumnya telah terpajang dirumah kontrakan mereka yang sempit.
Ibu Arum terlihat keluar dari ruang tengah dengan tergopoh-gopoh sambil membenahi hijabnya. "Alhamdulillah.. akhirnya kalian datang juga.."
Meta dan Rico menyambut kehadiran wanita paruh baya itu dengan mencium punggung tangannya terlebih dahulu.
"Iya, bu.. dari bandara langsung kemari.." Rico yang menjawab, sementara Meta terlihat semakin terkesima.
"Ayo duduk dulu.." ajak Ibu Arum.
Rico kembali mengamit bahu Meta yang masih membeku, medudukkannya di sofa yang terlihat baru.
Ibu Arum tidak langsung menjawab, melainkan melemparkan pandangannya kearah Rico yang duduk disamping Meta.
"Surprise.." ucap Rico lirih begitu tatapan Meta jatuh tepat dimanik matanya.
"Jadi.."
"Aku membeli kembali rumah ini untukmu, untuk ibu, untuk Mayra, untuk almarhum ayah juga.. untuk semua kenangan yang ada didalamnya.."
Kali ini Meta tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kini ia telah terisak hebat dihadapan Rico.
"Egh.. kenapa menangis?" alis Rico bertaut bingung, mengelus perlahan punggung Meta yang turun naik.
"K-kenapa melakukan semua ini? daddy.. ini.. semua ini sudah terlalu banyak.." Meta terisak semakin dalam, membuat Ibu Arum yang berada dihadapan mereka juga terlihat menyusut matanya dengan punggung tangan.
"Kenapa malah bicara seperti itu? Aku tidak suka mendengarnya.." Rico tersenyum sambil mengusap air mata Meta dengan jemarinya.
"M-maaf, dadd.. tapi ini.. ini semua.."
"Ini semua belum seberapa. Aku akan terus memberikan semuanya sampai kamu benar-benar percaya dengan kesungguhanku, dan berhenti meragu.."
__ADS_1
Meta telah menubruk tubuh Rico sebelum kalimat lelaki itu benar-benar usai. Ada begitu banyak rasa haru yang diselimuti kebahagiaan yang menguasai seluruh relung jiwa Meta, membuatnya tidak bisa memilah lagi rasa mana yang paling dominan karena sepertinya seluruh hati dan jiwanya telah dimenangkan dengan begitu mudah oleh Rico.
"Daddy, terima kasih.. terima kasih karena telah memberikan semua kebahagiaan yang begitu banyak. Aku bahkan merasa tidak pantas untuk mendapatkannya.."
"Kalau memang demikian maka jangan mengatakan tidak pantas. Tapi berikan imbalan yang setimpal.." bisik Rico begitu lirih ditelinga Meta.
"Im.. balan..? lagi..?"
"Hmm.. mana mungkin semua ini gratis?"
Meta terhenyak mendengarnya, refleks ia mengangkat wajahnya yang awalnya terbenam sempurna didada Rico, menatap Rico dengan penuh tanya.
"Tetap disampingku melewati semua suka dan duka bersama.."
Meta menatap Rico begitu lama, nyaris tanpa berkedip. Ia tercengang menyaksikan senyum Rico yang terukir dengan penuh keyakinan disana, membuat kepalanya tak ragu untuk mengangguk.
"Katakan, kamu berjanji.." tuntut Rico.
"Iya, aku berjanji.."
"Tidak boleh ada kata menyerah jika suatu saat menemui berbagai rintangan dimasa yang akan datang, karena kamu sudah berjanji.." sejenak kepala Rico berpaling kearah Ibu Arum yang sejak awal menyaksikan semuanya. "Ibu adalah saksinya. Ibu sudah mendengar semuanya kan?"
Meta terbelalak begitu menyadari bahwa sejak tadi Ibu memang telah berada ditempatnya, mengawasi semuanya sejak awal.
Akh.. mendadak Meta merasa sangat malu, namun Ibu Arum malah terlihat mengangguk dengan senyum penuh kelegaan.
Ibu Arum merasa sangat senang menyaksikan rumah tangga putri sulungnya yang terlihat semakin membaik. Rico terlihat sangat menyayangi Meta, dan Meta putrinya pun terlihat bahagia.
"Mommy kenapa menangis?"
Rei yang muncul dari ruang tengah bersama Mayra dengan sebuah apple merah ditangan nampak terheran melihat Meta yang terlihat sembab.
"Tidak sayang, mommy tidak menangis.." kilah Meta sambil buru-buru menyusut sudut matanya yang berair. "Kemarilah sayangnya mommy.." ucap Meta kemudian sambil merentangkan tangan kearah Rei yang masih menatapnya dengan tatapan curiga, namun yang ada kepala Rei malah menggeleng tegas, membuat Meta terkejut. "Tidak mau? Rei tidak mau sama mommy lagi..?" Meta pura-pura mendelik menerima penolakan Rei yang begitu lucu.
"Mau.. tapi Lei mau sama Nenek Alum dulu.." Rei telah melepaskan tautan tangannya dengan Mayra begitu saja dan berlari kearah Ibu Arum yang langsung menyambut tubuh montok Rei dengan antusias.
Dua manusia beda generasi itu terlihat saling berpelukan erat melepas rindu, membuat Rico, Meta dan Mayra tertawa kecil menyaksikan adegan yang terlihat begitu manis dan menggemaskan itu.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Dukung author, dan support terus CTIR yah...🤗