
Halo Readers kesayangan.. lagi-lagi aq ingin mengajak kalian untuk membaca novel aq yang baru. Judulnya
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🤗
Ditunggu kunjungannya yah.. 🥰
.
.
.
“Rudi.. tolong kamu emailkan semua dokumen yang menyangkut proyek Indotama Times Square kepada Meta.”
Rudi menatap Tian yang berbicara tanpa mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang ia tanda tangani diatas meja. Menarik nafas sejenak sebelum akhirnya menanggapi perintah Ceo Indotama Group tersebut.
“Apakah tidak sebaiknya.. aku kerumah pak Rico untuk mengantarkannya langsung kepada Meta, pak ?”
“Tidak perlu.” Pungkas Tian cepat tanpa menatap Rudi. “Lewat email saja..”
Rudi menelan ludahnya yang terasa kelu. Dan akhirnya ia tidak lagi memiliki kesempatan dan alasan apapun untuk menemui Meta dirumah pak Rico dengan dalih mengantarkan dokumen proyek Indotama Times Square.
Sejujurnya hati Rudi ingin protes. Entah kenapa saat ini Rudi merasa secara tidak langsung perasaannya seperti sedang di zolimi oleh keputusan pak Tian, yang terlihat sangat menguntungkan pak Rico sekaligus merugikan dirinya sendiri.
Pak Tian dengan mudahnya memindah tugaskan Meta untuk membantu pelaksanaan proyek Indotama Time Square yang sudah jelas-jelas karena pemintaan khusus pak Rico agar bisa menahan Meta, karena rengekan putranya Rei yang bahkan sampai sempat demam karena besarnya keinginan bocah itu untuk berada didekat Meta.
Entah kenapa Rei bisa mengangap Meta sebagai mommynya padahal dari segi wajah saja, tidak ada kemiripan sama sekali diantara Meta dan bu Lila. Saat ini pak Rico bahkan nekad menahan Meta tinggal didalam rumahnya selama tiga hari, lagi-lagi hanya dengan mengatasnamakan pak Tian..!
Sementara Meta ?
Apakah Meta menyukai situasinya sekarang ?
Apakah dia senyaman itu bersama Rei dan.. pak Rico ?
Sejak kemarin saat Rudi mati-matian menahan diri untuk tidak menghubungi Meta, dan wanita itu malah melakukan hal yang sama. Juga tidak menghubunginya sama sekali.
“Rudi, kamu mendengarkan perkataanku tidak ?” Tian memecah lamunan Rudi.
“Egh.. iya.. apa pak ?”
Tian mengalihkan pandangannya menatap Rudi. “Setelah selesai mengirimkan email, pergilah ke Mercy Green Resort dan temui perwakilan Fashion Milan yang baru tiba tadi pagi.”
Rudi mengerinyit sejenak saat mendengar arahan Tian. “Bukankah pak Tian yang akan menemui mereka langsung dan aku hanya mendampingi saja, pak ?”
“Tidak. Aku ada pekerjaan yang jauh lebih penting dari kerjasama itu. Pergilah temui mereka bersama Laras..”
“Tapi pak..”
“Laras sangat mengusai fashion secara keseluruhan. Pengalamannya bersama Saraswati Djenar bahkan sudah berada di level internasional. Aku yakin bisa mengandalkan Laras sepenuhnya kali ini.. kamu tidak perlu khawatir..” berucap demikian sambil meraih ponselnya yang berbunyi.
“Baiklah, pak.” Akhirnya Rudi hanya bisa mengangguk pasrah menerima keputusan Tian yang disambut Tian dengan anggukan kecil karena detik berikutnya dia sudah menekan icon hijau tanda menerima panggilan tersebut.
“Iya sayang..?”
…
“Kalian sudah berada dikantorku ?”
…
“Tidak.. tidak perlu naik, aku akan turun sekarang..”
Menutup pembicaraan seraya berdiri, bersiap beranjak dari tempat duduk kebesarannya.
“Kamu atur sebaik-baiknya pembicaraan dengan mitra yang dari Milan itu.. karena weekend minggu ini saya akan mengajak Arini dan Sean ke villa dan kami akan menghabiskan waktu dengan menginap disana.”
“Baik, pak..” menunduk takjim sampai pak Tian hilang dibalik pintu.
“Jadi itu yang dimaksud dengan pekerjaan yang jauh lebih penting dari kerjasama dengan mitra dari Fashion Milan..?”
__ADS_1
Rudi mencibir perlahan, separuh kesal, setelah mengetahui kenyataannya pak Tian akan pergi bersenang-senang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya, apalagi saat mengingat bahwa dia harus melewati sepanjang weekend bersama wanita paling menyebalkan diatas muka bumi ini.
Siapa lagi kalau bukan Laras..!
XXXXX
Mobil yang dikendarai Sudir bergerak tersendat saat mulai memasuki jalur luar kota. Efek weekend membuat jalanan yang biasanya tidak terlalu padat menjadi ramai kendaraan yang berbondong-bondong menuju puncak.
“Dari tadi melamun terus.. kamu kenapa sih sayang ?”
Tian terhenyak saat menyadari Arini sudah menatapnya lekat seraya menepuk-nepuk pundak kecil Sean yang kelihatan mulai terkantuk-kantuk.
Tian menatap Arini sambil membuang nafasnya berat.
“Entahlah sayang.. aku bahkan tidak tau apa yang sedang aku lakukan ini benar atau salah..” bergumam pelan, kemudian Tian mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil yang pekat. Mencoba mengalihkan pikirannya pada kesemerawutan lalu lintas yang padat merayap diluar sana.. namun bukannya membantu, otaknya malah semakin kacau saja membuat detik berikutnya ia memilih menarik tirai kaca dan menutupnya.
“Apa ini tentang Rico ?” tanya Arini tanpa mengalihkan perhatiannya dari tindak-tanduk suaminya yang sedikit gelisah.
Tian menganguk pelan. “Aku merasa sedang melakukan kecurangan..”
“Apa kamu ingin mendengar pendapatku ?”
Tian menatap Arini sejurus.
“Aku tau pendapatku tidak bisa merubah keputusanmu, tapi setidaknya aku ingin kamu mendengarnya..”
Tian menghela nafasnya yang penuh sesal. Kemudian detik berikutnya tertawa pahit.
“Sifatku memang seburuk itu. Aku mengakuinya karena aku memang tidak suka mendengar pendapat orang lain. Hhh.. its okay.. mendengarnya mungkin tidak mengapa, tapi aku bahkan tidak suka melakukan sesuatu hanya karena dorongan opini yang tidak berasal dari buah pemikiranku sendiri. Ternyata aku memang seegois itu yah ?”
“Bukan hanya egois. Kamu juga keras kepala, tidak terbantah, sangat ngotot melakukan apa saja yang kamu ingin lakukan, bahkan..”
“Bahkan apa..?”
“Sedikit licik.”
“Sedikit ?” alis Tian bertaut.
Mendengar itu Tian tertawa kecil, tangannya terangkat mengacak rambut Arini sebentar. “Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama untukmu agar bisa sangat memahamiku begitu rupa.” kemudian ia sudah menatap Arini lagi, kali ini tatapannya mulai serius. “Coba katakan apa pendapatmu.. aku ingin mendengarnya..”
“Untuk persoalan Rico kan ?”
Tian menganguk kecil.
“Aku tau kamu sedang menutup mata pada kenyataan dan kebenaran apapun yang ada dihadapanmu sekarang. Kamu melakukannya karena Rei, dan karena Rico yang memintamu melakukannya. Tapi.. apakah memang harus seperti itu ?” balik menatap ekspresi Tian yang belum bergeming dengan sepenggal kalimat awalnya. “Sayang.. semua yang kamu lakukan saat ini sangat tidak adil..”
Tian membisu mendengarnya. Tian bukannya tidak mengetahui bahwa yang dikatakan Arini saat ini adalah hal yang benar. Dirinya sedang melakukan hal yang tidak adil.. bahkan dengan mengorbankan orang yang selama ini sudah memberikan diri dan pengabdian tanpa batas kepadanya.
Tapi seperti yang Arini katakan bahwa ia adalah orang yang memiliki kelicikan yang besar.. maka hal itulah yang sedang ia lakukan sekarang. Bahkan tujuan akhir dari semua yang ia lakukan adalah bagian dari rentetan panjang skenario yang sedang ia bangun selama bertahun-tahun demi menjaga keutuhan cintanya untuk wanita yang saat ini bahkan sedang tidak sejalan dengan apa yang ia lakukan.
“Kemarin Meta menelponku..”
“Aku sudah menduganya. Kepada siapa lagi dia akan mengadu kalau bukan kepadamu..”
“Sayang, tidak seperti itu. Meta bukan anak kecil yang sedang sedih dan saat kita membelinya permen maka dia akan tertawa dan melupakan kesedihannya begitu saja.”
“Jadi kontrak kerja dengan nilai fantastis untuk proyek sebesar Indotama Times Square itu ibarat sebuah permen yah ?”
“Aku hanya mengambil perumpamaan, sayang..”
“Baiklah, tapi buktinya Meta menerimanya kan..? Bahkan tanpa perlu memikirkan dua kali..”
“Kamu sangat tau nominal kontrak itu bisa membuat Meta rela menutup mata. Aku tau rasanya.. karena..”
“Karena kamu pernah mengalaminya, saat aku menjebakmu tiga tahun yang lalu.”
“Sayang ! berhenti menyimpulkan sesuatu yang akan melukai hatiku !”
Tian terhenyak.. “Maaf.. maafkan aku sayangku.. aku hanya terbawa suasana.. pliss..” Tian juga kaget sendiri saat menyadari kalimatnya mampu membuat Arini kecewa. Ia langsung memindahkan tubuhnya merapat ketubuh Arini begitu saja, refleks mengelus punggung wanita yang saat ini sudah membalikan tubuhnya dengan perasaan kesal luar biasa.
Arini merasa marah saat Tian mengatakan kalimat itu.. sebenarnya bukan hanya karena menyangkut dirinya. Tapi karena Tian bahkan berpura-pura tidak ingin tau bahwa Meta dan dirinya berada dalam posisi yang berbeda.
__ADS_1
Jika dulu dirinya mencintai Tian dengan segenap jiwa.. tapi Meta bahkan tidak menyukai Rico sebesar butiran pasir pun karena sudah jelas-jelas sahabatnya itu menyukai Rudi.. dan mereka berdua saling menyukai..
“Sayang.. aku mohon, pliss.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai hatimu dengan..”
“Sudahlah..” Arini sudah berbalik lagi, meluruskan duduknya menghadap kedepan, memperbaiki posisi duduknya lagi sekaligus memperbaiki posisi Sean yang lelap dalam pangkuannya.
“Maaf sayangku.. aku tidak bermaksud..”
Sesungguhnya Tian memang tidak bermaksud seperti itu.. dalam hal ini menyakiti hati Arini dengan membuka kembali luka yang pernah ia torehkan didalam catatan pahit kehidupan yang pernah dilalui istrinya itu, tapi kenyataannya.. Tian tau persis bahwa saat ini ia sedang melakukan hal yang sama pada Meta.
Dan Arini ?
Apakah istrinya itu tidak pernah berfikir ? bahwa terlepas dari keegoisannya dan sikapnya yang memaksa, tetap saja takdir bisa membawa hati setiap manusia kemana saja. Bukankah begitu ?
HHhh.
Tian membuang nafas. Memang berjudi dengan keadaan dan garisan takdir sepertinya sudah menjadi sifat harfiahnya daripada harus memakai hati dan logika.
Sejauh ini Tian selalu merasa terlalu percaya diri jika sedang memaksakan sesuatu.
'I'm just a human..'
Memang benar, tapi dirinya tetaplah seorang Sebastian Putra Djenar, yang memiliki seribu persen keangkuhan yang berbanding lurus dengan keegoisan.
“Aku bukannya tidak suka kalau kamu mengungkit hal itu lagi. Tapi menggunakan kata ‘menjebak’ ? aku tidak mau kamu menilai dirimu seburuk itu, sayang..”
'Karena hanya denganmu-lah aku bisa mengakui seburuk apa diriku.. meskipun kamu bahkan belum mengetahui semuanya..'
“Pada kenyataannya aku memang se-buruk itu kan..?” bergumam perlahan.
“Sayang..!”
“Iya, iya baiklah.. maaf..”
“Hhuhf.. kalau tidak sedang menggendong Sean, aku pasti sudah meninjumu !”
Menanggapi pemandangan bibir yang naik dua centi lengkap dengan kalimat lucu tersebut membuat Tian tidak bisa menahan tawanya. Tian bahkan harus menggigit bibirnya agar tawanya tidak terlalu lepas karena takut mengusik tidur Sean yang lelap.
“Berat yah ? Mau aku gantikan menggendong Sean ?”
“Nanti saja, dia baru tertidur.. nanti kalau dipindahkan sekarang bisa bangun lagi..”
“Kebetulan.. kalau begitu aku akan memeluk mommynya saja..” bisik Tian sambil mengerling nakal, yang langsung dihadiahi pelototan tajam.
Tapi bukan Sebastian Putra Djenar namanya jika keinginannya bisa terbantahkan. Karena meskipun sudah melotot tajam, Arini bahkan tidak bisa berbuat apa-apa saat lelaki itu sudah melingkarkan tangannya dan memeluk pinggangnya.
Detik berikutnya Arini sudah mendengus kesal. Tebakannya terbukti.. suaminya yang mesum ini benar-benar tidak bisa dipercaya, karena tangan yang awalnya hanya bertengger dipinggang itu sekarang sudah mulai menggerayanginya kesana kemari
“Sayang !” protes Arini lagi-lagi melotot, sambil mengerling kearah Sudir yang mengemudi dengan tenang.
“Iya.. iya.. baiklah..”
“Huhh !”
Tian tertawa kecil saat dengan terpaksa harus menghentikan aksinya. Akhirnya ia memilih mengeluarkan tangan nakalnya yang telah bersusah payah menembus benteng pertahanan, memilih membelai rambut dengan wangi khas mint bercampur lavender seperti biasanya agar otaknya tidak terprovokasi lagi...
.
.
.
.
Bersambung..
Author sangat mengharapakan, bahwa yang sudah baca, kiranya bersedia meninggalkan Like-nya... 🤗
Bantu author mempertahankan level karya novel yang gak famous ini diakhir bulan, pliss.. karena kalau tidak itu akan mempengaruhi performa level novel diawal bulan Juni nanti.. 🥺 Jangan sampai turun lagi 😥 karena level karya merupakan moodboster setiap author.. 💪
Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1