CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Tugas mulia


__ADS_3

Like,


Comment,


Vote,


Favoritekan,


Subscribe,


Terima kasih semuanya..🤗


.


.


.


“Co, kamu mau kemana?”


“Mini bar,” Rico berucap acuh, namun ia tidak menghentikan langkahnya sedikitpun yang sedang menyusuri selasar, meskipun ia tau Tian sedang berusaha mensejajari langkahnya.


“Co!” Tian nekad menarik lengan itu, memaksa langkah Rico terhenti begitu saja. “Kenapa kamu tidak bersama Lila?” Tian menautkan alis.


Rico melengos sesaat. “Untuk apa


bersamanya? aku kesini untuk bersenang-senang bukan mencari masalah..”


“Rico, cukup. Hentikan semua kebodohan ini dan selesaikan persoalan dengan istrimu. Jangan mengambil langkah terlalu jauh..” Tian mencoba memperingatkan meskipun Rico terlihat tidak peduli. “Sebagai sahabat aku hanya ingin mengingatkan, jangan sampai nanti saat kamu tersadar bahwa langkahmu sudah jauh tersesat.. kamu sudah sulit untuk kembali.”


Sekarang Rico malah tertawa mendengar kalimat Tian. “Wah.. kenapa mendadak kamu jadi bijak sekali?” kemudian ia sudah menatap Tian sejurus. “Tian.. aku ingin menanyakan satu hal."


"Tanyakan saja."


"Apakan aku masih sahabatmu?” ujar Rico dengan ekspresi wajah datar.


Tian menatap Rico yang terlihat aneh. “Tentu saja. Memangnya kapan aku pernah berhenti menjadi sahabatmu?”


“Sudah kuduga. Kalau begitu kebetulan sekali, aku sedang ingin meminta sesuatu."


Tian melengos. “Apa lagi, Co? proyek baru lagi?” ucapnya remeh.


“Bukan.”


“Lalu..?”


“Kamu yakin bisa memberikannya?” dengan senyum sarkasme.


“Aku harus tau lebih dahulu apa yang kamu inginkan, sebelum memutuskan bisa aku berikan atau tidak.”


“Baiklah.. aku menyukai seseorang.”


“Lalu apa hubungannya denganku..?” Tian terhenyak mendengar pernyataan aneh itu namun tak urung ia tertawa sumbang.


“Bisakah memberikannya untukku?” Rico malah menatap Tian serius.


“Apa kamu pikir wanita itu sejenis


barang yang bisa kamu minta seenaknya?"

__ADS_1


Rico terlihat melengos.


"Lagian meminta seorang wanita kepadaku.. sejak kapan dunia ini menjadi terbalik? bukankah selama ini justru kamu yang mempunyai banyak stock wanita?"


Rico terlihat membuang wajahnya, seolah enggan mendengar kalimat keberatan Tian.


"Lagi pula, Co.. masih bermain-main seperti ini apa pantas? apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan istrimu jika..”


“Aku menyukai Arini.”


Deg!


Jantung Tian seperti terkena ledakan usai mendengar pernyataan konyol tersebut. Ia menatap Rico tak berkedip dengan tatapan mereka-reka.. berharap ia menemukan joke disana tapi yang didapatinya adalah sepasang mata Rico yang bersinar tajam.


“Iya, aku menyukai Arini. Arini Ramdhan karyawanmu itu.” berucap seenaknya.


Sejenak kedua tangan Tian terasa


mengepal dikedua sisi tubuhnya. Tapi Tian menahannya. Tian tidak tau apa motivasi Rico mengatakan hal konyol seperti itu, yang jelas mendengarnya mengatakan menyukai Arini tidak bisa membuat Tian percaya begitu saja bahwa itu karena Rico benar-benar menyukai istrinya.


Namun apapun motif yang ada dibalik itu, Tian tidak ingin terpancing meskipun tidak bisa menahan hatinya yang juga merasa geram saat mendengar ada orang lain yang mengatakan menyukai Arini selain dirinya, meskipun orang itu Rico sekalipun.


"Kamu tidak boleh menyukainya." pungkas Tian.


“Kenapa?"


“Karena kamu sudah menikah, tidak boleh menyukai wanita lain..”


Rico tertawa sinis, kemudian dengan nada rendah ia berbisik.. “Benarkah begitu? bukankah karena dia sudah punya suami sedangkan kamu juga menyukainya ?”


Tian terhenyak mendengarnya.


“Kalau kamu boleh menyukainya, lalu kenapa aku tidak boleh?”


“Shut up..! Kamu bahkan menggoda istri orang lain dan membawanya kedalam kamarmu. Apa itu tidak termasuk keterlaluan? Oh.. baiklah.. itu memang tidak keterlaluan, tapi itu namanya brengsek!” umpat Rico membuat Tian harus menyimpan kepalan tangannya serta merta ke saku celananya agar tidak melayang begitu saja kewajah tengil Rico.


“Apa kalian sudah selesai berdebat?”


Tian dan Rico sama-sama tersentak mendengar suara yang tiba-tiba saja menyeruak dari ujung selasar. Refleks mereka berdua menengok bersamaan dan menegang bersama saat menyadari sosok Lila berdiri tegak diujung selasar, yang dilihat dari gelagatnya sepertinya sudah sejak tadi menyaksikan perdebatan mereka.


Suara tapak high heels yang terdengar beradu tegas dengan keramik dibawahnya terdengar mendekat memecah kesunyian. Saat ini Lila sudah berdiri tegak diantara dua lelaki dengan wajah yang menegang itu, ia menatap keduanya berganti-ganti sebelum akhirnya melabuhkan tatapannya lekat pada sosok Rico, suaminya.


“Untuk apa kamu meributkan privacy Pak Tian? urus saja dirimu sendiri. Katanya kamu mau membawa wanita ketempat ini, kan? apakah sudah berhasil kamu bawa? Apa dia ada dikamarmu? pergilah urusi saja wanita itu untuk apa mengurusi wanita lain yang bahkan sedang tidak bersamamu?” Lila berucap beruntun dengan nada ketus yang membuat Rico yang mendengarnya langsung menatap Lila dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Apa pedulimu?"


"Tentu saja aku peduli. Pak Tian adalah tamuku ditempat ini.."


"Jangan lupa kalau aku juga memiliki undangannya, jadi aku juga tamu ditempat ini..!" jawab Rico tak kalah ketus.


Tian yang melihat pemandangan itu terlihat tertawa hambar, tidak ingin terjerumus dalam situasi yang lebih rumit Tian memilih berbalik, melangkah menjauh dari pasangan suami istri yang sedang saling tatap dengan pandangan membunuh satu sama lain.


XXXXX


Entah ini sudah kali keberapa Arini


mengecek jarum jam yang ada didinding kamar yang bercat putih bersih itu. Acara peresmian Mercy Green Resort sudah usai sejak dua jam yang lalu, namun sosok Tian belum juga menampakkan batang hidungnya.


Arini menggeliat gelisah, untuk mengusir rasa gundahnya ia kembali memainkan ponsel seperti biasa, sekedar mengecek berbagai akun media sosial yang ia punya meskipun ia sendiri tidak termasuk tipe yang giat ber-medsos-ria.

__ADS_1


Baru beberapa saat Arini berselancar didunia maya manakala perhatiannya terusik dengan suara khas yang datang dari smart card lock.


Sosok Tian muncul dari balik pintu dengan tampang keruh, membuat Arini bangkit dari posisinya yang rebahan diatas ranjang dengan tatapan heran. Tian yang langsung melonggarkan dasi serta membuka stelan two piece suit-nya begitu saja, langsung melemparkannya sembarangan membuat Arini buru-buru turun dari ranjang hanya untuk bermaksud memungut pakaian yang bertebaran tak beraturan itu.


“Kenapa baru kembali?” tanya Arini tidak bisa mencegah rasa penasarannya. “Apa terjadi sesuatu? kenapa wajahmu seperti itu?”


“Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah. Begitu banyak orang yang ingin bertemu.. dengan terpaksa aku harus melayani sebagian dari mereka sebagai bentuk kesopanan..” berucap malas sambil ngeloyor begitu saja kedalam kamar mandi, menyisakan kemeja putih dan stelan celana.


Arini yang masih terheran akhirnya memutuskan untuk duduk ditepi ranjang sambil menunggu lelaki itu keluar dari bilik kamar mandi, mau tak mau ia akhirnya menerka-nerka sendiri apa yang membuat wajah Tian kusut masai meskipun akhirnya ia bahkan tidak mendapat clue sama sekali.


Tidak berapa lama Tian sudah keluar lagi dengan wajah yang terlihat lebih cerah.


“Sayang, kenapa sih? bukankah acara peresmiannya berjalan dengan lancar?”


Tian tersenyum. “Kamu tadi menontonnya tidak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan sambil menghempaskan tubuhnya disisi Arini.


Usai membasuh wajahnya di wastafel tadi Tian sudah bertekad bahwa malam ini ia harus membuang jauh-jauh persoalan tentang pernyataan Rico yang mengejutkan dari benaknya.


Menikmati kebersamaannya dengan Arini adalah hal terpenting yang menjadi fokus dalam hidupnya saat ini. Tian merasa seperti sedang mengemban tugas mulia.. saat memikirkan ia harus lebih giat berusaha kalau tidak ingin Saraswati menjatuhkan keputusan, yang bisa membuatnya menjadi malin kundang dalam sekejap, karena sudah pasti kali ini Tian tidak akan pernah mau menuruti lagi keinginan Saraswati begitu saja. Untuk itulah Tian tidak bersedia menukar kebahagiannya malam ini dengan memikirkan kelakuan absurd Rico si tengil itu..! Huhhff..!


Arini menatap Tian dengan tatapan mata berbinar sebelum menjawabnya dengan riang. “Aku menontonnya sampai selesai.”


Tian tersenyum.“Kamu melihat wajahku ditelevisi?” beringsut semakin dekat.


Arini menganguk. “Tentu saja. Mereka bahkan terlihat lebih suka menyorot wajahmu daripada wajah tamu yang lain maupun para pengisi acara..”


Tian tertawa mendengar gumaman itu. “Itu pasti karena suamimu ini yang paling tampan. Iya kan..?” serta merta menciumi pundak yang terdekat, meskipun pemiliknya terlihat sama sekali belum menyadari ‘bahaya’ apa yang sedang mengintainya.


Arini mencibir. “Malam ini wajahmu ada dimana-mana. Bahkan di media sosial beberapa orang artis pun, mereka dengan bangga memposting foto selfie mereka bersamamu,” masih terus mengoceh tanpa sadar dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya.


“Oh ya? lalu..?”


“Lalu? Lalu aku...”


Detik selanjutnya kalimat Arini sudah tertelan begitu saja, karena Tian sudah berhasil membungkamnya. Lembut dan menggetarkan seperti yang sudah-sudah.. namun tidak pernah mengurangi rasanya. Arini bahkan sangat menurut saat Tian menggiring tubuhnya ketengah ranjang. Tidak menyadari kapan tepatnya lelaki itu berhasil menipu perhatiannya begitu rupa sehingga bisa membuatnya terlena dan baru menyadari bahwa sebagian besar yang ia kenakan telah menghilang entah sejak kapan.


Tian nyaris tertawa saat melihat


ekspresi Arini yang kebingungan saat baru menyadari dirinya yang hampir naked akibat ulah usilnya.


“Kenapa bajuku tiba-tiba menghilang?” tanyanya polos.


“Entahlah.. mungkin sudah dibawa lari tikus..” Tian menjawab asal, membuat Arini sontak mendelik mendengarnya, ia mencoba bangkit tapi Tian menghalangi gerakannya.


“Tidak usah memikirkan baju, karena malam ini kamu tidak memerlukannya..” bisiknya tepat ditelinga Arini.. membuat sekujur tubuh Arini sontak meremang..


.


.


.


.


.


Bersambung…


Special Thx to : “Agustina Nasution” 😊🤗

__ADS_1


Like and Comment jangan lupa ya


sayangkuuuhh.. Lophyuu.. ALL.. 😘


__ADS_2