CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Kedatangan Saraswati


__ADS_3

Bukan karena Meta sebegitu culunnya sampai tidak tau apa yang sedang dilakukan sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara itu. Meskipun belum pernah melakukannya diusianya yang nyaris seperempat abad, adegan tersebut tentu saja sudah sering ia lihat pada drama-drama korea favoritenya.


Tapi adegan saat ini sungguh luar biasa. Yah.. tentu saja ini berbeda. Karena bagaimana bisa Meta sebegitu beruntungnya bisa menyaksikannya secara langsung tepat didepan mata..?


Disaat semua orang berupaya keras mendapatkan setitik saja kemajuan berita kelanjutan hubungan Ceo Indotama Group yang menggemparkan.. dirinya malah bisa menyaksikan secara langsung sang Ceo dengan istrinya bermesraan sampai melupakan dunia sekitar.


Meta masih terpana saat sebuah bayangan besar tiba-tiba sudah berada tepat didepan matanya, menghalangi pandangannya yang sedang menonton secara live.


'Apa sih..?’


Masih bisa ngedumel dalam hati, sambil bergerak satu langkah kekanan.. tidak ingin kehilangan moment sedetikpun, tapi bayangan itu juga bergerak ke kanan.


‘Ishh..’


Bergerak satu langkah kekanan lagi.. tapi bayangan itu tetap mengikuti.


Tentu saja merasa kesenangannya terganggu Meta ingin protes, tapi setelah tersadar saat melihat seraut wajah pak Rudi yang sedang menatapnya tajam berdiri tepat di hadapannya untuk menghalangi pandangannya nyali Meta langsung ciut.


‘Glek.’


Menelan ludah sambil meringis kecil. Baru tersadar dari pertunjukan yang seperti menghipnotis.


“Duduk..” titah Rudi dengan suara berbisik, namun mengintimidasi.


Perlahan Meta menghempaskan tubuhnya tanpa suara keatas sofa yang diikuti oleh tubuh Rudi disampingnya. Fikiran Meta masih blank saat tiba-tiba lelaki itu menyodorkan sebuah majalah bisnis edisi terbaru yang diambilnya dari rak yang ada di bawah meja.


“Baca ini..” berbisik lagi sambil menyerahkan majalah tersebut kearah Meta yang menerimanya dengan ragu-ragu campur bingung.


“Apa ini..?” balas berbisik, tapi yang ia dapat adalah sepasang mata Rudi yang sudah melotot lagi padanya sambil masih berbisik dengan intonasi yang sedikit memaksa kalau tidak ingin disebut mengancam.


“Tundukkan kepalamu dan cepat baca majalah itu..”


Meta langsung menundukkan kepala, membenamkan semua pusat pandangannya pada lembaran majalah bisnis yang sama sekali tidak ia mengerti isinya, mulai paham dengan maksud asisten pak Tian yang sebenarnya.


Dan Meta semakin menundukkan kepala saat bisikan kalimat sinis lainnya mampir ditelinganya lagi..


“Awas saja, kalau kamu berani mengangkat wajahmu..”


XXX


“Maaf yah, Met..”


Meta cemberut melihat wajah Arini yang masih memerah karena merasa malu dihadapannya.


Saat ini mereka berdua sudah berada diluar ruangan Ceo. Meta sudah menghempaskan tubuhnya yang lemas keatas kursi kerjanya usai menyaksikan kemesraan yang membuat jiwa jomblonya salto diudara, sementara Arini malah mengikutinya dengan berdiri disamping kursinya dengan wajah malu yang tidak bisa disembunyikan.


Untung saja saat ini lantai lima belas sedang sunyi senyap, karena karyawan lainnya belum ada satu pun yang terlihat kembali dari makan siang mereka.

__ADS_1


“Gak ada akhlak.. sopan gak sih kayak gitu didepan jomblo..?” omel Meta yang masih belum bisa move on dan melupakan adegan kemesraan antar Arini dan pak Tian itu.


“Makanya menikah, Met.. biar gak ngiler lihat pasutri melakukan yang halal-halal..”


“Menikah ?” Meta mendelik kearah Arini dengan gemas karena Arini tidak mungkin tidak tau bahwa selama ini statusnya adalah jomblo abadi. Mereka sering membahasnya malah. “Sudah tau pacar saja aku tidak punya sekarang kamu menyuruhku menikah ? menikah dengan siapa ? kucing..?”


Mendengar itu Arini tidak bisa lagi menahan tawanya, tak peduli dengan seraut wajah milik Meta yang masih betah dengan cemberutnya.


Arini sebenarnya masih ingin menggoda Meta lebih lama, namun urung saat menyadari suara beberapa tapak kaki yang berasal dari arah lorong menuju lift nampak terdengar mendekati ruangan. Sepertinya beberapa karyawan sudah kembali dari makan siang mereka.


XXX 


Hari sudah beranjak sore saat interkom dimeja Arini berbunyi membuat Arini serentak tersenyum sebelum mengangkatnya.


“Iya pak ?” jawabnya formil seperti biasa.


“Aku kira setelah semua ini aku sudah tidak akan lagi dipanggil seperti ini..”


“Baik, pak.. saya akan kesana..” pungkas Arini tidak nyambung sambil segera menutup interkom sebelum Tian kembali berucap hal-hal yang bertujuan menggodanya lagi.


Arini bergegas masuk keruangan Ceo, mengabaikan beberapa pasang mata karyawan yang diam-diam mengawasinya dengan tatapan penasaran dari tempat mereka masing-masing.


XXX


Tian tersenyum lebar saat mendapati Arini yang berjalan mendekati mejanya. Ia langsung meletakkan pulpen yang sebelumnya berada disela-sela jarinya kemudian memilih menegakkan punggung dikursi kebesarannya sambil melipat dada, terus mengawasi wanita yang dimatanya paling cantik didunia itu sampai pada saat wanita itu menghempaskan tubuhnya dikursi yang berada tepat dihadapannya.


“Aku hanya berusaha menjadi sekretaris yang tanggap.”


“Sekretaris yang tangap ?”


“Iya, karena biasanya kalau interkom berbunyi itu artinya atasanku sedang merindukan istrinya. Makanya aku datang.” pungkas Arini santai namun membuat Tian tergelak.


Tian mengulum senyum saat tawanya mereda. “Katanya sekretaris tanggap.. lalu kenapa duduk disitu ? bukannya seharusnya disini..?” sambil menepuk-nepuk pahanya mengisyaratkan Arini agar pindah duduk ke pangkuannya seperti biasa.


Arini hanya memutar bola matanya sesaat mendengar kalimat yang mulai mesum itu, namun ia tidak kunjung beranjak, ia malah sengaja semakin menyandarkan tubuhnya dengan nyaman kesandaran kursi sambil terus menatap sang boss yang sedikit terhenyak mendapati sikapnya yang keukeuh.


Melihat sikap keras kepala yang sengaja menggodanya itu Tian membuang nafasnya yang tidak sabar dengan sekali hentak. “Baiklah..” berucap demikian sambil bangkit dari kursi kebesarannya. Beranjak memutari meja besarnya untuk mendapati seraut wajah yang sudah tertawa kecil menyaksikan pergerakannya yang tidak sabar.


“Egh.. mau apa.?” ucap Arini yang menyadari Tian sudah membungkuk, menyisakan jarak wajah yang hanya beberapa centi dengan wajahnya saat ini.


“Mau memberikan pengajaran pada bawahan yang sedang membantah perintah atasan..” usai berucap demikian Tian langsung berlabuh nikmat ditempat yang tepat, membuat Arini yang awalnya gelagapan namun kemudian ikut menghanyutkan diri dalam buaian.


Mereka sedang membiarkan diri terlena sekian lama, manakala bunyi pintu terbuka sedikit kasar menandakan seseorang telah masuk tanpa ketukan.


Pintu terpentang lebar, sosok perfect itu sudah langsung masuk kedalam ruangan Ceo tanpa aba-aba, diikuti Rudi yang tergesa-gesa dibelakang berusaha menyusul namun terlambat.. dan yang Rudi bisa lakukan hanyalah menelan ludah, menutup kembali daun pintu yang terbuka dibelakangnya dengan sigap, berdiri tegak disana sambil membuang pandangannya kearah lain begitu melihat adegan familiar yang ada dihadapannya saat ini.


“Sebastian.. apa-apaan ini ?!”

__ADS_1


Tangan yang sedang menekan sebuah tengkuk dengan kuat itu mendadak mengendur.. begitu pula dengan jemari yang sedang mencengkram lengan kokoh yang bertumpu ditangan kursi. Dua pasang mata beralih serentak kearah suara yang tak asing.. dan benar saja !


Saraswati Djenar sudah berdiri tegak disana dengan bola mata yang terbelalak hampir jatuh kelantai.


“Nenek..?” berucap seperti duet yang kompak.


Tian serentak menegakkan tubuhnya yang awalnya membungkuk saat sedang merasakan kelembutan istrinya, dan Arini melakukan hal yang sama, berdiri tegak disamping Tian dengan seulas senyum kikuk kearah Saraswati.


Saraswati berjalan tegak mendekati meja, melewati Tian dan Arini yang berdiri tegak tanpa kata dan menghempaskan tubuhnya dikursi Ceo yang biasanya diduduki cucunya itu.


“Kalian.. duduk disana..!” titahnya dingin.


Arini bergegas menghempaskan


tubuhnya kembali kekursinya semula, sementara Tian mengambil tempat di kursi yang ada disebelahnya. Mereka duduk bersisian seperti seorang terdakwa menghadapi penghakiman Saraswati yang duduk diseberang meja dengan wajah tertekuk sempurna.


“Jadi begini kelakuan kalian kalau di kantor ?” Saraswati berucap setelah beberapa saat terdiam sembari menguliti Tian dan Arini berganti-ganti.


“Namanya juga suami istri, nek..” Tian mengangkat wajahnya mencoba menentang tatapan Saraswati. Sesaat kemudian ia memalingkan wajahnya kearah Arini yang menunduk disampingnya. “Kembalilah ke mejamu dulu..” ujarnya perlahan.


Arini melirik Tian sekilas dan ia mendapati angukan Tian yang memaksa. Namun saat Arini mencoba menatap Saraswati, wanita tua itu malah sudah berucap tegas terlebih dahulu yang membuat niat Arini untuk beranjak kembali urung.


“Tidak.” tegas suara itu.


“Nek..” tegur Tian.


“Tetap ditempatmu.” Saraswati menatap Arini tajam membuat Arini salah tingkah entah harus mendengarkan siapa, akhirnya ia memilih menatap Tian dengan pandangan memohon pengertian, namun yang Arini dapati adalah sebaliknya..


Tatapan Tian sudah lekat padanya, dengan wajah mengeras yang auranya mulai menggelap menakutkan, pertanda lelaki itu benar-benar tidak ingin dibantah kalau tidak ingin membuatnya marah.


“Ini perintah atasanmu sekaligus suamimu.. cepat kembali ketempatmu..!”


Arini menelan ludahnya kelu, sebelum akhirnya menganguk perlahan. Arini menatap Saraswati sejenak.. “Maafkan aku, nek..” ia akhirnya harus memilih mendengarkan perintah suaminya.


Sementara Saraswati langsung membuang pandangannya begitu saja kearah lain dengan wajah yang kesal begitu melihat Rudi membukakan pintu untuk Arini.. dan keduanya menghilang dibalik pintu..


.


.


.


Bersambung…


Jangan Lupa LIKE, COMMENT, VOTE, FOLLOW, SUBSRCIBE, apapun itu untuk menunjukkan dukungan kalian untuk novel ‘CTIR’ 🤗🤗


See you and lopphyuu… 😍😘

__ADS_1


__ADS_2