CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Tidak bisa mengalah


__ADS_3

Jangan lupa di LIKE, everybody.. 😁


Sedari tadi Tian hanya menatap gerak-gerik Arini tanpa berkedip. Terhitung sejak istrinya itu keluar dari kamar mandi dengan stelan baju tidur yang menggoyahkan iman, sejak itu pula dia langsung menjadi penonton setia yang seolah tidak lagi pindah channel kemana-mana. Pandangannya terus mengikuti kesana kemari tanpa henti.


Arini baru saja selesai dengan rutinitas mengenakan skin care sebelum tidur. Setelah itu ia langsung mendekati ranjang.. berpura-pura tidak menyadari wajah mupeng yang sedari tadi tak bisa berkedip menatapnya.


“Apa sih lihat-lihat ?” merebahkan diri dengan nyaman sambil melirik sejenak kearah Tian yang ada disampingnya.


“Aku sedang memandangi istriku, untuk apa kamu marah..?” kilah Tian seolah tak peduli dengan kalimat yang sedikit judes itu. Ia malah dengan acuh memindahkan kepala Arini begitu saja keatas lengannya masih dengan ekspresi yang senyam-senyum.“Berhubung saat ini kita tidak bisa melakukan apa-apa, bagaimana kalau kita ngobrol saja..?”


Mendengar itu Arini sontak memejamkan matanya. “Tidak mau. Aku mengantuk.” Padahal dalam hati sedang ingin menghindari obrolan dengan Tian karena rasanya tidak mungkin kalau Tian tidak mengetahui perbuatannya yang telah membeli mobil tadi siang.


Sedetik.. dua detik.. tidak ada yang terjadi, hanya hening. Genap dua kali enam puluh detik tidak terdengar apapun dan tidak terjadi apapun akhirnya Arini memilih membuka matanya, penasaran juga dengan apa yang sedang dilakukan Tian. Tapi saat mata Arini terbuka ia malah tergeragap saat melihat wajah Tian yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya sedang mengawasi dirinya lekat-lekat sambil tersenyum.


“Kenapa bangun lagi ? katanya mau tidur ?” masih betah tersenyum dengan wajah yang begitu tampan.


“Kamu sedang apa ?”


“Sedang menatap wajah istriku yang manja.”


“Bilang saja kalau mau marah..” rutuk Arini membuat Tiam mendelik.


“Marah ? marah kenapa ?”


“Karena aku sudah menghabiskan uangmu satu setengah milayar tadi siang..”


“Aku adalah mesin pencetak uang, sayang, jadi uangku tidak akan pernah habis.” ucap Tian pongah. “Lagian untuk apa aku marah ? itukan uangmu juga.. kamu bebas membeli apa saja..”


Arini terbengong mendengarnya.


"Aku suka caramu menghibur diri. Cocok sekali dengan kelasnya istri Ceo Indotama Group.. iya kan ?”


Arini menatap Tian lagi. Senyum di  wajah lelaki itu tak pernah lekang sedikitpun. Tapi Arini sendiri masih bingung harus mengatakan apa, karena sejujurnya ia merasa sangat malu dengan ulahnya sendiri. Alih-alih ingin membuat Tian kesal tapi malah tanggapan seperti ini yang ia dapat.


‘Baiklah.. sepertinya sekarang aku mulai percaya kalau suamiku ini benar-benar memiliki uang yang tidak akan pernah ada habisnya..’


"Sekarang bagaimana ? merasa lebih baik..?”


Arini menganguk kecil.


“Sudah siap menghadapi Saraswati Djenar ?”


Kali ini Arini menatap Tian lekat. “Sayang, aku tidak tau apa aku memiliki keberanian untuk itu atau tidak. Aku hanya mengerti satu hal, bahwa aku tidak mau jauh darimu. Aku tau nenek dan Rico adalah kelemahanmu, dan bagi hidupmu mereka penting. Tapi disaat seperti ini.. aku sedang tidak bisa diajak untuk mengalah pada siapapun..”


Tian menarik nafasnya. Sejujurnya selama ini ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya dinginkan dan diperjuangkan seperti ini. Dan perkataan Arini barusan membuat Tian merasa sangat bangga, karena secara tidak langsung Arini telah menyatakan betapa penting kehadiran Tian didalam hidup wanita itu. Perasaan bahagia yang membuncah bahkan membuat Tian kesulitan untuk melukiskan semua perasaannya dengan kata-kata.


Untuk yang pertama kalinya, akhirnya Tian meyakini bahwa hati dan keinginan Arini adalah cerminan dari hati dan keinginannya sendiri. Memiliki perasaan cinta yang saking terlalu dalamnya, terasa begitu egois, serakah dan menuntut.. tapi mungkin begitulah cara mereka berdua memaknai cinta mereka. Tidak mampu melaluinya seperti kisah roman lainnya yang menggambarkan pengorbanan dan kerelaan.. karena seperti yang dikatakan Arini tadi, cintanya untuk Arini bahkan tidak ingin bertoleransi dan mengalah.


Tian mengecup gemas wajah polos itu berkali-kali seolah ingin meluapkan rasa bahagianya yang tidak terkira, sebelum membawa tubuh Arini masuk kedalam pelukan.


“Jadi.. bagaimana ceritanya kamu bisa menjatuhkan pilihan pada tesla model 3 ?” tanya Tian mengalihkan pembicaraan karena perasaan berbunga-bunga dihatinya mulai menuntun hasratnya kearah yang familiar, sementara ia tau persis bahwa saat ini istrinya sedang tidak mungkin ia jamah.


“Aku melihat sebuah konten. Seseorang membeli mobil itu melalui aplikasi jual beli online pada jam tiga shubuh.. bukankah itu hal yang mendebarkan ?”


Tian tertawa mendengarnya. “Yang punya jargon ‘murah banget’ itu yah ?”


Arini terhenyak. “Kamu mengenalnya ?”


“Tidak. Tadi aku hanya menonton beberapa kontennya karena penasaran dengan hal apa yang bisa membuatmu tertarik melakukan hal kontroversial..” kemudian ia berucap lagi. “Warna apa yang kamu pilih..?”

__ADS_1


“Red multi coat..” berucap sambil melirik Tian malu-malu.


“Sudah kuduga..”


“Kenapa memangnya..?” Arini menautkan alis.


“Sesuai dengan kepribadianmu yang terlihat selow.. namun sebenarnya pemberani dan pemberontak.” ucap Tian sambil terkekeh. “Lalu kapan pengirimannya ?” bertanya lagi sambil mengusap punggung Arini yang sedikit terbuka karena pola baju tidur yang dipakainya.


“Kata adminnya, dari awal melakukan pre-order hingga sampai pengiriman memerlukan waktu sekitar empat puluh lima hari..”


Tian mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sejenak hanya hening yang bertahta, mereka berdua hanya saling memeluk tanpa kata.


“Aku rasa.. kejadian tadi sore akan membuat nenek semakin marah..” ucap Arini perlahan


"Hhmm.. aku telah benar-benar menabuh genderang perang padanya..”


“Lalu apa yang akan kamu lakukan besok ?”


“Merayunya.”


“Merayu ? apa cuma itu satu-satunya keahlianmu ?” protes Arini.


Mendengar itu Tian meringis. “Kamu bahkan tau aku punya banyak keahlian saat menghadapimu, tapi untuk menghadapi nenek aku hanya bisa melakukan itu saja.”


“Apa nenek akan luluh ?”


Tian mengangkat bahu. “Mana aku tau ? selama ini aku yang selalu mengalah padanya.. dan mengikuti semua keinginannya. Ini adalah kali pertama aku akan membuatnya mengalah padaku. Makanya aku mengatakan bahwa sepertinya semua ini tidak mudah..”


Arini melotot lagi. “Sudah tau tidak mudah lalu kenapa selama ini bertingkah seolah-olah kamu bisa mengatasinya dengan mudah ?”


Dan Tian sudah meringis saat merasakan perutnya yang kembali digigit sepuluh ekor semut sekaligus.


“Jadi kamu masih berfikir untuk bisa merayu seorang gadis yah ? dasar playboy..!”


“Sayang, kamu salah paham..”


Tapi Arini sudah keburu mengurai pelukan dan berbalik memunggungi Tian yang menggaruk kepalanya berkali-kali.


“Sayang..” sambil memeluk dari belakang.


“Aku tidak mau mendengar apa-apa..!”


“Tapi tadi kamu salah paham dengan maksudku. Mana mungkin aku merayu gadis lain.. kamu kan tau aku sangat mencintaimu.. menyayangimu.. kamu satu-satunya..”


“Minggir. Sekarang aku masih kesal. Jangan coba-coba merayu..” Arini kembali memberi jarak tubuhnya dengan Tian.


“Baiklah. Aku tidak akan merayumu. Aku bahkan tidak akan tertarik merayumu selama satu minggu ini.”


“Apa kamu bilang ?” Arini berbalik begitu saja sambil melotot tajam kearah lelaki yang malah cengengesan itu.


“Tapi setelahnya aku tidak janji..”


Mendengar kalimat bermuatan omes itu tentu saja Arini sudah melotot tajam dan tak ayal kembali mencubit perut keras Tian, membuat lelaki itu mengaduh meminta pengampunan.


Kemudian seperti yang sudah-sudah.. akhirnya Tian harus ekstra keras mengeluarkan semua jurus rayuannya agar bisa mengembalikan mood Arini yang kadung kesal dengan ulah usilnya.


“Sayang.. apa kamu sama sekali tidak tertarik ingin mengecek perkembangan berita tentang kejadian tadi sore ?” tanya Tian setelah beberapa saat.

__ADS_1


“Tadi aku sempat mengeceknya.”


“Lalu ?”


“Wajahku sangat terlihat. Semua orang di kantor pusat pasti akan langsung mengenaliku dengan mudah.. apalagi Meta. Saat ini aku bahkan memblokir semua panggilan masuk. Aku belum siap menerima rasa terkejut semua orang yang mengenalku selama ini. Lagian.. kenapa kamu cuma membawa hodie sih ? seharunya kamu menyediakan topi dan masker juga..”


“Karena aku sengaja,”


“Sengaja ?”


“Aku sengaja berusaha tidak terlalu mengekspos dirimu, cuma agar terlihat seperti itu.. padahal sih tujuan utamaku sengaja ingin pamer dengan istriku..”


Kemudian menatap Arini penuh dengan wajah yang terlihat lebih serius.


"Aku sudah memberikan mereka kesempatan emas. Karena diwaktu yang akan datang jangan harap mereka bisa melihatmu dengan mudah. Istri Sebastian Putra Djenar ini.. hanya bisa dilihat sepuasnya oleh diriku saja.." sambil menjawil dagu Arini dengan gemas.


"Dasar posesif !" desis Arini dengan wajah kesal. “Ahli setingan..”


Tian tertawa. “Nah.. kalau masalah setingan.. itu ide Rico..”


“Baiklah..Rico lagi. Setelah nenek, sepertinya tidak ada lagi makhluk lain yang ada diduniamu selain Rico.”


Tian tertawa. “Jangan cemburu begitu..” ucap Tian sambil mengulum senyum. “Aku sudah pernah mengatakan arti Rico untuk diriku kan ? coba lihat.. bahkan sampai detik ini dia tidak pernah berhenti menghalau semua persoalanku..”


“Lalu apa arti diriku untukmu ?” tanya Arini lirih.


Tawa Tian mereda begitu saja saat ia menatap Arini dengan tatapan yang dalam. ”Dulu.. kesedihanku ini sangat panjang, sayang. Aku berusaha bangkit dengan perjuangan yang juga sangat panjang. Saat aku berhasil mendapatkan semuanya yang berlabel duniawi, disaat yang sama aku juga kehilangan semuanya yang menyangkut hati. Aku takut mempercayai orang lain, memberikan cinta, membangun komitmen. Aku bermain-main bukan karena aku menikmati.. tapi karena aku tidak mau mencintai sepenuh hati.. lalu kehilangan cinta lagi..”


Melihat pemandangan wajah sendu itu refleks Arini beringsut mendekat dan merengkuh Tian.


“Sekian lama hidup dalam kehampaan, lalu kamu datang begitu saja dan membuat hatiku berada dalam kekacauan besar yang anehnya malah menuntunku menemukan sesuatu yang sempat hilang. Padahal menikah denganmu adalah hal yang tidak pernah aku inginkan. Dan saat menyadari aku mencintaimu.. itu terasa menakutkan.." Tian mengatur nafasnya sejenak. "Aku tidak mau kehilangan lagi, sayang. Maafkanlah jika aku terlihat sangat memaksa. Aku hanya berusaha membuatmu bertahan denganku, karena tidak bisa kehilangan dirimu.."


“Setelah nenek dan Rico, aku senang mengetahui bahwa ternyata aku juga penting didalam hidupmu.." Arini tersenyum bahagia.


"Tentu saja kamu penting, sayang.."


"Meskipun aku tidak menemanimu sejak awal seperti mereka, tapi aku berjanji akan menemanimu sampai akhir..”


Tian menganguk, seraya mengecup pucuk hidung Arini. “Aku tidak boleh kehilangan siapapun diantara kalian..” ucapnya sendu.


Arini menganguk haru. “Tapi aku mengkhawatirkan nenek, dan aku takut kita berdua akan melukai hatinya..”


“Nenek akan baik-baik saja, dia hanya perlu waktu untuk berdamai dengan keegoisannya.. dan yang terpenting kita akan menghadapinya bersama-sama..”


Dan malam itu mereka terus bercerita tentang banyak hal, terkadang berdebat kemudian sebentarnya lagi sedikit bercumbu dan bercanda. Terus seperti itu hingga larut malam.. seolah ingin melupakan semua kejadian.. dan melepaskan semua beban yang pastinya masih akan kembali merintang di masa depan.


Tapi bukankah begitulah kehidupan..? setiap masalah silih berganti datang sebagai bumbu pelengkapnya. Terkadang hanya mampir sebentar untuk memberi warna.. terkadang menetap lama untuk menguji seberapa kokohnya perasaan..


.


.


.


.


Bersambung…


SUPPORT NOVEL INI JANGAN KASIH KENDOR YAH.. 🤗

__ADS_1


Lophyuu.. readers.. 😘


__ADS_2