
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🤗🤗🤗
.
.
.
Arini nyaris berteriak saat ia berbalik dan mendapati sosok Tian sudah berada tepat dihadapannya. Lengkap dengan senyum manis yang menghiasi sepanjang bibirnya.
“Maaf mengagetkanmu..” berucap
lembut dengan nada menyesal, meskipun demikian senyum dibibirnya tetap tak berkurang. “Ini untukmu, sayang..” seraya menyerahkan setangkai mawar yang sejak tadi berada dibalik punggungnya.
Arini menerimanya sambil tersenyum
tipis. “Terima kasih..” meski nada suaranya terdengar datar namun refleks Arini langsung mencium kesegaran wangi mawar tersebut.
Tian meraih jemari Arini dengan
lembut. “Sayangku.. i’m so sorry..”
“Untuk apa..?” Arini mencium lagi aroma mawar yang menyegarkan tersebut tanpa menoleh.
Tian mengusap tengkuknya perlahan.
Sejak dulu Tian memang terkenal sebagai penakluk wanita, tapi hal itu tidak serta merta berarti bahwa dirinya pintar merayu kaum hawa karena sejauh yang ada justru para wanita-wanita itulah yang selalu mengejarnya.
Sejujurnya wanita pertama yang
membuatnya sanggup mengatakan hal yang indah, melakukan hal yang gila, menghadapi dunia.. hanyalah wanita yang ada dihadapannya ini.
“Untuk semuanya..” ujarnya lagi
seraya menatap Arini dalam-dalam.
Arini mengangkat wajahnya. “Semuanya ? memangnya apa saja..?”
Kali ini Tian tidak hanya mengusap tengkuknya, tapi benar-benar sudah menggaruk perlahan belakang telinganya yang tidak gatal. Bingung bagaimana harus mendeskripsikan jawaban dari pertanyaan Arini barusan.
Sedangkan di kedalaman hatinya..
Arini mau tidak mau tersenyum melihat gerak-gerik Tian yang salah tingkah. Bagaimana mungkin Arini tidak tau bahwa suaminya itu memang sangat ahli dalam perbuatan.. tapi teramat sangat payah jika menjabarkannya lewat kata-kata. Apalagi mengharapkan lelaki itu berpuitis ria ? ck.. ck.. ck.. tidak mungkin !
Arini menyadari jika semingu terakhir ini mungkin ia juga sudah sedikit keterlaluan menghukum Tian. Tapi mau bagaimana lagi.. hatinya memang se-kesal itu dan ia juga perlu waktu untuk membenahi dan menghilangkan sisa-sisa amarah yang tersisa dihatinya.
Memang benar setiap hari mereka
tetap bicara walau seperlunya.. dan setiap malam Tian juga tetap tidur memeluknya, meskipun tidak pernah lagi berani meminta yang macam-macam.. tapi selama seminggu ini terlihat sekali betapa Tian tersiksa dengan dinginnya hubungan mereka.
“Ini.. untukmu juga..” mencoba berkelit dari usaha menyusun kata-kata diotaknya yang selalu gagal, Tian memilih merogoh saku celananya.. dan menyerahkan sebatang coklat yang terlilit pita kearah Arini.
“Terima kasih..” menerimanya sambil tersenyum lagi, padahal yang ada Arini nyaris tertawa melihat usaha Tian yang kali ini memberinya sebatang coklat. “Aku akan membaginya besok dengan Sean..” imbuhnya seraya membalikkan tubuh untuk menutup pintu wadrobe yang tadi belum sempat ia tutup karena telanjur terkejut dengan kehadiran Tian yang tiba-tiba.
Namun ketika pintu wadrobe itu
tertutup sempurna, lewat pantulan cermin yang ada dihadapannya Arini malah melihat pemandangan kedua tangan Tian yang sudah melingkari lehernya.. menyematkan sebuah kalung cantik bermata berlian yang terlihat menyilaukan.
Jemari Arini refleks menyentuh
pusat dari kemilau tersebut dengan ekspresi wajah yang takjub, sementara Tian yang telah selesai memasangkan kalung tersebut langsung melingkarkan kedua lengannya disepanjang pinggang dan menaruh dagunya diatas bahu kanan Arini.
“Suka..?” bisik Tian, tatapan matanya
tertuju pada seraut wajah Arini yang ada di cermin.
__ADS_1
Arini menganguk. “Hmm.. terima
kasih..”
Lewat pantulan cermin Arini bisa
melihat Tian yang melirik padanya. “Cuma itu ? cuma ucapan terima kasih ?”
Arini tersenyum dalam hati. Tidak
sia-sia usaha terakhirnya membuat Tian kesal karena sekarang suaminya itu mulai menemukan kembali sifatnya yang sesungguhnya, yang sama sekali tidak bisa berlama-lama dalam berbasa-basi.
“Aku tidak percaya.. aku bahkan
sudah tiga kali menerima ucapan terima kasih tanpa embel-embel sayang..”
Arini tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa kecil melihat ekspresi tidak terima tersebut.
‘Dia benar-benar Sebastian Putra Djenar kan ? sifatnya yang tidak bisa menerima penolakan itu bahkan masih sama..’
Arini berbalik dan memeluk Tian serta merta. Memeluknya dengan erat.. yang awalnya tidak mendapat respon tubuh Tian yang hanya berdiri terpaku, mungkin tidak menyangka jika Arini akan berbalik memeluknya dengat erat, namun detik berikutnya Tian sudah meraih pinggul istrinya itu.. membawanya semakin merapat pada tubuhnya.
Pada menit-menit awal mereka hanya berdiri dan terus berpelukan dengan ketat tanpa kata. Namun setelahnya Tian sudah mengangkat wajah Arini yang terbenam dalam pelukannya itu untuk bisa mendapatkan pusat dari segala rasa manis yang sudah sejak lama ia inginkan.
Mereka bertaut cukup lama, karena
baik Tian maupun Arini tengah berusaha untuk meluapkan segala kerinduan yang terpendam.
“Apakah aku sudah bisa mendapatkan maaf yang sebenar-benarnya..?” lirih Tian bersungguh-sungguh saat mereka telah berjarak.
Arini menganguk kecil. “Sayang..
maafkan aku juga. Aku pasti sudah membuatmu sedih dengan sikapku..”
“Tidak.. tidak..” Tian menggeleng cepat, memupus kalimat Arini yang belum selesai. “Aku yang salah.. kamu marah dan bersikap seperti itu.. itu semua karena aku telah membuatmu kecewa..”
Tian terdiam meresapi sentuhan lembut tersebut. Hanya menatap Arini lekat seolah ingin menyalurkan segenap rasa cintanya yang luar biasa lewat kedua matanya. Perasaan mendalam yang tidak pernah berkurang sedikitpun jumlahnya.. melainkan semakin hari semakin bertambah saja.
Tian sadar.. ia belum bisa membuat Arini memahami dirinya sepenuhnya. Tian juga tau.. bahwa ada begitu banyak pola pikirnya yang bahkan tidak pernah sejalan dengan wanita dihadapannya ini.
Bukan maksud Tian untuk menyembunyikan atau tidak ingin membuat Arini mengerti seperti apa dirinya. Bukan juga Tian tidak suka berbagi setiap masalah yang dihadapi dalam hidupnya. Sejujurnya Tian bahkan tidak ingin Arini mengerti.. apalagi harus memikul masalah yang sama. Tian benar-benar tidak ingin Arini memikirkan persoalan apapun.
Mungkin baginya konsep berumah tangga itu sangat berbeda dengan Arini atau bahkan dengan pasangan suami istri yang lain. Tian bahkan tidak mau memikul beban dan persoalan bersama-sama. Tian hanya ingin Arini duduk manis sambil menerima sebesar apa cintanya untuk wanita itu.. bukan terseok bersama melewati kerikil tajam dalam menghadapi segala persoalan kehidupan, karena bagi Tian hal itu biarlah menjadi bagiannya saja.
“Sayang.. sungguh aku tidak marah
padamu. Melainkan aku hanya kecewa dengan diriku..” Arini berucap lirih setelah sekian menit mereka hanya saling bertatapan tanpa kata dengan dirinya yang terus mengusap lembut wajah kokoh milik Tian.
Tian menarik nafasnya dalam. “Kamu bahkan tidak pernah mengecewakan aku.. lalu bagaimana mungkin bisa mengecewakan dirimu sendiri..?”
“Sayang..”
“Tidak, jangan bicara seperti itu lagi. Demi Tuhan, Arini.. aku benar-benar tidak suka mendengar ada yang berbicara buruk tentang dirimu.. meskipun itu keluar dari mulutmu sendiri..”
Arini terdiam, hatinya terenyuh mendapati kalimat tegas Tian yang seolah menyadarkannya.. bahwa betapa lelaki itu memang benar-benar tidak pernah berubah sedikit pun. Selalu memposisikan dirinya begitu sempurna, tanpa cela, kesalahan dan kekurangan.. padahal yang ada, justru Arini selalu merasa begitu banyak kekurangan yang membuatnya selalu tidak bisa mengimbangi Tian.
‘Arini.. setiap manusia akan terus hidup dengan masa lalunya. Entah dengan kebaikannya.. entah dengan keburukannya.. tapi seperti apapun masa lalu, masa depan masih jauh lebih penting untuk dihadapi..’
Kalimat ayah kemarin masih bergelayut dibenaknya. Nasehat terakhir yang ia dapatkan sesaat sebelum ia mengakhiri pembicaraan.
Entah kenapa ayah mengatakan hal
tersebut, padahal selama ini dirinya tidak pernah menyinggung sedikitpun jika rumah tangganya sedang dilanda perang dingin. Sementara Tian tentu saja tidak mungkin akan mengatakan hal serupa kepada ayah, kan..? Tian sama sekali bukan tipe orang yang suka mengumbar persoalannya bahkan pada dirinya yang merupakan istrinya sekalipun.
Untuk itulah Arini lebih mempercayai, bahwa kalimat ayah itu, merupakan gambaran sempurna dari feeling setiap orangtua, terhadap kehidupan anaknya sekalipun mereka terpisah dengan jarak.
Ayah memang benar. Masa lalu adalah milik semua orang. Tapi menjadikan hari esok menjadi lebih baik ternyata jauh lebih penting daripada terus menengok ke masa lalu.
“Oh yah.. sayang.. aku ingin
__ADS_1
memberikan sebuah kabar yang menurutku sangat baik, tapi mungkin kamu akan sedikit terkejut..” Tian berucap mengurai keheningan yang panjang diantara mereka, begitu ia terlihat mengingat sesuatu.
Arini mengerinyit. “Kabar baik yang
akan membuatku terkejut ?”
“Ini tentang sahabatmu.. Meta..”
“Meta ?” ulang Arini lagi masih mengerinyit. Terakhir ia bertukar kabar dengan Meta, Meta mengatakan bahwa sedang mendapat side job lewat proyak Indotama Times Square yang sedang ditangani Rico. Hal tersebut memang berkaitan erat dengan Rei, karena Meta akan bekerja dari rumah Rico dan bisa menemui Rei setiap hari disana.
“Dua hari lagi Meta akan menikah
dengan Rico..”
“Menikah ? dengan Rico ?” entah
kenapa Arini justru merasa ganjil mendengarnya.
“Setelah melamar Meta secara resmi dihadapan ibu Meta, barusan Rico menelponku untuk memberitahukan hal tersebut sekaligus memintaku untuk menjadi saksi dalam akad nikahnya nanti..”
Arini terhenyak mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka karena Meta bahkan belum memberitahukan kepadanya secara langsung
“Kamu ini sedang memikirkan apa, sayang ? Meta itu menyayangi Rei, dan Rei menyayangi Meta.. itu sudah cukup.”
“Bagaimana mungkin itu sudah cukup ? lalu bagaimana dengan Rico ?”
“Sayang.. Rico melakukan segala cara untuk bisa menikahi Meta. Dia..”
“Rico tidak membutuhkan Meta.. hanya Rei. Kalau seperti itu.. tidak perlu sampai menikahikan ? Rico akan menyakiti hati Meta..” Arini berjalan menuju nakas, hendak meraih ponselnya.. berniat menghubungi Meta.
Melihat pemandangan itu Tian mengusap wajahnya sesaat sebelum akhirnya menyusul langkah Arini, dan mengambil ponsel yang sudah berada ditangan istrinya itu. Menaruhnya lagi diatas nakas.
“Kenapa ?” Arini menatap Tian dengan tatapan protes.
Tian menggeleng. Ia malah kembali meraih ponsel Arini dan mengantonginya ketika melihat gerakan Arini yang kembali berniat meraih benda pipih itu lagi.
“Sayang, Aku akan menelpon Meta sebentar.”
“Tidak boleh.”
“Tapi kenapa ?”
“Bersabarlah. Dua hari lagi akad nikah, dan kamu bisa menemui Meta secara langsung..”
Pupil mata Arini melebar mendengar kalimat Tian. Ia masih belum mengerti apa alasan Tian sehingga mencegah dirinya saat ingin menelpon Meta.
“Tolonglah sayang, jangan menelpon dulu. Aku tidak mau keputusan Meta goyah karena apapun.”
“T-tapii..”
“Buanglah jauh-jauh segala sesuatu tentang Rico dari fikiranmu, dan cukuplah pikirkan Rei saja. Rei membutuhkan Meta.. hanya ini satu-satunya cara Rico untuk menahan Meta agar bisa terus berada disisi Rei..”
.
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa bantu author buat naikin
“pop”menuju 1,0 M.. Chayoo..! 💪
Halo.. hidden reader yang belum sempat membagi like-nya. Bagi dukungannya untuk author yah.. dan jangan lupa tekan favorit untuk novel ini. 🙏
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1