CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Bertemu Saraswati


__ADS_3

Menempuh perjalanan nyaris setengah jam ditambah dengan situasi jalanan ibukota yang sempat macet dibeberapa titik


meskipun tidak lama akhirnya mobil yang dikendarai Sudir tiba di gerbang besar berpagar tinggi yang didepannya terdapat pos keamanan. Hari sudah gelap saat mereka tiba.


Ini adalah untuk yang pertama


kalinya Arini menginjakkan kaki di rumah sangat besar nan mewah milik keluarga Djenar yang tentu saja ditempati oleh Saraswati.


Saraswati yang sepertinya memang


telah menunggu mereka sejak tadi nampak sumringah saat menyambut kedatangan Tian dan Arini.


“Apa kabar, Nek ?” Arini menyapa dan


mencium tangan Saraswati yang langsung memeluknya dengan senang hati. Arini membalas pelukan wanita tua itu dengan hangat. Setelah itu Arini melihat Tian juga melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan neneknya dan Saraswati


langsung memeluk Tian dengan ekspresi yang tak kalah bahagia.


Saraswati menatap Arini sembari


tersenyum. “Seperti yang kamu lihat, nenek selalu sehat dan bersemangat..”


Mereka bertiga tertawa kecil


mendengar gurauan Saraswati. Tapi meskipun demikian di dalam hati Arini juga membenarkan bahwa selain selalu terlihat sehat dan bugar Saraswati memang selalu enerjik dan bersemangat di usianya yang senja.


“Lalu bagaimana dengan keadaanmu,


Arini ?”


“Seperti yang nenek lihat, keadaanku


juga baik-baik saja, Nek..” Arini tersenyum kecil.


Saraswati mengeling kecil kearah


Tian. “Apa anak nakal itu memperlakukanmu dengan baik ?” meskipun Saraswati bertingkah seperti orang yang sedang berbisik, tapi tentu saja ia dengan sengaja


membiarkan agar suaranya tetap bisa didengar Tian yang ada disampingnya.


“Nenek bicara apa ? tentu saja aku


memperlakukan istriku dengan baik.” desis Tian yang sudah bisa menebak bahwa pertanyaan neneknya itu pasti sengaja menyindirnya.


“Benarkah begitu ?” Tanya Saraswati


lagi dengan tatapan menyelidik.


“Iya dong.. Kalau tidak bagaimana


mungkin dia bisa tersenyum pada nenek se manis itu..?”


‘tersenyum pada nenek se-manis itu..?’


Sungguh mati, Arini hampir tersedak


saliva nya sendiri saat mendengar ucapan ringan tanpa beban yang meluncur dari mulut Tian. Namun saat tatapan mata mereka beradu yang Arini temukan disana

__ADS_1


hanyalah senyum mengejek, yang membuat Arini langsung memutuskan bahwa rupanya


lelaki itu tadi tidak benar-benar berniat memuji senyumnya yang katanya manis. Huhh !


Saraswati melirik Tian sekilas.


“Lagipula kenapa kamu yang selalu menjawab ? aku tidak sedang bicara denganmu.” ketusnya, langsung menggandeng lengan Arini mengajaknya masuk kedalam rumah


dengan pilar-pilar raksasa yang megah.


Arini tersenyum melihat tingkah


Saraswati sementara Tian yang diacuhkan akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah kedua wanita beda generasi itu.


“Kenapa kalian lama sekali, Arini ?”


“Maaf, Nek.. tadi dijalan sedikit


macet..”


“Hmm... kalau begitu kita langsung


makan saja dulu, setelah makan baru kita lanjutkan obrolan kita lagi karena aku benar-benar merindukan kalian..”


Arini hanya menganguk, menyetujui


usul Saraswati yang langsung menuntunnya ke meja makan yang ternyata diatasnya sudah dipenuhi berbagai macam hidangan yang sudah pasti menggugah selera.


XXXXX


Usai mereka menyantap makan malam, Saraswati mengajak Arini dan Tian kesebuah ruangan yang letaknya disamping ruang makan.


Dan karena dinding penyekatnya juga


terbuat dari kaca maka pemandangan taman yang ada diluar sana beserta lampu-lampu yang berpendar menghias sekeliling kolam renang tersebut terlihat jelas dari tempat mereka duduk sekarang.


Sungguh indah sekali. Puji Arini dalam hati yang sedari tadi tidak bisa berhenti untuk terpukau menatap apapun yang disuguhkan


setiap inchi rumah Keluarga Djenar. Semua itu benar-benar luar biasa.


Diawal perbincangan Saraswati


dan Tian terlibat pembicaraan ringan tentang berbagai kemajuan Indotama Group dalam beberapa proyek kerja sama yang sedang ditangani Tian.


Tian juga terdengar membahas tentang kerjasama dengan Best Electro yang pemilik perusahaannya adalah Rico Chandra Wijaya, dan terakhir mereka membahas tentang sebuah proyek pembangunan resort


mewah yang sepertinya pelaksanaannya sudah mendekati seratus persen.


Saraswati terlihat mendengarkan penjelasan Tian dengan seksama, dan tak jarang menyela untuk menanyakan sesuatu secara


detail sementara Arini yang tidak terlalu paham dengan topik pembicaraan tersebut memilih diam mendengarkan tanpa menyela sedikitpun.


Nanti disaat perbincangan mereka


beralih pada pembahasan mengenai perkembangan kesehatan ayah barulah Arini bisa ikut meresponnya.


Tidak banyak juga yang mereka

__ADS_1


bicarakan, hanya sebatas membahas kondisi Sadana Ramdhan yang tetap stabil sambil menunggu donor jantung yang tepat untuk selanjutnya melakukan tindakan operasi transplantasi jantung.


Arini merasa sedikit terhibur dengan


perkataan Saraswati yang kembali meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu


khawatir karena ayahnya sudah pasti telah berada ditangan orang-orang yang professional.


“Nek, apa rencana nenek untuk ke Paris tidak bisa ditunda ?”


Saraswati menggeleng tegas


menanggapi pertanyaan Tian. “Tidak Tian.. tidak bisa. Bahkan seharusnya sudah sejak seminggu yang lalu aku akan kesana. Tapi karena pernikahan kalian kemarin yang begitu mendadak maka terpaksa aku harus menyuruh Laras terlebih dahulu untuk melakukan segala persiapan sebelum aku datang.”


Yah, Saraswati memang baru saja


mengemukakan rencananya untuk pergi ke Paris besok pagi. Perusahaan perhiasan ternama di Paris yang baru saja bekerja sama dengannya lusa akan mengadakan


launching perdana untuk model perhiasan terbaru. Saraswati tentu tidak akan melewatkan moment tersebut. Untung saja ia sudah mengutus Laras, asisten pribadi Saraswati sejak seminggu yang lalu untuk mengecek segala persiapannya


disana, karena ia harus mengutamakan pernikahan Tian terlebih dahulu.


“Tapi nenek harus berjanji untuk menjaga kesehatan. Jangan terlalu lelah..”


“Kamu tenang saja, aku tidak mungkin lupa menjaga kesehatanku.” Kemudian ia seperti berfikir sejenak sebelum berucap lagi. “Oh ya.. Tian, kapan kalian akan pindah ke rumahmu ? Kata Sumi kamu hanya


merenovasi taman belakang saja, lalu kenapa kemarin kamu jadikan itu alasan untuk tetap tinggal di apartemen..?”


Bukan hanya Tian yang sedikit


terhenyak mendengar kalimat Saraswati, tapi Arini juga.


Tian mengusap wajahnya sebentar,


sama sekali tidak menyangka jika neneknya itu sampai harus mengecek


kebohongannya lewat Bik Sumi perihal alasan Tian yang enggan mengajak Arini untuk tinggal dirumah dengan alasan sedang di renovasi.


.


.


.


Bersambung..


Berikan support dengan mem–follow/menjadi pengikut lapak penulis yah..


caranya dibawah ini.. Terimakasih and Lophyuuu all..



 



 

__ADS_1



__ADS_2