CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Pertanyaan menjebak


__ADS_3

Masih ada bab yang belum di like..? Yuk, author temenin scroll ke atas lagi.. 🤗


.


.


.


Acara Grand Launching Mercy Green Resort dibuka dengan suguhan persembahan seorang konduktor kenamaan dengan orkestranya yang fenomenal, serta dimeriahkan beberapa musisi dan penyanyi papan atas yang lagi hits.


Tidak hanya undangan yang antusias mengikuti jalannya pertunjukan, antusiasme penonton di bagian festival yang letaknya tepat berada dibawah panggung utama tidak kalah antusias. Saat ini seluruh lapisan masyarakat yang ada dirumah bahkan bisa ikut menyaksikan kemeriahannya lewat empat saluran televisi yang bekerja sama dalam mengadakan siaran langsung, serta live streaming di dua situs resmi indotamagroup.com dan mercy.com.


Dipenghujung acara dengan durasi dua jam itu terdapat pemutaran sebuah video yang memvisualisasikan proses pembangunan Mercy Green Resort dari titik nol sampai menjadi sebuah resort yang luar biasa. Tayangan video tersebut diakhiri dengan sambutan Ceo PT. Mercy yang tak lain adalah Ariella Hasyim. Pada layar besar tersebut sebagai pemilik Mercy Green Resort, Lila memperkenalkan visi dan misi secara ringkas, serta memperkenalkan Mercy Green Resort sebagai salah satu alternative hiburan keluarga yang siap memanjakan pengunjung, terlebih karena untuk mencapainya tidak perlu jauh-jauh hingga keluar kota apalagi keluar negeri, karena konsep Mercy Green Resort itu sendiri sudah di desain sedemikian rupa sehingga menjadikannya resort yang berkelas setaraf Internasional.


Setelah selesai dengan pemutaran video tersebut.. kamera nampak menyorot penuh sosok Lila yang tersenyum manis dengan wajah yang sedikit terharu, duduk dibangku paling depan, hanya berjarak dua kursi dari kursi Ceo Indotama Group.


Dan moment yang paling ditunggu semua orang ahirnya tiba, puncak dari segala acara tersebut yakni pengguntingan pita tanda resminya Mercy Green Resort dibuka secara umum kepada semua pengunjung.


Suasana langsung riuh saat kedua host yang merupakan artis muda tanah air yang sedang naik daun itu mengumandangkan nama Sebastian Putra Djenar, Ceo Indotama Group, selaku tamu istimewa yang merupakan kunci kesuksesan pembangunan Mercy Green Resort untuk naik keatas panggung utama yang begitu megah. Saat Tian berdiri, beberapa lampu sorot mengarah padanya.. membuat Tian seolah dikelilingi aura yang berkilau penuh pesona siapapun yang memandangnya.


Diatas podium itu Tian tidak membutuhkan waktu yang lama, dia hanya mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah terlibat dalam kesuksesan pembangunan Mercy Green Resort, serta memberikan apresiasi khusus kepada Ariella Hasyim selaku pemegang peran atas keberhasilan pembangunan Mercy Green Resort. Selanjutnya Tian sudah melakukan penguntingan Pita tersebut dengan disambut oleh riuh rendah applaus yang meriah oleh ribuan orang yang hadir disana.


Acara Grand Launching Mercy Green Resort berlangsung meriah dan bertabur bintang. Lebih dari seribu undangan yang hadir yang merupakan tokoh-tokoh pembesar di negeri ini baik dari kalangan pengusaha, politik, terlebih artis. Namun meskipun demikian wajah seorang Sebastian Putra Djenar begitu sering muncul dilayar televisi seolah menjadi bintang terang dalam acara tersebut saking seringnya para wartawan mengabadikan wajah tampan Ceo Indotama Group itu.


Siapapun pasti tau bahwa meskipun tergolong masih muda, Sebastian Putra Djenar sudah menjadi pengusaha sukses disegala bidang. Indotama Group sudah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah perusahaan raksasa yang memiliki ratusan anak perusahaan yang tersebar dihampir semua provinsi bahkan dibeberapa Negara.


Sosoknya yang begitu sukses dan rupawan membuat siapapun pasti penasaran apalagi Sebastian Putra Djenar bukanlah orang yang mudah didekati media. Sejauh ini kehidupan pribadi lelaki itu selalu menjadi incaran berita, secuil berita kedekatan dengan wanita selalu laku keras saat dilempar di ranah infotainment, menjadi pembahasan masyarakat luas yang dipenuhi spekulasi karena yang bersangkutan sendiri tidak pernah terlihat begitu ingin diwawancarai meskipun hanya sekedar membuat klarifikasi.


Lelaki itu seperti sebuah misteri,


sangat bekuasa namun kehidupannya sulit terdeteksi, seolah ada begitu banyak tembok yang siap menghalangi privacynya setiap kali terusik.


Dan ahirnya acara resmi tersebut telah usai dengan kesuksesan yang besar, namun tidak dengan hiruk pikuknya. Pertunjukan musik terus berlanjut dipanggung utama yang kini menampilkan salah satu band terkenal tanah air.


Empat stasiun televisi yang bekerja sama bisa menepuk dada karena tingginya rating acara menandakan besarnya animo masyarakat untuk menyaksikannya hingga selesai.


Tian yang bertekat bahwa seusai acara ingin kembali secepatnya kekamar resort, agar bisa memeluk istrinya sepanjang malam, sekaligus melanjutkan misi mulia dalam rangka mencetak seorang penerus keluarga Djenar, pada kenyataannya tidak bisa dengan semudah itu menghilang.


Beberapa orang pengusaha besar secara langsung meminta waktu untuk melakukan pembicaraan seputar bisnis dan kerjasama, beberapa orang tokoh politik juga terlihat antusias ingin mengenal dirinya lebih dekat tanpa Tian tau dengan pasti apa kontribusi dirinya untuk mereka, dan yang paling aneh adalah beberapa artis papan atas yang malah berbalik memintanya untuk berfoto bersama.


Bejubel awak media nampak seperti bersatu untuk meminta waktu Tian agar bisa memberikan mereka kesempatan membuat berita dengan headline yang semenarik mungkin.


“Bagaimana dengan wartawan pak Tian?” Rudi seperti biasa selalu siaga disampingnya.


“Berikan mereka sedikit kesempatan agar mereka bisa membuat berita. Kalau tidak diladeni, mereka akan lebih keras kepala. Nantinya bakal lebih merepotkan juga.”

__ADS_1


Rudi menganguk tanda mengerti, sambil berbicara di earpiece, memberi instruksi kepada para pengawal khusus agar memberikan ruang untuk awak media.


“Baik, Pak Tian akan memberi waktu sepuluh menit, tolong persiapkan pertanyaan yang paling penting dan saya akan batasi cukup dua orang saja untuk mengajukan pertanyaan.”


Rudi berucap lantang kearah awak media, kemudian memberi mereka kesempatan sejenak untuk merembukkan pertanyaan yang disepakati.


Tian yang sedang berdiri dikagetkan oleh sebuah tepukan halus dipundaknya. Saat ia menengok ia mendapati seraut wajah Rico sedang cengengesan menatapnya.


“Tumben memberi mereka kesempatan?” Rico berucap sambil menatap para awak media yang bejubel dibelakang barisan keamanan khusus Indotama Group seolah sedang membentengi sang bos besar.


“Kalau mereka ada bahan berita, mereka kan bisa tidur nyenyak,” ucap Tian seadanya.


“Mereka tidur nyenyak, sementara kamu begadang sepanjang malam. Iya kan..?” bisik Rico ditelinga Tian.


Tian terdiam mendengar bisikan bernada datar itu. Ia ingin menanyakan maksud kalimat Rico namun isyarat dari Rudi yang menandakan bahwa para awak media sudah siap, membuatnya mengurungkan niat, sementara Rico masih keukeuh untuk tetap berdiri disampingnya.


 XXXXX


“Silahkan pertanyaan pertama,” Rudi memediasi dadakan sesi wawancara yang juga dadakan tersebut.


Seorang wanita berambut pendek berdiri diantara para awak media yang sedang berkerumun seraya mengarahkan kamera masing-masing menyorot penuh kearah sosok Ceo Indotama Group itu, seolah siap mengabadikan sekecil apapun gerak dan ekspresi target mereka.


“Selamat malam, Pak Tian.. saya ingin tau apa yang membuat Pak Tian pertama kali menyetujui untuk mendanai proyek Mercy Green Resort..?”


Sambut Tian seperti biasa, minim


ekspresi, tanpa basa-basi, dengan suara beratnya yang khas.


“Awal mula saya mendanai proyek ini karena saya tertarik dengan visi dan misi yang ditawarkan, bahwa pembangunan Mercy Green Resort kelak bisa menjadi salah satu alternative hiburan keluarga. Letaknya di pinggiran kota, mudah dijangkau, serta konsep yang ditawarkan, semua itu merupakan nilai plus dalam pengembangan nilai jual resort ini kedepannya..”


Sang penanya terlihat puas mendengar jawaban Tian yang begitu lugas, begitupun dengan teman-temannya yang lain.


“Baiklah, yang kedua..” Rudi kembali bersuara lantang.


Kali ini seorang lelaki muda bertubuh agak gempal. “Terima kasih atas kesempatan. Langsung saja pak Tian, saya hanya ingin tau apakah benar terdapat unsur nepotisme dalam proyek Mercy Green Resort, mengingat bahwa pak Tian sudah menggelontorkan dana yang begitu fantastik untuk pembangunan Mercy Green Resort ini?”


Tian menarik nafas sejenak, melirik


sekilas Rico yang sedikit menegang mendengar pertanyaan kedua.


“Saya mengakui bahwa saya memiliki kedekatan dengan Ceo PT. Mercy. Ariella Hasyim adalah teman kuliah saya dulu waktu di Harvard. Tapi saya disini ingin menegaskan, bukan karena alasan itu saya bersedia meloloskan kerja sama yang bernilai fantastis, melainkan karena konsep awal Mercy Green Resort yang membuat saya terpukau. Apa kalian pernah mendengar Juma Amazon Lodge?”


Tian diam sejenak, sambil memperhatikan reaksi para awak media yang sebagian besar mengangkat bahu.


“Itu adalah bungalow dengan pemandangan hutan alami yang mengesankan, karena letaknya benar-benar berada dipedalaman hutan Amazon Brasil. Saat membaca proposal Mercy Green Resort pertama kali, benak saya langsung tertuju pada tempat eksotis itu.. tapi bedanya.. konsep Mercy Green Resort sendiri mengusung tema super modern. Menemukan hal yang unik seperti itu, sudah pasti saya tertarik berinvestasi. Intinya, dalam bisnis kita harus jeli melihat peluang.. bukan hanya karena kedekatan semata..”

__ADS_1


Dan pertanyaan kedua pun akhirnya bisa diterima dengan lapang dada.


Tian sudah ingin beranjak manakala sebuah suara menyeruak diantara kerumunan para pemburu berita.


“Pak Tian.. apa benar saat ini anda sedang menjalani hubungan dengan karyawan anda sendiri?”


Mendengar itu Tian tersenyum masam, namun sayangnya ia sudah memilih untuk menutup mulut dan beranjak dari sana.


“Pak Tian, malam ini anda dipastikan menginap disini. Apakah itu berarti bersama wanita yang dimaksud ?”


Mendadak kerumunan itu menjadi heboh saat teriakan lantang lelaki tak dikenal ditengah kerumunan itu kembali menyeruak.


Rico bergegas menarik lengan Tian untuk menghindari gejolak awak media yang mulai tak terkendali, sementara pasukan keamanan Indotama Group bergerak gesit menghalau pergerakan mereka.


Tian dan Rico berhasil meloloskan diri saat tiba di area villa yang berjejer. Penjagaan disana dua kali lebih ketat sehingga bisa menjamin tidak akan ada lagi orang luar yang tidak bekepentingan untuk bisa menembus daerah privacy tersebut, apalagi wartawan.


“Thanks,” ucap Tian sambil


menyembunyikan tawa, entah kenapa ia justru merasa lucu dengan kejadian yang barusan menimpanya.


“Masih bisa tertawa saat kejahatan mulai tercium?” sindir Rico.


Tian menautkan alis. “Kamu ini bicara apa?”


“Cihh..” Rico mendecih, seraya beranjak dari sana.


“Egh, mau kemana?” Tian yang keheranan sontak mensejajari langkahn lebar Rico..


.


.


.


.


.


Bersambung…


(Sudah.. jangan dulu protes minta jebol gawang lagi.. 🤣 let it flow.. ikutin alurnya.. 😊 urusan gol nanti author bikin hatrick di next chapter..😁)


Like and Comment jangan lupa ya


sayangkuuuhh.. Lophyuu.. ALL..😘

__ADS_1


__ADS_2