
Selin bergerak gelisah di tempat duduknya tidak nyaman. Dia bingung harus melakukan apa, andai saja tadi dia menolak dengan tegas dan masa bodoh dengan pandangan orang lain tentang etikanya. Mungkin saat ini dia tidak akan terdampar di dalam mobil yang membuatnya tidak nyaman apalagi pria di hadapannya tidak asa-asa memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Selin menghela napasnya panjang untuk memberanikan diri memulai percakapan. "Emm, sebenarnya apa yang mau Bapak katakan sampai-sampai mengantar saya pulang." Ucap Selin berusaha sopan di hadapan atasannya.
Pria itu terkekeh dengan tampang polosnya. "Kamu Selin kan?" Tanya nya sambil menatap Selin lekat-lekat.
Selin membuang pandangannya ke luar jendela karena tidak nyaman di tatap seperti itu oleh orang asing. "Mmm, iya." Andai saja pria ini bukan atasannya, sepertinya saat ini juga Selin sudah menimpuk wajah buaya di sampingnya.
Dengan tidak sengaja Selin melihat name tag pegawai tergeletak di dashboard mobil. Wira,ternyata orang yang di sampingnya bernama Wira.
"Kalo saya lihat-lihat kamu dekat dengan Bos baru kita." Celetuk Wira yang berhasil membuat Selin membulatkan kedua bola matanya.
"Maaf?" Ucap Selin memastikan dengan tatapan yang tidak nyaman. Kedua tangannya terkepal karena merasa kesal, ucapan Wira terdengar seperti melecehkannya.
"Jangan kaget seperti itu, Pak Barra memang baik dengan semua orang bukan?" Timpal Wira yang semakin membuat Selin merasa jengah.
Selin hanya diam membisu, sibuk menahan amarah dan kekesalannya karena merasa dipermainkan oleh Wira. Ternyata selain menikahi Barra kesalahan terbesarnya yang lain adalah masuk ke dalam mobil seorang pria tidak tahu malu seperti Wira.
"Oh iya, saya kira kamu belum punya anak. Tapi tadi saya tidak sengaja melihat kamu sedang mengobrol dengan mereka. Jika dilihat-lihat mereka sangat mirip ya dengan Pak Barra."
Mendengar kedua anaknya di sebut-sebut sontak Selin langsung menoleh ke arah Wira dengan tatapan tidak bersahabat. Dia tidak menyangka ternyata seharian ini Wira memperhatikannya seperti seorang penguntit, sampai-sampai dia tahu pertemuan tidak sengaja Selin dengan si kembar.
"Maaf, sebenarnya Bapak mau bilang apa ya? Kenapa pembahasannya jadi ke sana kemari?" Ucap Selin dengan nada yang meninggi.
"Hahahaha, saya hanya bercanda ko. Kamu tidak punya suami kan? Boleh dong saya mampir ke rumah mu," Wira malah tertawa menikmati raut kekesalan yang Selin perlihatkan.
__ADS_1
Selin meremas roknya untuk menyalurkan kekesalannya, dia sudah tidak sabar untuk keluar dari mobil pria menyebalkan di sampingnya. Tidak lama senyuman terbit di wajah Selin saat ide cemerlang keluar dari otaknya.
"Pak rumah saya sudah dekat itu yang warna Kuning," Tunjuk Selin pada sebuh rumah yang entah milik siapa.
"Oh baiklah," Jawab Wira tanpa curiga sedikit pun.
Selin rasanya ingin tertawa terbahak-bahak saat menyadari jika Wira hanya pintar bicara tapi tidak cukup cerdas. Saat Wira menepikan mobilnya dengan sigap Selin bersiap-siap untuk keluar.
"Makasih atas tumpangannya. Jangan ikuti saya lagi!atau saya laporkan ke polisi. Oh ya satu lagi! Jangan urusi hidup saya, mau saya punya suami atau tidak itu bukan urusan anda!. Saya permisi!" Ucap Selin penuh kekesalan tapi hal itu malah semakin menambah pesonanya.
Blam! Selin menutup pintu mobil Wira sambil melampiaskan kekesalannya. "Taksi!!!!" Teriak Selin untuk memberhentikan Taksi, kemudian langsung masuk ke dalamnya dan meninggalkan Wira yang masih memperhatikan Selin dari dalam mobilnya.
"Hmmm, cukup menarik." Gumam Wira dengan
******
Selin menatap keheranan kardus-kardus yang berceceran di ruang tamu nya. Rumah yang dia bayangkan akan bersih dan rapih malah hancur berantakan berserakan dimana-mana. Stok kesabaran Selin sudah semakin menipis.
"Ini apa?" Tanya Selin dengan nada sedikit meninggi.
Juna dan Jeno yang tadi tidak menyadari kehadiran Selin langsung menoleh ke arah Bundanya yang ternyata berdiri di belakangnya.
Juna tersenyum hangat ke arah Selin. "Kamera, Juna sama Jeno mau bikin Chanel YouTube." Ucapnya sambil bersiap memeluk Selin, namun Selin malah mundur beberapa langkah untuk menghindari pelukan Juna.
"Bundaaa," Panggil Juna dan Jeno dengan pandangan kecewa.
__ADS_1
Selin menengadahkan kepalanya ke langit-langit untuk menahan air matanya. Melihat Juna dan Jeno yang begitu hebat dan bisa melakukan apapun tanpa bantuannya, entah kenapa membuat hati Selin begitu pedih. Selin tidak ingin mengakui jika dia tidak bisa melakukan apapun untuk kedua anaknya, mereka terlalu pintar dan mandiri sampai-sampai Selin merasa tidak berguna bagi anak-anaknya.
"Untuk apa kalian membeli kamara?" Tanya Selin dingin tidak seperti biasanya.
"Kan kita mau bikin YouTube biar terkenal, dan cari uang yang banyak biar bisa bikin bunda bahagia." Jawab Jeno sambil menggulung ujung baju doraemon nya.
Selin mematung di tempat, dia tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Mereka ingin terkenal? Bahkan ada yang tahu identitas Juna dan Jeno saja rasanya jantung Selin ingin copot. "Bunda nggak butuh uang, Bunda bisa cari sendiri. Pokoknya nggak boleh. Kalian nggak boleh bikin video-video! Nggak Boleh!" Teriak Selin dengan amarah yang sudah semakin memuncak.
Setelah dibentak oleh Selin, Jeno langsung menangis hebat. "Huuaaaaaaaa!!!" Sedangkan Juna hanya mematung dan memeluk adik kesayangannya. Juna mengangkat pandangannya ke arah Selin dengan sendu.
Selin mundur beberapa langkah dengan penuh penyesalan, dia tidak menyangka akan hilang kontrol dan membentak anaknya yang tidak bersalah. Rasanya saat ini dia juga ingin ikut menangis bersama Jeno dan di peluk oleh Juna.
Selin merebahkan tubuhnya ke sopa dan mengacak rambutnya frustasi. "Juna sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian nggak pernah bertanya pada Bunda lagi, kenapa kalian nggak pernah minta pendapat Bunda lagi. Kenapa kalian ngelakuin apa pun tanpa bicara dulu sama bunda. Kalian anggap Bunda apa?" Ucap Selim dengan pandangan menerawang.
Tiba-tiba Anet datang dari kamar mandi. "Sel lo ngomong apa sih, datang-datang langsung marahin anak-anak!"
"Lo tahukan mereka kerja di Ailian Corp? lo tahu kan mereka beli kamera? mereka ijinnya sama lo kan? sedangkan gue nggak tahu apa-apa!"
"Sel... jangan marah-marah dulu."
"Kayaknya yang lebih pantes jadi orang tua mereka itu lo bukan gue. Gue nggak tahu mereka jadi model di Ailian Corp, gue nggak tahu mereka beli kamera, tapi lo tahu kan?! Lo lebih berguna ketimbang gue buat mereka!" Teriak Selin dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
******
Jangan cuma baca aja ya, jangan lupa klik tombol like, vote dan komen sebanyak-banyaknya. :)
__ADS_1