Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 18 : Pergi Bara, aku mohon!


__ADS_3

Selin menatap tangannya yang di genggam erat oleh Bara, senyuman kecut menghiasi wajah Selin. "Aku bukan lagi wanita yang bisa kau permainkan sesukamu, aku bukan lagi wanita yang bisa tertipu dengan ucapan janji manis mu, dari dulu kamu hebat dan manis di ucapan Bar. Tapi sayangnya semua ucapan mu hanya bualan belaka."


Bats! Dengan sekuat tenaga Selin tangannya dari genggaman Bara.


Bara memejamkan kedua bola matanya pasrah, dia tahu ucapannya terdengar bodoh dan sulit untuk di buktikan. Tapi apa lagi yang harus Bara lakukan, semua yang di ucapkan olehnya benar adanya.


Bara menatap Selin dengan penuh permohonan. "Sel, aku tahu ucapan ku terlihat tidak meyakinkan. Tapi mulai saat ini aku akan berusaha untuk memiliki mu lagi, aku nggak akan membiarkan kamu sendirian lagi, aku nggak akan ngebiarin kamu ngebesarin anak seorang diri. Walaupun mereka bukan anak ku, aku akan menerima mereka sepenuh hati."


Deg!!! Saat mendengar ucapan Bara tentang kedua anaknya Selin tersentak di tempat dengan hati yang semakin terluka. Biasanya dia selalu baik saja jika mendengar orang lain mempertanyakan identitas kedua anaknya. Tapi saat keraguan itu keluar dari mulut Bara entah kenapa rasanya begitu menyakitkan. Rasanya saat ini juga dia ingin berteriak jika Juna dan Jeno adalah Anak Bara. Mereka bukan hasil dari hubungan gelap seperti yang orang-orang bicarakan.


"Hikss.. Bukan anak mu? Lalu mereka anak siapa Bara!" Teriak Selin di dalam hati. Selin menatap nyalang ke arah Bara penuh kekecewaan. "Aku kira kamu beda dari orang-orang di luar sana yang selalu menganggap ku wanita kotor. Tapi kamu sama saja, tolong di ingat kamu nggak berhak mempertanyakan asal-usul kedua anak ku tanpa tahu apapun!. Tolong pergi sekarang juga!" Usir Selin dengan suara sedikit meninggi.


Bara hanya diam dengan pasrah dengan pandangan yang tidak berpaling dari arah Selin. Karena Bara hanya diam saja, Selin kembali menarik Bara agar segera beranjak. "Pergi Bar aku mohon," Ucap Selin lirih.


Dengan berat hati perlahan Bara beranjak dari tempat duduknya, dia menyesali perkataannya yang sepertinya sangat melukai perasaan Selin. Otaknya buntu bingung harus melakukan apa agar Selin berhenti menangis. Tapi sepertinya hal yang bisa dia lakukan saat ini hanya pulang dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.


Selepas kepergian Bara perlahan tubuh Selin melorot ke atas lantai, tangannya menyentuh dadanya yang terasa sesak dengan air mata yang belum berhenti mengalir.


"Hiks, hiks, hiks.. Kenapa dari dulu dia nggak pernah berpikir kalo kemungkinan Juna dan Jeno adalah anaknya. Dasar pria bodoh!" Ucap Selin penuh kepedihan.


*****


Bruk!


Bara merebahkan tubuhnya ke atas kasur king size miliknya, dia menghela nafasnya berat dengan pandangan menerawang ke arah langit-langit. Perlahan air mata penyesalan keluar dari kedua bola matanya, air mata yang selama ini selalu ia sembunyikan dari semua orang. Perlahan matanya terpejam dengan pikiran yang melayang ke masa lalu.


[Flash Back]


Bara pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya, dia cepat-cepat keluar dari mobil dengan penuh semangat. Tangannya menenteng beberapa kantong plastik yang berisi makanan untuk Selin. Senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri.

__ADS_1


Tuk! Langkahnya terhenti saat mendengar suara ribut dari dalam rumah, tangannya menggantung di udara saat hendak membuka pintu.


"Kamu ngambil emas Mama kan?!" Teriak Meta dari dalam rumah.


Bara membeku di tempat tidak menyangka jika Ibunya meneriaki Selin dengan kasar. Padahal jika di hadapannya hubungan mereka baik-baik saja, dan yang Bara kenal Meta adalah seorang ibu yang baik dan tidak pernah berlaku kasar kepada siapa pun. Bara mengurungkan niatnya untuk masuk, dia hanya berdiri di pintu untuk mendengarkan percakapan Ibunya dan Selin.


"Nggak Ma, aku baru pulang dari kampus sama sekali nggak ngambil apa-apa." Jawab Selin lembut penuh kesopanan.


"Alah bohong kamu! Kan setiap hari yang beresin rumah itu kamu!"


Bara semakin terhenyak di tempatnya, "Selin bersih-bersih rumah?" Ucapnya tidak percaya. Karena setahunya tugas bersih-bersih rumah adalah tugas pembantu mereka. Tapi kenapa Selin ikut bersih-bersih tanpa sepengetahuannya, memang bersih-bersih bukanlah hal berat. Tapi sepertinya Selin bukan hanya bersih-bersih belaka melainkan dijadikan babu oleh Ibunya.


"Hiks, hiks, aku berani sumpah Ma. Aku nggak ngambil perhiasan Mama."


Bara mengepal tangannya penuh amarah, dia tidak menyangka jika kehidupan Selin di rumahnya semenyedihkan ini. Tapi tak pernah sekalipun dia mengeluh dan mengadu pada Bara tentang sikap Ibunya yang tidak senonoh itu.


Bara cepat-cepat bersembunyi agar tidak bertemu dengan Ibunya.


Brak! Meta menutup pintu dengan kencang kemudian berjalan ke arah mobil untuk berangkat ke suatu tempat yang tidak ia ketahui. Selepas kepergian Meta, Bara bersandar ke pintu dengan perasaan hancur. Dia asik menguping suara tangis Selin yang begitu memilukan.


"Hiks, hiks, hiks."


Selang beberapa jam saat tangis Selin sudah tidak terdengar lagi, Bara kembali merapihkan penampilannya dan bersiap masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum dia tiba di pintu masuk, lebih dulu pintu itu terbuka menampilkan Selin yang tersenyum ke arahnya.


"Eh Mas udah pulang," Ucap Selin penuh kebahagiaan dan meraih tangan Bara.


Bara sedikit membeku saat melihat wajah ceria Selin, walaupun kedua bola matanya terlihat sembap. Bara meraih tangan Selin dan memperhatikan telapak tangannya yang seperti terluka.


"Gimana kuliahnya lancar?" Tanya Bara basa-basi padahal dia sedang memperhatikan keadaan Selin.

__ADS_1


Selin tersenyum seperti biasa dan berkata penuh keceriaan. "Lancar dong Mas, kan aku murid teladan."


Bara terkekeh dan mulai masuk ke dalam rumah. "Itu mata mu kenapa, ko bengkak gitu?"


Bara bisa melihat raut terkejut Selin yang cepat-cepat di tutupi. Selin tidak menjawab dan malah berlari ke dalam kamar. Bara tersenyum penuh syukur sekaligus penyesalan, karena selama ini dia menganggap jika hidup Selin baik-baik saja saat dia sedang bekerja. Padahal jauh dari kata buruk.


"Hehehe, tadi kelilipan debu. Terus malah aku gesek-gesek terus pakek tangan." Ucap Selin saat Bara sudah masuk ke dalam kamar.


Greb. Bara langsung menarik Selin ke dalam pelukannya dengan erat, perlahan air mata penuh rasa bersalah keluar dari sudut matanya. Tapi cepat-cepat Bara hapus.


Tangan Selin terangkat membalas pelukan Bara, rasanya saat ini dia ingin menangis sejadi-jadinya dan menceritakan semua kepedihannya sepanjang hari. Namun, Selin urungkan. Dia hanya memejamkan matanya dan menenangkan kepedihannya di pelukan Bara yang sangat menenangkan.


"Makasih udah jadi istri yang kuat ya Sel, I Love You!" Ucap Bara penuh ketulusan.


Selin mengangguk penuh haru, "Ih Mas apaan sih lebay deh." Ucapnya pura-pura tidak peduli.


Bara terkekeh kemudian menatap Selin lekat-lekat, dia mencium kening Selin penuh ketulusan lalu memeluk Selin kembali, dengan perasaan bersalah karena belum memberikan kehidupan yang membahagiakan bagi Selin.


[Flash back Off]


"Hiks, hiks, hiks." Bara menangis penuh kepedihan saat kenangan manisnya di masa lalu teringat kembali.


Rasanya saat ini dia ingin memeluk Selin seperti dulu, andai saja dulu mereka saling terbuka dan mencari jalan keluar bersama. Bukannya malah saling menutupi dan mencari solusi tanpa berdiskusi, pastinya hidup mereka tidak akan berantakan seperti ini. Di setiap harinya, Bara menyesali keputusan bodohnya di masa lalu.


*****


Gimana perasaan kalian pas baca Bab ini? :'(


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Baca juga karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2