Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 6 : Anet dan Barra


__ADS_3

Selin menatap nanar ponsel digenggamnya, hatinya berubah menjadi sesak, beberapa kali helaan nafas panjang keluar dari mulutnya.


Anet memperhatikan wajah sahabatnya yang langsung berubah seketika. "Siapa?" Tanya Anet penasaran karena raut Selin langsung berubah muram setelah membuka ponselnya.


Selin hanya diam membisu dan memberikan ponselnya kepada Anet. Kedua bola mata Anet membulat sempurna merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Barra?! Wah bener-bener nih orang! Ko dia punya no hp lo?!" Ucap Anet dongkol.


Selin terkekeh samar saat melihat wajah kesal sahabatnya yang terlalu berlebihan. "Lo nggak tahu ya, tadi handphone gue ketukar sama dia." Ucapnya sedikit malas.


"Loh ko bisa?!"


"Entahlah gue heran, dari ratusan orang yang ada di sana kenapa gue harus ketemu sama manusia itu. Mana ada acara salah ambil handphone segala, kayaknya semesta lagi bercanda sama gue."


Anet memutar bola matanya malas. "Apaan sih lo, sok-sokan bawa-bawa semesta segala, jijik banget gue dengernya. Terus kenapa dia malah chat lo sekarang?"


"Ya mana gue tahu!" Jawab Selin sebal sambil menatap pesan dari Barra.


Selin bertanya-tanya di dalam hati apa alasan Barra mengirimnya pesan seperti itu, bertahun-tahun dia menghindari Barra agar bisa melupakannya. Tapi kenapa di saat hatinya sudah sedikit membaik dia malah terus-terusan bertemu dengan manusia paling jahat yang pernah ia kenal. Dia kira hatinya tidak akan berdetak dengan kencang lagi saat bertemu dengan Barra, mendengar suaranya, dan saat melihat pesan singkat darinya. Tapi dia salah, hatinya masih sangat merindukan Barra dengan perasaan yang bercampur dengan kenangan penuh kepedihan di masa lalu.


"Eh, dia nelpon loh Sel!" Ucap Anet yang berhasil membuyarkan lamunan Selin.


Selin menatap ponselnya jengah, dengan perasaan kesal dia melempar ponselnya ke arah Anet. "Bener-bener nih orang! Net lo aja yang angkat!"


Untungnya dengan sigap Anet meraih ponsel milik Selin, jika tidak sudah dipastikan ponsel milik sahabatnya akan mencium lantai. Tanpa berpikir panjang Anet mengangkat panggilan dari Barra. "Hmmm.. Hallo," Ucap Anet membuka percakapan.


Anet sibuk mendengarkan perkataan orang disebrang sana. "Ya ampun, baik Pak terimakasih. Maaf sudah merepotkan."


Selin mengambil buku yang tergeletak di meja dan pura-pura sibuk dengan bacaannya. Padahal telinganya sedang mencuri dengar percakapan Anet dengan Barra yang membuatnya sangat penasaran.


"Baik-baik, saya sekarang ke sana," Ucap Anet yang menambah rasa penasaran Selin.


Tut!


Masa bodoh dengan rasa gengsinya Selin langsung berjalan menghampiri Anet. "Apa Net?" Tanya nya penuh penasaran.


"Gila! Mendali Juna sama Jeno ketinggalan dan sekarang ada di tangan Barra!" Jawab Anet heboh dan bersiap untuk segera pergi.


Selin menaikkan satu alisnya keheranan, dia sangat mengenal Juna dan Jeno yang tidak mungkin ceroboh dan meninggalkan barang berharga. Apalagi sampai meninggalkan mendali yang selama ini mereka perjuangkan. "Nggak mungkin, mereka biasanya nggak pernah ceroboh."


Anet setuju dengan apa yang Selin ucapkan, dua bocah itu biasanya sangat teliti dan jarang bersikap ceroboh. "Gue juga nggak percaya, tapi kan anak lo juga manusia kali pasti ada cerobohnya." Timpalnya realistis.

__ADS_1


Selin memijat pelipisnya penuh kebingungan. "Hmm, terus sekarang gimana?"


"Dia ngajak gue ketemuan, eh maksudnya ngajak lo."


"Ogah! Lo aja yang samperin tuh manusia." Tolak Selin tegas.


Anet sudah menduga Selin akan menolak pertemuan itu. "Siap Nyonya," Ucap Anet kemudian menyambar kunci mobilnya.


"Tolong cariin nomor baru buat gue ya," Teriak Selin berharap Anet bisa mendengarnya.


"Iya iya."


Tanpa Selin sadari dari kejauhan Juna dan Jeno sedang menguping percakapan Selin dan Anet penuh kekecewaan. Kerena niatan mereka untuk mempertemukan Bundanya dengan Barra tidak sesuai rencana.


"Yah lencana kita buat mempertemukan Nda sama Om Balla gagal Bang," Ucap Jeno lesu dengan wajah yang ditekuk menggemaskan.


Tanpa semua orang ketahui saat si kembar mengobrol santai dengan Barra waktu perlombaan kemarin, mereka mempunyai maksud terselubung. Sebenarnya itu bukanlah obrolan biasa, mereka sedang menjalankan aksinya untuk menaruh mendali kebanggaannya ke saku Jas Barra. Dengan harapan Barra dan Selin akan bertemu lagi. Namun, ternyata rencana mereka itu gagal karena Selin menolak untuk bertemu dengan Barra.


Berbeda dengan wajah Jeno yang begitu masam, Juna masih terlihat tenang dan santai yang menandakan masih banyak rencana yang bersarang di otak Geniusnya. "Tenang Eno, Abang punya cara lain. Percaya sama Abang," Ucapnya penuh percaya diri dengan seringai di wajah tampannya.


*****


"Gue kaya remaja 17tahun yang mau ketemuan sama pacar baru," Gumam Barra di dalam hati menertawakan dirinya sendiri.


"Aku tahu kamu bukan milikku lagi Ai, mungkin kehidupan mu sekarang sudah jauh bahagia dibanding bersama ku dulu. Tapi tolong ijinkan aku berbahagia, hanya dengan melihat wajah mu. Aku mohon jangan menghilang lagi." Monolog Barra dengan pandangan menerawang ke arah jendela. Ai, adalah panggilan kesayangan Barra untuk Selin yang diambil dari nama terakhirnya Aileen.


Kling! Terdengar bunyi lonceng saat ada orang meraih handle pintu. Barra dengan sigap bangun dari kursi untuk menyambut orang yang sedang ditunggunya. Senyum sumringah di wajahnya perlahan luntur saat mengetahui orang yang datang menghampirinya bukan Selin melainkan Anet.


Anet bisa menangkap raut wajah Barra yang penuh kekecewaan. "Kak Barra ya? Eh maksudnya Pak Barra." Ucap Anet basa basi.


Barra terkekeh lalu mempersilahkan Anet untuk duduk dihadapannya. "Santai aja Net, kaya ke siapa aja."


Barra sudah menganggap Anet sebagai adiknya sendiri. Semenjak dia dekat dengan Selin, Barra mengenal Anet yang merupakan sahabat lengket Selin. Barra sering bertanya pada Anet tentang kegiatan Selin yang tidak diketahui olehnya. Tak jarang juga mereka menongkrong bersama layaknya sebuah keluarg. Anet adalah orang yang paling bahagia saat mereka menikah sekaligus paling terpukul saat mereka bercerai. Jika diibaratkan Anet adalah saksi nyata dari perjalanan cinta Barra dan Selin.


"Emm," Gumam Anet sambil mencatat pesanan untuk dibawa pulang.


Barra menghela nafasnya panjang dengan perasaan sendu, rasanya sudah lama dia tidak bertemu dengan Anet yang selalu mengingatkannya pada Selin. "Bagaimana kabar mu?" Tanya Barra penasaran.


Anet terkekeh mendengar pertanyaan Barra. "Pertanyaan klise seorang buaya." Gumamnya di dalam hati. "Kakak sebenarnya nanya kabar saya atau kabar Selin?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin menanyakan kabar Selin tapi sepertinya aku nggak berhak." Jawab Barra jujur tanpa memperdulikan harga dirinya.


"Baguslah kalo kakak tahu diri. Aku nggak punya waktu banyak Kak, Maaf kalo nggak sopan. Mendali Juna sama Jeno udah bisa aku ambil kan?" Ucap Anet panjang lebar dengan sikap senonohnya.


Anet mendengus sebal karena orang yang dia ajak bicara malah melamun dengan pandangan yang menerawang. "Kak? Kak!" Panggilnya dengan tangan yang di lambai-lambaikan.


Barra tersentak dari lamunannya karena sura melengking Anet. Barra gelagapan merasa malu sendiri saat kepergok sedang melamun. "Oh mendali ya, ini." Ucapnya langsung memberikan mendali itu pada Anet. "Aku salut sama si kembar itu mereka sudah sangat berbakat di umurnya yang masih balita."


"Ya mereka sangat pintar dan Genius bahkan mengalahkan kepintaran Selin." Ucap Anet sedikit terkekeh.


Barra ikut tersenyum samar. "Aku yakin Ayah mereka akan sangat bangga memiliki anak seperti itu," Gumamnya dengan tatapan sendu.


"May be," Anet menghela napasnya berat penuh kekecewaan. "May be Yes, May Be No!"


"Asal lo tahu brengsek! Lo udah membuang anak gemay dan genius demi wanita murahan! Dan manusia brengsek!" Ucap Anet di dalam hati dengan tangan yang terkepal menahan amarah.


Barra menekuk alisnya tidak paham dengan ucapan Anet. "Maksudnya?"


"Nggak ada maksud apa-apa kak, aku hanya bergumam."


"Aku permisi ya," Anet bersiap pergi.


"Net!" Panggil Barra sebelum Anet benar-benar pergi. "Selin hidup dengan baik kan? Dia sekarang hidup bahagia kan?"


"Harusnya Kakak nggak usah kepo lagi sama kehidupan dia. Tapi tenang, aku pasti jawab pertanyaan Kakak biar Kakak tambah menyesal!"


Anet kembali duduk di tempatnya dan menatap Barra tajam. "Dengar ya, kehidupan Selin sekarang sudah sangat bahagia dan tenang. Jadi aku mohon berhenti muncul di hadapannya, jangan rusak lagi kebahagiaannya. Bersikaplah seolah-olah kalian tidak saling mengenal. Aku tahu Kakak adalah pria yang sangat brengsek dan bodoh, tapi aku yakin Kakak adalah orang baik. Jadi tolong berhenti menjadi orang jahat dengan terus-terusan berusaha untuk dekat dengannya lagi."


Barra tersenyum kecut mendengar ucapan Anet yang begitu terang-terangan memakinya. Lalu mengangguk sebagai jawaban.


"Bagus, aku permisi Kak tolong bayar pesanan ku. Aku memesan 5 cup kopi untuk ku, Selin dan si kembar." Sepertinya urat malu Anet sudah putus, bagaimana bisa dia meminta ditraktir oleh orang yang baru saja dia hina.


Tapi untunglah Barra baik hati dan memaklumi ketidakwarasan wanita dihadapannya. "Iya, hati-hati di jalan."


"Kamu benar Net, aku nggak berhak mengkhawatirkan atau memikirkan Selin lagi." Gumam Barra dengan perasaan yang terasa sesak.


******


Jangan lupa Vote komen ya, biar author lebih semangat lagi

__ADS_1


__ADS_2