Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 12 : Menangislah


__ADS_3

Anet sudah kehilangan kesabaran setelah mendengar ucapan Selin yang sudah keterlaluan. "Lo kenapa sih? Datang-datang langsung marah-marah. Jangan lebay deh, toh dari dulu lo nggak pernah peduli sama karir mereka! Kenapa jadi sewot! Ini pasti gara-gara Barra kan?!"


"Kenapa jadi bawa-bawa Barra!" Jawab Selin tidak ingin kalah.


Juna menghela nafasnya panjang, sejak tadi tangannya digunakan untuk menutup kedua telinga Jeno agar tidak mendengar percakapan Selin dan Anet yang cukup kasar. "Emangnya kenapa Bun kalo kita kerja di sana? Kenapa dari dulu Bunda selalu ngelarang kami jadi model di sana?" Tanya Juna lirih dengan tatapan lembutnya.


Selin membuah pandangan dari wajah Juna yang begitu damai. "Karena Bunda nggak mau lihat kalian deket-deket sama orang yang udah nyakitin Bunda."


"Emang Om Barra salah apa sama Bunda? Kenapa Bunda nggak pernah cerita apa-apa sama kita? Gimana kita mau ngejauhin dia kalo kita nggak tahu apa-apa. Sebenarnya Om Barra itu siapa?" Tanya Juna dengan lembut.


"Hiks, hiks, hiks," Bukannya menjawab Selin malah terisak.


"Kenapa Bunda selalu ngelarang Juna sama Jeno sekolah? Atau jadi artis? Kenapa Bunda selalu ngelarang kita terkenal oleh masyarakat luar? Padahal itu semua adalah cita-cita Juna sama Jeno. Why? Kenapa orang lain bisa kenapa kita nggak bisa?"


"Hiks, hiks, hiks. Karena Bunda takut kalian nahan malu," Jawab Selin lirih.


Pandangan Juna mulai berkaca-kaca jujur dia sedikit kecewa dengan jawaban Selin. "Malu apa? Apa karena identitas kami yang nggak jelas? Kita nggak punya Ayah?. Emangnya kenapa Bun kalo nggak ada Ayah, bagi kita Bunda aja udah cukup. Kami nggak pernah ngerasa malu karena kita punya Bunda, atau jangan-jangan Bunda yang malu karena punya anak kayak kita?"


"Junaa!" Teriak Selin penuh kepedihan.


Plak!


"Sadar lo! Atas dasar apa lo berhak membentak anak-anak! Jangan karena ada masalah pribadi lo bisa melampiaskan nya ke mereka." Ucap Anet terengah-engah karena menahan amarah.


Selin membeku perlahan tangannya terulur untuk menyentuh pipinya yang baru saja di tampar oleh Anet. Air mata tidak henti-hentinya membasahi wajahnya. Dengan perlahan Selin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar.


"Sel! Lo mau kemana?!" Teriak Anet yang tidak digubris sama sekali oleh Selin.


*******


Selin termenung seorang diri di pojokan kafe, baju yang awalnya basah sudah mulai mengering dengan sendirinya. Secangkir kopi panas dengan perlahan sudah berubah menjadi dingin. Ia menghela napasnya berat dengan perasaan yang sedikit sesak. Di saat dunianya hancur, dia hanya bisa diam membisu dengan pemikiran yang berkecamuk. Sejak dulu dia memang seperti ini, dia sering menghabiskan waktu tanpa melakukan apapun dengan secangkir kopi yang berfungsi sebagai aroma relaksasi.

__ADS_1


Asal kalian tahu, Selin bukanlah seorang Ibu yang sempurna bagi anak-anaknya. Percekcokan ini bukanlah hal pertama di keluarga kecilnya, banyak hal-hal sederhana yang selalu diperdebatkan oleh mereka. Di umur yang masih terbilang muda untuk memiliki dua anak sekaligus tentunya bukan hal yang mudah untuknya. Apalagi dia berjuang sendirian untuk membesarkan kedua anaknya tanpa kehadiran suami yang seharusnya berada disampingnya untuk saling menguatkan.


Di saat anak muda seumurannya sedang sibuk meraih karir mereka dan berkuliah, Selin harus mengurus kedua anaknya sekaligus memikirkan masa depan. Di saat orang tua lain saling berbagi tugas untuk menjaga anak-anaknya Selin harus berjuang sendirian, disaat orang lain mengeluh dan merajuk kepada suaminya Selin harus bertahan.


Drek!


Suara kursi di tarik, seseorang tanpa permisi duduk di hadapan Selin. Orang itu duduk dengan santai, tangannya di lipat dengan pandangan lurus ke arah Selin penuh kehangatan. "Aku datang ke rumah mu untuk menagih janji mu tadi pagi mengajak ku makan, tapi sepertinya keadaan tidak mendukung. Di rumah aku melihat Jeno sedang sibuk menangis dan Juna sibuk menjadi seorang kakak yang berusaha menenangkan adiknya. Dan disini aku melihat mu sedang asik berubah menjadi patung." Ucap Farel panjang lebar.


Selin menghela napasnya panjang dan meraih secangkir kopi yang tidak lagi hangat. "Maaf karena melupakan janji ku sendiri," Selin masih termenung dengan tatapan kosongnya.


Farel meraih tangan Selin di atas meja, dia menggenggam nya penuh kehangatan. "Apa yang membuat mu hilang kendali? Apa hari pertama kamu bekerja begitu berat?"


Walaupun Farel terkenal dengan keusilannya. Tapi dibalik itu semua dia mempunyai pribadi hangat dan dewasa. Di saat hidup Selin terpuruk tak jarang dia menjadi obat dan pemberi nasihat paling bijak.


"Perusahaan itu diakusisi oleh Ailian corp, dan tanpa sepengetahuan ku Juna dan Jeno sudah tanda tangan kontrak untuk menjadi Brand Ambasador di sana." Jawab Selin sendu dengan kedua mata yang sembap.


Bukannya ikut kesal Farel malah terkekeh, "Waw si kembar itu memang luar bisa. Hmm, maaf karena aku kurang hati-hati saat memberikan pekerjaan kepada mu," Ucapnya sedikit merasa bersalah.


Selin menggeleng samar. "Jangan merasa bersalah karena kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku malah sangat berterimakasih di sela-sela kesibukan mu, kamu masih sempat mencarikan pekerjaan untuk ku. Tadi aku bertemu dengan Kania," Selin menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkan.


Farel hanya diam sibuk menjadi pendengar yang baik untuk Selin.


"Sebenarnya aku tidak peduli Barra akan mengakui Juna atau Jeno, yang aku takutkan adalah perasaan Juna dan Jeno yang pastinya sangat hancur jika tahu kalo ayah mereka tidak mengakui mereka sebagai anaknya. Mungkin kamu pikir aku terlalu berlebihan, tapi asalkan kamu tahu. Aku adalah orang yang paling tahu bagaimana rasanya dicampakkan dan tidak dianggap oleh Ayah sendiri." Ucap Selin dengan penuh kepedihan.


"Juna dan Jeno adalah satu-satunya sumber kebahagiaan ku, aku takut jika Barra tahu tentang status mereka dia akan mengambil Juna dan Jeno. Aku takut Juna dan Jeno lebih memilih Barra, karena sikap ku yang buruk ini. Aku takut akan kehilangan mereka," Ucap Selin dengan pandangan yang kembali berkaca-kaca.


"Sel," Panggil Farel tidak tega. Rasanya saat ini Farel ingin sekali menarik Selin ke dalam pelukannya dan memberikan kekuatan. Tapi keberaniannya tidak cukup besar untuk melakukan itu semua.


"Mmm," Gumam Selin sebagai jawaban.


"Kadang kita menganggap hidup ini sangat lama, padahal tidak. Hidup ini cukup singkat Sel," Farel menatap Selin dan kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Jadi,"


"Buanglah pemikiran negatif mu itu yang sebenarnya sia-sia, dan jujurlah pada dirimu sendiri. Lakukan hal yang ingin kamu lakukan, berikan apa yang anak-anak mu inginkan, tanpa harus memikirkan yang tak pasti."


"Hiks, hiks, hiks..." Mendengar nasehat Farel berhasil membuat Selin kembali terisak.


"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan kenyataan tentang anak-anak mu, bagaimana jika suatu hari mereka mengetahui hal itu dari orang lain. Bukan dari Ibu mereka yang sangat disayangi? Aku yakin mereka pasti sangat terluka."


"Mereka sudah dewasa, aku yakin mereka tidak akan meninggalkan mu jika suatu saat mengetahui tentang Ayahnya. Kamu nggak usah khawatir rasa sayang mereka padamu lebih besar dari sangkaan mu, aku yakin mereka akan sakit hati jika mengetahui kalo kamu meragukan rasa sayang mereka terhadap mu."


"Sel.." Panggil Farel sedangkan yang di panggilnya sibuk menangis sambil membenamkan wajah di atas meja.


"Arghhh.. Hiks.. Hiks.."


"Di kehidupan ini kamu sudah banyak merasa kehilangan, jangan sampai karena sikap over thinking mu itu kamu kehilangan Juna dan Jeno."


"Heuuuu... Hiks.. Hiks.. Hiks.." Farel bangkit dari dudknya dan berpindah duduk di samping Selin.


"Menangislah.." Ucap Farel dengan tangan yang sibuk menepuk-nepuk bahu Selin menyalurkan kekuatan.


"Huuuuu... Hiks.. Hiks.. Hiks.."


Drek!


"Manjain aja terus, jadinya cengeng kaya gini kan!" Ucap Anet yang tiba-tiba datang.


Farel memutar bola matanya malas. "Net, udah dong jangan di kompor-komporin terus."


"Haaaah," Anet hanya menghela nafasnya panjang lalu mengambil secangkir kopi milik Selin. Tanpa meminta persetujuan Anet menegak kopi itu hingga tandas.


Anet menatap ke arah sahabatnya dengan tatapan tidak tega. "Sel ayo pulang, minta maaf sama mereka."

__ADS_1


"Mmm," Gumam Selin sebagai jawaban di sela-sela tangisnya.


*****


__ADS_2