
Brak! Pintu ruangan Raka terbuka.
Tanpa permisi Kania masuk begitu saja ke dalam ruangan Raka yang untungnya sedang sepi. "Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Kania dengan tatapan tajam sirat akan kebencian.
Raka menghela nafasnya panjang sedikit kesal, dia paling tidak suka jika ada yang mengganggu pekerjaannya apalagi bersikap tidak sopan seperti yang Kania lakukan. Sebenarnya, sejak dulu Raka sudah tidak suka pada Kania tanpa alasan apapun, dan setelah semakin mengenalnya rasa tidak suka itu malah semakin hebat.
"Kamu tidak lihat, saat ini aku sedang kerja. Kenapa harus basa-basi menanyakan aku sedang apa." Jawab Raka santai tanpa menoleh sedikitpun pada Kania.
"Jangan sok polos deh! Kemarin Pak Bara masuk ke Rumah Sakit kenapa aku nggak tahu?! Pak Wira dipecat gitu aja kenapa aku nggak tahu! Ini pasti ulah kamu kan?!"
"Emang kamu punya hak untuk tahu semua tentang Pak Bara, kamu bukan keluarganya atau pasangannya bukan?. Dan ingat Tugasmu di kantor utama. Sejak kapan kamu peduli dengan urusan kantor cabang?" Ucap Raka telak yang berhasil membuat Kania mati kutu.
Tangan Kania mengerat penuh kemarahan pada Raka. "Brengsek! Liat saja nanti aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang," Ucap Kania penuh ancaman kemudian bersiap pergi.
Raka memejamkan matanya pelan kemudian bersandar ke kursi. "Oke. Saya akan menunggunya!"
Braaak!
******
Tok! Tok! Tok!
Selin mengetuk pintu ruangan Bara dengan sopan walaupun di dalam hatinya dia sudah hampir gila.
"Masuk," Jawab Bara di dalam ruangan.
Selin masuk ke dalam ruangan Bara penuh kesopanan lalu berjalan tepat ke hadapan Bara yang sedang sibuk di atas meja kerjanya. "Permisi. Bapak ini laporan keuangan, kata Pak Raka saya harus memberikannya langsung pada Bapak." Ucap Selin sambil memberikan map di tangannya.
Bara hanya menoleh sekilas kemudian kembali menatap layar komputernya. "Oh baik, tolong masukan ke dalam laci ini." Ucap Bara santai dengan tangan menunjuk ke arah laci tepat di sampingnya.
Selin mengalihkan pandangan kemudian memutar bola matanya malas. Andai saja Bara bukan atasannya di kantor, rasanya dia malas untuk bertemu dengannya di pagi hari seperti ini. Apalagi harus dekat-dekat dengannya.
"Kenapa melamun! Ayo cepetan!" Ucap Bara tidak sabaran.
__ADS_1
"Eh iya Pak," Jawab Selin kemudian berjalan tergesa mendekati Bara.
Srek! Selin membuka laci, kedua bola matanya membulat sempurna dengan mulut yang ternganga. Laci itu penuh dengan berbagai camilan dan susu kotak, tidak ada ruang sedikitpun untuk menaruh map laporan di dalam sana. Selin menatap Bara tajam dia yakin saat ini Bara sedang mengerjainya.
"Bapak yakin Laporan nya harus di simpan disini?!" Tanya Selin dengan tatapan tajam.
Bara tersenyum samar kemudian mengangguk penuh arti. "Yakin," Jawab nya santai.
Selin menghela nafas panjang agar stok kesabarannya bisa bertambah. "Nggak ada ruang lagi Pak, masa nanti berkasnya rusak. Asalkan Bapak tahu saya mengerjakan laporan ini bersama rekan-rekan saya hampir setengah mati." Ucap Selin dengan penuh permohonan.
"Ya sudah kalo nggak ada ruang lagi, kamu bantu saya makan makanan yang ada di laci, biar laporan keuangannya bisa di simpan di sana." Jawab Bara santai yang berhasil membuat Selin menganga di tempat dengan tingkat kekesalan yang semakin memuncak, bagaimana bisa di pagi buta seperti ini dia sudah dikerjai oleh Bara. Padahal jika ingin ditemani sarapan dia tidak perlu membawa-bawa pekerjaan yang membuatnya ketar-ketir, pekerjaan yang harusnya beres besok dengan tidak berperikemanusiaan di tagih hari ini. Mungkin kalian bisa bayangkan bagaimana hectic nya suasana kantor Selin tadi pagi.
"Ayo cepat duduk," Ucap Bara sambil menarik tangan Selin ke kursi yang baru diambilnya tepat bersebelahan dengannya.
Selin hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian duduk dengan tenang, rasanya energinya sudah menguap bersama embun di pagi hari. Dia tidak punya tenaga lagi untuk mengomel pada Bara yang menurutnya sudah keterlaluan.
Bara terkekeh melihat kilatan amarah di wajah Selin yang menurutnya begitu menggemaskan. Srek! Bara membuka plastik roti dan mengambil sekotak Susu rasa Strawbery untuk Selin makan. Dan diluar dugaannya tanpa banyak komentar Selin mengambil makanan Bara dan menyantapnya dalam hening.
"Enak nggak?" Melihat wajah Selin yang begitu kusut ada sedikit penyesalan di hati Bara, karena sudah mengerjai Selin di pagi hari seperti ini.
Bara menghela nafasnya panjang kemudian membelokan kursinya agar berhadapan dengan Selin. "Ish, jangan marah dong!" Bujuk Bara lirih dengan mulut yang masih mengunyah roti kesukaannya. Selin hanya memutar bola matanya malas enggan menanggapi sikap Bara yang menyebalkan.
Tok! Tok! Tok! Suara pintu ruangan Bara diketuk dari luar. Sontak Selin langsung menatap Bara lekat- lekat, Bagaimana jika orang lain salah paham melihat kedekatan dia dengan Bara, bisa-bisa dia digosipkan habis-habisan oleh para karyawan, dengan gerakan super cepat Selin bangkit dari kursi kemudian bersembunyi tepat di bawah meja kerja Bara.
Bara menautkan kedua alisnya kebingungan dengan tingkah Selin. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa bersembunyi di sana." Ujar Bara sambil melongo ke bawah meja.
Selin meletakkan telunjuknya di depan mulut. "Shhht!! Jangan berisik!"
"Hmmm," Akhirnya Bara hanya bisa terkekeh kemudian beralih ke arah pintu. "Silahkan masuk!" Ucap Bara sedikit kesal karena waktu berduaan nya dengan Selin diganggu.
Tak lama dari itu pintu ruangab Bara terbuka dan menampilkan sosok Kania yang melenggang dengan amarah yang tergambar di wajah cantiknya.
"Kania?" Gumam Bara yang terdengar oleh Selin. Mendengar nama Kania disebut, entah kenapa rasa sesak memenuhi benak Selin. Harusnya tadi dia keluar saja, dan bukan malah bersembunyi seperti orang bodoh untuk menguping pembicaraan dua sejoli ini.
__ADS_1
Kania berdiri tepat di hadapan Bara dengan pandangan berkaca-kaca. "Sampai kapan kamu akan memperlakukan ku seperti ini!" Teriak Kania dengan suara yang cukup keras, untungnya ruangan Bara kedap suara jadi dia tidak perlu khawatir jika ada yang mencuri dengar pembicaraan di ruangannya.
Bara masih bersikap santai dan membalas tatapan Kania. "Maksudnya?"
Kania terkekeh penuh kepedihan. "Pelase, jangan pura-pura bodoh. Kenapa kalian selalu memperlakukan ku sebagai orang asing, sampai-sampai kamu masuk rumah sakit aku nggak tahu apa-apa."
Sekarang Bara paham arah pembicaraan Kania menjurus kemana, tapi dia masih bersikap santai dan lembut. "Kania sebenarnya kamu kenapa, jangan bicara melantur seperti itu. Ada masalah pekerjaan di kantor pusat?"
"Please! Jangan pura-pura bodoh. Kakak tahu kan sejak dulu aku sudah menyukai dan mencintai Kakak, dari sejak di bangku kuliah. Tapi kenapa Kakak selalu menjauhiku, dan menghindari ku."
Selin membeku mendengar setiap ucapan yang didengarnya, senyuman kecut tergambar di wajah Selin. Bara menatap nanar kaki Selin yang masih bisa terlihat oleh nya, entah mendapat keberania dari mana, Bara berjongkok ke bawah meja kemudian menarik tangan Selin untuk di genggamnya.
Kania tidak terusik dengan perilaku Bara. Amarah dan kekesalan dibenaknya sudah membutakan semuanya. "Kenapa aku selalu tidak dianggap, padahal pengorbananku untuk mu sudah sangat banyak!. Aku selalu dianggap tidak ada muka bumi ini, aku tahu alasan Kakak memperluas cabang adalah untuk menjauhi ku dan mencari keberadaan Selin. Si wanita picik itu! Tapi kenapa Kakak tidak pernah melihat ku, dan malah sibuk mencari wanita picik itu!"
Bara yang awalnya santai langsung menatap Kania tajam saat wanita tidak bersalah seperti Selin di kata-katai seperti itu.
Sedangkan di bawah meja Selin hanya terkekeh penuh amarah. "Wanita picik?" Gumam Selin tidak percaya.
"Kamu boleh menyumpah serapah untuk mencela ku, tapi tidak untuk Selin. Kamu tidak berhak!" Jawan Bara dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
Kania tertawa melihat raut kemarahan Bara. "Kenapa! Setelah dia pergi dan membawa dua orang anak hasil hubungan gelapnya kenapa kamu masih mencintai dia! Kenapa! Kenapa? Hiks.. Hiks.. Hiks.." Ucap Kania tidak terima.
"Jaga ucapan mu Kania!" Bentak Bara saat menurutnya Kania sudah keterlaluan.
Kania tersenyum kecut kemudian melangkah semakin mendekati Bara. "Baiklah, mulai detik ini aku akan berusaha mendapatkan mu dengan cara apapun! Sejauh apa pun kamu menjauhi ku aku akan terus berada di dekat mu, aku akan membongkar kebusukan Selin agar kedua bola matamu bisa normal seperti semula!"
Bara hanya terdiam dan memperhatikan Kania yang bersiap untuk pergi, pandangannya jatuh pada tangan Selin yang sedang di genggam nya.
Braak!! Kania menutup pintu dengan keras.
"Sel," Panggil Bara lirih.
******
__ADS_1
Maaf ya Author baru update lagi. Happy Reading !
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)