Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 29 : Penyesalan yang mulai menggerogoti


__ADS_3

Bara membuka pintu kamar si kembar dengan penuh antusias rasanya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, senyuman hangat terbit di wajah Bara saat melihat si kembar sedang mempersiapkan bantal untuknya. Rasanya hatinya menghangat dengan hati yang begitu bahagia. Entah kenapa Juna dan Jeno selalu berhasil memberikan kehangatan dan kebahagiaan yang tidak dapat diberikan oleh orang lain.


Juna membawa selimut dari lemari untuk Bara sedangkan Jeno merapihkan bantal. Saat menyadari Bara sudah datang Jeno tersenyum menggemaskan. "Sini Om," Panggi Jeno penuh semangat.


Bara terkekeh kemudian berjalan ke tepi ranjang. "Wah, para jagoan belum tidur hmm?" Tanya Bara sambil mengelus kepala si kembar secara bergantian.


"Belum Om, masa yang punya kamar tidur duluan. Kan harus nunggu tamu dulu." Jawab Juna tidak seketus biasanya.


Bara terkekeh, puk! Puk! "Ayo tidur," Bara menepuk-nepuk bantal si kembar.


Juna dan Jeno kemudian merebahkan tubuh mereka ke kasur, dengan sigap Bara bangkit untuk menyelimuti mereka berdua sampai ke leher. Setelah itu Bara ikut merebahkan tubuhnya menghadap si kembar dengan tangan di lipat sebagai bantalan.


Tangan Bara terulur untuk mengacak-acak rambut mereka gemas. Melihat wajah polos si kembar membuatnya merasa melihat foto album yang menampilkan dirinya waktu kecil. Bara tersenyum sendu menyadari saat mengandung si kembar sepertinya Selin sangat membencinya, sampai-sampai kedua anaknya begitu mirip dengannya.


"Nda udah tidur belum ya Om." Tanya Jeno sambil menatap langit-langit malam.


"Mmm, kayaknya udah. Biasanya kalo lagi sakit Bunda kalian itu gampang tidur, tapi kadang suka bangun di tengah malam." Ucap Bara dengan perasaan sendu karena teringat kebiasaan Selin jika sakit.


Juna dan Jeno menghela nafasnya gusar, dia takut jika nanti Bundanya terbangun di tengah malam tidak ada orang yang membantu Bundanya. Bara bisa melihat raut kekhawatiran dari si kembar, mereka sudah sama-sama tahu malam hari adalah hal yang paling menakutkan bagi Selin apalagi ketika sakit.


"Kalian nggak usah khawatir, kan Om nginep di sini buat jagain sama bantu Bunda kalian. Ayo tidur, pasti kalian kecapean." Bujuk Bara berharap mereka akan mendengarkan ucapannya.

__ADS_1


Sedangkan si kembar masih enggan untuk tidur seperti menunggu sesuatu yang sangat penting. "Biasanya sebelum tidur kalian suka ngapain sama Bunda?" Tanya Bara berharap bisa menggantikan posisi Selin, bisa saja mereka terbiasa mendengarkan dongeng. Mungkin Bara bisa membantu membacakan walaupun pastinya tidak seprofesional Selin.


"Nda selalu ngasih mantra ajaib ke kita sambil meluk kita." Jawab Jeno dengan mata yang berkaca penuh kerinduan pada Selin, padahal mereka hanya berbeda kamar.


Bara menaikan satu alisnya keheranan. "Mantra ajaib?"


Jeno beralih menghadap ke arah Bara. "Iya.. Om mau tahu?" Tanyanya yang langsung di jawab anggukan oleh Bara.


Juna yang sedari tadi hanya diam ikut menoleh ke arah Bara. "Hai anak-anak Bunda yang baik hati, jangan tinggalin Bunda ya sayang. Bunda nggak bisa hidup tanpa kalian, pokoknya kita harus terus sama-sama sampai kapanpun oke. Bunda yakin kalian adalah orang-orang hebat dan akan dikaruniai kesuksesan, tapi kalo udah sukses kalian nggak boleh sombong ya. Nah sekarang anak baik harus tidur, tubuh kalian udah nggak sabar bermimpi." Ucap Juna dengan senyuman merekah di wajahnya.


Bara membeku mendengarkan setiap kata yang diucapkan Juna, entah kenapa kata-kata itu membuat matanya berkaca-kaca. "Kalian hapal perkataan Bunda kalian?" Ucap Bara dengan suara parau.


"Iyaa.." Ucap mereka dengan kompak.


"Om? Kalo diubah jadi Ayah gimana?" Tawar Juna yang berhasil membuat Bara membeku.


Ayah? Apa boleh dia di panggil Ayah oleh anak wanita yang sudah ia sakiti. Hati Bara berubah sesak serasa ada beban yang begitu berat yang menimpa tubuhnya. Dengan pandangan yang berkaca-kaca akhirnya Bara mengangguk. "Boleh," Ucap Bara dengan sendu.


Jeno semakin dibuat bersemangat. "Jeno bisikin ya kata-katanya. Nanti Om yang bilang."


"Oke." Jawab Bara penuh antusias.

__ADS_1


Jeno mendekat ke arah Bara kemudian berbisik, Bara mendengarkan setiap kata yang diucapkan Jeno. "Hai anak-anak Ayah yang baik hati," Ucap Bara sedikit memalingkan pandangannya ke arah lain untuk menahan air matanya.


Untung saja saat ini Juna sedang bersembunyi di ceruk lehernya dan Juna masih setia menatap langit-langit kamarnya, jadi mereka tidak menyadari perubahan raut Bara.


"Jangan tinggalin Ayah ya sayang. Ayah nggak bisa hidup tanpa kalian," Ucap Bara tercekat dengan perasaan sesak di dada.


Bara menepuk-nepuk Juna yang posisinya di samping Jeno. "Pokoknya kita harus terus sama-sama sampai kapanpun oke?" Ucap Bara lembut.


Juna dan Jeno refleks mengangguk, ucapan Bara terhenti dia menghirup nafas panjang kemudian melanjutkan. "Ayah yakin kalian adalah orang-orang hebat dan akan dikaruniai kesuksesan, tapi kalo udah sukses kalian nggak boleh sombong ya. Nah sekarang anak baik harus tidur, tubuh kalian udah nggak sabar bermimpi." Akhirnya Bara selesai mengucapkan mantra ajaib untuk si kembar.


Juna dan Jeno tersenyum hangat kemudian memejamkan matanya tenang. "Selamat tidur Ayah," Gumam mereka yang berhasil membuat buliran air mata keluar dari pelupuk mata Bara.


Bara mengangguk dengan tangan memeluk mereka cukup erat, saat terdengar suara nafas mereka yang sudah teratur. Bara cepat-cepat bangkit dari kasur dan bergegas ke kamar mandi.


Dengan perlahan Bara menutup kamar mandi rapat-rapat dan membuka keran. "Hiks... Hiks.. Hikk.. Argghhh.." Bara menangis tersedu-sedu melampiaskan kesedihan, rasa kecewa,sakit hati, penyesalan dan emosi semuanya bercampur aduk menjadi satu menyesali keputusan bodohnya meninggalkan Selin begitu saja. Andai saja waktu bisa diulang pasti Bara tidak akan menuruti rasa pengecutnya yang membiarkan Selin keluar dari hidupnya, andai saja waktu bisa diulang Bara akan memperjuangkan dan memberikan kebahagiaan kepada Selin. Sehingga Selin lupa tentang penderitaan yabg diberikan orang lain.


"Argghh, arghhh.." Hati Bara hancur, untuk pertama kalinya dalam hidup dia merasakan keinginan untuk menangis begitu kuat sehingga membuat dadanya sakit jika menahannya.


...“Banyak hal yang sulit dimengerti. Dan mungkin, disaat kamu menyadarinya, sesuatu itu telah berubah menjadi penyesalan, sehingga akan sulit membuatnya kembali utuh.” - Evline Kartika...


...******...

__ADS_1


Hmmmm, hmmm, hmmmm. Komen dong menurut kalian apa yang harus dilakukan Bara?


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2