
Bara menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur dengan pandangan menerawang ke luar jendela. Mengkhawatirkan keadaan Selin di luar sana, dia tidak habis pikir siapa yang berani melaporkan kejadian itu ke polisi. Padahal dia dan Raka mati-matian untuk menutupi berita itu dari siapapun. Selain itu dia kesal jiga kepada pihak polisi yang bisa-bisanya menerima laporan receh seperti itu.
Bara menghela nafasnya berat kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas untuk menanyakan keadaan Selin. Dia menatap layar ponselnya nanar karena Selin tak kunjung membalas pesan yang di kirim olehnya. Kilasan kejadian memutar di kepala Bara, dia masih bisa mengingat dengan jelas wajah khawatir Selin yang begitu ketara. Senyuman samar terlihat di wajahnya karena menyadari walaupun Selin sangat membencinya, ternyata di balik itu Selin masih pedulinya padanya.
Tok! Tok! Tok!
Bara menoleh ke arah pintu yang di ketuk dari luar, satu alis Bara terangkat heran merasa aneh kenapa Raka mengetuk pintu seperti itu. Ceklek! Pintu terbuka pandangan Bara jatuh pada dua bocah yang menggemaskan.
"Ayo masuk," Ajak Raka pada si kembar.
Tapi yang diajak masuk hanya salin lirik dan enggan untuk melangkahkan kakinya. Anet yang sejak tadi diam geram sendiri melihat mereka yang diam seperti patung.
"Jadi masuk nggak nih?" Tanya Anet dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.
Bara beranjak dari kasur kemudian duduk di kursi untuk menyambut si kembar. "Net ayo ajak mereka masuk," Panggil Bara pada Anet.
Melihat wajah mereka yang sudah berubah kusut si kembar cepat-cepat masuk ke dalam ruangan dengan sebuah parsel buah yang mereka jinjing bersama. "Permisi Pak Bara." Ucap mereka sopan kemudian duduk di samping Raka.
Bara memberikan isyarat kepada Raka agar berpindah tempat, akhirnya dengan suka rela Bara bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Anet yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Waah kalian sudah bertambah tinggi, kalian habis dari mana bawa ransel." Tanya Bara ramah sambil mengelus pucuk kepala mereka.
Juna tidak berekspresi apa pun sejak tadi dia sibuk menilai penampilan Bara yang terlihat lemas. "Kami mulai sekolah TK Pak," Jawab Juna malas.
Sedangkan Jeno yang ceria hanya diam membisu dengan pikiran yang melayang, perlahan matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Bara merasa aneh dengan sikap si kembar yang tidak seperti biasanya, mereka seperti menyimpan dendam terhadap dirinya. Padahal jika di pikir-pikir dia tidak berbuat aneh-aneh pada si kembar. "Jangan panggil Pak saya jadi merasa tua, panggil Om saja."
Mereka saling lirik kemudian mengangguk, Bara terkekeh melihat mereka yang sangat menggemaskan. "Kalo boleh tau kamu sekolah dimana?"
"Mmm, di TK Halapan Bangsa." Jawab Jeno singkat dengan pandangan yang sengaja di buang ke arah lain.
"Wah hebat gimana sekolahnya seru nggak?" Bara masih belum putus asa untuk berusaha akrab lagi dengan si kembar.
Jeno sedikit berpikir kemudian menjawab. "Mmm, selu."
Juna yang sejak tadi diam membisu dengan tatapan tajam ke arah Bara mulai bersuara. "Bagaimana keadaan Om?" Tanya Juna dingin yang berhasil membuat Bara dan semua orang di ruangan itu mematung.
Bara mengerjap-ngerjap matanya, dia tidak menyangka Juna yang sangat ketus padanya akan bertanya seperti itu. "Om baik-baik saja, lihat Om terlihat sehat kan." Jawab Bara dengan wajah berbinar bahagia.
"Om," Panggil Juna lirih, Bara tersenyum ke arah Juna menunggu pertanyaan lain yang akan dia tanyakan.
Bara mematung di tempat, pandangnya berubah berkaca-kaca penuh haru. "Eh, iya!. Boleh dong sini peluk." Bara menggeser tempat duduknya agar semakin dekat dengan si kembar.
Juna dan Jeno beranjak dari tempat duduknya, mereka saling tatap penuh ragu. Melihat si kembar yang ragu Bara memberanikan diri untuk memeluk mereka duluan, Juna dan Jeno hanya mematung dan enggan membalas pelukan Bara.
Bara mencium pucuk kepala mereka secara bergantian, entah kenapa perasaan kasih sayang dan cinta begitu membuncah di hatinya saat pertama kali bisa memeluk mereka dengan erat. Bara melerai pelukannya kemudian mendudukkan Juna dan Jeno di atas pangkuannya, kemudian dengan telaten Bara menempelkan tangan Juna dan Jeno untuk memeluknya. Setelah posisi sudah sempurna perlahan Bara memeluk mereka kembali penuh kasih sayang. Tanpa bisa di cegah air mata keluar begitu saja dari pelupuk mata Bara, Juna dan juga Jeno.
Jeno hanya mematung dengan air mata yang mengalir tanpa bisa ia cegah. Akhirnya dia bisa memeluk sosok Ayah yang sangat ia rindukan, walaupun di dalam hati dia masih tidak bisa memaafkan Bara yang sudah menelantarkan mereka.
Juna menghela nafasnya panjang kemudian memejamkan matanya merasakan setiap kehangatan yang Bara berikan. Setidaknya, seumur hidup dia pernah merasakan memeluk Ayahnya sendiri, walaupun saat ini Bara belum tahu jika mereka adalah anaknya. Bagi Juna ini adalah pelukan pertama dan terakhir untuknya, baginya satu pelukan ini sudah cukup untuknya menjalani hari tanpa kehadiran Bara di sisinya.
__ADS_1
Dari kejauhan Anet membeku di tempat, hatinya terasa sesak melihat pemandangan sebuah keluarga yang saling menyakiti di hadapannya. Melihat interaksi Juna dan Jeno yang entah kenapa mengundang air mata untuknya, tapi sayangnya dia terlalu gengsi untuk menampakkan itu. Anet menghela nafasnya pelan kemudian bersiap keluar.
"Kemana?" Tanya Raka heran dengan perubahan wajah Anet.
"Bukan urusan lo!" Jawan Anet ketus kemudian melanjutkan langkahnya.
******
Selin mematung di hadapan pintu kamar Bara dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Sebenarnya sejak tadi dia sudah sampai, tapi saat dia hendak membuka pintu permintaan Juna berhasil menghentikan langkahnya. Saat ini Selin ingin memberikan waktu untuk kedua anaknya menikmati pelukan hangat seorang Ayah yang pastinya sangat mereka impikan.
Saat ini Selin merasa menjadi orang yang paling jahat yang ada di dunia. Karena dia sudah tega menjauhkan dua orang anak dari kasih sayang Ayah mereka. Dengan alasan keegoisannya yang selalu ingin di mengerti oleh Juna dan Jeno. Padahal tidak pernah sehari pun Selin memikirkan perasaan Juna dan Jeno yang pastinya sangat merindukan sosok Ayah di kehidupan mereka.
"Maafkan Bunda sayang, karena Bunda sudah egois pada kalian." Gumam Selin di dalam hati.
Selin merasa bodoh karena merasa sudah memberikan apapun kepada mereka. Padahal ada yang tidak bisa Selin berikan, yaitu kasih sayang serta kehangatan seorang Ayah yang pastinya sangat mereka rindukan. Selin tahu jika saat ini Juna dan Jeno sedang merasa bersalah karena sedang memeluk seorang pria yang sudah menyakiti hati Bundanya. Oleh karena itu, Selin belum siap untuk masuk ke dalam kamar Bara karena ingin memberikan waktu lebih lama untuk mereka merasakan kehangatan kasih sayang Bara.
Selin menatap Juna dan Jeno dari sebuah kaca yang tertempel di pintu, saat Juna dan Jeno sudah melerai pelukannya. Cepat-cepat Selin menghapus air matanya dan bersiap untuk membuka pintu dengan sebaris senyuman yang menghiasi wajahnya.
Ceklek! Namun sebelum Selin menarik kenop pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu menampilkan Anet yang sedang berdiri di hadapannya. "Sudah sampai?" Tanya Anet ramah kemudian menarik Selin agar segera masuk.
"Bunda kalian sudah sampai!" Pekik Anet penuh keceriaan.
"Yeaaay!! Ndaaa!! Mana Es Krim Eno!!!" Teriak Jeno sambil berlarian memeluk Selin dengan erat yang kemudian di susul oleh Juna. Selin berjongkok kemudian membalas pelukan kedua anaknya dengan perasaan bersalah yang masih memenuhi hatinya.
******
__ADS_1
Gais, siapa yang naruh bawang disini :(
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)