Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 64 : Udah jangan Marah


__ADS_3

"Apa ini?" Ucap Selin saat melihat tumpukan berkas meninggi di mejanya.


Syakila menghela nafas berat dan dengan wajah kusut menatap Selin dengan iba. "Ini revisi dari Mbak Kania katanya semuanya salah, harus diperbaiki." Ucap Syakila pasrah.


Selin merebahkan tubuhnya ke atas kursi dengan semangat yang menguap ke udara. Memang bagi kebanyakan Karyawan Kania adalah sosok yang menakutkan, yang bisa memporak porandakan pekerjaan mereka dalam sekejap. Untung saja wajahnya cantik, kalo tidak sudah tidak ada nilai plus nya itu orang.


Selin menatap Syakila dengan tidak terima. "Maksudnya gimana, itukan udah sesuai."


"Entahlah Sel, semua orang juga pusing kenapa Mak Lampir itu jadi tugas di sini."


"Dia ada di mana sekarang?" Selin mengepalkan tangannya untuk mengumpulkan semangat, dia tidak boleh diam saja jika ditindas dengan tidak adil.


"Di kantornya," Ucap Syakila dengan tatapan menyelidik untuk membaca niatan Selin.


"Kita nggak boleh diem aja di giniin!" Dengan rasa kesal yang menumpuk Selin beranjak dari kursinya.


"Eh Sel, lo mau kemana?" Teriak Syakila berharap Selin akan menghentikan langkahnya.


*****


Selin sudah berada di ruangan Kania dan saat ini sedang menatap tajam wanita ular itu.


Berbeda dengan Selin yang sedang kesal Kania terlihat santai dan berusaha mengabaikan kehadiran Selin. "Ada apa?" Tanya Kania sambil bersandar di kursi kebangsaannya.


Selin menghela nafas sejenak. "Maaf Mbak, pagi-pagi saya liat tumpukan berkas yang begitu banyak di meja saya dan sebelumnya laporan keuangan sudah disetujui oleh Pak Raka. Tapi kenapa laporannya ada di meja saya lagi." Ucap Selin tanpa rasa takut sedikit pun.


Brak! Melihat raut Selin yang begitu berani Kania merasa di remehkan kemudian menggebrak meja dengan cukup kesal. "Saya ingatkan kamu dua hal. Pertama hari ini dan seterusnya Raka mengambil alih kantor pusat, kedua semua laporan di kantor ini adalah tanggung jawab saya. Jadi, saya tidak ada urusan dengan hubungan mu sama Raka. Sekarang atasan mu adalah aku, jadi turuti apa yang aku mau!" Bentak Kania dengan tatapan tajam.


Selin tersenyum kecut. "Baik kalo seperti itu. Tolong jelaskan apa yang harus saya perbaiki." Ucap Selin telak.


Kania diam sejenak kehabisan kata-kata. "Ekhem, kamu masih tanya pada saya mana yang salah?" Kania malah balik bertanya.


"Ya! Karena saya sudah yakin jika laporan ini sudah benar."


"Percaya diri sekali kamu," Kania terkekeh merendahkan.


Plak! Sebuah berkas terlempar di lantai tepat di hadapan Selin.

__ADS_1


Kania bangkit dari kursinya dengan kedua tangan yang terlipat penuh kesombongan. "Ini adalah Format baru laporan keuangan, saya tidak mau tau hari ini semua laporan keuangan yang divisi kamu kerjakan harus sesuai dengan Format yang ini!"


Selin membungkuk kemudian membuka berkas itu satu persatu sambil memahami nya, tangannya terkepal menahan kekesalan rasanya saat ini juga dia ingin menjambak rambut Kania yang seenak mengganti format laporan tanpa persetujuan karyawan lain.


"Kenapa diam aja, katanya kamu sudah percaya jika laporan mu benar semua. Tinggal merubah format aja ko ribet, sana pergi!"


"Merubah kalo satu gampang, lah kalo setumpuk biasa makan waktu berapa hari bambang!" Gumam Selin penuh kekesalan. Rasanya percuma saja Selin protes itu hanya akan menghabiskan energinya saja. Lebih baik Selin cepat-cepat keluar dan mengerjakan pekerjaan yang sangat banyak akibat ulah Kania.


Selin membungkuk kemudian berjalan ke arah pintu keluar.


"Ingat, hanya karena kamu bisa merayu Bara, hidup mu tidak akan aman dan nyaman di kantor ini. Jadi jangan banyak tingkah!" Ucap Kania yang berhasil menghentikan langkah Selin.


Selin berbalik dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Saya kira anda profesional dalam bekerja, ternyata urusan pribadi masih terlontar dari mulut anda bahkan saat jam kerja. Jika merasa syirik ya usaha, bukannya menghina. Saya permisi!" Ucap Selin dengan kekesalan yang semakin memuncak.


******


Selepas pulang kantor Selin termenung di halte sambil menunggu bus atau taksi, tapi sudah ada beberapa Bus berhenti Selin masih enggan untuk beranjak dan masih asik termenung dengan kepala yang bersandar ke samping. "Huuuuh," Helaan nafas keluar dari mulutnya.


Drrt, drrrt, drrt. Selin cepat merogoh tasnya saat ponselnya bergetar, melihat nama yang tertera di ponsel senyuman samar terbit di wajah kusutnya. Cepat-capat Selin menggeser layar ponselnya, dan mendekatkannya ke telinga.


"Nunggu Bus mau pulang, tapi pengen istirahat dulu." Jawab Selin jujur dengan kaki yang di hentak-hentakkan ke trotoar.


"Kusut gitu mukanya, tadi udah banyak bus yang berhenti ko nggak naik-naik." Ucap Bara yang berhasil membuat Selin menjauhkan ponselnya dan berpikir sejenak lalu memutar pandangan untuk mencari keberadaan Bara.


"Issh," Selin memajukan bibirnya kesal saat baru menyadari jika di sebrang ada sebuah mobil yang sudah terparkir dengan seorang pria tampan yang sedang berdiri menghadap kepadanya.


"Haaii!" Dari kejauhan Bara melambaikan tangan ke arah Selin.


Selin tersenyum lebar dan cepat-cepat menyebrang untuk menghampiri Bara, langkahnya semakin cepat saat jaraknya dengan Bara sudah semakin dekat.


Drap!


Drap!


Drap!


Bara terkekeh melihat Selin yabg berlarian ke arahnya, tangannya terbuka untuk menyambut Selin dengan pelukan hangatnya.

__ADS_1


Greb! Selin memeluk Bara dengan erat dengan harapan rasa lelahnya akan sedikit menguap. Bara dengan sengat hati membalas pelukan Selin lalu mendaratkan ciuman di keningnya. "Ayo pulang," Ajak Bara lembut.


"Ayoo.." Selin langsung mengangguk dengan wajah yang berbinar bahagia.


******


Bara sesekali mencuri pandang ke arah Selin yang sejak tadi cemberut di sampingnya. "Kusut banget wajahnya, hari ini capek banget ya?"


Selin menoleh ke arah Bara dengan rasa kesal yang masih tersisa. "Kania, nyebelin banget!"


"Emangnya dia bikin ulah apa?"


Dengan tenaga yabg tersisa Selin melanjutkan perkataannya. "Semua laporan satu bulan ini harus di ganti format. Di tambah sikapnya nyebelin banget," Selin mengepal kedua tangannya penuh drama.


Bukannya merasa iba Bara malah terkekeh karena tidak kuat melihat raut Selin yang sangat menggemaskan ketika marah. "Dia emang kaya gitu, tapi dia cukup profesional ko di bidang pekerjaan."


Mendengar ucapan Bara mulut Sekin terbuka tidak percaya. "Bisa-bisanya ya kamu ngebela dia di depan aku!" Selin membuang pandanganya ke arah jendela dengan pandangan yang berkaca-kaca.


Bara gelagapan di kursi kemudi kemudian me.arkirkan mobil agar lebih leluasa membujuk Selin. "Ish jangan marah dong, aku pilih kamu ko." Bara berusaha meraih tangan Selin yang tentu saja langsung di hentakkan.


Selin beralih menatap Bara dengan tatapan penuh selidik. "Sebenernya kamu itu beneran nggak sih selingkuh sama dia?"


Bara mengusap wajahnya pasrah. "Nggak Selin nggak! Please percaya sama aku." Ucap Bara penuh permohonan.


"Hmmm," Selin memejamkan matanya kemudian bersandar si sandaran kursi.


Bara meraih tangan Selin lalu menggenggamnya hangat, "Maafin aku," Bara meminta maaf padahal dia tidak tahu letak kesalahannya di mana.


Perlahan kedua bola mata Selin terbuka dan menatap Bara dengan perasaan bersalah, tidak seharusnya dia marah-marah tidak jelas seperti tadi. Akhirnya selang beberapa menit Selin mengangguk.


Bara tersenyum hangat penuh kelegaan. "Udah, jangan marah. Kita makan dulu yu?" Ajak Bara yang langsung disetujui oleh Selin.


*****


Happy Reading!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2