Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 76 : Pujian Karyawan


__ADS_3

Selin yang awalnya akan membuka handle pintu kamar mandi langsung mengurungkan niatnya, saat dia mendengar ada beberapa karyawan yang sedang membicarakan tentang Bara.


"Pak Bara ganteng banget sih," Ucap salah satu karyawan wanita di luar.


"Asli.. Apalagi hari ini dia senyum terus kayaknya moodnya lagi bangus banget."


Selin mendengus sebal dengan perasaan yang tiba-tiba kesal. Dia tidak terima jika Bara menjadi idola banyak orang.


"Suami impian pokoknya," Celetuk salah satu dari mereka.


"Tapi katanya dia duda loh," Ucap mereka berbisik-bisik.


"Bodoamat, mau duda mau bukan dia suami impian gue."


Selin menghela nafas panjang, dia mengipas-ngipas wajahnya yang terasa kepanasan. Karena tidak mau terus-terusan berada di toilet, akhirnya Selin berniat keluar untuk melihat siapa yang mendamba-dambakan Bara menjadi pendamping mereka.


Ceklek!


Saat Selin membuka pintu wajah karyawan itu langsung terlihat pucat pasi, mereka seperti sedang kepergok maling oleh yang punya rumah. Karena semua orang kantor sudah tahu jika Selin adalah mantan istri Bara, yang sedang digosipkan kembali akur.


Mereka saling sikut dan cepat-cepat keluar. "Eh yo cabut."


Crassss!


Melihat raut gelagapan mereka, Selin hanya geleng-geleng kepala dengan perasaan kesal. Untuk meminimalisir rasa kesalnya, Selin cepat-cepat mencuci wajahnya agar terasa segar.


"Huuuh, pak Bara ginting bingit suami impian palalu peang!. Nyebelin banget siiiih, pasti dia tebar pesona ke sana sini! Awas aja kalo ketauan!" Ledek Selim dengan mata yang mendelik.


*****


Selin bersidekap dada menunggu lift terbuka.


Ting!


Tapi saat lift terbuka wajah Selin langsung kusut saat melihat orang yang ada di dalam adalah Bara dan Raka. Bara tersenyum hangat ke arah Selin, tapi hanya dibalas delikan kesal. Raka yang sejak tadi mengamati situasi memutuskan untuk keluar dari perang dingin pasangan dihadapannya ini.


"Gue duluan," Ucap Raka beranjak.


"Pak Raka ayo masuk aja," Cegah Selin karena tidak ingin berduaan dengan Bara.


"Nggak usah Ka, lo cepetan pergi sana."


Selin memutar bola matanya malas, kemudian berbalik untuk naik eskalator saja. Tapi Bara lebih dulu menahan Selin dan menariknya masuk ke dalam lift.


"Apaan sih nyuruh Raka pergi-pergi segala," Selin melepaskan genggaman Bara dengan kesal.


"Kamu kenapa kaya kesal gitu? Ayo cerita sama aku," Bara menatap Selin penuh keheranan.


Selin membuang pandangannya. "Nggak.. Siapa yang kesal juga, jangan so tau deh."

__ADS_1


Bara terkekeh melihat Selin yang sedang merajuk, dia penasaran hal apa yang sudah membuat wanitanya begitu kesal. "Kenapa hmm?" Bisik Bara yang saat ini sedang memeluk Selin dari belakang.


"Enggak," Jawab Selin dengan perasaan yang sedikit membaik.


Bara tersenyum dengan tangan yang terulur untuk menyentuh kepala Selin. "Jangan cemberut ya, yang semangat kerjanya jangan mikirin yang enggak-enggak. Aku nggak mau gaji kamu secara cuma-cuma."


"Dihh.." Sontak Selin langsung mendorong Bara.


"Ahahaha, bercanda sayang."


Selin hanya mendengus sebal dengan perasaan yang sudah membaik.


Ting!


Bara menghela nafasnya kecewa karena waktunya bersama Selin sudah habis. "Semangat kerjanya Baby, ini coklat buat kamu." Bisik Bara kemudian memasukan coklat di saku Selin.


"Eh.." Selin terperanjat dengan senyuman hangat yang perlahan terbit di wajahnya, dengan perasaan yang bahagia Selin menyusul Bara yang sudah duluan keluar dari lift.


******


"Makan yu," Ajak Syakila.


"Yuu.." Selin langsung mengangguk.


"Pesanan atas nama Selin," Selin menautkan kedua alisnya, karena dia tidak merasa memesan apapun.


"Kamu mesen makanan?" Tanya Syakila.


Selin berjalan menghampiri tukang makanan. "Aku nggak pesan apa pun Pak."


"Ini sudah di bayar Kak, dan pesanannya atas nama Selin." Ucap Pria itu memberikan bukti pembayaran.


"Mmmm, Makasih ya Pak." Selin menggaruk tengkuknya heran, pikirannya langsung tertuju pada Bara yang pastinya dalang di balik semua ini.


"Dari siapa tuh," Senggol Syakila dengan tatapan menggoda.


Selin hanya tersenyum samar. "Bagiin ke anak-anak yang lain ya Kila. Aku mau pergi dulu," Ucapnya kemudian mengambil dua nasi box.


"Okay."


Tok! Tok! Tok!


Selin mengetuk pintu Bara.


"Masuk!"


Saat sudah diijinkan Selin langsung membuka pintu dan berjalan ke arah meja Bara. "Kamu pesan makanan buat aku?" Tanya nya.


"Hmmm," Bara mengangguk dengan tatapan masih ke layar komputer.

__ADS_1


"Kenapa banyak banget?"


Bara mematikan komputernya dan menarik Selin ke sopa. "Biar semu orang divisi kamu bisa makan juga, jadi mereka nggak akan ajak kamu makan ke luar."


Selin hanya bisa geleng-geleng mendengar jawaban Bara. "Yaudah kalo gitu, makan dulu. Aku ngambil beberapa buat kita, toh ini juga makanan favorit kamu kan?" Ucapnya yang langsung diangguki oleh Bara.


"Okay.. Aku nggak bisa nolak." Ucap Bara semangat.


Mereka mulai makan dengan diselingi beberapa candaan kecil. Bara menatap Selin dengan tatapan penuh syukur, rasanya setiap momen terasa menyenangkan saat berada di dekat Selin.


"Sel.." Panggil Bara lirih dengan tatapan serius.


Selin mengangkat pandangannya kemudian membalas tatapan Bara. "Aku nggak bisa ngebayangin kalo hidup tanpa kamu lagi," Ucap Bara dengan tatapan syarat akan kesedihan.


Selin hanya tersenyum samar kemudian memeluk Bara yang terlihat rapuh. "Jangan tinggalin aku ya," Bisik Bara lirih.


"Hmmm." Selin mengangguk dengan senyuman yang terbit di wajahnya.


****


"Aku duluan ya," Sebelum Pulang beberapa hari kebelakang Selin selalu menyempatkan untuk berpamitan kepada Bara.


Bara menghela nafas kecewa karena pekerjaan menahannya untuk tidak bisa mengantar Selin. "Oke. Maaf nggak bisa nganter kamu ya."


"Iya nggak papa, bye.. Semangat kerjanya." Pamit Selin.


Bara melambaikan tangannya. "Kalo udah nyampe rumah kabarin ya."


*****


Setelah keluar dari kantor Selin tidak cepat-cepat memesan ojek online atau semacamnya, toh dia pulang juga di rumah tidak ada siapa-siapa. Dia malah duduk di halte bus dengan pandangan yang menerawang.


Selin mengeluarkan coklat pemberian Bara dari saku nya, perlahan senyuman terbit di wajahnya mengingat Bara yang mempunyai seribu cara membuatnya menjadi bahagia. Selin sangka perasaannya kepada Bara sudah semakin memudar, tapi saat mendengar orang lain mengidamkan hidup dengan Bara, rasanya hati Selin sesak dan tidak rela.


"Kenapa aku selalu mencintainya, Kenapa dia selalu menarik di mata ku. Padahal aku sudah bukan remaja lagi, tapi kenapa perasaan selalu membuncah seperti waktu muda." Gumam Selin di dalam hati.


"Melamun terus, Kenapa belum pulang?" Ucap Raka yang duduk di samping Selin.


"Eh Pak Raka," Ucap Selin sedikit terperanjat karena sejak tadi ia sedang melamun.


"Lagi mikirin Bara ya?" Tanya Raka yang berhasil Selin tersedak.


"Nggak!"


Raka hanya tersenyum samar melihat raut Selin, padahal rautnya tidak bisa dibohongi jika sejak tadi memikirkan Bara. Sepertinya Bara sangat senang jika tau saat ini Selin sedang memikirkannya.


******


Hallo Readers... Gimana ibadah puasanya lancar? Udah punya baju lebaran belum gais?..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, komen sama Share ya.. Love You All..


__ADS_2