Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 15 : Terdampar


__ADS_3

Hari sudah semakin larut dan Bara masih sibuk, Selin menghela nafasnya panjang. Tak lama dari itu sebuah mobil datang menghampiri mereka berdua. Selin menurunkan kaca mobilnya dan mengecek siapa yang datang.


Terdengar obrolan di luar sana yang membuat Selin penasaran, cepat-cepat Selin keluar dari mobil untuk melihat yang datang.


"Farel," Panggil Selin lirih.


Farel yang awalnya sedang berdebat hebat dengan Bara beralih menatap Selin yang sudah terlihat sangat frustasi. Farel berjalan perlahan ke arah Selin dan tanpa permisi memeluk Selin begitu saja, tidak seperti Farel biasanya yang enggan menyentuh Selin. Selin mematung di tempat karena tidak menyangka Farel akan memeluk nya dengan tiba-tiba. Pandangan Selin lurus ke arah Bara yang menatapnya tajam dengan wajah datarnya seperti memberikan sinyal perang.


"Kamu nggak papa?" Tanya Farel yang diabaikan oleh Selin. Karena pandangan Selin lurus ke arah Bara yang sedang menatapnya dengan tidak rela.


"Mmm, aku baik-baik saja." Jawab Selin sambil menganggukkan kepalanya.


Pandangan Selin tidak beralih dari Bara yang terlihat kelelahan, kemeja putih yang Bara gunakan sudah berubah menjadi kotor, dan dahinya sudah di penuhi oleh keringat tapi anehnya semakin menambah aura ketampanannya. Selin menundukkan kepalanya merasa tidak tega.


Bara mengusap dahinya dan menghela nafasnya panjang. Kemudian menghampiri sepasang kekasih yang sama-sama diam seperti patung. "Sudah selesai lain kali jangan ceroboh," Ucap Bara dingin lalu mengambil Jas nya yang sedang di pegang Selin.


"Makasih Pak," Ucap Selin penuh rasa terimakasih.


Bara hanya diam dengan tampang dinginnya lalu berjalan ke ara mobilnya dengan perasaan yang sulit di artikan. Pandangan Selin tidak beralih dari punggung Bara yang semakin menjauhinya.


"Huuuh," Selin menghela nafasnya panjang rasanya hari ini cukup berat untuknya.


"Ayo kita pulang," Ucap Farel yang berhasil membuyarkan lamunan Selin. Selin menoleh ke arah Farel kemudian menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.


*****


Selin menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk. Pikirannya terus-terus melayang teringat kejadian saat Bara menolongnya. Selin menghela nafasnya berat tidak mengerti dengan perasaanya sendiri, kenapa perasaannya sangat sulit dia kontrol. Di satu sisi Selin sangat membenci Bara tapi di sisi lain dia merasa tenang dan nyaman di dekat Bara.


Apalagi saat kilasan wajah lusuh Bara yang dengan sabar membenarkan mobilnya yang mogok entah kenapa sedikit demi sedikit mencairkan kebencian Selin pada Bara.


"Aaaaaa!!!!" Selin berteriak frustasi karena tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. "Why! Why! Why! Kenapa harus dia yang menolongku ya tuhan... Kenapa aku selalu menemukan ketulusan dari matanya!!! Aaaaaaa!!!" Selin bergerak-gerak di atas ranjangnya seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.


Drrt, Drrt, Drrt.. Suara panggilan telpon menghentikan aksi brutal Selin. Dengan cepat dia bangkit dan menyambar ponselnya di atas meja. Terlihat nama Raka tertampil di atas layar.


"Iya Halo Pak?" Ucapnya saat panggilan tersambung.

__ADS_1


"Besok kamu menemani Pak Bara untuk kunjungan rahasia ke pabrik!" Ucap Raka yang berhasil membuat kedua *** mata Selin membulat sempurna.


"Kunjungan rahasia sama Pak Bara?!" Ulang Selin dengan nada yang tinggi. Selin bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. "Mmm, karyawan yang lain memangnya tidak bisa pak?" Ucap Selin ragu-ragu.


"Tidak ada!" Jawab Raka singkat jelas tidak ada bantahan.


Selin memijat pelipisnya yang berubah pening. "Iya, iya. Siap Pak!" Jawabnya dengan tenaga yang tersisa.


Bruk! Selin merebahkan tubuhnya kembali ke kasur. "Aaaaaaaa! Gimana lagi ini!!!" Teriaknya dengan kaki yang tidak berhenti di hentak-hentakkan ke atas kasur miliknya.


Buk! Buk! Buk! Buk!


"Ndaaaa!!! Berisik!!" Ucap Si kembar di luar sana. Selin terkekeh dan menyesali tindakan bodohnya itu.


******


Keesokkan harinya Selin berjalan dengan malas ke arah Bara yang sudah menunggu dengan Raka. Refleks mulut Selin terbuka saat melihat tampilan Bara yang memakai baju kasual seperti anak muda. Hal itu tentu saja mengingatkannya dengan kejadian beberapa tahun lalu saat mereka masih duduk di bangku kuliah.


"Dari mana saja kamu, kenapa telat?" Tanya Raka dingin.


"Sudah-sudah ayo berangkat." Sela Barra diantara percakapan Selin dan Raka.


Selin memutar pandangannya mencari keberadaan mobil Barra. "Naik apa?" Tanya Selin saat tidak menemukan mobil milik Barra.


Bara mengabaikan pertanyaan Selin lalu berjalan ke pinggir jalan. "Taksi!!!" Teriaknya memanggil taksi.


Satu alis Selin terangkat penuh keheranan. "Taksi?"


"Ayo cepetan masuk!" Perintah Raka ada Selin saat taksi sudah berhenti di hadapan mereka. Sedangkan Selin masih mematung karena malas untuk naik taksi.


Selin tersentak saat tiba-tiba tangannya di tarik oleh Barra tanpa persetujuannya. "Ayo cepetan masuk nanti di lihat orang." Akhirnya mau tidak mau Selin masuk ke dalam taksi bersama Bara di sampingnya.


*****


Selin menatap ke arah luar jendela mobil, berusaha melupakan jika saat ini Barra berada di sampingnya. Selin harus berusaha menjaga perasaanya agar tidak jatuh ke dalam perangkap buaya lagi, tapi kenapa dia terus-terusan dipersatukan dengan Barra.

__ADS_1


"Huh," Selin menghela nafas panjang.


"Ada apa?" Tanya Bara memecah keheningan.


"Maksudnya Pak?" Jawab Selin dengan alis yang terangkat.


Bara menatap Selin dengan tatapan penuh tanda tanya. "Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Bara pemasaran karena sejak tadi Selin tidak henti-hentinya mengerutkan kening.


"Tidak ada Pak," Jawab Selin tegas bercampur malas.


Bara tersenyum kecut menyadari jika Selin sangat membencinya, dia meraih botol minuman yang tersedia lalu membuka tutupnya. "Minum dulu, mungkin kamu kurang air." Ucapnya dengan tangan yang menyodorkan air minum ke arah Selin.


Selin mengangguk lalu meraih botol air dari Barra. Walaupun di dalam hati dia tidak mau mendapat perhatian dari Barra, tapi setidaknya dia harus bersikap profesional dan hormat pada atasan. Jangan sampai kebencian memberikannya keleluasaan untuk bersikap tidak sopan.


"Terimakasih Pak," Ucap Selin sopan lalu menegak air di botol minumannya. Selin kembali menyandarkan punggungnya dengan tatapan lurus ke arah luar.


Bara pun mengikuti Selin, dia mengikuti menatap ke arah luar dengan pemikiran yang berkecamuk. Tiba-tiba kantuk mulai menguasai pandangannya, perlahan matanya terpejam dengan penuh ketenangan.


******


Selin mengucek matanya dengan tubuh yang terasa pegal, tangannya meraba-raba yang menjadi bantalannya yang terasa keras seperti tulang. Anehnya tangannya seperti memegang kancing kemeja seseorang. Sontak kedua bola matanya langsung terbuka lebar, mulutnya terbuka lebar saat menyadari jika kepalanya bersandar di dada bidang Barra.


Selin memutar pandangannya penuh tanda tanya. "Kenapa aku tidur di tengah lapang sama Barra?" Gumam Selin dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terbentuk.


"Pak! Pak! Pak! Bangun!" Teriak Selin histeris dan membangun-bangunkan Barra.


Perlahan kedua Bara membuka kedua matanya dan mengerjap ngerjap matanya seperti orang yang baru bangun dari tidur pulas. Selin menghela nafasnya lega karena Barra sepertinya baik-baik saja.


"Kenapa kita ada di sini?" Tanya Barra penuh keheranan. Lalu beralih mencari dompet di saku celananya yang tiba-tiba menghilang.


Selin menekuk kakinya lalu membenamkan wajahnya tanpa tenaga. "Sepertinya kita di rampok sama supir taksi tadi, ponsel dan tasku juga hilang." Ucap Selin lemas dengan tenaga yang sudah hilang.


Barra tersentak sekaligus terkekeh dengan kejadian yang di luar nalarnya. Dia tidak menyangka di hidupnya dia akan terkena musibah seperti ini. Bara membersihkan tubuhnya yang sedikit kotor oleh tanah. Lalu bangkit dari duduknya.


"Ayo bangun," Ucap Barra lembut dengan tangan yang terulur ke arah Selin.

__ADS_1


******


__ADS_2